
"Kamu sama Ibu sering ke sini? " Barata menyerit heran saat mereka tiba di parkiran depan toko, dimana mereka akan membeli asinan untuk Ibu.
"Iya, kenapa? " Mencoba membuka seatbelt tapi ya kok begitu susah!
"Aku fikir asinan yang di gerobak pinggir jalan itu, baru tahu kalau di sini ada" Melihat Ajeng yang sedang resah. Tersenyum, kemudian mencondongkan badannya ke arah Ajeng.
Wangi bunga tanjung langsung menyeruak di hidungnya, wangi yang sudah lama sekali tidak dia dapati. Dengan begitu dekat dengan wajah Ajeng, dia bisa menghirupnya dalam-dalam. Merangkumnya di dasar hati dan berusaha mematri di dasar fikirannnya agar tidak pernah lupa. Dan tak akan pernah lupa. Wangi yang sama setelah sekian purnama hilang.
"Selesai" ucapnya, saat dia berhasil melepas kan seatbelt yang membelit tubuh Ajeng.
Tanpa mengucapkan terimakasih, Ajeng langsung turun dari mobil, dan bergegas masuk ke dalam toko buah yang sudah begitu terkenal itu.
Dia tidak ingin Barata melibat wajahnya yang memerah karena fikiran kotornya sudah melalang buana jauh.
Apa yang kamu harapkan? dasar hati tak tahu diri!! sadar uyyy sadarrrr
Bagian malaikat di hatinya mencaci.
Sementara Barata yang baru mendatangi toko tersebut cukup terkesima. Segala macam buah-buahan dari mulai buah lokal sampai buah import ada semua, pengunjung hanya tinggal memilih, buah mana yang mereka suka.
Tidak hanya buah, dari mulai asinan, setup buah, buah potong, jus, sampai lutis pun tersedia di sini. Semuanya terlihat fresh dan menggoda.
Barata buru-buru Menghampiri Ajeng yang sedang memilih buah untuk isian manisan. Mendekatinya perlahan.
Berbeda dengan Ajeng yang dikejutkan oleh kehadiran Barata di belakannya. Membuat tubuhnya kali ini meremang, saat dia membisikan membisikan sesuatu di telingannya.
"Aku haus, pingin jus"
Bagi orang yang tidak tahu, mereka pasti akan di kira sepasang suami istri yang sedang berbelanja bersama.
__ADS_1
"Jus apa? " ucapnya tanpa menoleh. Sekali saja menoleh, wajahnya akan langsung di sambut oleh wajah Barata yang tanpa adanya jarak diantara mereka itu.
"Jus yang biasa aku minum yaa, ku tinggu di sana" ucapnya berlalu.
"Eh, semena-mena banget" Dia yang terlalu sibuk mengatur degub jantungnya, baru sadar dengan apa yang Barata ucapkan.
"Di fikir aku gustiAllah apa yang bisa tau segala keinginannya" gerutunya sambil berjalan mengambil buah.
Dia mengambil buah jeruk beserta wortel. Ya, dulu Barata sangat menyukai mix buah tersebut, tanpa susu tentu saja.
"Peduli apa, aku hanya tau ini" berjalan menuju ke tempat dimana pembuatan jus berada.
"Ini mas, tolong ya" Ajeng menyerahkan kedua buah pilihannya. setelah di timbang dan melakukan pembayaran, tak membutuhkan waktu lama, jus sudah siap.
"Terimakasih" Ucapnya sebelum berlalu. Mencari keberadaan Barata untuk memberikan jus yang dia minta, sebelum kembali lagi untuk membayar asinan Ibu dan buah segar untuk beliau.
"Duduk manis di sini aja, gak usah banyak tingkah, ntar kamu hilang!! " Ajeng menemukan Barata yang sedang asyik dengan ponselnya, memberikan jus kemudian berlalu.
"Bagus, maniiissss sekali" dengan gemas Ajeng reflek mencubit pipi Barata, yang langsung di tahan oleh Barata.
"Ugh... ukkhhh... sakit Mbak" pura-pura mengaduh kesakitan, dengan sengaja dan secepat kilat meraih tangan Ajeng untuk menahannya, agar tidak melepaskan cubitan di pipinya.
Menikmati momen manis ini berdua, kapan lagi bisa seperti ini? Barata memang selalu mempunyai seribu akal untuk memanfaatkan kesempatan si dalam kesempitan.
"Oh jadi begini? ini alasan elu gak mau ngasih tau kelakuan adik ipar elu ? jadi apa bedanya dia dengan elu? sama aja saling main belakang? " Tiba-tiba saja sesorang datang, Menghampiri mereka. Membuat keadaan yang tadinya mulai mencair, seketika mencengam. Seakan langit yang tadinya cerah berawan, kini berubah seketika menjadi gelap gulita. Menyambut petir yang sebentar lagi menggelegar.
Naufal POV
Setelah merasakan hancur yang teramat dalam saat mengetahui cerita Ajeng tentang masa lalunya, gue langsung mencari alasan untuk pergi dari hadapannya. Sakit? iya banget!!! ibarat bunga yang baru aja kuncup, tinggal mekarnya doang, tiba-tiba rantingnya patah. Mubadzir apa bukan itu namanya? Mubadzir banget lah!! Sia-sia, gak guna banget perasaan yang selama ini ada dan muncul di hati gue!
__ADS_1
Gue bukan orang yang mudah buat jantuh cinta, bukan juga tipe orang yang gampang 'klik' sama perempuan. Bukan sombong, selama ini banyak cewe yang hilir mudik deketin gue, cari perhatian, bahkan banyak yang to the point ngajak aneh-aneh. Beruntung gue masih punya iman, dan gue bukan ba ji ngan yang suka tebar benih di ra him perempuan.
Mengenal Ajeng merupakan satu dari sekian banyak rasa syukurku. Perempuan mungil nan manis, dengan lesung pipi yang tercipta di ujung bibirnya ketika tersenyum, wanita yang apa adanya, tidak jaim, mampu membawa diri, penyayang orang tua dan point terpenting yang gue suka, dia gak seperti wanita kebanyakan, yang jika bertemu gue, mereka akan berubah menjadi wanita manis, tapi manis karena dikasih pemanis buatan, yang malah justru membuat rasa manis itu sendiri menjadi pahit!!!! Yah.. itu lah Ajeng, manis alami tanpa campuran pemanis buatan!! ngerti gak kalian dengan apa yang gue defisiniin? definisi manis alami dan manis akibat kebanyakan sari manis atau pemanis buatan. Hahahaha
Gue udah muter-muter ngukur jalan, gebuang bensin tanpa arah tujuan. Otak gue bunti. Gak ada inisiatif atau ide apapun untuk menyalurkan ke gabut-an saat ini. Dan kuputuskan buat ngadem di toko buah yang super komplit dengan berbagai macam kudapan yang bahan utamanya buah. Aku fikir memakan setup kedondong enak kali ya, seger manis asem gimana gitu. Membayangkan saja air liur di mulut udah penuh gini 🤤🤤
Gue memasuki toko, langsung menuju ke stand setup buah, mengambil satu porsi setup kedondong. Mata suciku gak sengaja menangkap sepasang suami istri yang sedang berbelanja di stand asinan. Ambyar banget liat gituan. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi ya kok sweet banget. Dari posisiku saat ini seperti si suami memegang pinggul sang istri dan membisikan kata-kata manis, yang membuat sang istri berjalan menjauh karena malu.
"Setup nya mas" Mbak-mbak yang melayaniku, mengalihkan pandanganku dari mereka. Setelah membayar, gue cari tempat duduk yang nyaman yang agak tertutup.
Belum ada setengah gue nikmatin setup ini, gue terusik dengan suara di meja depan, yang hanya berjarak beberapa meja dari tempat gue duduk.
"Bagus, maniiissss sekali"
Suara yang gak asing bagi gue, dan saat gue ngelihat, coba tebak, apa yang mata suci gue lihat?
Ajeng!!!!!!!!!!!!
Berdua-duaan dengan suami orang!!!!!!!
Nyubitin pipi??
Pantaskah??????
Sumpah, hatiku panas sekali melihat mereka!!!!!
Dan pasangan yang sedari tadi aku kira suami-istri, ternyata mereka. Double Sh iiiiittt!!!!!!!!
"Oh jadi begini? ini alasan elu gak mau ngasih tau kelakuan Anita? jadi apa bedanya dia sama elu? sama-sama saling main belakang? nge go da suami orang? " Aku berteriak dari mejaku.
__ADS_1
Bang sat!!!!!!!!
Gue hilang kendali, mendekat ke arah meja mereka.