
Setibanya di rumah sakit, Reno kembali menggendong Ajeng. Padahal Ajeng sudah menolak keras bahwa tidak perlu di gendong, malu dengan keadaan sekitar.
Ajeng ingin naik kursi roda. Tapi apalah daya Ajeng yang selalu kalah dan mengalah tentu saja dengan keputusan Reno. Meski sebenarnya dia juga kesal!
Reno memasukan Ajeng di ruang UGD, beruntung dokter orthopedi masih berada di rumah sakit, sehingga penanganannya bisa cepat.
Benar dugaan Reno, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan CT scan tentunya, ternyata kaki Ajeng retak dan harus di gyps. Hal itu dilakukan untuk menjaga pergelangan kaki yang retak agar tidak bergeser.
Setelah dijelaskan secara detail dan menyeluruh, dari proses pemasangan gyps sampai proses pemulihan yang bisa memakan waktu 6 bulan paling cepat, akhirnya Reno mewakili dari pihak keluarga untuk menandatangani berkas yang di butuhkan oleh rumah sakit, untu melakukan penanganan selanjutnya.
Reno kemudian mengabari keluarga Ajeng tentang keadaan anak mereka, dan meminta mereka untuk datang ke rumah sakit sekalian membawa beberapa pakaian Ajeng untuk baju gantinya nanti.
Setelah melalui dua malam di rumah sakit akhirnya Ajeng di perbolehkan untuk pulang, dengan beberapa catatan tentunya. Selain tidak diperbolehkan untuk banyak beraktivitas, dia juga belum diperbolehkan untuk berjalan sendiri, meskipun dengan kruk atau tongkat penyangga sekalipun untuk beberapa minggu kedepan. Dan hal wajib lainnya adalah gyps yang membalut kakinya tidak boleh basah. Semua itu harus benar-benar dilakukan agar proses penyembuhan berjalan dengan cepat tanpa hambatan. Dan menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.
Hingga, Reno lah yang wara-wiri datang untuk segala keperluan Ajeng, termasuk menyelesaikan laporan skripsi yang tinggal menunggu beberapa minggu lagi. Ningrum sang adik tak banyak membantu, ia juga sedang sibuk sendiri mempersiapkan ujian nasionalnya, sekaligus mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi SMPTN.
Dan disitulah, yang membuat fikiran Ajeng kembali di liputi rasa cemas, tak enak hati dan juga rasa tau diri yang besar. Beberapa kali kesempatan, Reno kembali mempertanyakan tentang jawaban Ajeng. Namun dia masih bisa menolak dengan alasan skripsi yang masih belum selesai, dan dengan keadaan dia tentunya yang masih dalam tahap pemulihan, yang membuat terbatasnya ruang gerak dia.
Reno berkontribusi besar dengan skripsi Ajeng, tidak ada hari tanpa Reno, termasuk di dalam seminar skripsi, sidang skripsi, sampai proses revisi dan memintakan tanda tangan kepada para dosen pembimbing dan kaprodi. Dan Dekan tentu saja.
__ADS_1
Namun, semua berubah manakala di hari terakhir, saat Reno mengantar Ajeng pulang dari kampus birunya, Reno menyerahkan map kepada Ajeng, mengingatkan kepada Ajeng untuk segera membaca dan memahami isi map tersebut. Dan menghubungi Reno secepatnya.
Ajeng tak sebodoh itu hingga tak bisa menebak apa yang akan mereka sampaikan. Semua tak lebih dari permintaan konyol Reno untuk menikah dengan dia.
"Aku gak bisa mampir ya, ada janji temu dengan Bapak Sekda di pendopo sore ini" Ucapnya ketika membantu Ajeng keluar dari mobil.
"Salam buat Mama Bapak ya" Dan seperti biasa, dia mengacak rambut panjang Ajeng dan dibalas dengan acungan tongkat kirinya.
Beberapa hari ini memang Reno mulai di sibukan dengan proyek pembangunan yang sedang dilakukan oleh pemda setempat. Sebetulnya Ayah Reno yang terlibat, namun kini Ayahnya sering mengajaknya untuk ikut terlibat ke dalam urusan proyek. Karena kelak Reno yang akan meneruskan, ucapnya manakala Reno enggan terlibat dia dalamnya.
Reno menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju ketempat yang sudah di janjikan dengan kliennya.
Sepi. Satu kata untuk menggambarkan suasana rumah hari itu, hingga akhirnya dia langsung menuju ke kamarnya, menguncinya dari dalam agar lebih leluasa untuk membuka dan mempelajari map yang Reno berikan tadi
Map itu berisi tentang perjanjian, tertulis jelas disana, adalah pihak kesatu untuk Reno, dan pihak ke-dua untuk dirinya.
Dia membaca dengan seksama dan teliti, takut nanti akan terjebak di kehidupan yang akan datang. Secara garis besar perjanjian itu hanya membahas tentang dirinya yang bersedia untuk dinikahi Reno, dengan begitu banyak fasilitas, bahkan terkesan memanjakan Ajeng. Tugasnya hanya satu. Membersamai Reno, dengan batas minimal 5 tahun. Membantu Reno untuk bisa menjalani kehidupan seperti laki-laki normal pada umumnya.
Pernikahan macam apa ini
__ADS_1
Terdapat dua buah materai yang harus di tandatangani dirinya maupun Reno secara sejajar. Tanpa menimbang lagi, karena memang harus seperti ini pada akhirnya. Ajeng membunuhkan tanda tangannya di atas materai. Pertanda bahwa dia menerima dan tidak ada lagi kesempatan untuk mundur sebelum 5 tahun di lalui.
Dia begitu optimistis bisa melalui itu semua dengan mudah, meskipun tanpa cinta di hatinya. Setidaknya rasa sayangnya kepada Reni sebagai kakak sudah lebih dari cukup untuk modal hidup bersamanya.
Dan dari situlah semuanya berawal. Balas budi yang menjadi pintu masuk Ajeng masuk ke dalam takdir yang terlewat olehnya. Saat dimana dia datang bertandang ke rumah Reno untuk pertama kalinya, tepat satu minggu sebelum melakukan ijab qobul, dia dikejutkan dengan takdir Allah yang benar-benar mempermainkan dia.
Foto Barata dengan seragam kebesarannya terpampang di ruang tamu. Hatinya mencelos. Takdir macam apa ini? Barata yang selama ini menjadi mimpi buruk disetiap tidurnya, kini sedang berdiri di hadapannya, tersenyum dengan memamerkan sederet gigi putihnya, terkesan menghina dia yang setengah mati menahan tangis.
Seketika saja dia menyesal. Kenapa selama ini tidak pernah mengorek informasi tentang keluarga Reno,
Tidak pernah mau berkunjung ke rumah Reno, selalu saja kedua orang tua Reno yang berkunjung ke rumahnya, saat melamar maupun saat beliau pulang dari kunjungan di desa sebelah tempat Ajeng tinggal. Ajeng merutuki dirinya habis-habisan. Bukan salah siapapun di sini sebetulnya. Reno juga pernah bercerita bahwa dia mempunyai seorang adik laki-laki yang sedang bertugas di Afrika, namun dia begitu bodohnya tidak tertarik dengan cerita tentang keluarga Reno. Hingga membuat dia semakin menyesal.
Dan sekarang? Rasa sesal itu hanya semakin menggerogot hatinya. Terlebih saat Malam Midodareni, Reno dan keluarga besar datang untuk membawa besanan. Barata berdiri di samping Reno dengan gagahnya. Memandanginya dengan tatapan sendu luar biasa yang sangat jelas terpancar di matanya. Sementara dia hanya bisa menahan air mata agar tidak meluncur dari kedua matanya, yang pastinya ketika satu air matanya jatuh, puluhan air mata lainnya akan ikut menyusul, membuat pertanyaan semua orang, mengapa di hari bahagianya dia menangis?. Belum lagi riasan yang sudah sempurna ini harus rusak begitu saja setelah seharian ini dia berkutat dengan make up dan acara siraman. Dia benar-benar harus menahan ini semua. Sampai kapan? Sampai waktu yang tidak bisa di tentukan.
Malam Midodareni : adalah malam dimana calon pengantin perempuan di rias untuk menyambut kedatangan keluarga calon pengantin laki-laki.
Besanan : seserahan yang diberikan kepada keluarga mempelai laki-laki untuk keluarga mempelai wanita / calon pengantin wanita.
(Untuk lebih jelas bisa google ya 😄)
__ADS_1
Terimakasih saya ucapan untuk yang tidak lupa meninggalkan jejak. Sudah memeberikan saya semangat Baik berupa like, komen, vote, hadiah terimakasih. 🤗