Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
59


__ADS_3

"Kamu ngantor? Emang kamu gak tau kalo hari ini ibu pulang? Gak bisa ijin sehari buat libur? Atau istirahat pulang kek. Lama-lama aku gemas sendiri tau gak sih sama kamu!! "


Dengan nada tinggi Barata melampiaskan rasa kesalnya pada Anita.


"Uang yang aku kasih tiap bulan kurang? Sampe kamu rela bela-belain kerja gini? Gak perhatiin lingkungan sekitarmu? Gak peduliin kondisi badan dan anak yang ada di perutmu?"


"Aku ini suamimu loh, suamimu!!!! Bisa gak sih sekali aja kamu dengerrin aku"


Anita menjauhkan ponsel yang sedari tadi menempel di telinganya. Kali ini Barata benar-benar murka. Belum pernah Barata semarah ini.


"Aku bisa lakukan apapun yang aku mau tanpa kamu fikir sebelumnya ya Nit" Tanpa menunggu jawaban dari Anita, Barata langsung memutus panggilan teleponnya.


Anita menghembuskan nafas kasar. "Breng sek" makinya.


"Kenapa harus ada kumpul-kumpul segala si di rumah, pasti wanita ga tel itu yang laporan ke Barata kalo aku gak ada. Sial!! " Anita menggerutu.


Siang ini, entah ada angin apa Barata tiba-tiba saja menelpon Anita. Hal yang jarang sekali Barata lakukan seperti biasanya. Berawal dari bertanya tentang bagaimana proses kepulangan Ibu dari rumahsakit sampai dengan kemarahan dia saat Anita menjawab kalau dia masih di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan pentingnya.


Bukan Anita tidak tahu, dia memang tak ingin tahu tentang kondisi maupun kabar mertuanya itu. Baginya, sudah Ada Ajeng di samping Ibu sebagai ka cung yang di suruh-suruh, itu sudah cukup, tanpa ada campur tangannya. Dia sengaja enggan membuka pesan yang berhubungan dengan wanita ja lang itu. Ujung-ujungnya pasti akan sangat? merepotkan!


Dan benar kan?


"Kenapa? " suara seorang lelaki bertubuh tambun yang baru saja keluar dari kamar mandi, terheran dengan raut wajah wanitanya yang ditekuk.


"Biasa orang rumah" jawabnya singkat.


"Emm kayaknya saya harus ngajuin resign deh Pak, suami uring-uringan terus" Beranjak berdiri menghampiri Pak Rafli yang kini duduk di kursi kebesarannya.


Ya, sedari pagi, Anita di sekap di ruangan Rafli untuk saling melepas hasrat mereka. Hingga jam makan siang berlalu mereka masih asyik melakukan aktivitas panas di sofa. Dan kini, mereka baru saja menyelesaikan kegiatan menyenangkan tersebut. Yang kemudian Anita langsung di cerca oleh Barata.


"Kamu serius? "


"Kamu keluar, aku udah gak bisa lagi menjamin jatah bulanan dan 'harian' kamu loh Nit. " Jawaban Rafli membuat Anita menjadi gamang.


"Entahlah, untuk saat ini saya belum bisa berfikir pak" Merengkuh bahu lelaki yang sedang duduk itu dari belakang. Kemudian memeluk manja padanya.


Dia masih enggan melepaskan pekerjaannya. Terlebih pundi-pundi uang yang di hasilkan dari pekerjaan sampingnya memuaskan pak Rafli sangat banyak. Apa jadi nya nanti kalau dia hanya berdiam diri di rumah? membosankan!!


Sementara itu, Barata yang baru saja mengahiri panggilan sepihak bersama Anita, kembali menekan tanda panggilan, untuk menelepon seseorang.


"Kabari kalo dia udah nyampe rumah"


Satu kalimat yang cukup di mengerti orang di seberang sana.


Baru saja dia hendak memasukan ponselnya ke dalam saku, ponselnya berdering.

__ADS_1


Mba Runti memanggil.


"Ya Asalamualaikum, gimana Mbak" Lelaki yang tidak bisa berbasa itu langsung bertanya.


"Walaikumsalam, lagi di mana? sibuk ya"


"Gak gitu, ada apa? "


"Pindah panggilan video ya, dari tadi di telpon susah banget!! " tak lama kemudian, langsung nampak wajah tampan adiknya memakai jas hitam. "Habis ngawal dek? " tanyanya.


"Ya tadi habis ada rapat sama kemendikbud®. Ibu mana? " tanyanya.


"Itu lagi di suapin anak kesayangannya, tau gak si, Hari ini melow banget, gak tahu kenapa. Mbak tanya juga diem aja. "


"Udah pinter main rahasia-rahasiaan Ibumu itu" Runti berbisik pelan.


"Jangan terlalu di tanya macam-macam, takut-takut malah jadi beban pikiran jadinya. Mana coba aku mau ngobrol bentar. " pintanya. Dan tak lama kemudian, layar yang tadinya penuh dengan wajah Runti, kini wajah dua orang tersayangnya terpampang jelas di kamere.


"Udah ngomong aja, kameranya udah aku balikin, Ibu susah kalo harus pegang ponsel. "


"Asalamualaikum Ibu, Mbak Ajeng. " Barata tersenyun manakala Mbak Runti menghadapkan kameranya ke arah depan.


Sementara yang di seberang sana sedikit merasa terkejut saat menerina telepon darinnya.


"Walaikumsalam" kedua wanita tersebut menjawab salam dengan senyum lebar.


Seharusnya hal seperti ini yang aku rasakan dan lihat setiap hari. Bukan laporan foto yang membuat jiwaku menggila ingin mengakhiri segalanya.


"Gimana Ibu sehat ya Ibu ya? " tanyanya.


"Makannya gimana Mbak Ajeng? oke kan? " Lanjutnya.


"Aman komandan" Ucap Ajeng yang di balas tawa renyah olehnya.


"Tumben menelpon? tidak sibukkah? " Ibu ikut mengisi suara.


"Mbak Runti yang telpon Bu" jawabnya sambil tersenyum.


"Iya lah, kalo gak di telpon mana mau nelpon dulu, kebiasaan buruk" Runti menimpali.


"Sehat-sehat ya Ibu, makan yang banyak. Harus nurut sama Mbak Nurse baru ya, kalo gak nurut nanti di tinggal pergi loh" candanya.


Ajeng yang tau maksud perkataan Barata, mendelikan matanya.


"Tuh kan Bu, galak banget dia" tertawa terkikik.

__ADS_1


Sementara, orang yang sedang menikmati makan siang itu, hanya berperan sebagai pendengar yang baik. Menikmati makan mereka tanpa terganggu. Pun dengan Naufal yang sepertinya tenang-tenang saja saat melihat Barata berbicara dengan Ajeng.


"Udah ya, jangan mengganggu terus, Ibu sedang makan"


"Udah Mbak, gak usah di hadepin ke sini, sambung nanti lagi"


"Yuk Bu lanjut makannya" Ajeng kembali memfokuskan Ibu Sukma untuk menyantap makan siangnya.


Runti menjauh, mengambil jarak dari kerumunan orang di dalam rumah. Berbicara berdua dengan adiknya.


"Kamu liat mereka?" ucapnya membuka suara saat sudah berada di halaman samping.


"Siapa? Ibu dan Ajeng? kenapa? " dia pura-pura bodoh, mendengarkan perkataan kakaknya yang pasti akan sangat panjang.


"Mbak selama ini memang jauh dari jangkauan kalian ya, tapi Mbak gak se acuh yang kalian fikir selama ini. Mbak tau semua apa yang terjadi di dalam rumah ini. Tak terkecuali istrimu. Itu yang jadi point utama dan pertama."


"Mata Mbak ada di mana-mana, gak cuma di sini aja" menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuknya.


"Kamu fikir, Ajeng masih pantas di bikin repot oleh keluarga kita? dia itu siapa si? sampe rela berkorban sedemikian besar? kamu mikir sampe situ gak sih Dek? "


"Apa gunanya kamu menikah? apa gunanya kamu punya istri? "


Dimana dia? kamu tau gak apa yang dia lakuin di belakangmu ? Sementara orang lain yang bukan siapa-siapa malah gemati dengan Ibu kita. Kamu gak malu? " Cercanya tanpa ampun.


"Iya Mbak, aku udah bilang sama dia suruh berhenti kerja, apalagi kondisi dia seperti itu, lagi hamil. Tapi seperti nya dia masih enggan meninggalkan pekerjaannya. "


"Lalu? kamu diem aja?" dengan tak sabarannya Runti berkata.


"Ya lihat nanti" jawab Barata pendek.


"Astaga, bener-bener kamu yaa Dek. Kamu gak maksud ya Mbak bilang panjang lebar? "


"Maksud Mbak, aku maksud, mengerti, mudeng dengan Mbak. Mbak maunya Istri aku kan yang ngurus Ibu? istriku suruh fokus kan, tenang aja, woles, waktunya akan tiba. Ibuku akan di jaga oleh istriku tercinta. Akan ada saatnya nanti. Mbak tenang aja, bantu doa ya, biar segalanya di mudahkan di lancarkan di berikan yang terbaik.. Aamiin " Tersenyum dengan wajah menyebalkannya!!!


"Kowe Gem blung®!!!!! "


Dengan kesal Runti mematikan sambungan teleponnya.


Dan telepon Barata kembali berdering.


"Dia pulang"


Seperti sebelumnya, percakapan tanpa jawaban itu sudah cukup, dan dapat di terima dengan baik oleh masing-masing pihak.


©Kemendikbud \= kementrian pendidikan dan kebudayaan

__ADS_1


®kamu gi la


__ADS_2