Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
44


__ADS_3

Ajeng tiba di rumah sakit, bersamaan dengan dipindahkannya Bu Sukma ke ruang perawatan.


"Mama" Memanggil mamanya dengan tertahan.


"Sayang" Mama Suci menyambutnya.


"Bu Suci" Mbok War menganggukan kepalanya.


"Sehat Mbok War" mama Suci mengulurkan tangannya, dan di balas dengan senyum.


Akhirnya mereka bertiga berjalan di belakang perawat yang sedang mendorong bed Ibu Sukma menyusuri lorong rumah sakit, menjauh dari ruang IGD.


"Barata meminta Ajeng menunggu Istrinya datang ke sini Ma, gimana? " Membuka obrolan sembari berjalan beriringan.


"Sama Mbok War di sini, Mbak Runti belum bisa di hubungi, tadi sudah telpon ke rumahnya, orang rumah bilang Mbak Runti lagi ke Palembang sama Mas Bayu"


"Terus? pulangnya gimana? "


Pembicaraan terhenti saat bed memasuki sebuah ruangan VVIP di lantai yang sama.


"Bila ada keluhan atau perlu bantuan, silahkan hubungi kami di ruang perawat yang berada di ujung lorong ya Bu, atau isa telan tombol merah ini" seorang perawat perempuan yang mempunyai nama Prapti Widiasih itu memberi arahan. Sementara perawat laki-laki masih sibuk mengatur bed agar lebih nyaman di gunakan oleh Ibu Sukma yang masih terlelap.


"Dimohon, untuk pengunjung jangan dulu terlalu banyak ya, maksimal penunggu juga 2 orang" Tersenyum manis sembari menjelaskan.


"Terimakasih Sus" Ibu menganggukan kepala.


"Kalau begitu kami permisi" Pamitnya.


Selepas kepergian perawat, Mbok War mulai membereskan alat-alat Ibu Sukma yang dibawanya dari rumah.


"Bu Ria dan Bu Efi masih menunggu di parkiran, kalau kamu mau tetap di sini, siapa yang akan bawa mobil? Mama Suci gamang.


" Pak Anto menganggur Bu, bisa di minta tolong untuk mengantar pulang. " Mbok War tiba-tiba menyahut.


"Kulo teng mriki pyambek nggih mboten saged, mboten wantun"


(Saya di sini sendiri ya tidak bisa, tidak berani)


Mama Suci semakin gamang,


Benar juga yaa


"Sebentar Ajeng coba telpon" berjalan keluar, mencoba menelpon Pak Anto.


"Istrinya Barata memangnya ke dimana Mbok? " Kini hanya tinggal Mama Suci dan Mbok War.

__ADS_1


"Kerja Bu"


"Mungkin sampun di kabari teng Ma Barata" (mungkin sudah dikabari oleh Mas Barata)


"Lalu butik bagaimana? Ibu sepertinya juga kewalahan. Makanya jadi sakit. Terlalu capai dia. "


"Nggih butik seniki dados ramen Bu, jan-jane karepe ibu nggih Mbak Ajeng ingkang ngopeni. Naning, kadose Mbak Ajeng pun sibuk pyambek nggih Bu? (Iya, sekarang butik jadi rame Bu, sebenarnya maunya Ibu ya Mbak Ajeng yang mengurus, tetapi Mbak Ajeng sudah sibuk sendiri ya Bu?) Mbok War menutupi apa yang Ajeng rasakan dan fikirkan. Setelah mendengar cerita Ajeng dulu, dan lewat apa yang Mbok War lihat di dalam bok yang Ajeng berikan padanya, memintanya untuk di buang namun sayangnya sekarang berada di tangan majikannya itu, Mbok War sudah bisa menarik benang merah atas apa yang terjadi. Cerita masa lalu Ajeng dan Barata. Yang dulu terhalang Mas Reno, sekarang terhalang oleh Mbak Anita.


"Mesakke yoh Bu" Mbok War tanpa sadar berucap kasihan. Sementara tangannya menghentikan aktivitas yang sedang dia lakukan, fikirannya kembali saat Ajeng menangis di pelukannya.


"Siapa yang kasihan? " Mama Suci terkaget dengan ucapan Mbok War.


"Ehh.. nik.. niku.. " Mbok War terbata.


Suara pintu terbuka mengalihkan pembicaraan mereka. Ternyata Ajeng yang masuk.


"Ajeng udah telpon Pak Anto, dia akan ke sini. Yuk Ajeng antar ibu ke parkiran. Kasihan kan Bu Ria dan Bu Efi menunggu. Sudah terlalu lama."


"Mbok War jangan keluar dari kamar ya, tunggu ibu di dalam saja, Ajeng mau antar Mama, sekalian ke Masjid mau Ashar an dulu. " Ajeng memeberi pesan.


"Nitip Ibu Sukma sama Ajeng ya Mbok, saya pamit dulu. Besok - besok saya dan Bapak InshaAllah datang lagi. " Mama Suci berpamitan.


"Nggih Bu, kulo tunggu kedatangannya" Ucap Mbok War.


"Bentaran ya Mbok" Ajeng kembali meraih handle pintu, dan keluar dari ruangan Ibu Sukma bersama Mamanya menuju parkiran.


"Mobilnya gak usah dibawa ke sini lagi" Ajeng memberi saran.


"Iya lihat bagaimana nanti baiknya, mau di bawain baju sekalian gak? kayaknya kalo Ibumu sadar gak bakalan dia ngelepas kamu gitu aja" Mama Suci tersenyum.


"Gak nglepasin gimana? sudah banyak orang nanti. Ada Anita, Barata, Mbok War juga." Ajeng kembali ke mode rendah dirinya.


"Ya nanti, kalau misal Ibu minta kamu nungguin, barang sehari atau dua hari gak papa lah, Mama lihat kayaknya Bu Sukma semakin kurusan ya? jauh berbeda dari waktu datang ke rumah"


"..... "


"Ya udah deh, Mama pamit ya" Memeluk putrinya erat.


Begitu sampai di parkiran dan melihat Pak Anto berjalan ke arah mereka, Mama Sukma langsung berpamitan.


"Maturnuwun Bu Efi, Bu Ria. Maaf ya jadi merepotkan begini" Ajeng dengan tulus mengucap maaf.


"Ya Mbak Jeng, yang sabar ya. " Bu Efi menghampiri.


"Tidak usah merasa tidak enak, namanya musibah tidak ada yang tau, beruntung Ajeng yang menemukannya. Semoga Ibunya lekas membaik dan pulih seperti sediakala yaa " Bu Ria mengusap punggungnya. Memberikan dukungan.

__ADS_1


"Nggih Maturnuwun Ibu semua"


"Pak Anto, maaf bikin repot ya" imbuhnya


"Santai mawon Mbak Jeng"


"Mau langsung saja apa ini Ibu-ibu? " Pak Anto bertanya.


"Iya langsung pak, monggo bu" Mama Suci mempersilahkan kedua rekannya untuk duduk di belakang, sementara beliau mendampingi pak Anto di depan.


"Pamit ya Jeng"


Mamanya membuka kaca jendela, sebelum akhirnya mobil meninggalkan area parkir dan Ajeng bertolah menuju masjid untuk menunaikan sholat Ashar yang sudah terlewat.


************


Ajeng memasuki kamar Bu Sukma, terdengar samar-samar suara orang berbicara.


Apa Ibu sudah sadar?


"Asalamualaikum" Ajeng membuka pintu, matanya langsung tertuju dengan Ibunya.


"Nak" Bu Sukma memanggilnya lemah.


"Ibu" Ajeng berjalan mendekat, mencium kening Ibu Sukma.


"Gimana? apa yang Ibu rasakan? sudah panggil dokter Mbok? " Tanyanya bertubi.


"Dereng Mbak"


Mendengar jawaban Mbok War yang katanya belum memanggil dokter, Ajeng langsung menekan tombol merah yang berada di atas bed Ibunya.


"Apa yang Ibu rasakan? " Ajeng bertanya cemas, karena Ibunya hanya memandanginya sembari menangis.


Hingga akhirnya dokter pun datang bersama perawat yang tadi mengantarkan Ibu.


"Ibu sudah sadar dok" Ajeng langsung menoleh manakala sang dokter mendekat.


Dia mundur ke belakang untuk memberi ruang kepada dokter dan perawat untuk memeriksa Ibu Sukma lebih lanjut.


Dengan pemeriksaan rinci dan beberapa pertanyaan yang hanya di jawab oleh Ibu dengan anggukan dan gelengan lemah, dokter mengakhiri dengan kalimat semangat untuk Ibu Sukma.


"Semangat terus Ibu, InsyaAllah nanti akan lekas pulih, yang penting Ibu harus semangat, makan yang banyak dan jangan terlalu memendam rasa berlebih ya, utarakan apa yang ingin Ibu sampaikan, berbagilah dengan orang-orang tersayang"


"Em, Mbak nya? bisa ikut saya sebentar? " Dokter mengalihkan pandangan ke arah Ajeng.

__ADS_1


"Ke ruangan saya ya" Ucapnya dengan senyum dan berlalu meninggalkan ruangan, di ikuti oleh Ajeng di belakangnya.


__ADS_2