
"Hari ini Ajeng dan Ibu ada jadwal terapi terakhir di rumah sakit , aku harap kamu bisa handle semuanya, jangan sampai mereka bertemu. " Suara Barata terdengar menahan amarah, saat seseorang mengabarkan bahwa istri dan sugar daddy nya sedang berada di rumah sakit untuk melakukan periksaan kandungan. Dan sialnya mereka (Ibu dan istrinya) akan berada di satu tempat yang sama. Dia hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Dia akan katakan semuanya kepada Ibunya tentang kelakuan Anita. Tapi tidak sekarang, dan dia berharap, mereka tidak akan bertemu dengan kondisi seperti ini.
"Kamu awasi Ajeng, aku akan hubungi Baskara, biar orang dia yang ngawasin Anita"
Tut... tutt... tut suara panggilan terputus.
Sedangkan lawan bicaranya hanya menghela nafas panjang.
"Selalu begini !! kalo gue gak cinta, gak bakalan pernah mau di suruh-suruh gini"
Memasukan ponselnya kedalam saku celana, dan beranjak pergi. Menemui pujaan hatinya.
......................
Ajeng baru saja selesai mendampingi Ibu Sukma terapi, kali ini terapi yang di lakukan cukup memakan waktu lama, selain terapi berjalan, Bu Sukma juga melakukan serangkaian tes yang diperuntukan untuk pengecekan kondisi seluruh tubuhnya.
"Terimakasih dokter, Sudah mendampingi Ibu saya sampai beliau sembuh dan dapat menyelesaikan proses terapi secara maksimal" Ajeng membuka suara.
"Sama-sama mbak, tolong di jaga sekali ya pola makan dan fikiran Ibu" Farida, nama dokter syaraf yang menangani Ibunya, dan yang merekomendasikan Ibu Sukma untuk melakukan beberapa terapi. Beliau mengantar kepergian mereka sampai depan pintu ruang fisioterapi.
"Berarti Ibu sudah tidak perlu lagi mengkonsumsi obat ya dok? Hanya vitamin ini saja kan ya? " Ajeng memperlihatkan selembar kertas resep obat yang tadi sudah di jelaskan oleh dokter Farida.
"Iya betul Mbak, nanti kalau sudah habis, bisa di tetap di lanjut lagi mengkonsumsinya."
"Siap dokter, terimakasih. Emm kalo begitu kami permisi dulu dok" Ajeng membimbing Ibu untuk berjalan.
"Sehat-sehat Bu Sukma, jaga kesehatan ya, jangan sampai bertemu dengan saya lagi di rumah sakit" Dokter Farida tersenyum.
"Tidak akan dok, semoga saja" Bu Sukma tertawa. "Mari dok"
Akhirnya mereka meninggalkan ruang fisioterapi, menuju ke bagian farmasi untuk menyerahkan resep.
"Ibu pulang dulu saja gimana? antre banget. Takutnya Ibu capek nungguinnya" Ajeng memberikan saran kepada Ibu, ketika mereka telah sampai di bagian farmasi. "Ajeng telpon pak Anto ya? " Ajeng kembali bertanya.
Sebisa mungkin Ibu harus cepat pergi dari sini. Khawatir Anita masih di sini juga. Ya Allah aku mohon, jangan pertemukan kami di sini
Ajeng mencoba menghubungi Pak Anto, meskipun Bu Sukma belum menyetujuinya, tapi kekhawatirannya lebih besar untuk sekarang ini.
"Biar Anto yang nunggu obat aja ya? Ibu pulang sama kamu. " Bu Sukma memberi pendapat. Sudah dia duga, Ibunya pasti tidak mau sendiri.
"Yaudah Ajeng naruh resep dulu ya sebelum kita ke parkiran" Ajeng menuju loket penyerahan resep, sebelum kemudian menemui ibunya kembali dan membimbingnya berjalan ke mobil.
Ternyata, baru saja mereka akan keluar, Pak Anto sudah terlihat berlari menghampiri mereka.
"Ibu kondur kalih kulu Mbak? " ucapnya yang menanyakan kalau Ibu akan pulang dengan dia.
__ADS_1
"Mboten Pak, Pak Anto nanti yang nungguin Vitamin Ibu ya, Ajeng sama Ibu pulang dulu. Pak Anto nunggu di depan loket farmasi sebelah sana" Menunjuk tempat dengan jarinya. "Ini nanti buat naik ojek sama beli makan, takutnya sampai siang" menyerahkan selembar uang merah.
"Nggih Mbak maturnuwun"
Dua wanita beda usia itu berjalan beriringan, menuju ke parkiran.
"Ibu tunggu sini dulu ya, Ajeng ambil mobil. Sebentar" Ucapnya setelah berjalan cukup lama dan sampai loby rumah sakit.
"Iya ibu tunggu" menjawab Ajeng yang sudah terlebih dahulu bergegas menuju perkiran.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Ajeng tiba di loby, mematikan mesin mobil dan turun, memutar dari sisi kemudi untuk membantu Ibu menaiki mobil.
"Kalo kamu manjain Ibu terus-terusan begini, kapan Ibu bisa mandiri? ketergantungan terus nanti" Bu Sukma menaiki mobil dengan bantuan Ajeng. Ajeng Memegangi daun pintu.
"Engga, kan bantuin, gak manjain engga Ibu" ujarnya dengan senyum.
Setelah memeastikan Ibu duduk dengan nyaman dan memasangkan seatbelt dengan benar, Ajeng kembali menuju ke belakang kemudi.
"Kamu, tahu Ibu melebihi diri Ibu sendiri" Bu Sukma memandang Ajeng yang sedang mengemudi.
"Ibu sukanya berlebihan gitu ahh, Ajeng gak suka"
"Terimakasih sudah begitu sabar merawat Ibu ya, membersamai Ibu di saat Ibu terpuruk sendiri seperti ini"
" Iya Ajeng memang terbaik " meraih tangan kiri Ajeng, meremas dengan penuh sayang.
Gimana aku bisa ketemu Naufal kalau seperti ini?
Perjalanan singkat mereka di isi dengan saling diam, tidak ada yang membuka suara. Hingga mobil mulai memasuki kompleks perumahan.
"Itu Anita? sama siapa? berduaan ketawa-ketiwi di dalam mobil sama laki-laki? "
Jantung Ajeng berdegub dengan cepat saat itu juga.
"Mana? " Masih menjalankan mobilnya dan memasuki halaman rumah.
"Itu tadi di depan, coba nanti kita turun, Anita atau bukan" Ibu Sukma menjawab masih dengan rasa penasarannya.
Ajeng memarkirkan mobil dengan sempurna, melepas seatbelt dirinya dan Bu Sukma sebelum dia turun.
"Langsung masuk aja yuk" Membimbing Bu Sukma untuk masuk ke dalam.
"Nanti, Ibu masih penasaran tadi di dalam mobil itu Anita atau bukan" Menolak ajakan Ajeng, memilih duduk di teras.
"Nanti kan juga Nita masuk bu, Ibu bisa tanya langsung sama dia" Ajeng masih terus membujuk.
__ADS_1
"Kan, benar kan, mata tua ini masih cukup awas untuk melihat"
Ajeng menolehkan kepalanya, menuju perginya pandangan Bu Sukma, terlihat Anita sedang melambaikan tangan ke arah mobil yang sekarang menjauh dari penglihatan mereka.
"Kamu tahu siapa laki-laki itu? "
"Mungkin teman kantor Ibu, tadi kan kata Ibu dia pamit Mau ketemu teman kantornya. Ya udah Ajeng masuk dulu aja ya" Ajeng melangkahkan kakinya, meninggalkan Ibu Sukma yang duduk di teras, menunggu Anita yang kini sedang berjalan menuju ke teras rumah.
Sepandai-pandainya nyimpen bangkai, bakal kecium juga.
"Rasanya malas sekali jika harus menutupi aib orang lain, membuka aib nya pun percuma. Dapat apa aku selain dosa" gumamnya sambil terus berjalan ke dalam rumah.
Setelah meletakan tas dan berniat mengganti pakaian, dia teringat dengan janji temunya dengan Naufal. Buru-buru dia mengambil ponsel uang yang ada di dalam tas untuk menghubungi Naufal.
Tidak perlu waktu lama, hingga dari seberang sana, sapaan salam sudah terdengar di telinganya.
"Walaikumsalam, masih di Kafe? " Tanpa basa-basi bertanya.
"Iya aku nungguin kamu, katanya mau nantang gelut aku, aku udah siap lahir bathin nih sendiridi gelutin sama kamu, kamu menang banyak. Bisa aku pastikan itu" terkekeh dengan perkataanya sendiri.
"Gak lucu, aku gak lagi bercanda!!" Ajeng mendengus kesal, namun justru membuat tawa lawan bicaranya semakin keras.
"Aku gak bisa nyamperin kamu. "
"Udah ijin? "
"Belum"
"Coba Ijin dulu aja, bilang mau ketemu aku, pasti di bolehin"
"Pede gila" Ajeng mencibir, meskipun dia tahu dengan mencibir pun Naufal tidak akan bisa melihat.
"Udah pokoknya aku tunggu"
"Iiihhh maksa banget!!! aku alesannya apa sama Ibu? "
"Ibu gak bakalan tanya macem-macem, bilang aja aku Mau ketemu Naufal, udah cukup!!! udah pokoknya aku tunggu, ini gak bisa di biarin gini-gini aja" Naufal mengingatkan tujuan mereka bertemu.
"Iya.. iya"
"Aku pamit sama Ibu dulu. Kamu tunggu aku jangan pergi-pergi" Ajeng meraih tasnya kembali kemudian pergi ke teras.
"Sesuai permintaanmu sayang, aku selalu menunggu. " tertawa dengan kerasnya, sementara Ajeng yang begitu kesal dengannya, langsung mematikan sambungan telepon tanpa ingin membalas candaan Naufal.
Iya, baginya mungkin ini candaan garing dari Naufal, tapi tidak bagi laki-laki yang masih begitu mengharapkan cinta darinya, melakukan apapun cara demi mencoba kembali merajut rasa yang sudah patah. Berharap dewi fortuna masih berpihak padanya.
__ADS_1