Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
65


__ADS_3

Saat ini usia kandungan Anita memasuki minggu ke 39. Tinggal menghitung hari lagi, dia akan segera melahirkan anaknya. Perutnya yang sudah membuncit membuat diri nya terlihat kepayahan. Namun juga tak membuat dirinya kemudian berdiam diri saja di rumah. Seperti di Jumat pagi itu, dia berpamitan kepada ibu Sukma untuk pergi ke rumah Ibunya. Dengan di antar oleh Pak Anto.


"Lihat nanti ya Bu, kalo aku mau nginep, aku kabari Ibu." Jawaban Anita saat di tanya oleh Bu Sukma, apakah dia akan menginap di tempat Ibunya seperti yang sudah-sudah, atau pulang kerumahnya.


Bukan tanpa alasan jika Ibu Sukma menanyakannya, beliau hanya khawatir tentang kandungan Anita. Diusia kandungannya yang matang itu, kelahiran bisa terjadi di manapun dan kapanpun. Tetapi melarang menantunya berkunjung ke rumah orang tuanya sendiripun rasanya tak etis.


Hingga waktu maghrib hampir tiba, belum ada tanda-tanda kepulangannya. Yang semakin membuat ia gelisah.


Rasanya tidak enak sekali, padahal sudah biasa Anita pergi seperti ini


"Mau di telpon saja apa Bu? " Tawar Ajeng yang melihat kegundahan hati Ibu Sukma.


"Kita tunggu sampai jam 7 nanti. Jika belum mengabari juga, baru kita telepon. " Jawabnya.


"Ya udah, kita sholat Maghrib dulu ya, sekalian menyelesaikan surat Al-khafi yang kemarin belum selesai." Ajeng berlalu meninggalkan Bu Sukma yang masih termenung di pintu utama, menuju ke tempat wudhu yang berada di dekat pintu samping.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu Ibu, hingga kini mereka melakukan sholat Maghrib berjamaah dilanjut kemudian, membaca Al quran bersama.


Di sebuah hotel.


16.00 WIB


"Aku harus pulang, istriku sedari tadi menelpon. Lihat ini" Menunjukan ponselnya yang tertera nama Ibunya anak-anak calling.


"Sejak kapan Bapak perduli dengan isteri Bapak saat kita sedang bersama?" Anita berbicara ketus.


"Biasanya ponselnya juga di matikan" lanjutnya.


"Kali ini berbeda, dia sudah mulai curiga denganku, Kamu mau, rupiah dariku tak lagi mengalir? enggak kan. " Ucapnya dingin sembari mengenakan kembali kemeja kerjanya yang terlihat tak serapih sebelumnya itu.


Anita hanya diam, tak menjawab pertanyaan Bosnya itu. Dengan gerakan perlahan, dia meraih tas slempangnya yang berada di atas meja nakas, meletakannya di atas bahu, berkaca sebentar untuk memastikan dirinya sudah rapih, menutupi beberapa tanda merah yang di buat oleh Bos perkasanya tersebut, yang katanya, semakin hari dirinya semakin manis.


Wanita mana yang tidak akan tergoda dengan segala puja dan puji dari seorang lelaki? Memberikannya segala cinta dan sentuhan yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya? Mendesahkan namanya berkali-kali, memperlakukannya dengan naf su menggebu yang mampu mengantarkannya menuju puncak ke nik matan berkali-kali?


Dengan ini, dia juga sadar. Bahwa mencintai seorang diri itu sakit. Cintanya yang berlebihan, dan menutup mata hatinya, menghalalkan segala cara untuk mendapakan Barata adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia memang mendapat raganya, tetapi tidak dengan cinta dan hatinya. Dan sekarang apa yang dia dapatkan? Rasa sakit yang disebabkan oleh dirinya sendiri, akibat terlalu berambisi dan memaksakan kehendak orang lain atas dirinya.

__ADS_1


"Udah?" Rafi membuka suara yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Anita.


"Jadi mau pulang saja? " tanyanya.


"Iya pulang, aku sendirian di hotel males banget! " Anita yang hendak membuka pintu, di kejutkan dengan suara gedoran pintu.


"Siapa? " Ucapnya memandang Rafi.


Dan Rafi hanya bisa mengangkat bahu, tanda tak tahu kemudian membuka pintu kamar dengan posisi kini dia di depan Anita.


Wajahnya berubah menjadi pucat, manakala melihat seorang perempuan dengan santainya tersenyum kepada dirinya.


" Dapet berapa ronde? " Ucapnya santai.


Anita yang juga melihat ke arah perempuan itu lebih syok lagi saat melihat lelaki yang berada di sampingnya.


"Bar.. Barata" Ucapnya sambil berjalan ke luar kamar, menghampiri suaminya.


"A.. Aku.. Aku bisa jelaskan" Ucapnya yang terdengar hampir menangis.


"Kamu bisa ceritakan nanti setelah anak itu lahir, kita bertemu di ruang mediasi" Menyerahkan amplop coklat berstempel logo pengadilan agama kepada Anita. Kemudian berlalu, meninggalkan tiga orang yang masih berdiri di depan pintu yang masih terbuka.


"Aku bisa jelaskan sayang... "


"Stop, jangan panggil aku dengan panggilan menjijikan itu" Tatapnya tajam, dengan tangannya menekan tombol lantai 1.


"Bar, ini gak seperti yang kamu fikirkan, tolong dengarkan dulu penjelasanku" Anita mengiba.


"Hahahahah" Seketika tawanya menggema di dalam lift. Sungguh itu membuat Anita lebih dari sekedar takut.


"Aku tidak butuh penjelasan apa pun darimu, aku hanya mengantar surat itu, tidak lebih" Melirik ke arah tangan Anita yang memegang erat amplop coklat tersebut.p


Tring


Suara lift terdengar, menandakan mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju.

__ADS_1


"Barata, aku mohon. Beri aku kesempatan berbicara!!! " dia berteriak, berharap agar Barata yang sudah berjalan di depan nya, bersedia untuk menunggunya, dan mau mendengarkan penjelasannya. Tanpa memperdulikan pandangan orang sekitar yang menatap mereka dengan tatapan heran.


Barata berjalan menuju ke parkiran, menuruni beberapa anak tangga di pintu lobby, dengan langkah tegap dan panjangnya, meninggalkan Anita yang sedang mencoba mengejarnya dengan kondisi dia yang kepayahan.


Ini kali pertama dia melihat istrinya secara langsung dan terang-terangan, keluar dari kamar hotel bersama dengan laki-laki yang selama ini selalu dia lihat wajahnya melalui foto yang Naufal dan orang Baskara kirim.


Sakit sekali hati dia, menyaksikan apa yang memang selama ini sudah sering dia lihat. Nyatanya, melihatnya secara langsung membuat hatinya remuk redam dan lebih sakit berkali-kali liapat!!!


Ternyata selama ini, kebahagiaan yang dia korbankan untuk bertanggung jawab kepada wanita itu sama sekali tidak ada harganya. Dan harga inilah yang harus dia bayar sekarang!!


Dia memasuki mobil dengan cepat, muak sudah melihat perempuan yang kini bisa dia lihat dengan jelas sedang menuruni tangga, dan masih saja hendak mengejarnya.


Bbraaaakkkkk


Suara keras yang memekakan telinga menghentikan aktifitas dia yang sedang memasang seatbelt. Terlihat dari arah pintu lobby, seorang satpam berlari ke arah wanita yang baru tiga detik lalu dia lihat sedang menuruni anak tangga. Dan kini dia sudah terjungkal di atas aspal, dengan kondisi darah berada di mana-mana.


"An Jing!!!! "


Dia langsung melepas seatbelt-nya, kemudian berlari ke arah Anita yang sudah tidak sadarkan diri.


Rumah Sakit


"Istri anda mengalami pendarahan di kepala Pak, jalan satu-satunya kita harus mengeluarkan bayinya terlebih dahulu, memastika dia keluar dengan selamat. Setelah itu kita akan fokus ke penanganan istri anda." Seorang dokter jaga di IGD memberikan informasi kepada Barata.


"Lakukan apa pun yang tebaik dok" Barata berucap dingin.


Rasa kecewa, marah, sesal bercampur menjadi satu. Dia yang awalnya hanya singgah, setelah ikut dalam rombongan kunjungan RI 1 ke Cilacap, menggunakan mobil rentalan untuk bertemu dengan Anita, yang rencananya hanya sebentar, sekedar untuk menangkap basah dia, dan menyerahkan surat penggilan untuk jadwal persidangan padanya, kini terjebak dengan kondisi memilukan.


Naufal yang sedari pagi memberikan informasi padanya, membuatkan janji temu dia dengan istri dari pria bernama Rafi itu, kini sama sekali tak menghubunginya. Bahkan kini panggilan masuk dari ponsel Anita, menggema, semakin membuat jantungnya berdetak tidak karuan setelah nama Ajeng tertera di layar ponsel.


ia membiarkan panggilan Ajeng begitu saja, mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungi Naufal. Tak butuh waktu lama panggilan pun terjawab.


"Ya Mas, gimana? Udah kelar? " Tanya Naufal tanpa basa-basi.


"Datang segera ke Rumah sakit Wijayakusuma. Aku tunggu di ruang operasi" Ucapnya singkat padat dan jelas. Kemudian mematikan ponselnya begitu saja.

__ADS_1


Dia mendudukan tubunya di kursi yang di sediakan di sekitar selasar ruang operasi. Menundukan tubuhnya, Tangannya bertumpu pada kedua pahanya, meremas rambutnya erat.


"Apa lagi ini ya Allah" Ucapnya lirih.


__ADS_2