
Malam itu, akhirnya Ajeng pulang. Ikut serta Mama dan Bapak, dia tinggalkan Barata sendiri di rumahnya dengan rasa berkecamuk. Sebetulnya dia ingin tinggal, namun apa daya, Bapak memintanya untuk pulang ke rumahnya sendiri, bukan beliau tidak percaya kepada mereka berdua yang tidak bisa menjaga diri, namun lebih kepada mengingat norma sosial dan agama, tidak seharusnya laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya berada dalam satu atap. Dan setan ada di mana-mana bukan?
Sampai dua hari berlalu, Barata masih bungkam padanya, tidak ada itikad baik untuk mencari solusi atas apa yang sedang mereka alami. Ajeng pun sama, dia enggan membahas hal-hal yang sepertinya menurut dia tidak perlu dia bahas, apalagi untuk dia yang memulainya.
Jangankan untuk mencari solusi, hanya untuk bertukar kabar pun tidak!!
Baginya, jika Barata benar-benar mencintainya, tidaklah mungkin dia bersikap seperti ini. Saat Bapak memintanya pulang di hari Ahad nanti untuk menjawab permintaan dari keluarga Ust Weni, hal yang Ajeng ingikan dari Barata adalah bersikap gentleman. Tidak hanya diam. Bahkan sampai saat ini, tidak ada kabar apapun dari dia. Di seperti tertelan bumi begitu saja.
Dia mendesah pelan.
"Hanya segini cintanya padaku? omong kosong macam apa ini. Mana cinta yang katanya hanya untukku? Mana yang katanya dia tidak bisa hidup tanpaku."
"Bul shi tttt semuanya ! "
Ajeng yang masih berada di ruangannya, setelah seharian ini berkutat dengan dua pasiennya, seketika resah. Sungguh bahkan seharusnya tidak seperti ini kan?
"Harusnya dia tidak bungkam, setidaknya dia menanyakan apa inginku, mencari solusi bersama. Akhh !!! Aku benar-benar seperti orang bodoh."
"Rasanya tidak pantas sekali jika aku harus bertanya terlebih dahulu. Aku hanya perempuan, bukan aku seharusnya yang memulai. harusnya dia. Bukan aku. !!!!
Ponselnya berdering, Panggilan masuk dari rumah Mama Suci.
"Halo Asalamualaikum, ucapnya lesu."
"Ya Mah gimana?"
Setelah mendengarkan suara mamanya dia bertanya. Sungguh dia begitu takut kalau mamanya menanyakan jawaban dia atas permintaan ust Weni.
"Nduk, kamu sehat?" Mama Suci yang sudah hafal dengan anak perempuannya itu merasa ada yang tidak beres.
"Iya Ma, Ajeng hanya kecapean, pasien hari ini banyak." Ucapnya berbohong.
Padahal sehari-hari maksimal dia menerim 3 orang pasien.
"Mama hanya mengabari, untuk kepulanganmu, bisakah di percepat esok hari?"
Deg
Perasaan dia mulai tidak enaak.
"Di percepat Ma?" tanyanya hampir menangis.
"Kenapa?"
"Ajeng belum siap dengan jawabannya."
"Bismillah, kamu jawab sesuai hatimu saja, tidak ada yang memaksamu di sini. Mama dan Bapak akan ikut keputusanmu."
"Apapun itu, akan Mama dan Bapak dukung."
"Mereka kan hanya meminta Jeng, semua keputusan ada di tanganmu. "
"Jika kamu bersedia, kamu bisa menerima, jika tidak, kamu bisa menolak."
"Ajeng takut bikin kecewa Bapak sama Mama."
"Apa kamu sedang menunggu seseorang?" Tanya Mama Suci hati-hati.
__ADS_1
Namun hanya keheningan yang Bu Suci dapati.
"Baiklah, Ajeng akan pulang besok sore. Kita lihat nanti apa yang akan terjadi Ma." Ajeng tidak menjawab pertanyaan Mamanya. Bersikap seolah-olah dia tegar dan kuat dengan apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
"Hahah memang apa yang akan terjadi esok?" Mama Suci tertawa.
"Apapun yang terjadi esok, yang pasti Ajeng belum punya jawaban. Lihat besok saja ya Ma."
"Ya sudah, Mama dan semuanya tunggu di rumah yaa."
"Sampai jumpa besok sayang."
Tanpa menunggu jawaban Ajeng, Mama Suci memutus panggilannya.
Sedangkan Ajeng, semakin tidak karuan rasa hatinya.
"Apakah esok aku harus mengatakan kalau aku sudah memiliki tambatan hati? "
"Apakah aku harus berterus terang kalau aku mencintai seseorang di masa laluku? Sementara orang itu pun sama sekali tidak memperdulikan ku saat ini?"
Ajeng kembali mendesah pelan.
"Kalau saja kamu datang Bar, mengajaku untuk berbicara kepada orang tuaku tentang kita. Takan ada penolakan dariku."
Dia meraup wajahnya, menutupnya erat, seakan dia enggan untuk menampakan wajahnya kembali lagi.
"Oke, tenang Jeng. Sabar. Semua akan baik-baik saja." Hiburnya pada diri sendiri.
......................
"Budhe." Teriaknya kegirangan.
"Shila?" Panggilnya terkejut.
"Shila gak sekolah? Pulang kapan?" Menundukkan badannya, agar sejajar dengan Ashila.
"Shila enggak mau sekolah, Shila kangen sama Budhe." Ucapnya sembari merengkuh leher Ajeng.
"Mbak Jeng, maaf saya di suruh mengantar Ashila sama Ibu, Ibu tidak sempat mengantar ke sini, ada urusan mendesak katanya. Nanti Ibu menelpon." Pak Anto mendekat. Menjelaskan kedatangannya bersama Ashila.
"Jadi gimana dong? saya juga harus absen ini."
Ajeng menghembuskan nafas kasar. Meninggalkan anak ini dengan Mbak Nur tidak mungkin, ikut pun tidak mungkin. Hingga ide kepepetnya keluar, saat melihat Mbak Nur datang di antar anak lelakinya.
"Ya udah, ikut Budhe dulu aja, tapi janji harus nurut ya." Ucapnya lembut.
"Pak Anto pulang lagi aja, bilang ke Ibu kalo Ashila ikut saya."
"Mbak Nur ikut saya yaa."
Sedangkan Mbak Nur tanpa banyak tanya ikut menaiki mobil.
"Yuk naik sayang." Ajaknya pada Ashila yang sekarang memekik kegirangan.
Ajeng membimbing Ashila memasuki mobil, memasangkan seat belt padanya. Sementara Mbak Nur duduk di kursi belakang.
"Shila pulang kapan?"
__ADS_1
"Kok gak pernah telpon Budhe waktu di Semarang? kirain udah lupa. Taunya sekarang nyamperin Budhe." Ajeng mulai menjalankan mobilnya.
"Pulang sole-sole. Papah telpon Oma terus, jadinya Oma pulang sama Syila telus Oma Ana."
"Emm, Papa Shila udah sembuh?" Tanyanya hati-hati.
"Papa kerja, sejak Syila pulang, syila belum ketemu Papa."
Bo doh !!! Buat apa juga harus bertanya tentang dia Ajeng!!!!!
Hatinya semakin tercubit, menyesali apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Ia berharap semoga tidak ada pasien hari ini, harusnya dia mengambil cuti saja untuk hari ini. Selain suasana hatinya yang sedang tidak baik, dia juga sepertinya tidak mungkin bisa mendampingi pasien untuk berkonsultasi. Terdengar seperti tidak profesional mungkin, tapi memang begitulah keadaanya. Dan kini, dia hanya bisa merutuki kecerobohannya sendiri.
"Mbak Nur nanti tolong jaga Shila bentar ya di taman. Nunggu aku koordinasi dulu dengan bagian pendaftaran." Ucapnya.
"Iya Mbak."
"Dan nanti, Ashila harus nurut sama Mbak Nur ya, gak boleh jauh-jauh dari Mbak Nur. Kalo ketahuan Pak Dokter, Budhe bisa di marahin karena bawa anak kecil ke rumah sakit. Ya sayang ya?" Ajeng mulai memberikan pengertian pada balita tersebut, yang langsung dianggukinyan tanpa bertanya lagi.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit. Dia segera mengajak Ashila turun bersama Mbak Nur. Ajeng meminta Mbak Nur untuk menunggu di taman rumah sakit, seperti rencana awalnya. Dan dia akan ke bagian pendaftaran. Menanyakan apakah hari ini dia ada pasien. Namun sebelumnya, terlebih dahulu Ajeng menuju ke ruang absensi, untuk absen pagi.
Ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk dari Ibu Sukma.
"Tak seperti biasanya Ibu mengirim pesan begini?" dia menyeritkan dahinya heran, bergumam sendiri sembari berjalan.
"Nitip Ashila bentar ya Jeng, Ibu hari ini ada janji dengan orang penting, dan sepertinya sampai malam. Kalau tidak merepotkan, besok pagi Ibu jemput ya sekalian antar ke sekolah."
Bagaimana bisa.
Belum selesai dengan keheranannya, ponselnya berdering. Mama Suci menelpon.
"Ya halo assalamualaikum Ma."
Dengan tidak sadar, dia kini justru berjalan ke arah ruangannya.
"Walaikumsalam, ya sayang. Mama cuma mau ngingetin ya nanti pulang absen sore kamu ke sini. Acara di mulai bada ashar. Jadi sebelum maghrib sudah selesai semuanya. "
Dia membuka pintu ruangannya, bau pewangi ruangan menyeruak begitu saja di hidungnya. Seketika merilekskan fikirannya yang sedang tidak tenang itu.
"Ya Ma, aku bawa Ashila yaa."
"Seriusan?"
"Kenapa? Mama keberatan?"
"Aah gak, justru Mama seneng banget."
"Yaudah deh Ma, Ajeng tutup dulu yaa. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam wrb, Mama tunggu di rumah ya."
Ajeng membereskan meja kerjanya, sebelum akhirnya dia teringat dengan Ashila yang dia tinggal bersama Mbak Nur di taman rumah sakit.
"Ya Allah, ya kok bisa sampe kelupaan gini." Ucapnya sembari lekas berjalan keluar ruangannya.
Hari ini, pikirannya benar-benar kacau. Dia tidak bisa lagi berfikir slow, bagaimana bisa slow sedangkan hatinya dan fikiran yang menjalankan tubuhnya pun sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1