Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
90


__ADS_3

"Iya memang dia anak Rafi," jawaban Barata cukup mengagetkan Ajeng dan Bu Sukma, sungguh itu diluar ekspektasi mereka.


"Mau apa lagi kita? sampai kemana pun ya akan tetap seperti itu. Imbuhnya.


"Mau dibawa ke mana pun juga dia yang berhak untuk Ashila."


"Kok kamu ngomongnya gitu?" Ajeng seperti tidak terima dengan jawaban Barata.


"Lah, gimana? memang gitu kan? terus mau di-gimana-in? aku harus ngomong gimana? ngomong kalo itu salah?" Barata kini menyenderkan badannya ke kursi. Mengembuskan napas kasar.


"Kamu diem aja kalo laki-laki itu ambil Shila?"


"Gak habis pikir aku sama kamu, Mas!"


"Ya aku harus gimana? coba katakan? aku harus gimana? nahan-nahan dia? mohon-mohon? gak sebegitunya juga kan, kamu juga harus lihat ini secara hukum dong, ini udah paling kuat, akurat, nyata dan fakta." Mengambil amplop berisi tes DNA yang ada di depannya, mengacungkan ke udara .


"Ya setidaknya kamu harus usaha, ada mediasi atau apa kek sama laki-laki itu!" Ajeng sudah terlihat sangat kesal.

__ADS_1


"Sudah..sudah, kita lihat nanti saja. Langkah apa yang akan Rafi tempuh buat ambil Shila dari kita. Kita harus legowo. Kita berusaha sebisa kita, bagaimana pun Ashila juga tidak akan semudah itu meninggalkan kita." Bu Sukma menjadi penengah ketegangan antara Ajeng dan Barata.


"Besok, katanya dia akan menemui kamu, nunggu kamu ada waktu. Dan tanpa atau tidak persetujuan dari kamu, aku akan pindahin Ashila ke sekolah yang lebih ketat lagi keamanannya. Aku gak mau kejadian kayak gini terulang lagi. Aku tidak sedang menyalahkan siapapun di sini, aku hanya kecewa dengan pihak sekolah yang segitu mudahnya nglepas muridnya gitu aja tanpa ada konfirmasi ke wali murid. Masih untung laki-laki itu gak macam-macam sama Shila. Aku gak bisa bayangin kalau Shila sampai kenapa-kenapa!" Ajeng masih terus berlanjut mengeluarkan kegundahan hatinya.


"Udah sayang, InsyaAllah nanti ada jalan keluarnya ya, kita sabar dulu, pikir semuanya pelan-pelan jangan gegabah, jangan sampai salah langkah."


"Memang apa yang dikatakan Barata benar, mau sampai mana pun, status Ashila tidak akan berubah. Dan di mata hukum kita tetap kalah." Bu Sukma menenangkan Ajeng.


"Sekarang kita fokus dulu sama pernikahan kalian saja ya, waktunya hanya tinggal besok. Mama nanti akan minta bantuan Vika, Dita dan Siti buat mempersiapkan segalanya. Biar butik tutup dulu. Sekarang sudah malam, kalian istirahat saja gih, jangan di jadikan beban ya Jeng, InsyaAllah semua ada jalan." Bu Sukma meraih jemari putri kesayangannya itu. Sementara Ajeng hanya diam, tanpa ekspresi. Tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di pikirannya.


Ajeng POV


Dan kini, aku sudah berbaring di samping Ashila, memandangnya lekat. Wajah bocah yang mirip sekali dengan Ibunya, Anita, sama sekali tidak membuat aku membencinya. Sedikit pun.


Barata sungguh berhasil membuat aku kesal, marah, kecewa juga dengannya. Jawaban yang dia berikan sungguh bukan jawaban yang aku ingin dengar !


Apa Barata tidak memikirkan aku yang sudah mengurusnya hingga sebesar ini? mencintainya seperti anakku sendiri? Yang tidak pernah peduli bahwa Ashila ini adalah anak Anita dan laki-laki lain?

__ADS_1


Mungkin, orang akan beranggapan kalau aku bodoh, lebay, norak atau apapun itu, silakan. Gak ada yang melarang, aku terima-terima saja. Justru yang gak aku terima kalau sampai Ashila benar-benar pergi dari aku.


Aku, perempuan yang sudah berkepala 3 lebih 2 tahun, yang ya katakanlah bisa dikatakan aku perawan tua! aku baru menikah sesungguhnya dan dibobol pun baru beberapa Minggu ini, dan entah kapan akan hamil karena aku belum berani untuk memikirkan hal itu.


Teman sepantaran aku sudah memiliki satu, dua bahkan mungkin ada yang tiga anak, sementara aku? aku bukan mendahului kehendak Tuhan, tapi bisakah orang lain mengerti perasaan yang tidak bisa aku sampaikan? bisakah orang mengerti kekhawatiran yang aku rasakan tanpa aku bicara?


Hahahahahah !!!


Bodoh sekali aku! mana mungkin hal itu bisa terjadi. Tidak akan ! karena mereka bukan Tuhan yang tahu tentang isi hati setiap hambanya!


Aku tahu, setiap orang punya titik kesuksesan mereka masing-masing, ada teman ku satu kampung di Cilongok yang kini anaknya tiga, masih ikut mertua. Ada lagi teman SMA, sudah menikah punya anak satu, sudah punya rumah sendiri dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, mengatur segala kebutuhan anak dan suaminya. Sementara aku kerjaan bisa di bilang mapan, sudah menikah, punya rumah tapi belum punya anak.


Memang kehidupan kalau dibanding-bandingkan antara orang yang satu dengan yang lainya tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah menemui rasa syukur. Satu-satunya ya hanya ada di diri masing-masing, bagaimana caranya agar rasa syukur itu tidak pernah lepas dari bibir dan hati. Entahlah, rasanya aku hanya ingin sesekali merasakan egois diri, lelah selama ini hanya sebagai penerima dan pengikut.


Aku hanya bisa meringkuk di sini, di sebelah bocah yang sudah aku anggap anakku sendiri, sungguh aku sangat menyayanginya, aku tidak mungkin bisa melepas dia pergi begitu saja meskipun memang kenyataan yang ada berkata bahwa, semua yang suamiku bilang itu benar! sampai kemana pun, orang tua Ashila mereka bukan dia maupun Barata.


"Yank.." ku dengar suaranya memanggilku di balik pintu. Aku sama sekali tak ada niat atau keinginan untuk membuka pintu. Aku hanya ingin sendiri sekarang, sudah hanya itu titik.

__ADS_1


Aku sama sekali tak menghiraukan panggilannya yang semakin terdengar frustasi.


"Tega nih aku tidur sendiri?" nada suara yang memelas, sama sekali tak meluluhkanku. Aku semakin menulikan telinga, mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur, kemudian menaikan selimut sampai menutupi kepala, enggan mendengan rengekannya.


__ADS_2