Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
4


__ADS_3

Hari kedua setelah kepergian Mas Reno, aku memutuskan mencoba untuk bangkit. Berusaha setegar mungkin untuk menerima takdir. Infus yang masih terpasang di punggung tangan kiriku sudah tinggal tiga per empat botol saja.


Ku edaran pandanganku ke penjuru kamar, kulihat jam di nakas sudah menunjukan pukul 5 pagi. Saatnya untuk menunaikan sholat subuh. Yang sudah begitu lama sekali rasanya aku tak melakukannya. Sungguh dosa besar. Hidupku selama ini terlalu disibukan dengan kegiatan duniawi tanpa mengingat akhirat sedikitpun.


Entah apa yang selama ini ada di fikiranku, apa yang selama ini aku lakukan dan aku kejar, hingga aku sama sekali tak pernah mengingat Tuhan ku sang pemberi hidup. Aku terlalu lalai oleh kenikmatan yang Dia berikan hingga akhirnya sekarang aku baru merasakannya, bahwa sudah terlalu lama aku hidup jauh tanpa mengingatNYA.


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamarku, dan benar saja, Mama terlihat dengan membawa segelas air putih.


"Kenapa ada infus begini ma?" Aku bertanya dengan polosnya.


"Semalam kamu pingsan Jeng, kata dokter


kamu dehidrasi" Mama menjawab dan langsung mendekatiku. " Mau minum?" tawarnya sambil memberikan gelas yang beliau pegang.


Dan aku hanya mengangguk, dan menerima gelas yang mama berikan.


"Terimakasih, Ajeng mau sholat. Bisa tolong lepas ma?" Aku menunjuk infus yang masih menacap sempurna di punggung tanganku.


"Ahh mama gak berani, tayamum aja deh ya? itu juga infusnya tinggal sedikit lg habis, sayang. Nanti dokternya yang akan datang kesini, mengecek kondisi tubuhmu lagi" Mama memberi saran.


Dan akhirnya aku melakukan tayamum di pandu oleh mama, melakukan sholat sambil duduk dikarenakan terhambat oleh slang infus.


"Mama bisa ijin gak dari sekolah?" Aku bertanya kepada mama setelah aku selesai melaksanakan solat shubuh.


"Iya sayang, mama ijin hari ini tidak berangkat" Jawabnya sambil terus membantu aku melepas mukenah.


"Hanya hari ini?"


"Belum tau bagaimana nanti"


"Aku ikut mama pulang ke rumah aja apa y? disini terlalu banyak kenangan bersama Mas Reno. Aku juga sepertinya tak berani tinggal sendirian di rumah ma, meskipun ada Mbak Nur tapi kalau malam kan sendiri, Mbak Nur cuma sampai sore" aku memandang mama, yang kulihat beliau juga sedikit terkejut dengan permintaanku.


"Nanti kita bahas bersama ibu dan keluarga nak Reno ya sayang" Mama mengelus rambutku dan mengecup ujung kepalaku.


"Mama siapin sarapan dulu ya, kamu gak papa di tinggal sendiri?"


"Iya Ma gak papa, tapi pintunya buka saja ya?" Pintaku.

__ADS_1


Mama mengangguk dan langsung pergi menuju ke dapur.


Ku raih telepon genggamku yang berada di atas nakas, aku coba membuka pesan yang berisi notifikasi ratusan pesan itu. Aku scrol sampai ke paling bawah, mulai membaca satu persatu pesan, dari mulai grup SMA, grup kelas kampus dulu, dari teman dan saudara yang menyampaikan ucapan bela sungkawanya kepadaku.


Rasanya seperti mimpi aku menerima ucapan seperti ini, aku benar-benar tak sanggup membalas ucapan mereka. Segera kematian Handphone ku dan kuletakan kembali ke atas nakas.


"Kenapa?"


Suara berat orang bangun tidur mengagetkanku.


"Maaf mengagetkanmu" Dia mengulangi bicaranya.


Aku yang tadi terlalu fokus dengan pesan yang aku Terima sampai tak menyadari ada orang lain di depanku pun merasa kaget.


"Sejak kapan di situ?" Tanyaku dingin


"Sejak kamu menghela nafas berat dan panjang tadi" Jawabnya.


Tanpa meminta izin, dia duduk si sebelahku. Menyeret kursi riasku yang cukup membuat suara deritan kursi terdengar.


Dia kembali membuka suara yang sungguh, aku enggan menjawabnya.


"Ayolah Swe... "


Belum lengkap dia memanggiku, aku sudah mengalihkan pandanganku kearahnya dengan tajam. Dan mampu membuat dia menghentikan perkataannya.


"Maaf, aku kelepasan" Ucapnya sambil membalas menatap mataku lebih tajam lagi, dan seketika aku memalingkan wajahku.


"Tidak baik seorang laki-laki berada di dalam kamar perempuan, apalagi aku itu istri kakamu"


Ucapku sinis.


"Mantan" balasnya cepat.


"Aku mohon keluarlah"


Aku merubah posisi dudukku menjadi berbaring, dan membelakanginya.

__ADS_1


"Kita belum selesai" Ucapnya sambil berlalu.


Aku mencoba bersikap tenang, tapi tak bisa. Mataku mulai memanas disusul kemudian cairan bening keluar dari kedua mataku. Perasaan macam apa ini.


Ku menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatiku kembali, hingga akhirnya akhirnya suara langkah kaki terdengar mendekat kembali.


"Apalagi maumu?" Aku memutar badanku, menghadap orang yang sekarang di depanku.


"Ibu?" Tanyaku terkejut


"Kenapa Jeng? Ibu terlihat khawatir.


" E.. aa.. Engga bu, aku fikir eee" Aku terbata, antara bingung dan malu.


"Sudah gak usah dipikirin, gimana tidurmu? enak?"


"Iya bu Alhamdulillah, Ibu semalam tidur disini?" aku mencoba mengalihkan perhatian.


"Iya bareng sama Mba Runti. Dia barusan pulang mau antar Felly kesekolah, takut macet katanya.


Felly adalah anak Mbak Runti dan Mas Bayu, dia sudah duduk dikelas 7, di SMP favorit yang berada di pusat kota.


" Ooh" Jawabku pendek.


"Mau makan sekarang Jeng?" Tawar ibu.


"Nanti saja Bu, masih belum enak makan kalau jam segini" Jawabku memberikan alasan.


"Mau mandi dulu?" Tawar ibu kemudian.


"Susah bu, ini infusnya bagaimana?"


"Di cantolin aja di atas gantungan baju, ayok ibu bantu"


Akhirnya dengan berat hati aku dibantu ibu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebenarnya agak sungkan dengan ibu. Tapi mau bagaimana lagi? kondisi yang tidak memungkinkan ku sehingga membutuhkan bantuan orang lain.


Beruntungnya aku mempunyai ibu mertua sebaik beliau..

__ADS_1


__ADS_2