
"Sudah seger aja anak Mama" Mama Suci menyambut anak perempuannya yang baru saja keluar dari kamar.
Ajeng terlihat segar pagi hari ini, dengan menggunakan dress biru muda plos tanpa lengan, dan uraian rambut hitamnya yang sedikit bergelombang, dia berjalan menuju meja makan. Infusnya sudah terlepas dari pergelangan tangannya. Setelah tadi diperiksa oleh dokter dan dokter mengatakan bahwa kondisi Ajeng tidak memerlukan infus lagi, akhirnya infus yang memang sudah tinggal sedikit itu di lepas.
"Masi pusing? apa yang di rasa? " Mama Suci bertanya sembari menyerahkan segelas jus jeruk buatan Mbak Nur.
"Udah enggak kok Ma, Ajeng udah gak apa-apa" Jawabnya sambil meraih gelas yang di sodorkan kepadanya.
"Pada kemana? " Lanjutnya manakala melihat rumah terlihat sepi.
"Ada itu di depan, lagi kedatangan tamu temennya Nak Barata katanya" Bu Suci tersenyum.
Sementara Ajeng kembali ke mode cueknya saat mendengar nama adik iparnya. Dia memilih untuk meneguk habis jus yang mamanya berikan.
"Sarapan apa? Mbak Nur tadi bikin nasi goreng nih, mau gak?" Bu Suci menawarkan.
"Ajeng makan roti aja deh, lagi gak pingin makan nasi" di ambilnya satu lembar roti tawar kemudian diolesinya dengan selai kacang kesukaannya.
"Oya Jeng, tadi Bu Retno menelpon katanya besok Mama harus berangkat, soalnya akan ada visitasi akreditasi dari pusat."
Bu Retno adalah kepala sekolah di TK tempat Bu Suci mengajar. Salah satu teman sejawat di sekolah.
"Mendadak banget Ma, bukannya ada Bu Ria, sama Bu Evi? " tanyanta sambil memasukan roti ke mulutnya.
"Iya.. Semuanya harus hadir. Makanya Mama diminta berangkat besok. " Bu Suci menjelaskan.
"Aku sendiri dong? "
"Kan ada Ibumu sama Barata, gak usah khawatir. Kalo gak Ningrum suruh nginep sini aja" Mamanya memberikan penawaran.
"Yaudah deh mau gimana lagi, nanti Ajeng telpon Ningrum biar pulangnya ke sini aja" Ajeng menjawab sembari melahap potongan roti terakhirnya.
Sementara itu di teras depan, suasa terlihat tegang. Dua orang orang perempuan dan seorang laki-laki sedang membicarakan hal yang hanya di mengerti oleh mereka. Iya mereka adalah Barata, Bu Sukma dan kekasih Barata, Anita.
Terlihat 3 raut wajah yang berbeda satu sama lainnya, Bu Sukma yang terlihat tenang dan biasa saja, Sementara anaknya memasang mode memelas dan Anita yang memasang mode wajah jutek dan tak mau tau.
"Aku harap kamu bisa mengerti keadaan keluarga kami Nit" Suara Barata terdengar.
"Sampai kapan dan harus berapa kali si Bar kamu ngundur-ngundur pernikahan kita? Tante aja gak keberatan kan kalau memang sesuai rencana awal? " Perempuan yang bernama Nita itu memandang ke arah Ibu Sukma seakan sedang meminta dukungan.
__ADS_1
"Tante terserah Bara aja, nantinya kan Bara yang akan ngejalanin ini semua, bukan tante" Bu Sukma menepuk pelan lengan Bara yang terlihat kokoh saat memakai kaos singlet hijau kebesarannya. "Iya udah Ibu masuk dulu ya, silakan kalian berunding. Pokoknya Ibu serahkan kepada kalian berdua" Bu Sukma beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke dalam rumah.
"Sarapan Bu Sukma" Bu Suci yang melihat kedatangan besannya itu langsung menawari untuk sarapan.
"Huh rasanya kepalaku ingin pecah saja" Bu Sukma menarik kursi di sebelah Ajeng.
"Sabar.. sabar.. Ada apa? nih minum dulu" Bu Suci menyodorkan segera air putih.
"Itu cewenya si Bara datang minta buat dinikahi... "
Belum selesai Bu Sukma berbicara, Ajang tersedak dengan makananya sendiri, dan reflek Bu Sukma menghentikan ceritanya.
"Pelan-pelan dong sayang, iih kamu kenapa si? kaya bayi aja makan sampai kesedak gitu. Mikirin apa sih" Bu Sukma langsung menyodorkan gelas yang hendak ia minum sendiri ke arah Ajeng.
Ajeng langsung menyambar gelas yang diberikan padanya, meminumnya hingga tandas habis tak tersisa.
"Makasih Bu" ucapnya sambil menyerahkan gelas kosong kepada Ibu mertuanya itu.
"pelan-pelan dong minumnya" Bu Suci menepuk pelan punggung anak perempuannya itu.
"Kenapa??" Suara berat yang tak ingin dia dengar, seketika memenuhi gendang telinganya.
"Males Bara ngomongin ini, Bara laper pingin makan" Jawabnya sambil menarik kursi di depan Ajeng.
"Makan apa? Roti apa nasi? " Bu Sukma bertanya.
"Nasi aja, gak biasa makan roti. Gak kenyang ntar aku pingsan harus d infus lagi" Ujarnya berseloroh dan mata elangnya melirik tajam ke arah Ajeng. Namun yang di sindir nampaknya tidak merasa sama sekali. Bahkan dengan santainya menuang kembali air putih ke dalam gelasnya.
"Kenapa Ajeng? " tanyanya sambil memandang ibunya.
"Mbak Ajeng! sudah puluhan kali Ibu menyuruh mu buat manggil Ajeng itu mbak, bukan Ajang, Ajeng semaumu ya" Ibu Sukma menjewer telinga anak lelakinya yang berada depannya.
"Ih, aah iiihhh Ibu Sakit" Bara mengadih sambil memegang telinganya yang berhasil terlepas dari jeweran ibunya.
"Tampangnya aja sangar ya Tan, tapi manja gitu" Wanita yang difikirnya pulang ternyata ikut memasuki rumah.
"Eh, kirain udah pulang, yuk sini duduk.. Sekalian kenalin ini kakak iparnya Barata, Mbak Ajeng dan ini Ibunya Ajeng, Ibu Suci" Bu Sukma memperkenalkan masing-masing anggota keluarganya kepada Anita.
Ajeng hanya tersenyum saat Ibu mertuanya memperkenalkan dirinya. Berbeda respon dengan Bu Suci yang langsung menawarkan sarapan kepada Anita.
__ADS_1
"Mbak Anita mau sarapan sekalian? Roti atau nasi goreng?"
"Saya sudah sarapan tadi Bu, masih kenyang" Jawabnya ketus.
"Biarin aja Ma, gak usah di ladenin. Aku mau nambah nasi gorengnya Ma" Barata menyodorkan piring yang telah licin itu kepada Bu Suci untuk di isi kembali.
"Iih.. kamu kok gitu sih Bar" Anita merajuk.
"Sudah.. sudah, ayo makan lagi" Bu Sukma menengahi.
"Ajeng udah selesai, ke kamar dulu ya Ma, Bu" Pamit Ajeng, "Permisi Mbak Anita" Ajeng melanjutkan perkataannya yang hanya di balas dengan senyum terpaksa Anita.
"Ya sudah, mama mau liat Mbak Nur dulu di dalem ya" Bu Suci yang merasa sungkan untuk duduk bersama ketiga orang tersebut hingga akhirnya mencari alasan untuk pergi.
"Aku udah selesai, aku antar kamu pulang" Barata beranjak dari kursinya.
"Aku belum mau pulang Bar" Anita masih bergeming dari duduknya.
"Terserah, aku ada urusan lagi habis ini. Kamu mau d sini ya silakan" Barata melanjutkan jalannya menuju halaman.
"Sampai kapan si kamu mau nyebelin gitu" Anita akhirnya beranjak dari duduknya menyusul Barata. "Pamit dulu ya tante"
"Sabar ngadepin Bara ya" Bu Sukma berdiri mengikuti anak dan calon menantunya itu menuju ke halaman.
Bara menaiki mobil yang memang sengaja di tinggalkan oleh Pak Anto di rumah Ajeng.
"Lain kali gak usah nyamperin aku ke sini. Gak enak aku sama ibunya Ajeng. Ini rumah Ajeng dan aku gak bisa bawa sembarang orang masuk ke sana" Bara mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Ajeng.
"Sembarangan orang katamu? aku ini calon istrimu loh Bar, bukan orang lain!!! " Anita berteriak. " Sebenarnya kamu nganggap aku ini apa si? Seenaknya mainin perasaan orang. "
"Anita please, turunin nada bicaramu. Aku gak tuli!!! "
Bara meninggikan suaranya.
"Aku gak tau ya artiku buat kamu itu gimana, pertama kamu pulang gak ngabarin aku, kedua kamu ngulur- ngulur lagi buat ngresmiin hubungan kita, sebenarnya kamu serius buat nglanjutin hubungan kita gak sih Bar? aku udah cape kayak gini" Anita terisak.
"Nit, kita udah bahas masalah ini dari kemarin malam ya, aku pulang mendadak banget dan sama sekali gak ada rencana. Aku pulang juga bukan buat liburan, disini kakakku meninggal Nit, coba tolong pahami aku. Sedikit saja kamu ngertiin aku. Aku gak mungkin berbahagia diatas penderitaan orang lain. Meskipun ibu biasa saja keadaan hatinya, tapi yakin seratus bahkan seribu persen dia tidak baik-baik saja, dia hanya mencoba untuk kuat dan sama-sama ingin melihat kebahagianku. Makanya Ibu memutuskan untuk terserah saja. "
Keadaan menjadi hening, Barata enggan untuk membuka suara kembali, sementara Anita sibuk dengan segala fikirannya sendiri. Memantaskan diri untuk tetap melaju, melangkah membersamai Bara yang terlihat gamang untuk melanjutkan hubungannya, atau menyudahi semuanya hingga kata selesai menjadi titik ujung hubungannya dengan Bara.
__ADS_1