
"Gimana seharian ini? udah mendingan badannya?" Ajeng yang sedang melipat mukena mendongakkan kepalanya, ketika Barata memeluknya dari belakang, mendengus napas yang terasa di puncak kepalanya.
"Udah enakan kok," jawabnya sambil tersenyum, kemudian membalikan badan. Memainkan jemarinya di dada bidang Barata.
"Sudah bisa beraksi lagi ya?" tanyanya dengan wajah sumringah, dan kini tangannya memegang tangan Ajeng, dan mencoba untuk melu*mat bi bir ranumnya.
"Iih Yank! kamu sukanya begitu, lihat tuh Ashila kasihan, pindahin gih!" melepaskan ciuman Barata.
Ashila yang tidak bisa menahan kantuk itu akhirnya tertidur saat melakukan gerakan sujud di roka'at pertama.
"Tapi aku rindu!" ucapnya dengan mata sayu dan kini tangannya justru masuk ke dalam pakaian Ajeng, Dengan cepat, Ajeng menahannya sebelum tingkah suaminya itu semakin menjadi.
"Yank ! jangan gini!"
"Bentaran ya? ya? ya? ya?" Ucapnya memohon dengan jurus memelasnya.
"Ya ampun, gumuszz bangett siii." Menangkup pipi Barata dengan kedua tangannya, kemudian mengecup kening dengan sayang.
"Makan dulu yah, yuk!" mencoba meraih tangan Barata yang kini berada di pinggangnya.
"Ibu nanti nungguin loh, gak enak. Udah yuk ah turun!" ajaknya sambil mengurai pelukan, kemudian meletakan mukena di atas kursi rias.
"Aku udah request makanan kesukaan kamu loh Yank sama Mbok War, ayoo!" Kini dia berjalan keluar kamar, meninggalkan Barata sendiri yang masih terlihat malas untuk beranjak.
Ajeng langsung menuju ke meja makan, dan benar saja sudah ada Bu Sukma yang sedang menyusun piring.
"Barata gak ikut turun, sayang?" pertanyaan yang ditanyakan saat melihat Ajeng turun sendirian.
"Lagi pindahin Ashila ke kamar, Bu." Jawabnya yang langsung ikut menuang air putih untuk diletakan di samping piring yang sudah disusun oleh Bu Sukma.
"Udah bicara sama Barata soal tadi?" kini Bu Sukma duduk di kursi, berhadapan dengan dirinya.
__ADS_1
"Belum Bu, nanti habis makan rencananya, kasihan dia capek baru pulang. Takut emosi." Ajeng berkata jujur.
Barata memang sulit ditebak, kadang bisa sangat mudah diberikan pengertian, terkadang sama sekali tidak mau mendengarkan apa kata orang bila sudah mempunyai kehendak sendiri.
"Siapa yang emosi? eem?" Barata tiba-tiba saja muncul dari belakangnya, mencuri satu kecupan di pipi, kemudian menyeret kursi, dan mendudukinya.
Ajeng yang belum terbiasa dengan perlakuan suaminya itu hanya melirik kesal, malu dengan Ibu mertua yang kini duduk di hadapannya menjadi penonton ke-buncinan anak bungsunya.
Iya, Reno dulu bukanlah sosok yang pandai mengekspresikan perasaannya, terlalu kaku bila berhubungan dengan Ajeng, mungkin karena hubungan mereka yang bisa dibilang berawal dari komitmen saling bantu hingga berakhir buntu. Buntu karena mereka berdua pun terasa kikuk untuk memulai saling sentuh.
Lain dengan Barata yang memang pandai mengekspresikan cintanya pada Ajeng, satu-satunya perempuan yang menjadi candu baginya.
Tanpa menjawab pertanyaan Barata, Ajeng berdiri dari duduknya untuk melayani Barata. Mengambilkan nasi beserta lauk pauk.
"Terima kasih, sayang. Selamat makan." Barata menerima piring yang istrinya berikan.
"Nanti Ibu mau bicara sebentar ya, jangan naik dulu." Bu Sukma melihat ke arah anak lelakinya itu yang kini sudah lahap menyantap makannya.
Barata hanya menganggukkan kepala, enggan bertanya lebih detail lagi. Sementara Ajeng pun tiba-tiba berada di dalam mode diam. Dia hanya sedang berfikir bagaimana cara menenangkan hati suaminya yang pasti akan langsung panas.
Dia tak mau menambah beban pikiran Barata dan Bu Sukma, terlebih lagi wali kelas Ashila itu pasti akan habis dicerca tanpa ampun oleh suaminya.
Setelah menyelesaikan makannya, Ibu Sukma mulai membuka percakapan.
"Gimana kerjaan kamu Bar?" Bu Sukma mangawali pertanyaannya.
"Hemm," meneguk air putih dengan cepat. "Baik Bu, cuma dalam waktu dekat ini aku di tugaskan ke daerah X, Bu, buat cari tahu kasus penyimpangan aktivitas beribadah yang diduga ada aliran sesat, yang berkembang di daerah itu."
"Oya tadi ada orang yang udah nyiapin berkas keperluan aku dan Ajeng, jadi lusa kita sudah bisa menikah secara hukum," tangan kirinya langsung mengelus punggung Ajeng dengan lembut.
"Aku gak mau pernikahan aku ditunda-tunda lagi. Kalau kita hanya syukuran kecil-kecilan dulu gimana? panggil Pak penghulu, terus undang anak panti?"
__ADS_1
"Aku takut waktunya gak sampai. Karena ini misi penting." Jelasnya.
"Ya aku 'kan memang maunya gitu, Yank. Kamu aja yang terlalu memaksakan pingin yang rame-rame." Ajeng beranjak dari duduknya, meraih piring-piring kotor untuk dipindahkan ke tempat pencucian piring.
"Aku 'kan maunya semua orang tahu, kalau kamu milikku, kita sudah menikah dan gak ada lagi yang bisa deketin kamu." Rajuknya.
"Ya Allah, Yank! Kalo kamu mikir kayak gitu justru seakan-akan kamu gak percaya sama aku, dikira aku suka godain laki-laki lain apa!" Ajeng kesal dengan alasan Barata.
"Bukannya aku gak percaya sama kamu! Tapi aku gak percaya sama mereka yang ada di sekeliling kamu!" ucapnya lebih kesal.
"Ehh, udah kok malah jadi kalian berantem si!" Bu Sukma yang sedari tadi hanya menjadi penonton, kini mulai angkat suara.
"Kamu juga aneh-aneh Bar mikirnya! gak mungkin lah anak Ibu seperti itu, sudah sini duduk aja Jeng," memanggil Ajeng yang kini sudah hendak mencuci piring.
Tanpa menunggu diperintah dua kali, Ajeng langsung duduk kembali di sebelah Barata.
"Kamu dengerin Ibu dulu, jangan potong omongan Ibu ya," Bu Sukma memberikan peringatan sebelum berbicara.
"Tadi Ibu agak telat jemput Ashila. Dan Ashila sudah gak ada di sekolah, pihak sekolah bilang dia di jemput oleh Pakdenya. Ibu panik cari-cari sama Anto. Telpon kamu ternyata nomornya gak aktif. Mau lapor polisi belum ada 24 jam. Ibu sama Anto muter-muter nyari, gak lama kemudian Ajeng telpon. Ngabarin kalo Ashila udah di rumah." Bu Sukma memandang Ajeng sejenak, seolah mengerti akan Ibu mertuanya itu, Ajeng menganggukan kepalanya.
"Bisa kamu tebak siapa yang antar Ashila?" Bu Sukma menjeda. "Rafi," lanjutnya.
Dapat dilihat perubahan raut wajah Barata, yang membuat Ajeng tidak berani berkomentar.
"Dan ini, dia bawa ini." Bu Sukma menyerahkan amplop putih berisi tes DNA Ashila.
"Iya memang dia anak Rafi," jawaban Barata cukup mengagetkan Ajeng dan Bu Sukma, sungguh itu diluar ekspektasi mereka.
"Mau apa lagi kita? sampai kemana pun ya akan tetap seperti itu. Imbuhnya.
"Mau dibawa ke mana pun juga dia yang berhak untuk Ashila."
__ADS_1
Ajeng cukup tercengang dengan jawaban Barata.
"Betulkah ini suaminya yang menjawab?" batinnya yang justru terlihat sangat khawatir.