Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
72


__ADS_3

Hari-hari terasa lebih mudah untuk Ajeng dan Barata jalani. Mereka sudah tidak canggung lagi saat bersitatap, lebih rileks, mengalir, lebih bisa mengekspresikan perasaan mereka masing-masing. Terkadang mereka pun jalan bertiga untuk memenuhi keinginan Ashila, menyempatkan waktu di tengah kesibukan Barata yang luar biasa.


Ajeng pun tak kalah sibuk, dia sering di sandingan dengan dokter Satrio untuk kerjasamaa, melakukan MoU* dengan sekolah-sekolah PAUD untuk menghadiri undangan parenting bersama dengan para walimurid.


Barata dan Ajeng masih sama-sama bungkam tentang komitmen mereka, baik dari Bu Suci maupun Bu Sukma. Meskipun mereka berdua tahu kalau Bu Sukma sudah mengetahui tentang perasaan Barata ke Ajeng dan cerita masa lalunya.


Hari ini jadwal Ajeng dan Satrio berkunjung di Kelompok Bermain Mentari. Sekolah anak usia dini itu berada di sebuah desa yang terletak tak begitu jauh dari rumah sakit.


Saat mereka tiba, mereka di sambut oleh kepala sekolah dan seorang guru muda yang masih energik. Mungkin usianya sepantaran dengan Ajeng.


"Asalamualaikum." Ajeng memberikan salam kepada mereka, sedangkan Satrio yang berbeda Agama dari mereka hanya menangkupkan tangannya di depan dada, dan Ajeng menjabat tangan erat kedua wanita beda generasi itu.


"Walaikumsalam, Wah Bu dokter dan Pak Dokter, silakan masuk mari. "


"Perkenalkan Saya Bu Genti, kepala sekolah di sini, dan ini rekan saya, Bu Rena. "


Bu Genti selaku kepala sekolah memperkenalkan dirinya dan gurunya.


"Oh iya Bu. " Ajeng tersenyum menyambut keramahan Bu Genti.


"Ibu-ibu wali murid sudah menunggu Dok, silakan langsung masuk saja ke dalam kelas. " Bu Genti mempersilakan Ajeng Dan Satrio untuk masuk ke dalam kelas yang sudah berisikan wali murid yang akan mengikuti kegiatan parenting hari ini.


Baru saja Ajeng akan masuk, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Papa Ashila. Ajeng langsung menghembuskan nafas panjang.


"Dok, tolong buka dulu ya, ada panggilan mendesak. " Ajeng berbisik ke arah Satrio.


"Siapa? Pak direktur? " Godanya.


Ajeng memperlihatkan ponselnya pada Satrio yang di tanggapi dengan gelengan kepala.


"Bentar ya. " Ucapnya berlalu, mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk menerima telepon.


"Ya, Asalamualaikum. " Ucapnya bebarengan dengan suara salam dari seberang.


"Ada apa? " lanjutnya.


"Lagi sibuk? makan siang nanti bareng Shila ya. "


Sudah kebiasaan Barata kalau bicara langsung to the point, mungkin agar mempersingkat waktu.


"Kayaknya gak bisa Bar, aku sama dokter Satrio pa..."


"Gitu ya, ya udah "


tut.. tutt.. tutt...


Panggilan di akhiri, sebelum dia menyelesaikan perkataannya.


"Pasti marah nih. " Gumam Ajeng.


Ajeng langsung mengirimkan pesan.


"Aku sama Dokter Satrio lagi ngisi parenting di sekolah, belum tahu acaranya kelar jam berapa, nanti aku kabarin lagi ya" . Tulisnya dalam pesan singkat.

__ADS_1


Dia mengaktifkan mode diam, kemudian memasukan ponselnya ke saku jas.


Ajeng berjalan kembali menuju ke ruangan tempat di adakannya parenting. Tema parenting hari ini adalah mendidik anak dengan cinta sesuai dengan fitrahnya. Dia yang nantinya akan akan banyak mengisi materi, sementara Satrio yang akan melakukan deteksi tumbuh kembang anak bersama bidan desa yang juga di hadirkan.


Ajeng memberikan pengisian tentang pendidikan anak usia dini, di mana fitrah anak usia 2-6 tahun adalah belajar sambil bermain, lebih menekankan kepada orang tua agar jangan sampai mencekoki anak untuk pintar baca tulis dan hitung, karena untuk itu semua, nanti ada waktunya.


Menanamkan kebiasaan baik, akhidah akhlak dan penguatan sosial emosional pada anak di usia tersebut sangatlah penting, karena sikap perilaku baik, harus di terapkan sedini mungkin agar menjadi kebiasaan berperilaku anak. Nantinya saat anak beranjak dewasa, mereka akan dijejeli dengan pengetahuan umum, bukan tidak mungkin pembelajaran adab dan aqidah akhlak akan semakin berkurang bahkan bisi hilangkan.


Ajeng berpesan juga kepada ibu-ibu muda untuk lebih memerdekakan anak dalam belajar, memberikan kebebasan kepada anak untuk berkreasi sesuai imajinasi dan pemikiran anak. Orang tua hanya mengarahkan, selebihnya biarkan otak anak berkembang dengan stimulus dari orang tua dan benda-benda yang berada di sekitar anak.


"Contoh kecil, saat anak sedang mewarnai pasti ibu selalu merecoki kan? rambut warna hitam, masa warna biru dek? "


"Ibu lupa ya jika sekarang jaman modern rambut bisa bergonta-ganti warna? "


"Daun masa coklat dek? itu bunga mawar kok biru? kan merah dek? "


"Ibu lupa ya kalau daun yang sudah layu itu berwarna coklat? dan bunga mawar itu sekarang tidak cuma merah dan putih seperti waktu kita kecil dulu, sekarang teknologi canggih, perkawinan silang tumbuhan sudah banyak di lakukan. "


"Jadi, mari kita saling mendukung anak-anak kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? tidak mungkin tetangga kan?"


Ajeng berbicara panjang lebar, memberikan contoh riil yang memang banyak sering terjadi di kalangan ibu-ibu muda.


Suara riuh ibu-ibu yang beragumen membenarkan perkataan Ajeng membuat suasana menjadi hidup, banyak reaksi yang Ajeng lihat dari wajah orang-orang di depannya yang mendengarkan perkataan dia.


Ada yang ber-Oh ria, ada yang berkerut dalam, ada yang langsung berbisik dengan sebelahnya, ada yang tersenyum lebar. Bahkan ada yang tidak sabar untuk bertanya, hingga akhirnya Bu Rena mempercepat sesi tanya jawab.


"Silakan ibu-ibu, jika ada yang mau bertanya dokter Ajeng siap untuk menjawab pertanyaan ibu-ibu semua." Bu Rena membuka sesi tanya jawab.


Sesi tanya jawab di lakukan cukup lama, terlihat binar bahagia dari para peserta setelah mendapatkan ilmu baru yang di sampaikan oleh Dokter Satrio dan Ajeng. Penjelasan yang lugas dan memang membahas hal yang selalu menjadi masalah ibu-ibu di kesehariannya ternyata membuat mereka ketagihan untuk melaksanakan kegiatan serupa lagi. Bahkan Ajeng sampai di mintai nomor ponselnya oleh beberapa walimurid untuk berkonsultasi lebih lanjut.


Tak sedikit pula yang meminta agar parenting ini berkelanjutan. Agar semakin menambah pengetahuan bagi ibu-ibu dalam mengasuh dan membersamai anak-anaknya dalam bermain.


" Dokter, silakan santap siang dahulu, sudah di persiapkan oleh ibu-ibu pengurus. " Bu Genti mendekati Ajeng dan Satrio yang sedang membereskan peralatan mereka.


"Oh iya bu. " Satrio menjawab di ikuti Ajeng yang menganggukan kepalanya.


"Habis ini langsung ke rumah sakit lagi dok? " Ajeng bertanya, sembari merogoh saku jasnya, melihat ponselnya.


10 panggilan tak terjawab dari Papa Ashila


3 pesan masuk dari orang yang sama.


"Pulang jam berapa?"


"Mau aku jemput? "


"Sibuk banget ya? "


Ajeng terlalu sibuk menatap layar ponselnya, sehingga tidak mendengarkan dengan baik perkataan Satrio.


"Gimana?" Ulang Satrio.


"Hah? iya, Oke. " Jawab Ajeng yang tidak begitu mendengarkan Satrio.

__ADS_1


"Makasi ya. " Ucap Satrio, dan Ajeng reflek mengangkat kepalanya.


"Untuk? "


"Nemenin aku cari stetoskop baru. "


"Lah? kok? " Ajeng terlihat bingung.


"Lah bukannya tadi udah iya oke? kenapa? Ada acara ?"


"E.. eh.. iya.. enga.. enga. " Menjawab dengan terbata.


Beruntung obrolan mereka terputus manakala Bu Rena memanggil kembali mereka untuk menyantap makan siang bersama.


"Silakan dok, seadanya. " Bu Genti berbasa-basi.


"Waah special begini kok seadanya Bu. " Satrio berseloroh.


Ajeng dan Satrio bergantian mengambil makanan. Kemudian duduk bersisian di meja yang biasa di gunakan oleh anak-anak untuk belajar. Mereka semua menyantap makan siang dengan tenang.


Tepat setelah Ajeng selesai makan, ponselnya yang sudah dia ubah ke mode normal itu berdering, siapa lagi kalau bukan Barata.


"Iya Asalamualaikum. "


"Udah selesai? aku jalan pulang dari Korem, mau aku jemput sekalian? " Suara Barata terdengar di telinganya.


"Udah, ini lagi makan siang. Emm kayak nya gak usah deh Bar, aku pulang bareng dokter Satrio, dia memintaku menemaninya mencari stetoskop. " Ucapnya hati-hati sambil melirik Satrio yang masih menikmati santap siangnya.


"Oh, yaudah. " Terdengar suara kecewa di seberang sana.


"Gak papa-papa kan? "


"Ya." Jawab Barata singkat.


"Oke. Asalamualaikum. "


Tanpa menjawab salam, Barata memutus panggilannya.


"Huah kebiasaan deh main putus aja" gerutunya.


*Memorandum of Understanding (MoU) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan, antara lain nota kesepakatan/nota kesepahaman/perjanjian kerja sama.


_________________


Huaaahh Ajeng, kamu gak tau banget siiiiii itu babang Bara cembukurrr ituuuuu. Apa-apa fokus dong Jeengggg, main iya iya aja kamu🤪


Ada yang masih ingat dengan Bu Genti dan Rena? ☺


Boleh dong Votenya di hibahin ke Ajeng🤭


Terimakasih untuk kiriman bunga dan kopinya juga😘


Kalau like nya sampe 100, aku double up hari ini yaa😊😊😊

__ADS_1


Terimakasih Maturnuwun


__ADS_2