Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
87


__ADS_3

"Mama!" Ashila menubruknya, memeluk bagian tubuh bawahnya dengan erat.


"Sudah sembuh?" tanyanya dengan mendongakkan wajah. Terlihat binar ceria di wajahnya.


Ajeng hanya tersenyum, "Shila masuk dulu ya, Budhe mau bicara dengan Om ini." Ajeng menundukkan kepalanya, memandang binar mata Ashila dengan dada berdebar, sampai-sampai dia tidak memperhatikan panggilan baru, yang dia terima dari bocah manis itu.


"Oke, Ashila masuk," terlihat di kedua bola matanya menyiratkan kesenduan, binar matanya tak ada lagi


"Maaf, bisakah anda jelaskan bagaimana bisa anda membawa Ashila pulang?" tanpa menyuruh masuk terlebih dahulu, Ajeng menginterogasi Ayah biologis Ashila tersebut. Rafi.


Pria yang sudah hampir berkepala lima itu tertawa sumbang. "Anda lupa siapa saya? perlu saya sampaikan atau saya ceritakan lagi mungkin?" ucapnya dengan sinis.


"Sepertinya, saya tidak perlu alasan hanya sekedar untuk menjemput putriku, dan rasa-rasanya, anda sangat berlebihan sekali." imbuhnya.


"Bahkan jika saya mau, saya bisa membawa dia pergi. Tolong berikan ini kepada suamimu. Besok saya akan kembali ke sini, menceritakan kebenarannya di depan Ashila, Permisi."


Pergi meninggalkan Ajeng dengan sebuah amplop putih yang berlogo rumah sakit propinsi itu.


Buru-buru Ajeng menghubungi Ibu Sukma, mengabari kalau Ashila sudah sampai di rumah. Rasanya kepala yang baru saja ringan itu kini kembali berat.


Dia langsung naik ke lantai atas, menyusul Ashila yang dia yakini sekarang berada di kamarnya.


"Haiii Shil," Ajeng membuka pintu kamar, terlihat anak manis itu sedang mencoba melepas kaitan kancing bajunya.


"Haii," tersenyum ke arah Ajeng.


"Budhe mau tanya, itu tadi siapa?" Ajeng mendekat, kini tangannya menggantikan jemari kecil yang sedang sibuk.


"Itu Pakde, katanya Kakak Papa, saudala kita."


"Syudha seling main syama, Shila kok, seling ke syekolah," ucapnya polos.


"Kenapa, Shila gak pernah cerita sama Budhe?" tanya Ajeng.


"Kata Eyang, syekalang Shila panggina Mama, bukan Budhe." Dengan wajah cemberut, Ashila menatap Ajeng, sementara Ajeng, matanya justru berkaca mendengar perkataan polos Ashila.


"Iya sayang, sekarang Budhe, mamanya Shila. Shila panggil Mama boleh, malah Mama senang sekali mendengarnya." Ajeng langsung memeluk Shila, mendekapnya dengan penuh sayang.


"Apa kebahagiaan ini harus berakhir ya Allah?" batinnya dengan air mata yang mulai menderas.


"Kenapa Shila gak pernah cerita ke Eyang atau Mama? kalau om itu sering main bersama Shila?"

__ADS_1


" Kata Bu Lilin engga boleh, nanti kalo banak yang tahu, Bu Lilin di malahin," Ashila yang melihat Ajeng sudah menangis, ikut menangis dan kini semakin mengeratkan pelukannya.


Deg.


Ajeng kini tau siapa yang terlibat di dalam skandal ini, ternyata wali kelas Ashila sendiri. Bagaimana mungkin? ada hubungan apa di antara keduanya? sungguh, hatinya teramat sangat takut.


"Sayangnya Eyang.." Bu Sukma menerobos masuk kamar. "Kamu kenapa? pulang sama siapa? tidak apa-apa? Eyang cariin Shila."


Ajeng yang mendengar suara ibu mertuanya, langsung mengurai pelukan bersama Ashila.


"Shila pulang dengan siapa? Eyang jemput tadi loh, tapi Shila sudah tidak ada, hemm?" belum juga pertanyaan pertama di jawab, kini pertanyaan yang sama ditanyakan kembali.


"Emm, Shila cuci tangan dulu ke kamar mandi ya, nanti Mama yang akan cerita sama Eyang, okei?" Ajeng mengerlingkan mata kanannya dan menghapus sisa air matanya cepat.


"Oke Mama," ucapnya dan berlari menuju ke kamar mandi.


"Pak Rafi yang anter Shila Bu," Ajeng langsung mengalihkan wajahnya ke arah Bu Sukma.


"Dan laki-laki itu menitipkan ini buat Mas Barata." Dengan tangan gemetar, Ajeng memberikan amplop putih yang tadi Rafi titipkan padanya untuk suaminya.


Bu Sukma menegang, dia sudah tahu isi dari dalam surat itu apa. Matanya mulai panas, tak mampu lagi menahan buliran air mata yang lolos begitu saja dari tanpa permisi itu.


"Sudah Ma," terlihat Ashila keluar dari kamar mandi.


"Oke, kita makan dulu ya sebelum bobo siang, Ayo Eyang, kita makan bersama!" ajak Ajeng sambil meraih jemari keduanya bersamaan.


"Coba kita tengok bersama Mbok War masak apa ya?" sambil menuruni tangga, Ajeng terus menyibukkan diri mengalihkan pikiran ibu dan anaknya.


Dia sengaja tidak memberi tahu tentang keterlibatan wali kelas Ashila dan niatan Rafi untuk bertemu Barata kepada ibunya. Biar hal tersebut menjadi urusan suaminya nanti. Harapannya sekarang adalah, semoga Barata lekas pulang dan bisa mengambil keputusan terbaik.


******


Langit senja sudah mulai berganti dengan gelapnya malam. Matahari sudah hilang sempurna berganti dengan cahaya bulan dan kerlipan taburan bintang.


Ajeng sudah siap dengan mukenanya untuk melakukan salat Maghrib, pun dengan Ashila yang kini sudah berada di sampingnya, ternyata bocah balita itu sudah bisa mengenal gerakan-gerakan wudu melalui bernyanyi, meskipun setelah wudu dia harus berganti pakaian karena basah tertimpa air wudu.


Ajeng cukup senang dengan perkembangan Ashila. Di usianya yang hampir menginjak lima tahun, Ashila sudah bisa melakukan banyak hal. Dia termasuk anak yang mudah untuk diarahkan, sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya. Seperti siang tadi, dia langsung mengajak Ajeng untuk istirahat setelah menyantap makan siang, katanya "Mama baru sembuh dari sakit jadi harus banak-banak istilahat," sungguh dia anak yang sangat baik dan tulus, dia tidak pernah membayangkan sedikit pun akan berpisah dengan anak manis itu.


"Ashila ngikutin gerakan Mama ya Nak," sebelum melakukan gerakan takbiratul ihram, Ajeng memberikan arahan. Ini bukan kali pertama dia mengajak Ashila untuk salat berjamaah, Ajeng sudah sering mengajaknya untuk ikut shalat jika dia berada di rumah. Dia hanya ingin mengenalkan, begini loh cara mereka beribadah, cara kita bersyukur kepada sang pemberi hidup yang telah memberikan banyak-banyak kenikmatan.


Selepas salat, seperti biasa, Ajeng meneruskan mengaji sembari menunggu salat Isya, saking fokusnya mereka mengaji, sampai-sampai tidak mengetahui kalau Barata sudah pulang.

__ADS_1


Sayup-sayup dari tangga, Barata mendengar suara orang yang sedang mengaji, siapa lagi kalau bukan istrinya. Dengan perlahan dia menuju ke kamar.


"Tak biasanya Ajeng salat di dalam kamar," batinnya.


Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya dia memutuskan untuk mandi di kamar sebelah, kebetulan ada beberapa potong pakaian yang berada di lemari.


Setelah menyelesaikan mandinya, dia lekas menghampiri Ajeng dan Ashila, bersamaan dengan ditutupnya bacaan qur'an Ajeng.


"Haii sayang," sapanya sembari mencium Ashila.


"Haiii Papa," Ashila langsung memeluk Barata erat.


"Sudah pintar ngajinya em?" tangannya mengelus puncak kepala yang dibalut dengan mukena bermotif hello Kitty.


"Sudah dong," Ashila menjawab dengan mantap.


"Mama sini cium juga." Tangannya hendak meraih kepala Ajeng, dengan cepat Ajeng menjauh. "Eehh, jangan, aku gak mau batal!" berjingkat menjauh karena reflek. "Udah Maghrib belum?"


Ajeng bertanya dengan wajah datarnya. Dia tahu, kalau Barata itu masih suka bolong-bolong salatnya.


"Bentar lagi Isya, gih cepat ambil air wudu, aku sama Ashila tunggu!" perintahnya


Tanpa menunggu disuruh dua kali, Barata beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.


"Papa gak boleh di contoh ya sayang, kamu harus rajin salat ya, biar semakin Soleha." Ajeng memberikan pengarahan.


Ashila mengangguk dengan cepat sembari menguap.


"Shila ngantuk?" Ajeng mendekap Ashila dengan tangan kirinya.


"Salat Isya sebentar ya, nanti kita makan terus bobo," Ajeng membujuk sembari mengelus kepalanya.


"Yuk!" Barata muncul dengan baju Koko dan sarung lorengnya.


"MasyaAllah gantengnya suamiku," Ajeng menggoda Barata dengan tangannya yang terulur, seolah-olah akan menyentuhnya.


"Eehhh, gak..gak udahan gak mau bercanda gini," mundur dengan muka panik. "Udah cepetan ayok itu Shila udah nguap-nguap tuh," tunjuknya ke arah Ashila, dan berhasil membuat Ajeng menghentikan candaannya.


"Tuh kan, makanya jangan suka iseng, usah yuk cepat, aku juga mau bicara sama kamu Yank," Ajeng mengambil posisi di belakang Barata, bersebelahan dengan Ashila.


"Shila di sebelah Mama ya?" ucapnya yang hanya dibalas dengan anggukan kepala, hingga saat Barata membaca takbir dan melakukan gerakan takbirotul ikhram, sudah tak ada lagi suara-suara, kecuali lantunan suraht Al-fatihah yang Barata bacakan dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2