Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
27


__ADS_3

Setelah mengantongi surat permohonan ijin menikah, yang sudah di tanda tangani oleh komandan kompi tentunya, Barata selalu berkoordinasi dengan Ibu dan Anita, memberitahukan dokumen apa saja yang harus Anita persiapkan, kurang lebih sebanyak 16 dokumen dan masing-masing nantinya akan gandakan sebanyak 10 lemar, dari mulai surat kesanggupan menjadi seorang istri prajurit, surat keterangan belum menikah dan kelengkapan lainnya yang harus Anita persiapkan sebelum dia diboyong oleh Barata untuk menghadap ke kesatuan.


Tidak hanya itu, nantinya mereka berdua juga akan menjalani beberapa tes pemeriksaan dan wawancara sebelum menghadap ke pejabat kesatuan. Kemudian setelah semuanya dijalani dan dilaporkan, keduanya bisa menikah secara catatan sipil.


Dan dilain sisi, Ajeng bisa sedikit lega, Ibu sudah berangsur-angsur membaik, mempunyai semangat kembali untuk melanjutkan hidupnya, binar matanya yang beberapa bulan belakang ini mulai redup, kini mulai menyala. Beberapa bulan ini Ajeng benar-benar memenuhi permintaan Ibu untuk tinggal bersamanya.


Menghabiskan waktu bersama di butik ternyata tidak se-membosankan yang dia fikir. Hani, kasir yang sudah bertahun-tahun menjadi karyawan Ibunya, kini tengah cuti melahirkan, Ibu memintanya untuk menggantikan Hani. Niatannya untuk melanjutkan S2-nya sementara dia tunda. Apa lagi melihat kesibukan Ibu yang belakangan ini wara-wiri mendampingi Anita untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Barata, rasa-rasanya terlalu egois jika dia meninggalkan butik begitu saja, meskipun masih ada beberapa pegawai yang sudah bisa di andalkan.


Seperti siang ini, ketika Ajeng sedang bercanda ria dengan para pegawai, Ibu datang bersama Anita. Dan seperti biasa, wajah Anita yang selalu menampakan ketidak sukaannya kepadanya yang tidak dia pedulikan sama sekali.


"Sayang, masih di sini? ibu fikir sudah pulang" Ibu menyapanya yang sedang berbincang dengan Siti.


"Eh Ibu, gimana? sudah beres? " Ajeng mendekati Ibunya yang kini duduk di kursi yang memang di peruntukan untuk pembeli maupun tamu langganan ibu.


"Ibu, aku haus" Anita memotong pembicaraan yang baru saja akan Ibu Sukma mulai.


"Siti tolong buatkan minum untuk kita ya" Bu Sukma memanggil Siti yang masih berada di sebelah meja kasir.


"Ibu nanti malam akan ke Jakarta, menemui komandan Barata, mungkin 2 atau 3 hari. Ibu belum bisa memastikan." Bu Sukma melanjutkan obrolan yang tadi terjeda.


"Semoga semuanya di lancarkan dan dimudahkan ya Mba Anita" Ajeng memandang Anita dengan tulus, namun yang di pandang sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya.


"Iya Aamiin" Ibu berucap dengan senyum.


"Jadi ibu minta tolong kamu handle butik ya selama ibu tidak ada, tolong nanti Siti bantu Mbak Ajeng ya Siti, bareng yang lainnya" Siti yang datang dengan 3 cangkir di atas nampan yang dia bawa tak luput dari obrolan.


"Baik Bu, dengan senang hati"


Jawaban Siti membuat Bu Sukma tersenyum lebar.


"Lagi Happy kamu Sit"


di susul dengan tawa mereka, kecuali Anita tentu saja.


"Jadi Ibu berangkat kapan? Biar nanti Ajeng persiapkan keperluan Ibu.


" Mbak Ajeng terbaik " Siti berucap sambil melirik perempuan yang ada di sebelah kirinya.


"Siti" Ajeng memperingati.


Namun hanya di balas dengan senyum kaku Siti, dan beranjak meninggalkan 3 orang yang masih duduk bersama.

__ADS_1


"Anita, kamu sudah menghubungi ibumu untuk bersiap? kereta kita akan berangkat pukul 10 malam nanti. " Ibu menatap Anita yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Iya bu, ini sedang saya hubungi agar ibu bersiap. " Anita meraih cangkir yang berisi Teh hangat tersebut.


"Ya sudah ibu lanjut saja dengan Mba Anita ya, Ajeng lanjut koreksi buku kas dulu" Ajeng beranjak meninggalkan Ibu dan Anita yang sedang menikmati teh buatan Siti.


"Aku gak suka sama dia Mbak, bisa-bisanya ya Mas Bara jadiin dia istri" Siti berbisik di telinganya saat dia sampai di meja kasir.


"Sssttt istighfar, gak boleh bicara gitu. "


Ajeng mengingatkan.


"Apanya yang dilihat dari dia? Cantik? aku yakin kalo gak bedakan dan dandannya gak menor gitu lebih cantikan aku kemana-mana" Dita yang sedari tadi berkasak-kusuk dengan Siti menimpali.


"Iya ya Ta, bayanganku Mas Bara itu dapet cewek cantik, kalem, berhijab kaya aku gini" Siti terkikik sendiri.


"Yee kamu itu" Sit menyor kepala Siti


"Udah-udah, sana lanjutin kerjaan kalian. Ghibah terus ihh" Ajeng menengahi mereka.


"Pokoknya kalau dia sampai gantiin Mbak Ajeng di sini, aku mau keluar aja. Gak kebayang aku kerja punya atasan kaya dia" Siti terdengar masih saja berkasak-kusuk dengan Dita.


"Judes gitu gak ada manis-manisnya"


"Gaya bener, apa tuh pasal tiru-tiru, sok pinter kamu Dit! " Siti mencibir.


Dan akhirnya mereka tertawa bersama, dan baru berhenti ketika Ajeng pura-pura marah dengan melototkan matanya namun malah di balas dengan ledekan Siti.


Ajeng tiba di rumah Ibu selepas Maghrib, selama dia tinggal di rumah ibu, dia tidur di kamar Reno semasa bujangan dulu. Dia langsung memasuki kamarnya yang berada di ujung sendiri. Bersebelahan dengan ruang baca yang terdapat rak buku, yang berisi ratusan buku yang tersusun rapi.


Sebelum meninggalkan butik, Ibunya bilang bahwa akan mampir dulu ke rumah Anita. Sekalian memberi tahu kalau malam nanti mereka akan bertolak ke Jakarta. Dan sepertinya sekarang belum pulang.


Ajeng langsung membersihkan badannya, mandi menggunakan air hangat rasanya seperti mencharger kembali tenaga yang seharian ini sudah terkuras habis. Akhir-akhir ini butik memang selalu ramai. Ajeng sengaja membuat akun IG untuk mempromosikan barang yang berada di butik, tak luput juga di grup Whatsapp dan sosial media lainnya dia menge-share foto-foto produk keluaran terbaru.


Sepertinya dia juga harus melibatkan fotografer profesional untuk berkolaborasi, membidik objek agar lebih indah dan menghasilkan gambar yang berkualitas tinggi, agar gambar atau foto yang dihasilkan terlihat berkualitas.


Selepas mandi, dia yang memang sudah tidak berniat untuk melakukan aktivitas apapun, merebahkan tubuhnya di kasur. Hingga akhirnya dia terlelap dengan handuk yang masih melilit membungkus rambutnya.


Bu Sukma tiba di rumah saat adzan maghrib berkumandang. Dia langsung masuk ke kamar, menyiapkan pakaian yang akan di bawa nanti malam. Sepertinya Ajeng lupa tidak menyiapkan baju seperti katanya tadi siang.


Setelah selesai berkemas, Bu Sukma langsung membersihkan badannya, mengenakan pakaian pergi. Tak lupa juga dengan jaket dan syal sebagai penutup lehernya.

__ADS_1


Dia yang penasaran dengan keadaan Ajeng pun kemudian naik ke lantai atas, mencoba untuk memastikan kalau Ajeng belum pulang. Namun dugaanya salah, menantu kesayangannya itu tengah tertidur dengan lelapnya, dan tak sampai hati dia membangunkannya.


Akhirnya Bu Sukma memilih untuk mengirim pesan saja nanti jika sudah menaiki kereta api. Diapun turun menuju ke halaman memerintah Pak Anto untuk membawa barangnya ke dalam mobil.


Setelah dirasa aman tidak ada yang tertinggal, Bu Sukma berangkat menuju ke stasiun diantar oleh Pak Anto.


Anita POV


Rasanya aku begitu kesal berkali-kali lipat ke Barata, dengan seenaknya dia hanya memberikan aku perintah seabreg untuk melengkapi dan menyiapkan berkas yang begitu banyaknya seorang diri tanpa bantuannya. Belum lagi jadwal pertemuan dengan ibu-ibu pengurus ranting, Ibu-ibu penguris cabang, Ibu Danki, dan Ibu Danyon yang cukup menghabiskan waktu.


Sumpah kalo bukan karena ingin hidup enak, aku gak akan pernah mau ribet begini. Bener-bener ngabisin tenaga dan pikiran.


Untung saja calon mertuaku bisa diandalkan, dengan sabarnya mendampingiku. Hingga akhirnya kelengkapan berkas sudah siap dan malam ini aku akan berangkat ke Jakarta untuk menghadap komandan di kesatuan yang menaungi Barata. Aku sudah mewanti-wanti kepada Barata agar tidak ada tes keperawanan. Bagaiamana pun caranya hal itu pokoknya jangan sampai dilakukan.


Kami tiba di Stasiun Gambir tepat saat adzan subuh berkumandang. Aku, mama dan Ibu Sukma di jemput oleh Barata. Kita langsung menuju ke hotel yang sudah disiapkan oleh Barata.


Barata masih saja begitu, kaku dan tidak ada manisnya sama sekali kepadaku. Dan beginikah kelak ketika kita sudah menikah? ish.. ishh... ish..


Sesampainya di hotel Barata hanya berpesan bahwa nanti pukul 10.00 pagi dia akan menjemput kami kembali. Bara meminta kelengkapan berkas dan dokumen yang kemarin dia minta aku isi dan aku dapatkan setelah melakukan perjalanan panjang nan melelahkan, mengeceknya satu persatu hingga akhirnya membawa kelengkapan dokumen itu pergi.


Pukul 10 pagi Barata benar-benar menjemput kami. Pertama aku di bawa ke rumah sakit yang sudah di tunjuk untuk melakukan tes kesehatan, sementara Mama dan Ibu Sukma dibawa oleh Barata menuju ke markas, katanya ada wawancara juga dengan Ibu persit si sana. Sedangkan aku di periksa darah kimia lengkap, rekam jantung dan lainnya yang aku sendiri pun tak begitu paham.


Aku cukup lega setelah keluar dari ruang pemeriksaan dan Barata menepati perkataannya bahwa tidak ada tes keperawanan. Karena sebetulnya tes keperawanan itu sendiri merupakan permintaan dari calon pengantin. Bila calon pengantin pria menginginkan di tes, maka tes dilakukan, namun bila tidak ya tidak dijadikan masalah.


"Sudah semua? " Barata menyambutku saat aku keluar dari ruang pemeriksaaan.


"Gimana? " tanyanya lagi.


"Iya sudah beres, tinggal nunggu hasilnya keluar. Ngapain lagi? " Tanyaku.


"Ngadep komandanku. Nanti kamu cukup jawab iya, yang pasti jangan ragu-ragu jangan bertele-tele. Ngerti? " Barata memberikan interuksi.


"Iya" Jawabku dengan muka masam.


Aku yakin seratus persen, dia menikahiku hanya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat padaku. Dengan jarak yang begitu membentang selama ini, komunikasi pun tak cukup untuk mendekatkan aku padanya. Dia adalah lelaki dingin yang selalu berlaku lurus-lurus saja. Selalu menyibukan dirinya di kesatuan hingga menjadi prajurit teladan yang di sayang oleh komandan. Setelah ini, aku harap dia bisa berubah. Setidaknya menganggap aku ada di sekitarnya. Menjadi pribadi yang hangat dan menyenangkan. Semoga saja.


Huaaaaahhhh part yang sungguh menguras tenaga dan energi akuuuu, Mohon ijin Ibu, saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Dela yang sudah bersedia membantu menjelaskan dan menceritakan tahapan nikah kantornya kepada saya, meskipun dalam penjabaran dan penulisannya saya rangkum karena terlalu panjang dan lama🤭 dan mohon maaf apabila tidak sesempurna yang panjenengan alami (keperluan halusinasi tidak serinci kehidupan nyata🤭🤭) Salut saya dengan para ibu persit dan bhayangkari yang telah melewati proses yang begitu panjang dan lama untuk mendapatkan ijin nikah kantor sebelum tercatat di catatan sipil. Sungguh luar biasa🤗 mohon ijin Ibu🙏🙏


Untuk pembaca, tenang sabar jangan emosi. ini hanya soal waktu ya🤗 semuanya akan berjalan sesuai dengan takdir mereka masing-masing 🤭


Selamat beristirahat.

__ADS_1


🤗😚😚


__ADS_2