Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
9


__ADS_3

Ajeng POV


Apa kabar Mas? Semoga kamu sudah bahagia di sisiNYA ya, sudah tidak merasakan sakit lagi. Sekarang waktunya aku untuk melanjutkan hidupku. Memulai kembali dari nol, setelah 2 tahun ini aku selalu bergantung padamu.


Aku sudah berjanji pada Mama kalau aku gak akan nangis lagi, gak akan buat kamu merasa terbebani.


Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri sempurna buatmu, aku yang masih egois dengan segala masa laluku, maafkan aku yang tak bisa melupakan bayangnya. Dan terimakasih, terimakasih untuk segalanya, kesabaranmu dalam menghadapiku, kesabaranmu dalam membersamaiku, kesabaranmu dalam melengkapi dan menerima dengan segala kurangku.


Mungkin aku tak akan bisa menemui laki-laki yang sebaik kamu, sesabar kamu, sepengetian kamu. Kamu seharusnya bisa mendapatkan yang lebih dari aku. Ahh bodohnya wanita yang meninggalkanmu.


Tenang di surgaNYA ya Mas, aku janji aku akan bahagia sesuai dengan permintaanmu selama ini. Bukan, bukan karena tidak bersamamu lagi, tapi lebih kepada apa yang sudah kau korbankan untukku.


Kuusap namanya yang terukir di atas batu nisan, Renopati Wirajuna. Laki-laki yang sudah membersamaiku 2 tahun yang lalu. Sahabat terbaik di hidupku yang pernah aku punya. Ketika semuanya pergi menjauh, dia datang dengan sejuta kasihnya.


Aku masih mengingat jelas, saat dia merengkuh tubuhku yang hendak terseret ombak. Saat kurasakan duniaku hancur dan rasanya ingin mati saja, saat aku tak bisa mengungkapkan apa yang aku rasa, saat raga dan fikiran mulai di luar batas kewarasan, dia datang dengan tangan terbuka dan hati seluas samudera. Dia mampu mengerti aku bak malaikat utusan Tuhan.


Reno, laki-laki tampan yang tak banyak bicara, lebih mengutamakan tindakan daripada perkataan manis nan romantis.


Nasib percintaan kita yang menyedihkan yang akhirnya menyatukan kita didalam sebuah pernikahan. Aku yang saat itu lelah dengan cerita cintaku, menemukan sebuah tempat persinggahan yang bisa melupakan sejenak kisah sedihku. Mas Reno yang sedang hancur ditinggal menikah oleh kekasihnya akhirnya memilih untuk membantuku bangkit mengubur masa lalu.


Dan kisah kami di awali dengan sebuah pernikahan yang berselimut perjanjian.


Flashback ON


Author POV


Matahari mulai menuju ke singgasana nya, menggantikan dirinya dengan rembulan yang sebentar lagi muncul dari arah timur. Serabut lembayung mulai meredup, namun seorang perempuan yang sedari tadi di awasi oleh pria yang sedang duduk di bibir pantai, semakin melangkahkan kakinya ke tengah lautan. Hingga berakhir dengan diterjangnya tubuh mungil oleh gulungan ombak besar.


Beruntung sang pria berhasil menyelamatkan si wanita. Merengkuhnya dan membawa ke bibir pantai.


"Hay nona, nona.. Bisakah kau mendengar suaraku? nona.. nona aku mohon buka matamu" Pria yang menolong wanita itu terus menerus menepuk-nepuk pipi si wanita, sesekali menekan-nekan dada si wanita agar air yang tertelan bisa keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


Dan.. Uhukk.. uhuukkk.. ukkhhukkk


terdengar suara batuk dari si wanita dan gerakan refleknya untuk duduk.


"Anda baik-baik saja?" pria itu terlihat cemas.


"Ya, terimakasih" Jawabnya singkat.


"Apakah anda sendiri? " Tanya si pria, "Emm maaf, perkenalkan saya Reno, maaf mungkin tadi saya lancang menarik anda tapi... "


"Aku Ajeng" Jawab wanita itu tanpa menunggu kalimat pria bernama Reno itu terucap sempurna.


"Ada masalah? " Reno bertanya sambil memandang wajah sendu wanita yang mengaku bernama Ajeng itu.


Dan tiba saja secara reflek, Ajeng menangis histeris. Menundukan kepalanya serendah mungkin.


"Keluarkan, keluarkan segala sedihmu.. Menangislah, aku menemani di sini" Reno duduk disebelah Ajeng. Dia berjalan menuju tempat dimana tadi dia duduk, meraih sebuah jaket dan sebotol air mineral kemudian kembali mendekat menuju Ajeng. Menyodorkan minumannya dan memasanhkan jaketnya ke bahu wanita yang baru saja dia tahu namanya itu.


Sementara Ajeng mulai meredakan tangisnya, meraih botol yang Reno beri dan menenggaknya hingga tandas tak tersisa.


"Terimakasih" Ucapnya pelan. Hampir tak terdengar.


"Aku tau semua ini tak mudah, tapi percayalah Tuhanmu tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuanmu. Dia tau sekuat apa kamu. Tugasmu hanya melewatinya. Melewati takdir yang sudah di gariskan untukmu. Hanya itu" Reno berbicara tanpa memandang Ajeng. Seperti sedang menguatkan orang lain tetapi sebenarnya itu untuk dirinya.


"Manusia terkadang merasa dirinya seperti sendiri. Seperti, semua orang tidak ada yang bisa mengerti."


"Mungkin mereka mengetahui, namun keadaan yang memaksa mereka untuk acuh tak acuh enggan menanyai."


"Sekitar yang terasa tenang, namun didalam jiwa begitu menggelora dengan segala rasa. Rasanya, seperti terdapat sebuah batu yang mengganjal di hati. Terasa sesak."


Macam segala yang selama ini baik-baik saja namun sebetulnya tidak."

__ADS_1


Reno terus berbicara sendiri, menatap lautan luas. Tak peduli wanita yang sejak tadi duduk di sebelah sekarang sudah memandangnya lekat.


"Macam apa yang semua ini terlewati, seakan tidak cukup untuk menguatkan diri sendiri. Nyatanya, semua ada masanya. Masa dimana hati lelah, meskipun selalu mencoba untuk meneruskan. Masa dimana segalanya selesai tapi memaksa untuk dilanjutkan.


Semuanya akan tetap berlanjut selagi nafas belum putus dan terhenti. Meyakini diri bahwa segalanya ada batas akhir. Itulah cara bertahan hidup."


Dirinya menatap Ajeng, melihatnya dengan seksama dan berakhir dengan senyuman yang terbit di kedua sudut bibirnya.


"Kamu tak perlu menceritakan masalahmu, aku cukup berkaca pada diriku sendiri yang sekarang kurang lebih merasakan hal yang sama denganmu. Tersakiti oleh wanita yang amat aku cintai begitu dalam."


Reno membuang muka, menatap sejenak langit yang menghitam, kemudian menundukan kepalanya, yang ditahan oleh kedua kakinya.


Sementara, suara isak tangis mulai terdengar. Begitu lirih.


"Ma.. maaf " Ajeng membuka suara, mencoba untuk menghibur orang yang sama sekali tak di kenalnya itu.


"Setidaknya kita masih bisa hidup untuk melanjutkan ini meski tanpa dia" Reno mendongakan kepalanya, menatap Ajeng dengan seksama.


"Aku juga meninggalkan dia, entahlah. Aku yang ditinggalkan atau aku yang meninggalkan. Semua begitu abu-abu. Mungkin kamu lebih beruntung, kamu jelas di tinggal menikah oleh kekasihmu. Sementara aku? aku tak tahu dia masih hidup atau tidak, aku tak tau dia masih miliku atau bukan. Aku tidak tau keadaan dia bagaimana, kondisi dia bagaimana. Dia meninggalkan tanpa kepastian." Ajeng menghembuskan nafas pelan nan panjang.


"Dia tidak cukup mengerti dengan segala perjuanganku selama ini, aku bertahan dengan harapan dan janji manisnya. Wanita bo doh dengan segala angan dan mimpi yang dirajut bersama lelaki breng sek! " Ajeng melampiaskan amarahnya dengan meraih batu besar di sampingnya, melemparkannya dengan sisa tenaga. Tak perduli dengan keadaan tubuhnya yang basah kuyup dan mulai menggigil terkena angin laut malam yang dingin.


"Setidaknya kau masih utuh dan tidak ada kehilangan yang berarti." Reno tersenyum sinis. "Aku telah berikan segalanya, segalanya yang aku punya. Tapi apa yang dia beri? dia kabur bersama laki-laki cabul yang bisa memuaskan Nafsunya! " Degan suara pelan, namun kata yang tajam, berhasil menarik perhatian Ajeng untuk kembali fokus.


"Aku yang hanya bisa memuaskan nafsunya dengan uang, di campakan begitu saja setelah segala yang kupunya habis, kukorbankan untuk dia. Saat aku berharap dia untuk tetap tinggal, merajut lagi dari awal, nyatanya dia enggan. " Reno memalingkan wajahnya.


"Sudah malam, kamu harus berganti pakaian. tidak mungkin akan menggunakan pakaian seperti ini. Kau bisa sakit. " Lanjutnya kemudian.


"Dimana barang-barangmu? " Reno memperhatikan sekitar yang terlihat bersih.


"Tadi kuletakan di dekat sini, tas dan jaketku" Ajeng beringsut, berdiri mencoba mencari barangnya. Namun sepertinya nasib buruk kembali menimpanya, tas dan jaketnya tersapu bersih ombak.

__ADS_1


"Sementara pakai dulu jaketku. Ayo lekas pergi, tidak mungkin kita disini terus, matahari takan muncul kembali hanya untuk mengeringkan dan menghangatkan badanmu yang basah" Ucapnya berlalu melewati Ajeng yang masih terbengong dengan ucapan Reno.


__ADS_2