Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
77


__ADS_3

Ajeng tiba di rumahnya tepat saat adzan ashar berkumandang. Dia terkejut dengan tampilan rumahnya yang penuh dengan bunga warna-warni yang dihias sedemikian rupa.


"Waaa rumah Oma Suci cantik syekaliiiii." Ashila yang baru saja bangun dari tidur sepanjang Banyumas-Cilongok itu terkesima. Sedangkan Mbak Nur yang Ajeng bawa serta pun tak luput heran dengan kondisi rumah majikannya itu.


"Mau ada cara apa mbak? nikahan?" Tanyanya polos seraya menutup pintu mobil.


"Huust, gak, ngaco kamu."


"Masuk yuk." Ajeng berjalan mendahului Mbak Nur, sementara Ashila sudah masuk rumah dan kini sedang bercerita heboh dengan Mama dan Bapaknya.


Memang pembawan Ashila yang ceria, sangat mudah menarik perhatian di sekitarnya.


"Assalamualaikum." ucapnya saat melewati pintu utama.


"Ini gak salah ada dekorasi gitu-gitu? emang harus kaya gitu apa Mah?" Ajeng dengan raut kesalnya dan dengan mata yang tak berhenti mengedarkan pandangannya bertanya.


Niat banget


"Mending kamu sekarang masuk kamar, terus mandi. Udah di tunggu sama Ningrum dan temannya itu yang mau ngerias kamu."


Ajeng seketika membelakan matanya.


"Mah .!!!!"


"Kenap ada acara dirias segala si? katanya Ajeng cukup jawab, kenapa malah jadi kayak mau nikahan gini? kalau jawaban Ajeng bikin mereka kecewa, sakit hati gimana? Ya Allah Ma, Mama gak mikirin perasaan Ajeng banget si." Dengan kesalnya, dia berjalan memasuki kamar. Menutup pintunya dengan keras hingga menggetarkan lampu yang tergantung di plafon.


Ajeng mengunci pintu, tidak begitu memperdulikan kamarnya yang sudah berpenghuni.


"Mbak."


Ajeng yang mendengar namanya di panggil menoleh, tentunya dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.


Ningrum, penghuni kamar Ajeng dan seorang teman yang sedang menyiapkan kebaya itu tertegun. Seketika adik Ajeng itu mendekat, memeluk erat kakaknya.


"Kenapa bisa seperti ini? Ini Mbak mau di jodohin apa gimana si? katanya Mbak cuma harus jawab aja? kenapa musti ada dekorasi dan bunga di mana-mana?"


"Kamu tau gak si dek? Mbak belum siap buat nikah! Apa lagi dengan Mas Salman. Mbak gak mau!"


Suara isakan dan hidung yang tersurut bersahutan.


"Ssstttt udah , sekarang mending Mbak mandi , biar badan dan fikiran Mbak rileks. " Ningrum mengusap bahu Ajeng pelan.


"Apapun keputusan Mbak, aku akan dukung itu, sekarang Mbak ikut aja perkataan Mama, percaya aja Mama gak bakal bikin kita susah kok, Mama tau lebih dari yang kita fikir."

__ADS_1


Ningrum tersenyum, melepas pelukan mereka, kemudian menghapus cairan bening yang keluar dari kedua mata Kakaknya tersebut.


"Makasih ya Dek, kamu terbaik." Kemudian memeluk adiknya kembali, dan kali ini lebih erat .


"Udah jangan kebanyakan mikir, Mbak tuh di suruh buat ngejalanin aja, jangan mikir-mikir terus, udah cepet, kasian nih temen aku udah nunggu lama. "


Ajeng meringis malu.


"Haii dek." Menyapa perempuan yang duduk di ranjang kamarnya.


"Haii Mbak Ajeng." Sapanya balik.


"Aku Diah Mbak, teman Ningrum." Memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya. Kemudian tanpa basa basi lagi Ajeng masuk ke kamar mandi, mengikuti perintah Ningrum untuk membersihkan diri, merilekskan tubuh dan ototnya yang terasa kaku. Terlebih otaknya yang rasanya sudah ingin meletus.


"Rum, jadinya gimana ini? tetep di make up?" Diah yang sedari tadi hanya menyimak obrolan kakak beradik itu tak tahan lagi untuk bertanya.


"Jadi dong, berani taruhan kalo nanti dia bakalan kasih gue hadiah gedee." Tertawa tertahan.


"Dapet tabokan iya Lu, belum apa-apa dia juga udah setres gitu. Kalian yakin lakuin ini? nikahin orang yang satunya gak cinta? mau kaya apa hidup rumah tangganya? ini nih akibat Lu terlalu demen baca-baca novel nih, kebanyakan halu !. Cibir Diah.


"Tenang aja, udah pokoknya tugasmu bikin kakak gue cantik dan manglingi. " Ningrum enggan melanjutkan perdebatannya. Yang berakhir ketika Ajeng keluar dari kamar mandi, menyudahi aktifitasnya. Dan langsung di sambut oleh Diah, di bimbingnya dia untuk mengenakan kebaya dan dipoles sedemikian rupa, untuk menambah pancaran keayuannya.


Sementara suasana di ruang depan sudah ramai dengan beberapa sanak saudara dan tetangga dekat. Mama dan Bapak Rahmat pun sudah siap menerima tamu dan sekarang sudah berada di depan pintu.


Ashila yang baru saja di mandikan oleh Mbak Nur tertawa senang, manakala melihat pakaian yang menyerupai princess favoritnya, akan dia pakai.


"Syaman sama punya plinses Elsa, cuma warnanya beda ya, ini coklat. Elsa bilu."


"Mau di pake syekalanggg mauuuu." Tubuhnya berjingkrak-jingkrak kegirangan. Senyumnya tak pudar sedikitpun dari bibir balita itu


Ust Weni, datang bersama keluarganya dan beberapa santri yang nantinya akan membacakan surat Ar Rahman untuk acara ini, tak ketinggalan pula sosok Salman yang membuat hati Ajeng beberapa hari terakhir ini kalang kabut tidak karu-karuan karena memikirkan jawaban untuk dirinya.


Salman menarik nafas panjang, melihat keadaan rumah yang ia datangi seminggu yang lalu sudah di sulap menjadi taman bunga.


"Ternyata memang sudah di persiapkan dengan baik." Ucapnya pelan yang hanya bisa di dengar oleh Ust Weni yang berjalan di sampingnya.


"Ust Weni tersenyum, yang sabar ya le ," Ucapnya sembari menepuk bahu keponakannya itu pelan.


Dan tak berselang lama, suara deru mobil beriringan memasuki halaman yang luas itu, nampak raut bahagia terpancar di wajah Mama Suci dan Pak Rahmat.


"Alhamdulillah besan kita datang juga." Mama Suci terus menyunggingkan senyumnya. Memamerkan deretan giginya yang putih bersih.


"Assalamualaikum." Seorang wanita di papah keluar dari dalam mobil, bersama dengan beberapa orang yang juga mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Walaikumsalam Bu Sukma, silakan..silakan mari masuk." Pak Rahmat menyambutnya dengan hangat.


"Maaf Ma terlambat, tadi di jalan macet, ada kecelakan di Karanglewas." Lelaki yang menggunakan batik coklat bercorak itu langsung mencium tangan calon mertuanya.


"Iyah gak Papa, Ajeng juga belum lama pulang. Belum selesai dia. Mungkin sebentar lagi." Mama Suci mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memastikan kalau anak perempuannya belum keluar.


"Kamu benar-benar merahasiakan ini dari Ajeng Bar?"


"Dia terlihat sangat jengkel saat tahu rumahnya di hias sedemikian rupa, mungkin juga dia tidak akan mau memakai kebaya yang sudah pak Anto kirim tadi pagi."


"Emm, kamu harus siap ya Bar dengan apapaun jawaban Ajeng, Mama takut dia akan mengecewakan mu." Wajah Mama Suci berubah sendu.


"Tenang saja Ma, Tidak akan, Ajeng tidak akan mengecewakan Bara ." Tersenyum sembari mengelus pundak Mama Suci.


Mama Suci tersenyum, kemudian mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah. Tak lupa juga memperkenalkan satu-persatu kepada para tamu yang sudah hadir kepada calon menantunya itu. Tak terkecuali Salman.


Mereka berdua berjabat tangan erat, saling melempar senyum.


"Selamat Mas, kau menang banyak dariku." Salam tersenyum tulus.


"Terimakasih, bukan menang banyak, tapi memang sedari dulu dia milikku." Menepuk pundak Salman


"Semoga segera menemukan yang lain ya ."


"Sungguh, saya mendoakan dengan setulus hatiku."


"Papa.." lengkingan suara anak kecil mengagetkan mereka yang hadir. Mau tidak mau, mereka semua memfokuskan pandangan ke arah si balita. Naamun sepertinya fokus mereka langsung beralih, ketika di belakang gadis kecil itu berjalan seorang perempuan cantik, lengkap dengan pakaian kebayanya yang di apit oleh dua perempuan di kanan kiri sisinya.


"Ajeng itu?" Manglingi sekali.


"Wajah cantik sekali Ajeng."


"Kok Papa si?"


"Calonnya Ajeng duda?"


"Nolak perjaka dapat duda?"


Suara-suara halus berbisik mulai terdengar, hanya beberapa saat, setelah Ajeng bergabung bersama orang tuanya dan para tamu undangan, seketika suara tersebut hilang. Berganti dengan suara Pak RT yang mulai membuka acara.


Sedangkan Ajeng, memandang Barata penuh dengan kebencian.


Bisa-bisanya dia bersalaman dengan Salman, memamerkan wajah gembiranya? untuk apa? mengucapkan selamat atas penerimaan ku? semantara akupun belum memberikan jawaban atasnya!!!! baiklah. Mari kita lihat bagaimana jawabanku atas permintaannya. Aku juga bisa berlaku diluar fikirmu !!!!!!

__ADS_1


Huuuwaaaaa Ajengggg salah sangka niiiiihhhhhhhhhhhhhhh.


guuubraaaakkkkkkkk.


__ADS_2