Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
28


__ADS_3

Ajeng terbangun saat merasakan perutnya terasa lapar, meronta minta di isi. Jarum jam menunjukan pukul 11 malam. Dia terlonjak kaget, kemudian buru-buru turun untuk menuju ke kamar Ibunya, berharap Ibu belum berangkat. Tetapi nyatanya kamar tersebut sudah tidak berpenghuni lagi, hanya terdapat wangi khas Ibu menguar ke hidungnya saat ia memasuki kamar tersebut. Matanya tidak sengaja menangkap benda pipih berwarna hitam di atas nakas.


Hemm, ponsel Ibu tertinggal. Bagaimana aku akan berkomunikasi dengan ibu kalau seperti ini?


Perasaan bersalah menyergap dirinya, dia yang menawarkan diri untuk menyiapkan keperluan Ibu, nyatanya ia sendiri yang mengingkarinya. Kemudian ia menuju ke dapur, membuka tudung saji yang berisi ayam goreng dan sambel terasi. Mungkin bila ini siang hari makanan tersebut sangat nikmat, tetapi kali ini ia menginginkan semangkuk mie rebus dengan taburan bawang goreng dan bubuk cabe dengan pelengkap telur dan sayur sawi. Hanya membayangkannya saja sudah membuat air liurnya penuh di tinggal mulutnya.


Dengan semangat penuh dia mulai meracik bahan yang diinginkan teesebut. Dan tak sampai 10 menit, makanan yang ia buat sudah tersaji dengan epik di depannya.


Ada rasa gamang di hatinya, apakah dia perlu memberitahu Barata kalau ponsel Ibu tertinggal? atau menghubungi Anita?


Ahh, mereka pasti sudah saling berkomunikasi. Pasti Anita bercerita kepada Barata kalau ponsel Ibu tertinggal. Mungkin aku tidak perlu mengabari. Toh bukan perkara yang sangat penting. Lagian aku tidak mau mau mengganggu mereka dengan kabar tak penting dariku.


Ajeng yang sedari tadi makan sembari menatap ponsel Ibu mengurungkan diri untuk menghubungi Barata. Setelah selesai, ia beranjak kembali menuju ke kamarnya. Namun saat melewati kamar Barata, kamar yang pintunya tidak pernah terbuka itu terlihat menampakan isi bagian dalam kamar.


Mungkin Ibu yang tadi masuk, dan karena buru-buru, Ibu sampai lupa untuk menutup dan menguncinya kembali. Ajeng seperti didorong untuk masuk ke dalam, melihat bagaimana isi kamar orang yang pernah menempati hatinya dengan sejuta kenangan manis saat SMA dulu.


Ajeng POV


Semuanya masih tersimpan lengkap di dalam box berukuran sedang yang berada di atas meja belajarnya, dari mulai balasan surat cinta dariku, foto-foto dia saat sekolah dulu, baik yang sedang berkumpul dengan genk-nya, foto bersama teman sekelas beserta wali kelas, foto kami berdua yang terlihat masih tampak malu-malu sampai dengan foto saat kami dipasangkan sebagai perwakilan dari kelas untuk menjadi pria dan wanita favorit antar jenjang. Foto yang tersimpan di paling bawah, tertutup dengan kertas-kertas pink dariku dan beberapa fotonya yang sudah menjadi prajurit. Aku tersenyum kecut, rasanya sudut hatiku tercubit dengan apa yang aku lihat saat ini. Apakah dia sudah tidak waras menyimpan ini semua di kamarnya? bagaimana kalau sampai Ibu tau? atau Mbok War yang menemukan saat beres-beres kamarnya?


Ku tutup kembali kotak yang awalnya bersanding dengan buku-buku yang tersusun begitu rapihnya. Tanda bahwa tidak ada yang berani menyentuhnya. Apa lagi membukanya.

__ADS_1


Aku duduk di tepian ranjang, sambil memangku box yang ku temukan tadi. Aku akan membawa box ini keluar dari rumah ini, bisa berbahaya kalau ada yang tahu. Apalagi dengan statusku dan dia saat ini, aku kakak iparnya dan dia suami dari perempuan lain.


Ku lihat sekeliling kamar yang temaram, segera ku cari sakelar untuk mengganti lampu menjadi lebih terang, dan benar saja kamar yang bernuansa pastel ini begitu menenangkan. hangat. Sehangat sang empunya.


Ku hirup wangi aroma kamarnya dalam-dalam, berharap masih menyisakan wangi khasnya. Namun tidak ku temukan. Sudah terlalu lama dia pergi, hanya sekedar wangi tubuhnya saja tidak dapat ku cium. Mataku menangkap benda-benda yang tergantung di dinding sebelah meja belajarnya, ada beberapa gelang dan kalung yang masih dia simpan. Dan itu semua dengan jelas dan cepat bisa ku kenali. Itu adalah benda-benda pemberianku saat kita merayakan aniversary setiap tahunnya. Akh Barata.


Ku dekati dan kuamati benda itu satu persatu, dan memang benar. Mataku menangkap sebuah buku yang tak asing bagiku. Buku besampul merah jambu yang memang itu adalah milikku. Bara, kau menyimpannya?


Dia masih menyimpannya? Rasaku semakin sesak. kubuka-buka kembali buku tersebut, kubaca perlahan tukisanku yang mulai usang. Menggelikan! aku tertawa sendiri. Barata juga menuliskan sesuatu di sana.


...Dear, sweetheart...


...Cara yang begitu menyakitkan, seperti ribuan belati menusuk jantung hatiku. Pediiih!...


...Sosok yang amat sangat aku cintai melebihi diriku sendiri, bersanding dipelaminan bersama kakaku,...


...Beginilah cara kau membalas penantianku selama ini? Aku yang setiap hari berjuang untuk tetap hidup di tengah gegap gempitanya latihan dan perang, Aku yang selalu menerbangkan doa dan harapan kebaikan untukmu, dan wajahmu yang selalu ku bingkai dengan cinta, dengan kasih dan sayang, nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang aku lihat saat ini, kau begitu begitu tega melakukan ini padaku...


...Aku bisa saja menyeretmu dan berkata pada semua orang bahwa kau adalah kekasihku. Tapi aku masih bisa mewaraskan diri untuk menahan semuanya, ada sekian hati yang harus aku jaga. Ibu kakak dan saudaraku. Dan apa kata mereka tentangmu nanti? Aku masih bisa mengontrol emosi dengan itu semua. Aku masih waras untuk tidak pula mempermalukanmu di depan keluargaku dan keluargamu sendiri....


...Sebetulnya apa yang membuat kamu hilang dari peredaranku? Semua yang berhubungan dengamu hilang bagai tertelan bumi. Sulit ku gapai, sulit ku temukan. Hingga tiba-tiba kau datang dengan sendirinya kepadaku dengan statusmu yang baru. Bahkan kau dengan egoisnya tidak mau menjelaskan apapun kepadaku, pun aku tak pernah diberikan kesempatan untuk berbicara kepadamu....

__ADS_1


...Sumpah Demi apapun cintaku hanya untukmu dan semuanya takan berkurang sedikitpun....


Tangisku pecah seketika. Aku benar-benar patah untuk kesekian kalinya, hancur sehancur-hancurnya. Aku tidak pernah, sama sekali, tidak pernah sama sekali memikirkan bagaimana perasaan dia selama ini. Aku memang egois, tidak berani mengungkapkan isi hatiku, merasa seolah-olah aku manusia paling terluka, orang yang paling menyedihkan sejagay raya ini. Aku menangis tersedu mengeluarkan segala yang kupendam selama bertahun-tahun ini sendirian. Menangis pilu yang hanya bisa didengar oleh telingaku sendir.


Aku tidak bisa menyelamatkan hatiku, juga hatinya. Kini semuanya terlambat. Setelah sekian lama aku baru menyadari, dia lelaki yang begitu aku cintai, masih menyimpan rasa yang sama untukku. Namun kini, semuanya berbeda. Dalam hitungan jam ke depan. Dia benar-benar milik wanita lain.


Aku menangis sejadi-jadinya, meraung menyesali diri. Namun kewarasan hati memeluku, kalau dia masih Mencitaiku, kenapa harus dengan Anita? Kenapa Anita yang harus dia nikahi?


Aku benar-benar seperti orang gila saat ini, menangis dan tertawa secara bersamaan. Omong kosong macam apa ini semua? persetan dengan cinta yang dia katakan. Aku langsung menyambar barang-barang memoriam ku dengannya, memasukannya kedalam box yang aku pegang sedari tadi, dan membawanya secepat mungkin ke luar dari kamar Barata.


Menyimpannya ke dalam lemari baju Mas Ren, sedalam mungkin agar tak terjangkau siapapun. Aku harap saat dia pulang nanti, dia takan merasa kehilangan. Mana mungkin dia akan merasa kehilangan, sosok yang baru, kini sudah hadir melengkapinya, takan ada aku di hatinya. Terlalu percaya diri jika aku masih berharap kalau apa yang aku lihat dan baca adalah kebenaran.


Terkadang penglihatan kita bisa salah dalam mengartikan sesuatu, karena apa yang kita lihat belum tentu benar, cukup meyakinkan diri bahwa semua telah selesai dan usai, itu yang terbaik saat ini.


...Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku akan memilih untuk membencimu dari awal...


...Kenapa???...


...Karena aku hanya akan tersakiti dengan perasaanku sendiri padamu, orang yang aku cintai, berkali-kali...


...Benar kan???...

__ADS_1


__ADS_2