Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
66


__ADS_3

Ajeng POV


Ponselku berdering, sesaat setelah aku mengakhiri panggilan ke Anita yang sudah aku lakukan berkali-kali, dan tak kunjung mendapat jawaban darinya. Dan ternyata Naufal memanggil.


"Ya Asalmualaikum" Ku sapa dia terlebih dahulu.


"Ke Rumah Sakit Wijaya Kusuma sekarang, Anita jatuh. Aku tunggu"


Satu kalimat yang mampu membuat jantungku berdegub kencang.


"Ibu, Anita jatuh, sekarang di rumah sakit Wijaya Kusuma. Naufal mengabari Ajeng barusan. " Aku mendekati Ibu yang kebetulan berada tak jauh dari ku.


"Ajeng di minta untuk ke sana, Ibu di rumah aja ya, Pak Anto nanti Ajeng suruh buat jemput Mbok War, nemenin Ibu. "


Tanpa menunggu jawaban ibu, aku langsung bergegas menuju ke kamar, mengambil tas.


.


"Ya Allah, Anita! " Samar-samar kudengar pekikan kaget dari Ibu.


" Hati-hati Nak. " Pesannya padaku saat aku mencium punggung tangannya.


Setelah melewati perjalanan yang lumayan lama di karenakan macet, akhirnya aku sampai di rumah sakit yang berada di pusat kota. Aku langsung bergegas menuju ke ruangan informasi, bertanya di mana letak ruang oprasi.


Tak butuh waktu lama bagi ku, hingga aku berhasil menemukannya. Terlihat dari jauh, dua lelaki yang sedang duduk saling diam, dan tak berselang lama seorang lelaki keluar dari ruang operasi, menggunakan pakaian hijau, mengucapkan selamat atas kelahiran putri pertamanya. Membuat batu besar yang sedari tadi bersarang di hatiku seakan terangkat, lega luar biasa


Aku tersenyum lebar, menghela nafas lega. Alhamdulilah apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. kulangkahkan kaki ku untuk lebih dekat ke arah mereka. Melihat kondisi Anita dan bayinya.


Namun, semua eforia kebahagiaan yang terpancar dari masing-masing diri ini harus meredup seketika, setelah dokter melanjutkan perkataannya, mengucapkan permintaan maaf di hadapan Barata dan Naufal, jika beliau tidak bisa menyelamatkan nyawa istrinya, di karenakan pendarahan hebat di kepalanya.


Kepalaku langsung berputar, kakiku lemas, aku hanya bisa beristighfar sebayak-banyaknya, berjalan mendekat ke arah mereka. Tidak ada yang bersuara. Aku hendak mendekat ke arah Barata, namun lelaki itu pergi begitu saja ke dalam ruangan operasi untuk melihat kondisi anaknya dan keadaan terakhir Anita. Mengikuti dokter yang baru saja memberikan kabar duka.


Anita.


Sungguh aku tidak menyangka takdirnya seperti ini, aku tidak menyangka kalau pertemuan kita di pagi hari tadi adalah pertemuan terakhirnya, pamitnya pada Ibu, adalah pamit yang dia ucapkan untuk meninggalkan kami selamanya. Seberapa pun rasa bencinya padaku, sungguh, aku tidak pernah menaruh rasa yang sama atas dirinya.


"Jeng" Naufal tersadar dengan kehadiranku. Mendekatiku dan merengkuhku. Membuat tangis yang ku tahan sedari tadi pecah.


Saat lelaki ini memberitahu kalau Anita terjatuh, hal yang pertama kali aku fikirkan adalah kandungannya, aku tidak berfikir sedikit pun tentang dia. Bagaimana perutnya? bayinya? apakah baik-baik saja? hanya pertanyaan itu yang berputar-putar di kepalaku selama dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Kenapa bisa seperti ini? " Aku memandang Naufal. Mencercanya dengan berbagai pertanyaan. "Bagaimana Barata ada di sini? Bagaimana dia tahu kalau Anita kecelakaan? "


Membuat tangis ku semakin menjadi


"Jangan banyak tanya dulu, tidak ada yang boleh tanya kenapa dan mengapa. "


"Sssttttttt"


Memeluku semakin erat.


"Sekarang, hubungi Mbak Runti agar segera mengurus segalanya! " perintahnya padaku.


"Kita harus bertindak cepat"


Aku mulai tersadar dengan perkataan Naufal, dengan tangan gemetar, aku menelepon Mbak Runti, memberitahukan keadaan sekarang, memita agar Mbak Runti untuk segera ke rumah, mengabari orang rumah dan RT setempat untuk mempersiapkan proses pemakaman.


Panggilan terputus mana kala seorang bidan keluar dengan mendorong tabung inkubator.


"Salah satu keluarga pasien, dimohon untuk mengikuti saya !" Ucapnya lekas berlalu.


Tanpa menunggu perintah, maupun bertanya kepada Naufal, aku langsung berjalan mengikuti sang bidan dan meninggalkan Naufal sendirian.

__ADS_1


"Bu, kenapa harus di masukan ke dalam inkubator? apa ada masalah padanya? " Aku yang tak kuasa menahan banyak pertanyaan, akhirnya bertanya.


"Iya Mbak, meskipun bayi ini lahir cukup bulan, namun bayi ini memiliki berat badan lahir kecil, dan suhu tubuhnya terus menurun. " Jelasnya padaku setelah memasukan bayi mungil itu ke dalam ruangan besar yang berkaca, sehingga aku dengan jelas bisa melihatnya meskipun hanya dari luar.


"Berapa lama? "


"Kita menyesuaikan dengan anaknya, kita berdoa saja semoga adek bayi kondosinya lekas membaik. " Jawabnyaa.


Kami melakukan diskusi tentang kesehatan bayi malang tersebut, dari mulai kondisi keadaan awal dia, sampai dengan masalah penyusuan. Apakah akan mencari ibu susu atau menggunakan susu formula. Aku yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman apapun tentang bayi, hanya memasrahkan segalanya kepada pihak rumah sakit.


Jarum jam di pergelanganku menunjukan pukul 23.45, ruangan sudah sepi, aku mendekatkan diri ke arah kaca besar yang menampakan bayi perempuan mungil itu, menyentuhnya lewat kaca yang menghalangi jarak. Bayi ini langsung memikat hatiku pada pandangan pertama. wajahnya yang menggemaskan, mampu membuatku takjub dengan rasa syukur yang bertubi-tubi. Namun sekejap kemudian, perasaan iba menyeruak begitu saja, ya, dia tak seberuntung bayi lain. Ibu nya meninggal, bahkan untuk berada di dekapan ibunya, untuk yang pertama dan terakhir kalinya pun dia tidak mengalaminya.


Ya Allah kenapa begini sekali, bagaimana anak ini akan tumbuh tanpa Ibu? sementara Barata, mana mungkin dia bisa membersamai anak ini? Anitaaa kupejamkan mataku erat, menahan agar air mata ini tidak lolos lagi.


kullu nafsing zaaa-iqotul-mauut, wa nabluukum bisy-syarri wal-khoiri fitnah, wa ilainaa turja'uun


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."


(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)


Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, tidak akan terlalu cepat pun tidak akan terlalu lambat. Semua sudah ada waktunya masing-masing. Aku pun, sedang menungu giliran panggilan-Nya. Siapa tahu sekarang, Malaikat Izroil sedang melihat ku, mengawasi ku, hanya saja aku tidak menyadari dan tidak melihatnya.


Sungguh, ini merupakan tamparan keras bagi ku, karena ajal tidak akan pernah mau menunggu, dan tak akan pernah mau tahu. Apakah kita sudah siap atau belum untuk 'pulang'.


Author POV


Ibu Anita mendatangi rumah sakit dengan kondisi memilukan. Dia memangis histeris di depan kamar jenazah, sesaat sebelum jenazah di pindah ke ruangan pemulasaran jenazah. Naufal menenangkan sebisanya, sedangkan Barata sedang mengurus proses administrasi, agar jenazah segera bisa di bawa pulang.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, setelah jenazah siap untuk di kebumikan, Jenazah terlebih dahulu di bawa pulang ke rumah duka untuk di sholati.


Barata sengaja meminta istrinya itu di sucikan di rumah sakit oleh tim pemulasaran jenazah, agar mempercepat proses pemakaman.


Suara sirine mobil ambulance menggema, membelah Jalanan kota di dini hari. Karena jarak rumah sakit berada di pusat kota, terbilang lumayan jauh dari rumah, maka membutuhkan waktu yang cukup lama, bersamaan dengan hujan deras, yang mengharuskan sopir harus lebih berhati-hati.


Mobil memasuki area perumahan, suara sirine tidak terdengar lagi. Saat merasakan bahwa mobil ambulance berhenti, Barata bersiap untuk turun. Namun salah satu tangannya di tahan oleh Ibu mertuanya.


"Maafkan segala kesalahan Anita" Ucapnya dengan linangan air mata yang siap menetes kapan pun.


Belum sempat menjawab, pintu sudah terbuka dari luar, Ibu Anita melepaskan Barata begitu saja, tanpa jawaban satu kata pun.


Terlihat, Ibu Sukma dan Mbak Runti sudah menanti di teras rumah, dan langsung menyambut Barata dengan isak tangis.


"Jenazah langsung di bawa masuk" terdengar suara arahan dari seorang prajurit kodim yang ternyata sudah mengurus segalanya.


Terlihat sudah ada dua karangan bunga, dari kesatuan dan dari kodim setempat. Berita cepat sekali menyebar, ingat kan bahwa tembok saja bisa berbicara apa lagi angin yang bisa terbang kesegala penjuru arah mata angin?


"Yang sabar ya Nak" Ibu Sukma berbisik di telinganya sembari memeluknya. "Ikhlaskan segalanya, sudah menjadi jalanNYA untuk seperti ini. Kuatkan hatimu. "


Barata ikut menangis, bahkan terisak. Membalas pelukan ibunya erat. Entah perasaan apa yang dia sangga saat ini.


Marah, kecewa, menyesal bercampur-baur menjadi satu.


"Sudah dek, kendalikan dirimu! " Runti menepuk bahu adiknya itu. "Jangan seperti ini! " Imbuhnya.


Mata Ibu Sukma menangkap sosok Ibu Anita, yang sedang berjalan ke arahnya, reflek beliau melepas pelukan anaknya dan menyambut kedatangam wanita itu.


" Maafkan segala kesalahan anak saya Mbak" suaranya terdengar parau.


"Ssstttt sudah, yang sabar panjenengan ya, ikhlaskan. Kita harus tetap tegar, kita harus kuat, demi cucu! " Jawabnya sembari memeluk erat besannya tersebut.


Sebagai penghormatan terakhir terhadap jenazah, semua yang hadir ikut menyolati jenazah, sebelum akhirnya di kebumikan di pemakaman umum setempat.

__ADS_1


Tepat adzan subuh berkumandang, para pengantar jenazah sudah tiba di rumah duka.


Barata langsung memasuki kamarnya. Tempat pertama kali yang dia tuju adalah kamar mandi. Dia melucuti pakaiannya, menyalakan shower, menengadahkan kepalanya, berharap semua ini lekas berlalu. Hilang terbawa air, mengalir ke tempat yang jauh.


"Aaargggggggggg"


Barata mengerang frustasi, memukul tembok yang ada di depannya.


"Brengggseeekkkk!!!!! "


"Harusnya kau tidak mati!!!! Harusnya kau bisa mempertanggung jawabkan perbuatanmu!!! "


"Terlalu mudah bagimu, justru seakan-akan aku yang membunuhmu di sini!! "


Ia menangis tersedu, sungguh memilukan.


Sementara di rumah sakit, Ajeng yang baru saja keluar dari masjid rumah sakit langsung menelepon keluarganya. Untuk mengabari berita duka ini.


Tak membutuhkan waktu lama, panggilannya mendapat jawaban.


"Asalmualaikum warohmatullahi wabarokatuh"


Ajeng tersenyum, Suara laki-laki cinta pertamanya yang dia dengar pagi ini.


"Walaikumsalam Bapak" Ucapnya riang.


"Loh, Mbak Ajeng, piwe? enjing-enjing telpon. Tumben"


Ajeng tersenyum, membayangkan ayahnya yang kaget karena mendapat telepon dari dia pagi-pagi seperti ini dengan dahi berkerut dalam.


"Ada kabar duka Pak, Anita meninggal dunia" ucapnya yang seketika wajahnya berubah menjadi sendu.


"Inalilahi wa inna ilaihi rojiun. Ya Allah kapan? anaknya bagaimana? "


"Anaknya di rumah sakit ini. Ajeng yang di rumah sakit sekarang. Sedang di rawat insentif. Jenazah sudah di makamkan tadi. Naufal yang mengabari Ajeng barusan. "


"Bapak sama Ibu bisa ke sini kan? takziah? " Tanya nya.


"Iya, Bapak siap-siap dulu ya nanti sambil ngabarin ini ke Ibu. "


"Ajeng juga mau ngrepotin sekalian nih pak, tolong bawain baju ganti ya, antar ke rumah sakit Wijaya Kusuma. Ajeng di sini. " Pintanya.


"Kapan kamu naik pangkat jadi dokter nduk? Jadi suster terus gak naik jabatan-jabatan" Pak Rahmat menghembuskan nafasnya berat.


"Moga-moga kowe dadi wong sing begya ya nduk, sehat-sehat ndang bahagia. Bapak sakjane melas karo awakmu. "*


Seketika saja matanya mengembun, mendengar doa tulus dari Bapaknya. Terasa berat menahan beban air yang mendorong untuk meluncur, hingga akhirnya lolos begitu saja. Merebak, berjatuhan membasahi pipinya.


"Aamiin Pak" Ucapnya.


*Semoga kamu menjadi orang yang beruntung ya nak, sehat-sehat lekas bahagia. Bapak sebenarnya kasihan denganmu.


Selamat hari minggu sahabat semua😊


Apa kabar satu pekan tak bersua? 😁


Semoga senamtiasa sehat selalu yaa🤗


Selamat menikmati hari libur bersama keluarga❤


Monggo dipersilahkan untuk mengucapkan bela sungkawanya untuk Anita, jangan menghujat ya, kasihan sudah bersama malaikat mungkar-nakir.

__ADS_1


kita doakan yang baik-baik saja yaa😊


__ADS_2