
Acara berakhir beberapa saat sebelum suara adzan Maghrib berkumandang. Para tamu sudah mulai meninggalkan rumah Mama Suci, tak terkecuali Ibu Sukma beserta rombongannya. Ajeng yang sedari tadi menangis saat mendengar lantunan surah Ar Rahman, kini sudah bisa mengendalikan dirinya.
Mungkin hal ini tidak pernah terlintas di fikirannya sedikit pun, untuk berfikir menikah dalam waktu dekat ini pun tidak. Ya, mungkin memang beginilah jalan yang harus dia lalui. Selalu saja kembali kepada kuasa Allah atas apa-apa yang terjadi. Manusia merencanakan, Allah yang menentukan. Tinggal bagaimana mereka, para manusia yang menjalankannya,
Ajeng berjalan menuju ke arah kamarnya, meninggalkan Barata yang sedang berbincang dengan Pak Rahmat.
"Mbak, ini dari Mama, katanya buat ganti Mas Barata." Ningrum menghadangnya ketika dia hendak memasuki kamarnya.
"Hah? Bukannya dia nanti juga pulang? emang mau nginep sini? mau tidur di mana? " Ajeng bertanya panik.
"Ya elah, kan dia suami Mbak, ya tidur sama Mbak lah, masa sama aku . ! " Ningrum mencibirnya, kemudian berlalu tanpa memperdulikan Ajeng yang masih belum selesai bertanya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam kamar.
Ajeng mulai duduk di meja rias, meraih cairan pembersih, yang di gunakan untuk membersihkan make up yang masih menempel di wajahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk melakukan hal tersebut, hingga dia kini mulai memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak berselang lama, suara pintu terdengar di buka, Ajeng meneruskan aktifitasnya tanpa terpengaruh.
"Hem..hemm." Suara berat Barata tertangkap di telinganya.
"Aku masuk ya." Ijinnya yang langsung saja memasuki kamar tanpa menunggu jawaban dari sang empunya.
"Kenapa musti di bersihin? biar aja begitu cantik." Mendekat ke arah Ajeng, kemudian menyenderkan tubuhnya di meja rias, saling berhadapan dengan Ajeng.
"Jangan ganggu !!.ucapnya katus.
"Ya Allah, sama suami sendiri gitu amat." ucapnya dengan tampang memelas.
"Urusan kita belum selesai ya, jadi kamu jangan berfikir kalau kita itu sedang baik-baik saja."
"Mending kamu mandi, baju udah di siapin ! di situ! " Melirik ke arah ranjang, dimana baju untuk Barata di letakan.
"Ya udah ayok kita selesaikan sekarang, sekalian mandi bersama? gimana? biar cepet selesai." Senyum di wajah Barata merekah.
"Hiiihhhh." Melempar kapas bekas ke arah Barata, sementara pipinya sudah terbakar menahan malu. Dia berdiri membalikan badan menjauh dari Barata, namun naas, kaki kirinya membelit kaki kursi yang baru saja dia duduki. dan badanya terhuyung ke depan, Barata reflek meraihnya, memegang pinggul kecil yang hampir saja terjembab ke lantai, menariknya kebelakang sampai tubuh mereka membentur satu sama lain.
"Ya Allah Yank, pelan-pelan, gak bakalan aku apa-apain kamu sekarang, slow aja sii. Mananya yang sakit?" memeluknya dari belakang sembari mengenduskan hidungnya ke leher jenjang Ajeng yang putih mulus tanpa terhalang jilbab maupun rambut. Dengan nakalnya dia justru mengecupnya, membuat tanda kecil di sana.
"Iiiihh kakiku sakit ini kenapa ngendus-ngendus gini si?" Ajeng mencoba melepas dari pelukan Barata.
Namun tanpa ampun, Barata justru mengangkatnya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Bar.." Ajeng memukul lengann Barata. Namun sama sekali tidak di indahkan oleh lelaki itu.
"Diam dulu, aku liatin, kebentur apa kesleo ini. " Meletakan Ajeng di atas ranjang kemudian meraih kaki yang terlihat memerah.
Dia memeriksanya dengan jeli.
"Alhamdulillah cuma kebentur biru aja, besok sembuh kok nanti di olesin salep anti bengkak ya." Mengusap pelan kaki Ajeng.
"Kenapa si kamu nekat banget lakuin ini semua? gak ada komunikasinya sedikit pun sama aku."
"Kamu anggep aku apa? batu? yang gak punya hati?"
"Kamu sama sekali gak bisa ngertiin perasaanku dikit aja. Kemana 2 hari tanpa kabar?"
"Bikin aku ngerasa sendirian? ngerasa diri jadi kaya gak di inginin."
"Kamu jahat banget!!" Ajeng menatap Barata tajam. Tiba-tiba mengeluarkan isi hatinya, mungkin sudah begitu menumpuk, sehingga memaksa untuk di keluarkan.o
"Gak gitu sayang, kamu salah paham." Meraih tangan Ajeng yang nyantanya langsung di tepis oleh sang empunya.
"2 hari ini, aku perjuangin ini semua, aku siapin ini semua, buat kita. Aku gak mungkin bisa cerita macam-macam dulu sama kamu, aku takut ini gak berhasil. Kamu tau, aku lakuin ini dan jabatan aku jadi taruhannya! aku gak mungkin seberani ini, sementara surat-surat dan dokumen kita juga belum beres. Aku takut malah buat kamu kecewa nantinya."
"Percayalah, inshAllah Minggu depan pernikahan kita di catat oleh catatan sipil."
"Aku lakuin ini tanpa persetujuan kamu karena aku yakin , kamu akan menolak. Dan aku gak mau itu. Sudah cukup kamu menolakku, membuat aku menunggu begitu lama !"
"Gak relaa juga aku di duluin sama laki-laki lain. Dan jalanku satu-satunya cuma ini."
"Aku mohon mengertilah. Maafin aku ya." Barata meraih tubuh Ajeng, kemudian memeluknya erat.
"Aku gak mungkin bisa lagi hidup tanpa kamu, sementara Ashila pun butuh kamu."
"Ooh jadi kamu nikahin aku cuma karena Shila?" Ajeng mengurai pelukannya.
"Biar aku jadi Mamanya Shila?" Ajeng memasang wajahnya kembali.
"Dan juga mamanya anak-anakku nanti." Barata kembali memeluk Ajeng dengan erat. Mengecupi rambutnya dengan sayang.
"Maaf untuk segalanya ya." Ucapnya tulus.
"Ini untuk yang pertama dan terakhir aku membuat keputusan sendiri." Melepaas pelukan, kemudin menggenggam kedua jemari Ajeng dengan erat.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu. Sangat..sangat cinta."
Barata tersenyum lebar. Rasanya kebahagian hari ini, tak ingin berakhir.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi." Mengecup lembut dahi Ajeng dengan segenap hatinya.
Kini dahi mereka menyatu, dengan kedua jemari Ajeng yang di genggam erat oleh Barata.
Nafas mereka saling memburu, entah siapa yang memulai, kini bi bir mereka saling bertaut.
Berawal dari ******* Barata yang lembut, hingga kini dia semakin menuntut, dia mulai melepas tautan jemarinya dengan Ajeng, memegang wajah Ajeng dengan begitu erat. Hingga seperti biasa, Ajeng tidak bisa mengimbanginya.
"Bernafas!!"
Barata melepas ci umannya.
Ajeng meraup udara sebanyak-banyaknya, nafasnya memburu.
"Nanti lama-lama akan ahli, suamimu ini pandai, tenang saja." Ucap Barata nakal sembari mengelus pipi mulusnya.
"Iiihhhh!!" Memukul pelan dada bidang Barata, yang sangat keras itu.
"Atau kita bisa memulai teorinya dengan mandi bersama mungkin?" godanya kembali.
Tanpa menunggu perkataan Barata selesai, Ajeng memukul kembali Barata, kali ini dengan pukulan keras yang membuat lelaki itu mengaduh.
"Ya Allah Yank, suka banget mukul iihhh." Barata merintih kesakitan.
"Lagian kamu mesum banget ! " Cibir Ajeng yang kini tengah berusaha turun dari ranjang.
"Eh..Mau kemana?"
"Mau mandi, liat tuh jam berapa! sebentar lagi waktu Maghrib habis. Kamu mandi di kamar mandi belakang ya." Berlari dengan tertatih memasuki kamar mandi.
"Oke, kali ini kamu lolos, jangan tanya besok ya." Ancam Barata yang di jawab dengan tawa keras Ajeng di dalam kamar mandi.
Tanpa menunggu waktu lagi, Barata pun menurut perintah Ajeng, membawa pakaiannya serta, yang berada di sampingnya.
"Kalau aja dari dulu ya Jeng." Ucapnya ambigu dan hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Semoga segala kebaikan tercurah kepada kalian ya😍
__ADS_1