Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
38


__ADS_3

...Ada banyak alasan untuk mencari kesalahan dan kekurangan orang lain....


...Ada banyak alasan untuk meninggalkan pergi....


...Ada banyak alasan untuk tak mau menerima ketidak sempurnaan....


...Menyalahkan orang lain begitu terlalu mudah,...


...Saatnya koreksi diri dengan sejuta perilaku yang telah kita lakukan....


...Jika hanya dengan ingkar semua menjadi mudah, lakukanlah....


...Akan ada titik dimana penyesalan benar-benar merenggut jiwa,...


...Dan tidak semudah melukai,...


...Mengobati membutuhkan waktu yang tak sedikit....


...Bahkan sudah tidak ada waktu lagi untuk berbenah,...


...Terlanjur kecewa yang teramat sangat....


...Biar berjalan tanpa beriring....


...Jalan yang masih begitu panjang, semoga tetap menjadi semangatku....


...Bahwa masih banyak hal yang harus aku selesaikan....


...Tanpa kamu....


...Semoga mampu. Dan harus mampu....


...Terimakasih, untuk luka yang kau beri....


...Terimakasih....


...Kutinggal di pangkal jalan,...


...Tak kubawa ke ujung tujuan....


...Karena semua tertinggal,...


...Ku melangkah kembali,...


...Hingga waktunya nanti aku pulang....


...Selamat tinggal...


...🍂🍂🍂...


Ajeng menutup buku diarynya. Entahlah sekarang dia jadi lebih pendiam dan terkesan melankolis.


Semenjak kepergiannya dari tempat Ibu Sukma, kini dia kembali ke Cilongok. Tempat ternyamannya dia untuk pulang. Berkumpul dengan keluarga yang sesungguhnya.


Berkali-kali Bu Sukma datang bersama Pak Anto untuk menjemput dia, namun Ajeng menolak dengan berbagai alasan, hingga akhirnya Bu Sukma menyerah, tidak pernah kembali untuk membujuk Ajeng pulang. Hanya bertukar kabar lewat ponsel masing-masing.

__ADS_1


Dan sesekali Ajeng berkunjung saat dia ada urusan di Purwokerto.


Disaat dia kehilangan kendali pada hidupnya, beruntung, dia masih memiliki orang tua yang utuh, adik yang baik dan teman-teman yang selalu memberikan mensupport.


Siti, Dita dan Vika masih sering menghubungi dia, pun begitu dengan Naufal. Bahkan beberapa hari setelah dia stay di cilongok, Naufal datang seorang diri, dengan modal nekat bertanya kepada orang-orang di sekitar mushola dulu untuk kedua kalinya mereka bertemu. Akhirnya dia menemukan rumah Ajeng. Hingga hampir seminggu sekali, Naufal selalu mengunjunginya.


Sementara kabar Barata dan Anita, Ajeng benar-benar tidak ingin mengetahuinya barang sedikitpun. Dia benar-benar ingin menutup segala hal tentang Barata dan yang masih berbau dengan dia. Pintu dan jendela hatinya sudah terkunci. Tidak ingin diingat lagi.


Rutinitas dirinya sehari-hari adalah merawat berbagai tanaman bunga Mamanya, antar jemput Mama ke sekolah, mengusik Brownie kucing pendatang yang sekarang malah betah di rumahnya, yang akhirnya dia rawat hingga menjadi gemuk gembul menggemaskan.


Dia sekarang sedang ikut seleksi pendaftaran CPNS dan beberapa rumaah sakit yang sedang membuka lowongan untuk lulusan Psikologi. Dia ingin mempunyai kesibukan dan rutinitas yang jelas, membaurkan diri kembali bersama lingkungan baru, dengan suasana dan orang baru.


Keinginan dirinya untuk lanjut S2 sepertinya harus di tunda dulu, selain karena sudah terlewat masa pendaftaran, sepertinya dia memang harus fokus mencari pekerjaan. Baru setelahnya mungkin akan mendaftarkan diri kembali.


"Mbak Jeng, wonten Mas Nopal teng njabi"


Mbok Kamti memberitahukan bahwa ada Naufal di luar.


"Tumben? hari apa sekarang kok dia dateng" Ajeng beranjak dari kursi malasnya, meninggalkan buku yang baru saja dia tambahkan isi lembarannya.


"Tumbenan, masih hari Jum'at udah ke sini? " Ajeng menyapanya setelah melihat dia sedang membidik mawar merah Mamanya yang pagi tadi mekar.


"Kenapa? Gak boleh? Yawdah aku pulang aja" Naufal memasang wajah kesal.


"Hahahahah" Tertawa terbahak, "Baperan banget siii, sini masuk. Ada Bapak tuh di belakang. " Ucapnya sambil duduk di kursi panjang halaman.


"Ngajakin masuk kamunya duduk, gak niat banget ngajak masuk! "


Ajeng kembali tertawa, dan dengan usilnya, Naufal membidikan kamera ke arahnya.


Ya, sejak kejadian dia yang sakit dan di grayangi oleh Barata, dia memutuskan untuk berhijab. meskipun belum sempurna, setidaknya dia berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. Melindungi dirinya dari mata jahat. Apalagi status dirinya yang janda, membuat fitnah lebih mudah untuk menghinggapi dirinya.


Apalagi sejak dia sering bertandang ke rumah Bu Weni, entah sekedar mengantar mamanya mengaji atau ikut dalam kegiatan sosial yang beliau adakan, rasa malu sering saja menyusup di hatinya. Masa iya bertandang dan bergaul dengan ustadzah 'gundulan'. Meskipun berawal dari rasa canggung dan tak enak hati. Akhirnya sekarang dia mencoba untuk beristiqomah. Meski imamnya masih naik turun mengikuti hawa ***** dan moodnya. Tapi dia sudah berteguh hati untuk tidak melepaskan jilbabnya tersebut.


Kadang memang pengalaman menjadi guru terbaik, mungkin hidup dan hatinya hancur. Tapi Allah masih menyelipkan kebaikan di setiap jalan hidup hambanya. Ajeng contoh kecil dari trilyunan hamba yang di berikan hidayah oleh-Nya. Terkadang manusia kurang dan malah jarang sekali melihat sisi positif dari setiap cobaan.


"Kamu selalu cantik beibeh" Ucapnya dengan tergelak.


"Eh yang sopan ya manggilnya, aku lebih tua darimu beibeh beibeh apaaan tuh" Ajeng yang masih seringkali memasang wajah juteknya itu mendekik.


"Beibeh masa gak tau beibeh si, Beibeh itu artinya Baby, Baby kan Bayik, Bayik kan di sayang, berarti kamu adalah kesayanganku " Naufal tertawa kencang dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Dasar bocah cilik!! " gerutunya mengikuti langkah kaki Naufal


"Asalamualaikum, Om sehat Om?" Naufal yang melihat Pak Rahmat sedang duduk di samping Aquarium menyapa.


"Eh, nak Naufal. Alhamdulillah sehat. Dari mana saja?" Pak Rahmat menyapanya dengan hangat.


"Kebetulan tadi habis mendampingi anak-anak KB Mentari dari Patikraja Pak, biasa setiap tahun ajaran baru atau outing class, gurunya meminta saya untuk mendampingi mereka untuk mengambil gambar saat sedang berkegiatan, biar gurunya fokus sama anak-anak" jelasnya.


"Jadi mampir sini deh, sekalian apel malam sabtuan" tertawa sambil mengkerlingkan matanya ke arah Ajeng.


"Huh, sembrono kamu" Ajeng mencibur sambil berlalu ke dapur.


"Udah makan belum? " Pak Rahmat yang melihat kedua orang didepannya itu hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Sudah, tadi di kasih catering sama gurunya"


"Enak ya jadi kamu, bisa jalan-jalan, di kasih makan, di bayar pula" Pak Rahmat memuji Naufal.


"Ya enak gak enak tetap di syukuri kan Om, manusia kalo gak di syukuri sendiri, gak di cukupi sendiri, gak bakalan deh ada cukupnya"


"Uluh.. uluh gaya benerrr, sok bijak" Ajeng keluar membawa tiga cangkor teh.


"Hahah, kamu mah sukanya gitu, gak pernah mau lihat sisi baikku" Naufal mencibir.


"Terimakasih" Naufal menerima cangkir yang berisi teh itu.


"Kurang manis gak? takutnya kemanisen, kan yang bikin udah manis" Ajeng tertawa.


Pak Rahmat hanya geleng-geleng kepala melihat kegaduhan yang di ciptakan oleh keduanya. Beberapa bulan mengenal Naufal, membuat beliau mengerti sedikit banyak kepribadiannya. Naufal yang bisa menerbitkan kembali pancaran binar kebahagiaan di wajah putrinya, menciptakan gelombang senyum di bibirnya dan tentunya membuat suasana menjadi lebih hidup. Pak Rahmat menganggap Naufal sebagian anak lelaki beliau sendiri, yang memang sedari dulu beliau inginkan mempunyai anak laki-laki, tapi apalah saya, Ibu Suci hanya bersedia memberikan 2 anak saja. Yang katanya 2 anak cukup dan baik.


Itu si program pemerintah yak.


Pribadi Naufal yang supel, dan luwes membuat dia mempunyai tempat tersendiri di hati Pak Rahmat. Dia juga terlihat lelaki yang menyenangkan, selalu enak untuk di ajak berdiskusi. Pak Rahmat seperti mempunyai teman ngobrol setelah sekian puluh tahun hanya bergerumul dengan kedua anak perempuannya yang selalu dekat dengan ibunya.


"Bahagia banget hari ini? "


"Kenapaa? " todong Naufal.


"Ya kan aku memang selalu bahagia, iya kan? " Ajeng mendengus kesal. Sedari tadi sepertinya dia diledek terus-terusan. Tapi memang dasar Naufal tukang ledek!!! Ada aja bahan untuk meledek Ajeng.


"Ngapunten pak, tege bening kelor e pun sami siap" Mbok Kamti datang untuk memberitahukan kepada Pak Rahmat bahwa sayur bening daun kelor sudah siap.


"Mbok Kamti itu yang bikin gara-gara kan, gara-gara Mbok Kamti nege bening kelor terus, susuk® bapak jadi ambrol, wis ra ganteng mening kaya mbien kan kie, hari-hari di masakna godong kelor" Pak Rahma beranjak dari duduknya, sementara Mbok Kamti hanya tersenyum dan meletakkan ubi rebus di meja. (Mbok Kamti itu yang bikin gara-gara. Mbok Kamti selalu memasak sayur bening daun kelor, Susuk Bapak jadi luntur, sudah tidak tampan lagi seperti dulu)


Berbeda halnya dengan Naufal yang langsung terdiam.


"Seriusan Jenk Om pake susuk? " Dengan muka seriusnya dia bertanya kepada Ajeng yang duduk di hadapannya.


"Susuk apa? bukannya dosa ya? "


"Sma aja kufur nikmat itu"


Muka seriusnya tak ayal membuat Ajeng tertawa terbahak.


"Kamu... kamuu... kamu " Ajeng tak mampu melanjutkan perkataannya, hanya bisa tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa kaku.


"Bapak cuma bohongan Mas Nopal, ampun percaya" Mbok Kamti menimpali, dia sudah menduga kalau tamunya itu akan terkena jebakan Batman seperti yang lainnya. Mbok Kamti memberitahukan kepada Naufal kalau pak Rahmat hanya bercanda, jangan di percaya. "Bapak pun mboten gagah kan pun sepuh Mas Nopal, sanes gara-gara susuk e rogol dhahar tegean godong kelor" Tertawa seperti Ajeng.


(Bapak sudah tidak tampan karena sudah tua, bukan gara-gara susuk nya luntur makan sayur daun kelor)


"Astagaaaaaa" Naufal yang merasa tertipu langsung meluruhkan badanya ke sandaran kursi.


"Sport jantung gueeee"


"Kalo kamu gak mau susuk ketampananmu hilang, jangan coba-coba makan daun kelor ya Le" Bapak yang mendengar kasak kusuk di ruangan sebelah menggoda sambil tersenyum penuh kemenangan.


®Susuk bisa di katakan sebagai black magic, yang merupakan suatu cara memasukan benda asing kedalam tubuh seseorang secara spiritual untuk tujuan tertentu. Seperti agar terlihat lebih menarik bagi orang lain, membawa kesuksesan dalam bisnis atau karier. Biasanya terbuat dari emas atau logam berharga lainnya yang di tanamkan oleh dukun atau 'orang pintar' di beberapa wilayah atau biasa juga di sebut dengan 'bomoh'. Biasanya orang yang memakainya mempunyai beberapa pantangan, salah satunya tidak boleh mengkonsumsi daun kelor, yang katanya bisa merontokan Susuk yang di pakainya.


sumber : tirto.id, kumparan. id

__ADS_1


__ADS_2