
Sementara di rumah sakit, setelah Ajeng dan Ningrum selesai menyantap makan siang, mereka kembali ke kamar Ibu Sukma, dengan membawa satu bungkus makanan untuk makan siang Mbok War. Mereka sampai di kamar Ibu, bertepatan dengan keluarnya Mbok War dari dalam kamar. Memberitahukan bahwa Ibu sedang tidur.
Niat hati Ningrum akan pamit, akhirnya terpaksa hanya menitip salam kepada Ajeng, di karenakan jam 3 nanti dirinya ada kelas. Memang jarak rumah sakit ke lamps Ningrum cukup jauh, jadi tidak mau ambil resiko terlambat nantinya, Ningrum memilih berangkat lebih awal.
"Pamit ya Mbak, Mbok" Ningrum menyalami kedua orang yang ada di depannya.
"Hati-hati ya Dek, berani kan gak Mbak anter? "
"Berani lah"
"Ya udah, jalan dulu ya, Asalamualaikum" Ningrum akhirnya pergi, meninggalkan Ajeng dan Mbok War.
"Ajeng beliin nasi padang buat Mbok nih" Mendudukan tubuhnya di kursi dan diikuti Mbok War.
"Ajeng pingin ngobrol berdua sama Mbok, ngobrol yang bener, lama dan gak ada yang denger" Ucapnya setengah berbisik dan melihat sekitar, takut-takut kalau ada yang mendengar. Dan berhasil membuat gelak tawa Mbok War.
"Kok ketawa?"
"Mbak Ajeng lucu, Wong dewek yo ben dina kandahan toh, " Mbok War kembali tertawa setelah mengatakan bahwa Ajeng lucu, padahal setiap hari mereka mengobrol bersama.
"Mbok, Ajeng serius"
"Ajeng pingin tahu aktivitas ibu hari-hari gimana? Teris Mbak Anita gimana? dia sayang kan sama Ibu? "
Mbok War langsung menghentikan tawanya.
"Ibu hari-hari nggih kados biasa Mbak, teng butik di anter pak Anto, Mbak Anita yo sibuk pyambek, kerja pangkat enjing, dugi ndalu, kadang mboten wangsul tirose teng luar kota kalih bose" (Ibu setiap hari ya seperti biasa, pergi ke butik di antar paka Anto, Mbak Anita sibuk sendiri, kerja berangkat pagi pulsng malam, kadang tidak pulang, katanya ke luar kota bersama bos nya).
"Mbak Anita jarang ngobrol kalih ibu, nggih biasa mawon mboten pripun-pripun, paling ibu ingkang mesake, mboten gadeh rencang kados ndhisik Mbak Jeng teng dalaem" ( Mbak Anita jarang ngobrol sama ibu, ya seperti biasa saja tidak bagaimana-bagaimana, paling ibu yang kasihan, tidak punya teman seperti dulu waktu masih ada Mbak Jeng di rumah).
"Terus, Mbok tau, kenapa Ibu bisa jatuh? apa akhir-akhir ini yang membuat Ibu banyak pikiran? apa pernah cerita apa gitu sama Mbok? " Jiwa psikolog-nya keluar, dia mulai menginterogasi Mbok War.
Mbok War terdiam, mencoba mengingat kembali beberapa minggu ke belakang. Menceritakan apa yang ia lihat dan dengar di dalam rumah, dari mulai seringnya mendapati Ibu bengong, lebih sering menelpon Barata, meminta Anita keluar dari tempatnya bekerja, hingga tentang tragedi kepergoknya Mbok War, saat akan membuang Bok milik Ajeng yang ternyata di ketahui oleh Ibu.
Ajeng terdiam, mendengarkan seksama penjelasan dari Mbok War. Rasa iba seketia bergerumul di hatinya.
Jangan-jangan Ibu jatuh gara-gara membaca seluruh isi Bok itu? pantes saja tadi Barata bicara seperti itu kepada Ibu
Berbagai prasangka memenuhi hatinya, mencoba untuk menghubungkan situasi sekarang dengan yang sudah terlewat. Tentang keinginan Ibu untuk selalu bersamanya, menemaninya. Tentang sikap Anita yang pastinya juga sering bermain di belakang mereka, rapat keluar kota hanya sebagai alasan semata. Menghabiskan waktu bersama bos nya.
"Mbok War sering ngerasa aneh gak si sama Anita? " Tanyanya.
"Lah, kulo ugi bingung Mbak, bade matur mbok Salah. Ngertos pyambek Mbak Anita larene kados niku wateke." Mbok War menjawab kalau dia sendiri bingung, mau berbicara takut salah, karena memang watak Mbak Anita seperti itu.
__ADS_1
"Berarti Mbok harus sering-sering ngajak Ibu ngobrol ya, jangan sering di tinggal sendiri"
"Harus di jaga pola makan Ibu, jangan biarin Ibu makan sembarangan"
"Kalo bisa nih, sebelum Mbok War pulang kalo sore, semua kebutuhan Ibu sudah Mbok siapin ya"
"Aahh Ajeng kok jadi gak tenang gini ninggalin Ibu"
"Kenapa tidak Mbak sendiri yang menjaga Ibu? "
"Memang mau ninggalin Ibu buat pergi ke mana si? "
Surprise!! adik ipar yang baik, untuk sekian lamanya akhirnya dengan sopan merubah panggilan Mbak ke Ajeng.
"Sejak kapan kamu datang? " Ajeng yang sedikit panik Dan kaget juga tentunya, menghadapkan wajahnya ke arah Barata berdiri.
"Sejak Mbak Ajeng kasih-kasih pesan ke Mbok War" tersenyum simpul.
"Nggih sampun minggo di lanjut berdua, Mbok bade maem riyiin" Mbok War tersenyum melihat kedua orang di depannya itu, beranjak meninggalkan mereka untuk memberi ruang mereka berbicara.
"Mbak, nanti malam aku kembali ke Jakarta. Aku nitip Ibu ya? "
"Kamu sehat kan Bar? " Ajeng sebetulnya risih dengan panggilan baru dari Barata.
"Alhamdillah sehat, hanya sedikit khawatir dengam keadaan Ibu, berat ninggalin" Ucapnya
"Yah kita kan memulai semua nya dari awal kakak ipar, iya kan" tersenyum penuh kepalsuan di depan Ajeng.
"Ya ya ya, Baiklah adik ipar, apa yang kau mau? sebutkan" Kini giliran Ajeng tertawa, entah mentertawakan apa, padahal hatinya sedikit nyeri.
"Sebutkan 3 permintaanmu" candanya.
"Hahahaha" tertawa kencang.
"Iissshhhh Ibu lagi tidur" Ajeng memperingatinya.
"Sorry.. sorry.. "
"Aku cuma nitip Ibu, aku lagi ngajuin mutasi. Doakan untuk segera di approve ya, biar bisa deket Ibu"
"Dan istri kamu tentunya" Ajeng memotong pembicaraannya.
Tersenyum tanpa menjawab.
__ADS_1
"Mana Anita? " tiba-tiba Ajeng menanyakan istri Barata.
"Perutnya sedang tidak nyaman, aku tinggal suruh istirahat aja" Mengeluarkan rokok dari sakunya.
"Jangan terlalu kecapaian, kasihan"
"Kenapa di bolehin kerja terus si? "
Iiiih ni mulut gak tau malu banget si bicaranya, ngapain ngurusin rumah tanggal orang
Ajeng mengatupkan bibirnya rapat, menyesal telah sok akrab dengan Barata.
"Udah makan belum? " mengalihkan pembicaraan lalu menyesap rokoknya dalam.
"Udah makan" Jawabnya kelu. Masih merasa tidak enak dengan perkataannya barusan.
Suasana hening seketika, sebelum kemudian Mbok War keluar memanggil Ajeng.
"Mbak Ajeng di padosi Ibu" Mbok War keluar, mendekati mereka berdua yang sekaku kanebo kering, mengatakan Jika Ajeng di cari Ibu.
Tanpa mengucapkan kata, Ajeng beranjak. Memasuki kamar Ibu, sementara Mbok War kini di luar.
Dan Barata yang kepo pun mengikuti langkah Ajeng dari belakang.
"Ibu.. gimana? Ibu pingin apa? eem? "
Dengan lembut, Ajeng mendekat. "Apa yang di rasa? mau ubah posisi tidurnya? " tanyanya lagi.
Ibu menggelengkan kepala, tanda dia baik-baik saja.
"Ibu pingin makan asinan yang biasa kita makan" Meraih tangan Ajeng yang kini sedang mengusap pelan lengan kirinya.
"Jam segini?" Tanyanya yang Dan hanya di angguki kepala.
"Kamu mau anter Ajeng anter beli asinan kan? " memandang Barata. "Kalo gak mau ya udah Ibu telpon Anto aja suruh ke si.. "
"Yuk Mbak" Meraih tangan Ajeng Dan memotong perkataan Ibu lalu berjalan ke luar.
"Iih bentar" Mencoba melepas tautan tangan Barata yang sudah menggenggam erat lengannya.
"Nanti di kira aku gak mau anter" berhenti sambil menatap Ibu nya, namun masih menautkan tangannya ke pergelangan tangan Ajeng.
Bu Sukma tersenyum. " Seperti biasa ya Nak. Hati-hati di jalan." Pesnanya.
__ADS_1
"Pamit ya Bu" Ajeng berucap seraya berjalan mengikuti Barata yang memegang tangannya erat.
Sepertinya selama ini aku salah strategi.. Harus nya bersama Ajeng aku harus main lembut . Selama ini aku sudah kehilangan kendali, membuang waktu dengan percuma sampai terkungkung di lubang yang dalam Dan tak bisa di selamatkan. Aaahh cinta!!