Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
42


__ADS_3

..."Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."...


...(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155 - 156)...


Dokter keluar dari ruang IGD, membuat Ajeng dan Ibu Suci yang sedari tadi menunggu dengan harap-harap cemas lekas berdiri menyambutnya.


"Bagaimana keadaan Ibu saya Dok? " Ajeng langsung bertanya.


"Ibu anda mengalami serangan stroke. Dikarenakan, kurangnya suplay aliran darah ke otak. Kemungkinan yang sering terjadi pada pasien stroke adalah adanya serangan stroke ringan atau transient ischaemic attack (TIA). Orang yang mengalami TIA sendiri biasanya merasakan kelemahan, mati rasa, atau kelumpuhan mendadak pada salah satu sisi anggota tubuh."


"Nanti saya beserta tim akan periksa secara menyeluruh tentang apa yang Ibu anda rasakan. Dan tentang keluhan-keluhan tersebut pada umumnya membaik dalam 24 jam, meski perlu ditelaah lebih lanjut jika berlangsung lebih dari itu." Terang sang dokter panjang.


"Apakah ada hubungannya dengan beliau yang terjatuh di kamar mandi? " Kini Ibu Suci yang bertanya, sementara Ajeng langsung memeluk mamanya sambil menangis terisak.


"Bicara tentang hubungan antara terpeleset di kamar mandi dan stroke, sebetulnya tidak ada korelasi langsung antara kedua hal tersebut. Secara medis keduanya belum tentu berkaitan.


“Terpeleset di kamar mandi tidak memicu stroke. Namun orang yang memiliki risiko jatuh yang tinggi juga sering kali memiliki faktor risiko stroke, contohnya pada orang dengan obesitas dan lansia,” lanjutnya.


"Apakah nantinya beliau bisa sembuh? pulih seperti sebelumnya? "


"Kita berdoa saja ya Ibu, semoga di Ibu Sukma diberikan kesembuhan, namun juga perlu dilakukan perbaikan gaya hidup dan kesehatan tubuh, tidak perlu risau, stroke bisa diperlambat dengan melakukan terapi sedini mungkin dan penanganan yang tepat.


" Sementara begitu dulu ya Ibu, nanti jika kondisi Ibu Sukma sudah stabil,perawat kami akan memindahkan beliau ke ruang perawatan."


Ajeng masih terisak di dekapan Mamanya.


"Ssttt tenang lah" Mama Suci mencoba menenangkan putrinya, mengarahkan untuk duduk kembali.


"Sabar, ini semua cobaan dari yang membuat hidup. Tidak perlu takut. Percayalah, semua akan baik-baik saja" Mengusap lengan putrinya, sesekali mengecup puncak kepala anaknya.


"Sekarang, coba kamu telpon Anita, Barata atau Mbak Runti. Bicara pada mereka kalau Ibu di bawa ke sini. " Mama Suci memberikan saran.


Saat tadi mereka membawa Bu Sukma, rumah dalam keadaan kosong. Tidak tahu keberadaan Mbok War dan Pak Anto di mana. Dengan susah payah ke empat wanita itu, Ajeng, Mama Suci, Bu Ria dan Bu Efi memindahkan Ibu Sukma ke dalam mobil, dengan secepat kilat Ajeng membawa Ibu Sukma ke Rumah sakit terdekat untuk lekas mendapat pertolongan. Tanpa perduli barang-barang yang tertinggal. Memang ada benarnya juga, bagaimanapun mereka adalah orang terdekat Bu Sukma, dan merekalah yang berhak atas Ibu Sukma melebihi dirinya.


Ajeng meraih ponselnya, mencari nomor Mbak Runti, namun sayang ponselnya sedang tidak aktif. Sementara dia tidak mempunyai kontak Barata ataupun Anita. Dia keluar dari grup aplikasi pesan keluarga, setelah beberapa kali menimbang tentang manfaat dan mudarotnya. Dan pada akhirnya dia benar-benar melepas satu persatu yang berhubungan dengan keluarga Bu Sukma.


Tapi? kenapa kini dia justru terjebak di dalam pusaran musibah keluarga ini?


Dia menghela nafas panjang.


"Sebaiknya Ajeng pulang dulu ke rumah Ibu, untuk memberitahu orang rumah kalau Ibu masuk rumah sakit. Mbok War pasti juga cemas. " Ajeng melepas dekapan mamanya.


"Apa gak sebaiknya di telpon saja? " Mama Suci memberikan saran.


"Sekalian Ajeng mau ambil perlengkapan Ibu Ma, sebentar kok. Ya? "


Dengan berat hati akhirnya Ibu Suci merelakan anaknya untuk kembali ke rumah Ibu Sukma. Sementara kedua rekannya, Bu Agus dan Bu Efi masih menunggu diruang tunggu luar. Tidak diperkenankan untuk masuk oleh petugas, karena maksimal penunggu pasien hanya 2 orang.


Sebelum Ajeng pergi, Ajeng menyempatkan untuk melihat keadaan Bu Sukma terlebih dahulu. Wajah yang nampak lelah tersebut, terlihat sangat damai dalam tidur lelapnya.


"Lekas pulih Bu" Gumamnya pelan sambil menggenggam tangan kiri beliau yang tidak di pasangi infus.


"Ajeng rindu" Mengecup punggung tangan yang sekarang terlihat begitu banyak keriput di jari-jarinya.


"Lekas sadar ya, Ajeng pulang dulu ambil barang-barang Ibu, nanti Ajeng kembali lagi ke sini ya"


Dia mengecup dahi Ibu Sukma, sebelum benar-benar meninggalkan beliau.

__ADS_1


"Ajeng jalan dulu ya? " menghampiri Mamanya yang sedang terdokus dengan ponselnya.


"Iya, Hati-hati ya.. Ini Mama sedang berkabar dengan Bapak, takut-takut kalau nanti kesorean sampai rumah.


" Iya udah di lanjut aja, Ajeng tinggal bentar ya, nanti kita pulang bersama. " Ajeng meraih tangan ibunya, mencium punggung tangannya.


"Asalamualaikum" Pergi menjauh dari ruang tunggu IGD.


Ajeng melewati pintu samping, mengambil jalan terdekat menuju parkiran mobil. Kebetulan jarak rumah Ibu Sukma dengan Rumah sakit tidaklah terlalu jauh. Tidak sampai 15 menit, mobil Ajeng sampai di halaman rumah Ibu Sukma.


"Asalamualaikum" Ajeng memasuki rumah tanpa sungkan, berbeda kali ini ada suara sahutan salam dari arah dapur.


"Walaikumsalam" Mbok War yang terkaget melihat Ajeng dengan penampilan barunya langsung berteriak histeris, memeluk Ajeng dengan erat


"Mbak Ajeng? niki panjenengan? MashaAllah Mbak,


deneng dadi ayu temen kados niki. Ya Allah Mbak" Mbok War memeluk Ajeng erat. (Mbak Ajeng? ini kamu? MashaAllah Mbak, kok jadi cantik sekali seperti ini?


Terakhir bertemu dengan Mbok War adalah, saat ia meluapkan isi hatinya, sesedih itu. Saat hendak meninggalkan rumah Ibu. Terang saja ekpresi mbok War heboh, bak melihat kekasih hati yang lama tak jumpa.


Ajeng hanya tersenyum.


"Mbok tadi dari mana? rumah sepi. " Ajeng bertanya dengan tenang. Mencoba tenang. Menutupi segala gundah gulana yang ada. Padahal hatinya ingin sekali menjerit.


"Mbok tadi di suruh Ibu belanja ke Toko Yogi, dianter Pak Anto, Ibu pingin makan pisang Moonrise katanya, sekalian belanja kebutuhan dapur. Tapi kasir antri sekali. Jadinya lama. Pulang-pulang nyari Ibu, eh gak ada" Jelas Mbok War.


"Ibu pasti seneng banget kalo tau panjenengan di sini Mbak"


"Ibu sudah 2 hari Mbak, teng ndalem terus. Gerah"


Mbok War terus saja bercerita, menceritakan keadaan Ibu Sukma yang 2 hari ini di rumah terus karena sakit.


"Ibu sekrang di rumah sakit Mbok" Ajeng dengan tegar memberi tahukan Mbok War.


"Inalillahi, Astaghfirullah, Subhanallah"


"Ya Allah gusti pangeran, sepurane aku ora bisa ngopeni Ibu, " (Ya Allah gusti pangeran, maafkan saya tidak bisa menjaga Ibu).


"Pripun bisane teng griya sakit? " (bagaimana bisa berada di rumah sakit? ) muka bersalahnya sangat ketara.


"Ibu, saya temukan sudah terjatuh di kamar mandi dan Ibu kena stroke Mbok" Ajeng menghembuskan nafasnya berat, sementara Mbok War sudah menangis di depannya.


"Ajeng mau ambil peralatan Ibu, bisa Mbok War bantu? Ajeng mau menghubungi Mbak Runti sama Barata"


"InshaAllah Ibu baik-baik saja Mbok, tidak usah terlalu khawatir" Mengusap lengan Mbok War, seperti mamanya tadi memperlakukannya sewaktu di rumah sakit.


Terkadang perhatian kecil memang di butuhkan saat keadaan sedang genting seperti ini.


Mbok War hanya bisa mengangguk, sambil mengelap kedua matanya yang masih saja mengeluarkan air mata.


"Mbok siapkan dulu kebutuhan Ibu" Berlalu meninggalkan Ajeng yang kini juga berjalan menuju pesawat telepon rumah, yang berada di sudut ruangan.


Membuka buku telepon, mencarai nama yang sudah menjadi target utamanya. Yaitu Mbak Runti.


Nomor ponsel Mbak Runti masih belum aktif, terfikir untuk menelpon Anita, namun tidak ada nama Anita di buku telpon rumah, mungkin Ibu lupa belum memasukan nomornya ke buku telepon.


Opsi terakhir adalah Barata. Mau tidak mau dia harus menelpon Barata.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim" Menekan nomor telepon dengan hati berdebar.


"Bukan saatnya untuk melibatkan perasaan Jeng. Fokus. Demi Ibu" Ucapnya untuk menenangkan hatinya.


Suara sambungan terdengar, namun tidak ada jawaban dari seberang, sampai sambungan terputus dengan sendirinya.


"Mungkin dia sedang sibuk" Bergumam sendiri.


"Coba lagi? "


"Tapi takut mengganggu"


Ajeng menimbang-nimbang dengan gamang, hingga tak lama kemudian, suara telepon rumah sontak mengagetkannya.


"Ya Mbok Pripun" Baru saja dia mengangkatnya, kata salam masih menggantung di mulutnya, suara berat itu terdengar memenuhi telinganya. Menjalar turun sampai hatinya, membuat jantungnya berdetak cepat. tak nyaman.


"Asalamualaikum" Akhirnya dengan mulut yang tadinya tiba-tiba kelu, dengan lancar jaya dapat mengucap salam.


Hening.


"Kamu? " Suara tanyanya seperti terkaget.


"Apa kamu sedang sibuk? maaf menganggu. " Ajeng tidak menjawab sapaan Barata.


"Katakan, ada apa? "


Suara lugasnya dan to the point darinya membuat dia semakin gugup.


"I.. ibu masuk rumah sakit. Ponsel Mbak Runti tidak dapat di hubungi, jadi aku menelpon. "


"Bisa tolong panggilkan Mbok War? "


"Ya" tanpa sadar, dia menghembuskan nafas berat. Entah apa yang ada di fikiran Ajeng.


Dia berlalu, setelah meletakan gagang telepon di meja. Berjalan menuju kamar Ibu Sukma untuk menghampiri Mbok War.


"Mbok" panggilnya.


"Nggih Mbak, sekedap malih mengkin" Ucapnya, yang menjelaskan bahwa sebentar lagi semuanya selesai.


"Ajeng mawon, Barata bade matur kalih Mbok War" Berjalan ke arah mbok War untuk melanjutkan kegiatan Mbok War.


(Ajeng saja, Barata mau berbicara sama Mbok War).


Ajeng mengambil alih pekerjaan Mbok War, tanpa lagi memikirkan dan enggan menerka-nerka apa yang mereka bicarakan. Mengulur waktu agar mereka bisa berbicara tanpa tertanggu.


Setelah di fikir tidak ada yang tertinggal, Ajeng keluar dari kamar Ibu Sukma dengan menenteng sebuah tas yang tida begitu besar. Sementara Mbok War terlihat masih menyimak perkataan lawan bicaranya dari seberang.


"Nggih paham Mas, Nggih.. Nggih siap.. Nggih... Nggih"


Hanya kata Iya.. iya... Iyaaa yang terucap dari mulut Mbok War, entah petuah apa yang Barata berikan kepada Mbok War sampai mbok War menjawab Iya dengan sepenuh hatinya.


"Mbok, Ajeng pamit ya? " dengan hanya gerakan bibir Ajeng memberi kode kepada Mbok War, yang kebetulan sedang menatap dirinya.


"Sekedap Mbak" Mbok War berteriak. Memintanya untuk menunggu.


"Mas Bara bade matur" (Mas Bara mau bicara) Menyerahkan ganggang telepon ke arahnya yang jaraknya masih begitu jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Apalagi???


__ADS_2