Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
78


__ADS_3

Ketika semesta mengajakmu untuk mengecap berbagai rasa, ikutilah...


Segala keluh-kesah, sedu-sedan, canda-tawa, terjatuh dan kemudian bangkit lagi, nikmatilah...


Ikuti alur, seperti mencontoh jalannya air yang mengalir mengikuti arus,


Suka tak suka, bisa apa?


Terkadang memang kita tak diharuskan untuk banyak bertanya, cukup diam dan berjalan..


Terkadang pula, kita perlu untuk menjadi bodoh, agar mendapat ilmu baru dan menjadikannya semakin kuat.


Kadang memang perlu mendengar kata orang, sebagaimana mereka tahu tentang diri kita melebihi kita sendiri.


Lucu memang,


Semuanya akan berbalik,


Semuanya ada masanya,


Dimana setiap keinginan dengan kesabaran dan ikhtiar akan terwujud,


Bukan tentang seberapa cepat, tapi seberapa tepat.


Bukan tentang seberapa banyak hasil, tetapi tentang seberapa banyak kita mengerti dan memahami dengan segala prosesnya yang terlalui..


Karena Allah, lebih tahu apa-apa yang terbaik untuk hambanya


Ajeng POV


Sungguh, aku sangat membenci hari ini. Ya Allah aku mohon hilangkan lah ingatanku, hapuskan memori hari ini. Sungguh sakitku bertubi-tubi, bertumpuk-tumpuk, sesak sekali rasanya.


Terlebih saat aku melihat pecundang itu hadir di depanku, sedang bersalaman dengan Mas Salman, orang yang memintaku menjadi istrinya dengan muka tak berdosa dia, dengan senyum gembiranya seakan tidak ada beban.


Sungguh aku ingin berteriak, memakinya habis-habisan!!!!!


Kemana dua hari menghilang?? dan sekarang tanpa dosa dan tak tahu malu, berdiri di depanku seolah semua baik-baik saja !!! rasanya aku ingin menggila !!!!


Aku sama sekali tidak mendengar apapun perkatan dari Pak RT yang sedari tadi berbicara, mungkin jika sudah di bukukan, beliau sudah sampai di bab ke 3.


Aku terlalu fokus dengan rasa kesal, benci, marah yang bercampur menjadi satu tanpa memperdulikan sekitarku, bahkan Ningrum yang di sebelahku pun sampai menepuk pundak ku. Menyadarkan ku untuk mendengar dan menjawab pertanyaan yang Pak RT ajukan untukku.

__ADS_1


"Jadi gimana Mbak Ajeng? Kartika Ajening Rahayu?"


"Apakah siap meneruskan ini semua?"


"Sepertinya Mbak Ajeng sedang tidak fokus"


Pak RT tersenyum ke arahku.


Dan aku hanya bisa membas anggukan kepalaku sembari tersenyum. Dengan senyum yang sungguh-sungguh kaku !!!!


"Baiklah karena Mbak Ajeng sudah siap, silakan waktu dan tempat saya serahkan kepada calon mempelai lelaki." Pak RT memberikan mic nya kepada Salman.


Sungguh saat ini aku hanya bisa pasrah, pasrah seeee ikhlas-ihlasnya. Menundukkan kepala dalam, rasanya aku ingin masuk dalam bumi saja, di telan sekarang juga. Sungguh aku ingin!!!!!


"Kartika Ajening Rahayu, Sweetbrown ku."


Deg...deg...deg...deg


Kalian tahu, jantungku seakan-akan melompat dari tempatnya, saat mendengar suara yang aku rindukan namun aku benci setengah mati dua hari terakhir ini masuk dan tertangkap di gendang telingaku.


"Bersediakah kau menjadi teman hidupku selamanya? menjadi ibu dari anak-anakku? menua bersamaku? melangkah bersama dalam suka dan duka? saling membersamai, memupuk cinta kasih, sampai ke Jannah NYA?karena kamu, dan hanya kamu, satu-satunya pemilik hati ini?"


Aku mendongakkan kepalaku, memandang ke arah depan, namun sialnya mataku sudah berkaca, tidak bisa melihat dengan benar apakah betul itu Barata? Barata Aji Dewandaru?


"Mbak, ayo jawab di tunggu itu." suara Ningrum menginterupsi ku.


Untuk sekian detik aku hanya bisa terdiam dengan air mata menumpuk di pelupuk mata.


"Ajeng? Bersediakah kau....."


Aku tidak bisa lagi mendengarnya, jantungku seakan luruh begitu saja, aku langsung memeluk Ningrum dengan eratnya. Terisak di bahunya tanpa memperdulikan make up yang menempel di wajahku.


Aaarrrggggghhhh bodoh sekali akuuuu !!!!!


Ini benar-benar lebih dari sekedar ekspetasi aku selama ini.


Huuuhuuuuuu


Ningrum sibuk menenangkan ku, pun dengan Mama yang kini ikut memeluku.


"Ayo sayang, Nak Bara menunggu jawabanmu." Mama berbisik.

__ADS_1


Aku langsung tersadar, melepas pelukanku dari Ningrum, menghadap laki-laki yang kini berdiri di depanku agak jauh, terlihat sangat tampan berkali-kali lipat, menggunakan batik yang ternyata bermotif sama dengan jarik yang akun pakai sebagai bawahan dan juga yang di pakai oleh Ashila sebagai kombinasi dresnya. Kemana saja kamu Jeng? ya Gusti Pangeran.


Aku yang sedari tadi hanya berfikir jelek tentang dia, memendam segala amarah kini luluh lantah, berarti semua ini sudah di rencanakan? Dia? membuat semua ini tanpa sepengetahuan ku? dalam waktu dua hari? luarrrr biyasah.


Sementara aku yang dua hari ini uring-uringan, bad mood, ini ingin tenggelam ke dasar bumi? oh.. Ya Allah ampunilah hamba. Cabut segala perkataan ku. Semoga engkau tidak mendengarnya.


"Ajeng?"


Ku dengar dirinya memanggil namaku entah sudah untuk yang keberapa kalinya.


"Aku menunggu jawabanmu." Ucapnya masih dengan senyum, namun aku yakin ada rasa khawatir yang bersemayam di hati kecilnya.


Sungguh bibirku kelu, tak bisa berucap apapun. Sementara untuk menganggukkan kepalaku pun butuh tenaga lebih, apa-apaan aku ini.


Semua ini bukan mimpi kan????


Barata POV


Hari ini aku menggila, sungguh rasanya seperti mendapat lotre yang aku tak pernah fikirkan sebelumnya. Orang yang aku perjuangkan dengan sungguh-sungguh dua hari ini akhirnya sah menjadi istriku, meskipun kami, untuk sementara ini hanya menikah secara agama, karena terbentur dengan banyaknya syarat administrasi yang masih dalam proses pengajuan ke kesatuan, namun tak membuat rasa bahagia ini berkurang, barang sedikit pun!!


Aku yang dua malam lalu langsung menemui komandanku, menceritakan duduk permasalahannya yang aku alami tanpa aku tutup-tutupi, akhirnya membuahkan hasil yang sangat-sangat memuaskan. Mengenyampingkan jabatan dan memposisikan diri sebagai orang sipil , meminta kelonggaran dan segalaa kemudahan untuk hari ini sangatlah tidak mudah, beruntung atasanku benar-benar luar biasa baiknya, akhirnya setelah membuat surat perjanjian sedemikian rupa dengan dibubuhi materi dengan komandan, esok harinya aku dan beliau Pak Siswanto, menyambangi keluarga Mama Suci untuk mengutarakan niat baik ku.


Tidak mudah meyakinkan kepada Mama Suci agar aku mendapatkan anak perempuannya tersebut, hingga aku menceritakan kisah pelik kami dan meminta kepada Pak Sis agar ikut membantu meyakinkan Mama Suci.


Beruntung, Pak Rahmat bisa membujuk istrinya tersebut, hingga akhirnya, Mama Suci bersedia menyerahkan anak perempuannya dengan berbagai macam wejangannya. Permintaanku meminta Ajeng untuk langsung ku nikahi secara agama pun langsung di setujui.


Mereka jadi tidak terlalu terbebani dengan alasan penolakan Ajeng terhadap Salman, yang lebih dulu memintanya, memberikan alasan bahwa Ajeng sudah terlebih dahulu dipinang oleh adik dari suaminya dan akan menikah secara Agama.


Sungguh, aku merasa semesta begitu mendukungku, Ibu yang gembira luar biasa, yang akhirnya bisa melihatku mendapatkan kembali menantu yang telah hilang. Hahaha berlebihan sekali aku ! dan tentunya pun, Ashila yang mempunyai Mama, yang bisa bersamanya setiap saat setiap waktu.


Pak Sis, dia dengan mendukungku seratus persen, menjamin semuanya akan baik-baik saja, asalkan aku bisa merahasiakan ini sampai pengajuan pernikahanku di terima. Sebetulnya tinggal menunggu waktu saja, karena segala persyaratan sudah di ajukan, tinggal beberapa dokumen saaja yang bisa di susulkan sambil berjalan.


Dan sekarang, semua orang larut dalam suasana suka cita, bisa aku lihat Mbok War yang sedari tadi memeluk Ajeng kini justru menangis tersedu. Layaknya melepaskan anak sendiri Mbok War itu.


Dan sepertinya aku harus bersabar, setelah melakukan ijab qobul, bertukar cincin dan harus puas 'hanya' mengecup keningnya dan dia mencium punggung tanganku, kini dia sudah tidak bisa aku gapai ! Pergi menjauh berkumpul dengan para sanak saudara dan tetangga dekat yang tidak seberapa itu. Tak terkecuali dengan Ust Weni dan juga Salaman. Lelaki yang baru pernah pertama kali aku temui.


Entah apa yang mereka bicarakan sampai-sampai dia lupa dengan suaminya sendiri !!


Tunggu !! Suami???


Hahahah ya, aku suaminya dan dia istriku kan? benar begitu? Ya Tuhan benar-benar begitu kan? aaaahhh sungguh, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku sendiri saat ini.

__ADS_1


So happy today !!!!!!


__ADS_2