
Ajeng masih memegang selimutnya erat, setelah melakukan kegiatan "luar biasa" yang baru saja dia akhiri dengan Barata.
Kini, semuanya bercampur menjadi satu. Bisa dia rasakan hawa tak menyenangkan di antara mereka.
Ajeng tidak berani membuka suara dahulu. Dia tahu betul apa yang suaminya fikir tentang dirinya.
"Jadi, ini yang membuat kamu selama menikah dengan Mas Reno selalu di nyinyirin oleh semua orang?"
"Gak hamil-hamiil?" Memandang lekat Ajeng, setelah meneguk air minum yang dia ambil dari atas nakas di sebelah kirinya.
"2 tahun gak di bobol sama Mas Reno? kuat banget dia." Menggelengkan kepalanya, kemudian menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Atau kamu...?" Ucapnya terhenti.
"Udah janji kan tadi, gak bakalan nanya apapun?" Ajeng mendongakan kepalanya, membalas tatapan Barata.
" Yang jelas, selama aku menjadi kakak ipar kamu, aku selalu melayaninya selayaknya istri pada umumnya."
"Melakukan yang terbaik untuk dia."
"Apa perlu aku cerita semuanya?"
"Dan kamu mau aku berdosa menceritakan aib orang yang sudah meninggal ?"
Barata menghembuskan nafas kasar. Mengusap wajah dirinya dengan sebelah tangan.
"Maaf, aku gak gak bisa mengontrol rasa ingin tahuku." Ucapnya pelan.
Nyatanya, dia tidak bisa menepati janji dirinya sendiri untuk tidak bertanya apapun pada Ajeng.
"Aku dan Mas Reno di pertemukan di saat kami berdua benar-benar sedang jatuh, kami saling berbagi kisah."
"Tentang apa yang dia dan aku rasakan. Dia orang yang sangat baik. Hingga kami memutuskan untuk menikah. "
"Sebelum aku tahu, kalau dia adalah kakakmu. Dan sampai dia meninggal pun, dia tidak tau, siapa lelaki yang selama ini aku ceritakan. Lelaki yang menyakitiku begitu dalamnya, lelaki yang ternyata adalah adiknya sendiri."
"Aku beruntung pernah berada di hidupnya, setidaknya aku bisa mencontoh kesabaran dia yang luar biasa, dan semangat dia untuk sembuh, agar bisa menyempurnakan aku sebagai istrinya."
"Nyatanya, Allah lebih menyayanginya melebihi aku." Terlihat Ajeng menerawang jauh. Mengingat kejadian-kejadian yang telah dia dan Reno lewati.
__ADS_1
"Nyatanya takdir begitu baik padamu."
"Mengembalikan aku, meskipun sudah sedemikian panjangnya hal yang kita lewati."
"Aku dan Mas Reno, kamu dan Anita, hingga terwujudlah Ashila."
"Dan kita bersatu."
"Lucunya takdir mempermainkan aku."
"Kita." Barata berucap cepat.
Seperti tidak terima kalau hanya Ajeng saja yang merasa seperti itu, nyatanya dia juga merasakan sakit yang luar biasa.
"Kamu hanya melihat sakit dari sudut pandangmu saja. Tidak pernah bisa melihat apa yang sudah aku lewati, apa yang sudah aku alami, aku rasakan, aku perjuangkan."
"Nyatanya, kamu fikir rasa sakit hanya ada padamu."
"Tanpa mau tahu, bagaimana sakitnya aku."
"Menyetu buhi anak gadis orang tanpa mau bertanggung jawab bukankah itu adalah hal yang sungguh tidak pantas?"
Ajeng, yang mendengar Barata berteriak tertahan itu, mencengkeram selimutnya lebih erat lagi. Tubuh polosnya bergetar. Antara kaget dan tak menyangka Barata akan lepas kendali seperti itu.
"Maaf, maafkan aku.." Barata yang melihat reaksi Ajeng, langsung memeluknya. Sementara Ajeng, hanya menangis tertahan.
Pelukan erat Barata, justru membuat hatinya sesak, dia terisak di dada bidang suaminya itu.
"Maafin aku."
"Aku yang terlalu egois memikirkan diriku sendiri, aku yang terlalu merasa aku yang paling sakit di sini, aku yang selalu merasa kalau diri ini tidak diingini."
"Sssttttttt" Barata mengusap punggung Ajeng, sedikit menyesal sudah menyentaknya. Tapi dia juga sedikit lega, akhirnya Ajeng juga bisa menyadari kesalahannya.
Ya, kesalahannya yang lebih suka membuat opini sendiri, yang lebih suka ber-perspektif dengan fikirannya sendiri, tanpa ingin tahu bagaimana yang orang lain rasakan. Terutama dengan Barata.
Ajeng bisa begitu peduli terhadap orang di sekitarnya, namun untuk Barata? dia tidak pernah bisa berfikir positif tentang suaminya itu sebelumnya.
Mungkin karena rasa benci dan marah yang bertumpuk sedari awal, hingga kebaikan apapun dan usaha apapun yang Barata lakukan tidak bisa dia lihat.
__ADS_1
"Harusnya, kita bisa bersama lebih awal dari ini, kalau kita tidak saling menyakiti satu sama lain. Lebih bisa terbuka, mungkin semuanya lebih mudah." Ajeng seorang psikolog profesional pun masih bisa menyesali tindakannya, itulah ciri dari manusia. Tempatnya salah dan lupa. Setidaknya dia sudah bisa melihat kesalahannya sendiri, meskipun dengan cara seperti ini.
"Yang terpenting, sekarang kita sudah bersama. Kita pupuk cinta kita agar semakin subur. Tidak hanya saling memiliki, tapi juga saling menjaga, bagaimana pun, kedepannya kita harus lebih kuat dari ini, segala yang sudah kita lewati, aku harap bisa menjadi pembelajaran terbaik untuk kita."
"Sungguh, memilikimu sudah lebih dari cukup untukku."
Barata mengecup kening Ajeng, lebih lama. Lama sekali.
"Kita mulai semua dari sini, aku tidak ingin dari awal lagi, karena kamu sudah berkali-kali bilang memulai dari awal nyatanya benar-benar ke awal." Ajeng menyusut hidungnya.
Barata tertawa, dada bidangnya bergetar. Membuat tubuh Ajeng pun ikut bergerak.
"Ya, kita lalui semua dari sini, berawal dari sini dari hari ini, untuk hari-hari selanjutnya yang lebih baik, berdua bersamamu menyempurnakan hariku."
"Aku tidak bisa menjanjikan aku selalu ada untukmu, tapi yakinilah, dimana kamu berada, hatiku selalu terpaut padamu."
"Hanya kamu, kamu satu-satunya." Barata menghentikan tawanya, sesaat kembali menatap Ajeng.
"Yakin?" Hanya aku? Ajeng berucap sanksi.
"Gombalan macam apa itu."
"Gombalan ku untukmu." Barata mengacak rambutnya gemas.
"Aku mencintai mu." Ucapan Ajeng mampu membuatnya dia diam seketika.
"Kita memulai ini dari sini, dari hari ini."
"Coba ulangi sekali lagi." Ucapnya yang kini merengkuh wajah mungil Ajeng.
"Aku mencintaimu suamiku, Barata Aji Dewandaru ." Ajeng tersenyum. Hingga manik mata mereka bertemu.
"Kita memulai ini semua dari sini, dari hari ini sayang." Mengulang kembali ucapannya, dengan tambahan kata akhiran yang mampu membuat Barata melambung tinggi.
"Dan aku lebih-lebih mencintaimu istriku, Kartika Ajening Rahayu." Barata tersenyum lebar. Dengan gerakan cepat, ******* bibir mungil yang masih merekah menampakan senyum lebarnya.
Dan Ajeng membalas dengan suka cita. Saling melu mat, menyesap dan mengu lum.
Kali ini untuk yang kedua kalinya, mereka melakukan hasrat yang datang tiba-tiba, melakukannya dengan hati lepas, mengeksplor masing-masing bagian tubuh mereka, hingga suara de sahan dan rin tihan saling bersahutan.
__ADS_1
Saling menyebut nama satu sama lain, yang membuat gelora panas, menghasilkan keringat cinta yang perpadu menjadi satu, seperti tubuh mereka yang sudah menjadi satu, saling memberi kenikmatan, membalas dengan cara terbaik dari masing-masing diri. Hingga melepaskan benih cinta bertrilyun-trilyun.