Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
23


__ADS_3

Rombongan RI 1 tiba di landasan Halim pada dini hari, dan aku langsung kembali ke mess, hari ini jadwalku pula untuk lepas dinas, lumayan bisa ku pakai untuk menjernihkan fikiran. Tanpa membersihkan badan dulu, aku langsung melemparkan badanku ke ranjang, melepas segala penat.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, samar-samar terdengar suara ponselku berbunyi. Malas aku meraihnya yang entah berada di mana itu! Senyap, suara itu menghilang, namun baru saja aku mencoba untuk menutup mata kembali, deringan itu kembali terdengar dan kali ini semakin menjadi-jadi, berbunyi tiada henti. Sudah dapat ku pastikan yang menelpon ku adalah Anita, siapa lagi orang yang kurang kerjaan menelpon di waktu sepagi ini!!


Ku beranjak, mencari benda pipih berbentuk persegi itu, yang ternyata masih di dalam ransel. Kulihat nama yang tertera di layar ponsel, Ibu..


Tumben ibu pagi gini menelpon, kulirik jam yang berada di atas nakas, ternyata sudah pukul 10.00 , pantas saja. Tapi tumben ibu menelpon berkali-kali, ada yang begitu pentingkah?


Ku usap layar ponsel yang langsung menampakan wajah orang yang selama ini aku hindari! Damdd!!! Anita!! Ngapain dia di rumah!


"Pagii, Ya ampun yank d telpon susah banget! sibuk banget ya? "


Enggan aku menjawab pertanyaannya, ku raih gelas yang ada di atas nakas dan ku isi dengan air mineral dan meminumnya dengan cepat.


"So Se ksi" Dia mengomentariku sambil terkikik.


"Ibu mana? kamu gak kerja? " ku abaikan pertanyannya.


"Ibu ada tuh di dapur, lagi bikin apa gak tau sama kakakmu, hari ini aku ada rapat di luar jadi mampir dulu ke tempat Ibu. Gak betah di rumah"


Tumben Mbak Runti main pagi gini, mainnya di dapur pula, kabar bagus. Aku membatin.


"Gimana? kamu udah pengajuan belum ke komandanmu? Mau sampai kapan di ulur-ulur terus? apa aku harus bilang ke Ibumu yang sesungguhnya? biar kamu gak main-mainin aku kaya gini? " Anita berbicara dengan mimik muka seriusnya.


"Sabar dong Nit, kerjaanku lagi banyak-banyaknya gak sempet bilang ke komandan" Alasanku yang selalu aku pakai buat beralibi.


"Aku bosan dengan alasanmu yang itu-itu saja! " Berteriak mengagetkanku. "Aku udah cukup sabar ya Bar, terserah kamu pokoknya aku udah gak bisa nunggu lagi, aku ingin kamu secepatnya nikahin aku. Kalau enggak aku benar-benar akan bilang ke Ibumu kalo amu udah ambil mahkotaku dan aku ingin kamu segera tanggung jawab menikahiku" Ucapnya berapi-api.


Sementara itu terdengar suara benda terjatuh dan panggilan langsung dimatikan oleh Anita. Shi iiitt!!!!


Anita POV

__ADS_1


Pagi ini aku bertengkar lagi dengan mamaku, pertengkaran yang selalu terjadi dengan mama dan sudah menjadi hal biasa bagiku, apa lagi kalau bukan soal uang.


Aku terlahir dari keluarga broken home, mempunyai 2 adik yang sekarang semakin dewasa semakin acuh terhadap keluarganya sendiri. Tidak ada cinta di keluargaku, bahkan Mama ku sendiri mendekatiku bila uang yang ku beri di setiap awal bulan sudah habis, di akan selalu merengek untuk meminta uang tambahan. Sementara Ayahku entah di mana rimbanya, menghilang bersama kekasihnya, meninggalkan ibu dan ketiga anaknya. Mengenaskan.


Aku muak dengan hidupku yang begini-begini, selalu menjadi orang yang tak penting dan tak dianggap, pun dengan kekasihku yang seorang abdi negara itu dengan seenak hatinya menunda terus menerus pernikahan kami. Ya aku menjeratnya dengan tubuhku. Entah dia bo doh atau terlalu polos, dia percaya saja kalau dia adalah yang pertama bagiku, menyentuhku dengan ketidak sadarannya mungkin, sampai dia tidak menanyakan cairan merah yang tak keluar saat dia menggagahiku.


Aku cukup bersyukur dia percaya dengan segala perkataanku, dan kali ini aku benar-benar sudah tidak sabar lagi. Aku ingin lepas dari jeratan hidup di rumah ini yang persis seperti neraka. Ingin hidup terpandang dengan menjadi istrinya, menjadi Nyonya Barata lengkap dengan jabatan dan harta orang tuanya itu.


Pagi ini aku memutuskan untuk ke rumah calon ibu mertuaku, aku memang rutin mendatangi ibunya, membujuknya agar bersedia membujuk Barata untuk lekas menikahiku. Karena lama-lama aku geram dengan tingkahnya yang semakin hari semakin mengacuhkanku.


Aku sampai di rumahnya tepat waktu sekali, Ibu Sukma sedang berada di teras bersama Kakak ipar Barata, mantan kakak ipar, tolong di garis bawahi ya, Perempuan mandul yang sudah menjadi bekas menantu Ibu Sukma itu ternyata masih suka berkunjung ke sini, tak tahu malu.


Mereka sedang menyirami tanaman bunga milik Ibu Sukma, sesekali kulihat candaan mereka saat belum menyadari keberadaan ku. Membuat aku iri saja!! Dia selalu di dilimpahi cinta dan kasih sayang dari keluarga maupun mertuanya, sementara aku? jangan tanyakan apakah aku sama seperti dirinya? tidak!!!! Tidak pernah. Tapi selangkah lagi, dia akan dilengserkan olehku dan aku akan menjadi menantu satu-satunya di keluarga ini.


"Selamat pagi" Ucapku saat aku memasuki gerbang rumah. Meningalkan mobil online yang mengantarkan ku.


"Asalamualaikum, selamat pagi Nak Anita" Ibu memberiku salam dan menyapaku, menghampiriku dan langsung ku raih tangannya untuk ku cium.


"Siangan bu, ada meeting siang ini di luar, jadi gak ngantor" Jawabku sambil melirik wanita di sebelahnua yang seakan-akan tidak peduli dengan kehadiranku.


"Ayok masuk" Perintahnya padaku "Ajeng, tolong bilangin Mbok War suruh bikin minum ya" Perintahnya kepada wanita itu.


Tanpa suara hanya kode jari jempolnya saja tanda oke, dia langsung menghilang ke dalam rumah. Disusul oleh ibu dan aku di belakangnya.


"Barata gak pernah nelpon bu? " tanyaku to the point.


"Hampir setiap hari meskipun cuma sebentar, sepertinya sekarang dia juga lepas dinas, habis ngawal 'Bapak' ke Toraja atau mana katanya Ibu gak gitu ngeh kemarin waktu cerita. "


Breng Sek tuh orang, telponku gak pernah di angkat tapi tiap hari nelpon emaknya. Sial an!


"Lah emang gak berkabar sama kamu? "

__ADS_1


"Iya bu berkabar juga si" Aku tertawa menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


"Berarti sekarang dia free ya bu? pinjam ponsel ibu boleh? Nita mau telpon dia. " Aku berharap Ibu mau meminjamkan telponnya padaku.


"Sebentar ya Ibu ambil dulu" Ibu beranjak dari duduknya.


Dapat kupastikan kalau aku menelpon pakai nomorku sendiri, dia takan mungkin mengangkatnya, dan kau ini mari aku jebak dengan menggunakan ponsel Ibunya.


Dan tak berselang lama, wanita yang tak aku sukai itu datang dengan secangkir teh yang dia sodorkan di hadapanku.


"Silahkan Tehnya Mbak Anita" Ucapnya dengan senyum yang sama sekali tak aku gubris. Entahlah aku begitu membenci wanita ini. Aku seperti merasa tersaingi olehnya. Meskipun aku tau aku dan dia berbeda sangat jauh. Lihat dia yang begitu polos, pakaian yang sama sekali tidak modis itu. Menjengahkan pandangan.


Ibu kembali dengan ponsel di tangan kanannya.


"Ibu udah hubungi Barata tapi gak di angkat, mungkin belum bangun kali ya" ucapnya sambil menyerahkan ponselnya. Terlihat foto keluarga menjadi latar belakang layar ponselnya. Termasuk wanita itu tentunya.


"Coba Nita hubungin lagi ya" Ucapku.


"Ya udah ibu ke belakang dulu ya lihat si Ajeng katanya mau bikin puding, kalo sudah kamu nyusul aja. Ternyata Mbok War sedang ke pasar" Ibu berlalu menyisakan aku sendiri yang juga beranjak dari ruang tamu ke ruang keluarga yang lebih nyaman.


2, 3 panggilan tidak ada jawaban. Hingga panggilan ke 4 panggilan Video tersambungkan memperlihatkan muka bantalnya, Dan seperti biasa dia memgacuhkan pertanyaanku malah menanyakan keberadaan ibunya.


Aku yang sudah jengah dengan sikapnya, akhirnya mengancam padanya akan memberitahukan kepada ibunya kalau dia sudah mengambil mahkotaku. Sungguh aku lelah dengan semua kehidupanku yang aku rasa sangat tidak adil ini. Dan baru saja selesai aku bicara, terdengar sebuah benda berbahan kaca yang terbentur lantai yang menjadikanku reflek mematikan telepon.


Ku tolehkan kepalaku yang ternyata Ibu dan wanita itu berdiri saling jauh. Ibu mendekatiku dengan mengacuhkan piring yang terjatuh, sementara wanita itu langsung membereskan kekacauan yang terjadi. Sudah seperti pembantu saja!!


"Ceritakan semuanya, semuanya yang sudah Barata perbuat kepadamu. Astaghfirullah ibu tidak menyangka Barata berbuat seperti itu, menyakiti kamu sedemikian rupa" Ibu memelukku. Sangat erat. Terdengar suara ia akan lirih yang tertangkap telingaku. Sementara aku hanya bisa diam.


"Biar ibu yang urus semuanya, pernikahan kalian harus segera dilaksanakan, secepat mungkin. Ibu tidak mau sampai ada hal yang lebih buruk lagi terjadi padamu" Ucapnya sambil mengurai pelukan.


Ahhh kenapa aku selama ini harus susah-susah mengejar Barata kalau ternyata kuncinya ada di depan mata! Bodoh kau memang Anita! tak bisa memanfaatkan semuanya. Sekarang semuanya selesai. Tinggal menunggu waktu itu datang. Ku pastikan kali ini Barata tidak akan bisa lolos lagi dariku.

__ADS_1


__ADS_2