
Barata POV
Si Jaka sudah menegang sejak tadi, meskipun rasa tubuhku yang sedang tidak karuan, tapi si Jaka masih bisa berdiri gagah perkasa, apa lagi saat aku melihat dia tanpa mengenakan jilbab, dengan baju batik yang membalut tubuhnya yang sedang asyik dengan aktifitasnya di dapur.
Ku rengkuh tubuhnya, dan ku raup wanginya dalam-dalam. Dia yang memekik kaget langsung mencoba melepaskan pelukanku. Namun rasa kagetnya berubah menjadi rasa panik, saat memegang lenganku yang panas. Dengan tanpa berdosa, dia membalikan tubuhnya hingga tubuh kami saling menempel dan membuat si Jaka berontak. Aku sedang menikmati perlakuan nya yang sedang meraba pipi dan leherku, sebelum akhirnya dia mencubit pingangku dengan sangat keras.
Aku tidak bisa berfikir jernih selain mengikuti arahan dia untuk tidur di sofa, memberiku obat magh dan berkata tanpa henti yang membuatku gemas ingin meng ulum bi birnya.
Saking peningnya kepalaku, dengan tidak tau sopan santun dan etika, langsung ku lum at bi bir mungilnya, kutelisik satu per satu giginya hingga ku rasakan dia tidak bernafas.
"Bernafas Bo doh! " Aku sedikit membentaknya, apakah 5 tahun menjanda membuat dia lupa bagaimana cara berciuman? apakah dia tidak bisa merasakan kekuatan si Jaka di bawah sana? yang menegang hebat karenanya? yang kini menempel erat di atas telapak tangannya.
Sungguh aku tidak bisa seperti ini, aku ingin kita segera mengesahkan hubungan ini. Secepatnya. Aku tidak bisa menjamin aku bisa menahan nafsuku padanya.
"Sungguh aku tak tahan lagi. Menikahlah denganku segera! " Aku mengiba. Beradu pandang dengan Ajeng yang kini menatapku dengan rasa kesal!!!!
"Bisakah kita ke penghulu esok hari? "
"Aku gak bisa gini-gini terus?"
Ku peluk dia kembali, semakin erat hingga terdengar suara bel berbunyi, mengakhiri pelukan yang sesungguhnya aku tak rela dia beranjak.
"Bentar! " Ucapnya galak.
"Gak usah di buka, gak kenal ini. "
"Nanti aku kenalan biar kenal! " Ketusnya merogoh tas dan membawa dompet pergi menuju ke arah pintu utama.
"Eh Yank mau kemana? Jilbabnya! " Teriaku.
"Astaghfirullah, kok bisa lupa sii" terlihat dia menepuk dahinya, kemudian berlari ke dapur, dan kembali dengan jilbab sudah di lilitkan di atas kepalanya.
"Mau kemana si? " Aku begitu kesal melihatnya yang mengacuhkanku.
Samar-samar ku dengar suara laki-laki asing, dan tak lama suara pintu tertutup dan derap langkah kaki mendekat.
Aku memejamkan mataku, pening di kepala semakin menjadi-jadi.
" Bar, makan dulu. Aku udah pesenin bubur nih. " Suara dia terekam di telingaku.
"Bangun dulu yuk, makan, minum obat nanti lanjut lagi tidurnya."
__ADS_1
"Aku pusing banget. " Ucapku lemas.
"Buka mulut aja, biar aku suapin. "
Kucium bau bawang goreng kesukaanku, dengan mata terpejam, aku hanya menurut tanpa membantah lagi.
"Bubur ayam. "
"Seneng banget ya kalo di layani tiap hari gini. "
"Kapan aku bilang ke Mama Suci, kalo mau minta anaknya buat ku jadiin teman hidup? "
"Makan dulu habiskan gak usah banyak tanya. " Ajeng kembali ke mode garangnya.
Aku jadi ingin tertawa. Tapi dapat di pastikan dia akan langsung meninggalkanku terkapar sendiri di sini.
Aku diam, menuruti perkataannya.
"Duduk bentar ya, obatnya di minum. " Ucapnya yang membantuku menegakan diri agar lebih mudah untuk menelan obat.
"Mau pindah kamar atau gimana? "
" Nanti aja nunggu Pak Anto pulang anter Ibu, paling bentar lagi pulang. "
Aku menolaknya, aku tidak bisa menjamin kalau Ajeng bisa keluar dari kamarku seandainya dia mengantar aku ke kamar.
Otak mesumku berkelana ke mana-mana. Bre ng sek !!
"Ya udah. " Jawabnya singkat, dan pergi beranjak dari duduknya.
Sementara nyeri di kepalaku semakin menjadi. Membuatku semakin mengatupkan mata, semakin rapat.
Author POV
Hujan turun dengan derasnya, Ajeng kembali melanjutkan aktifitasnya di dapur, menyelesaikan memasak Mie instan yang tertunda. Selera makannya tiba-tiba menguap begitu saja, pikirannya di bayangi oleh perkataan Barata yang mengajaknya ke penghulu.
Apakah dia sudah tidak waras
Seenaknya mengajak anak orang ke penghulu
Ajeng yang sedang menuangkan Mie instan ke dalam mangkuk di kejutkan dengan suara telepon rumah yang berdering.
__ADS_1
"Ya Allah, pada hobbi banget bikin orang kaget! " gerutunya sembari berjalan mendekat ke arah pesawat telepon.
"Asalamualaikum." Ajeng membuka suara.
"Walaikumsalam, Ajeng? " Suara Runti terdengar di seberang sana.
"Ya Mbak Run, tadi aku mampir ke rumah, malah rumah kosong, cuma ada Barata, tuh lagi tidur di sofa. Lagi sakit dia, badannya panas. " Adunya pada Mbak Runti.
"Wah gimana ya? Padahal mau ngabarin juga ke Barata kalo Ibu sama Shila aku bawa ke Semarang, sekalian nengokin Bulik Ana yang di Ungaran. Ini udah di stasiun. " Suara riuh anak-anak terdengar jelas di telinga Ajeng. Suara Ashila dan Nuha, adik Felly.
"Barata ponselnya susah banget di hubungin dari pagi. Ini aja mendadak. Bulik Ana besok mau ngelamarin si Galang, jadi ngajak Ibu buat tetua di keluarga. " Runti menjelaskan pada Ajeng.
Suara operator mengabarkan kedatangan kereta menggema, memaksa Runti untuk memutus sambungan teleponnya.
"Ntar lagi ya Jeng, riweh banget nih bocil. Mbak nitip Barata ya. "
"Hati-hati kalian. Asalamualaikum. "
Sambungan telepon dimatikan begitu saja.
"Ini orang-orang kenapa si? " Ajeng menggerutu.
Berjalan kembali ke meja makan untuk menyantap Mie yang sungguh sudah hilang selera, dan begitu banyak tanya yang tersimpan di fikirannya.
Sembari makan, dia mengabari kepada Mbak Nur, agar mengunci semua pintu. Dia tidak bisa memastikan apakah dia akan pulang atau stay di sini menunggu Barata.
"Kalau dia gak lagi sakit gini, gak bakalan aku di sini kayak gini. "
"Untung sayang." Ucapnya tanpa sadar.
Dan sekian detik berikutnya dia terbatuk, tersedak akibat ucapannya barusan.
Terkadang, begitu susahnya mengakui perasaan. Sebegitu beratkah? kalau ada yang lebih mudah, kenapa harus di persulit. Kalau bisa langsung bahagia, kenapa harus melewati suka duka?
Kadang memang kita tidak bisa memaksa fikiran orang untuk sejalan dengan kita. Bukan karena mereka ribet dan kita simple bukan, bukan itu. Hanya saja terkadang jalan yang mereka telah lalui, mengharuskan mereka untuk berfikir berkali-kali, menimbang baik buruk atas apa yang nantinya akan mereka pilih.
Jadi, seberapa keras kita meyakinkan pun, kalau mereka belum dan tidak bisa memutuskan, kita bisa apa? selain mendoakan agar semuanya di berikan yang terbaik.
Karena ada kalanya pengalaman lebih berharga, pengalaman teman terbaik di perjalanan hidup. Dan pengalaman menjadikan kita lebih mawas diri dalam mengambil setiap keputusan.
Karena sesungguhnya orang yang terbaik itu, ialah orang yang bisa menjadikan pengalaman hidupnya menjadi sebuah pembelajaran hidup, sebagai motivasi diri untuk berbuat yang lebih baik lagi, dan tidak mengulang kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Karena sungguh, mereka adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, karena masih di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
__ADS_1