
Waktu bergulir begitu cepat, sudah sekian bulan tragedi tergulung ombak di laut dia lewati, kini kehidupan normal Ajeng mulai kembali. Dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa memang ini yang terbaik. Cintanya telah hilang. Mungkin terbawa ombak beserta segala memory yang tersimpan di hati dan fikirannya.
Meskipun bisa dipastikan, jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, masih terbesit nama Barata Aji Dewandaru. Sosok ya selama ini amat sangat dia rindukan.
Dia menapaki kehidupannya dengan awal baru. Cerita baru, kisah baru dan mungkin yaa cinta baru.
Kegiatannya di kampus biru tempat dia menuntut ilmu semakin menjadi. Beberapa hari ini bahkan dia tidak pulang, numpang tidur di kosan Listriyani sahabatnya yang berasal dari Pulau seberang itu.
Saat ini di kampusnya sedang melakukan persiapan untuk kegiatan seminar internasional bertajuk psychology in individual and community empowerment yang akan berlangsung esok hari. Dan dia menjadi satu dari sekian mahasiswa yang terlibat didalamnya.
"Udah ngabarin orang rumah belum kalau hari ini gak pulang lagi?" Listriyani yang lebih akrab di panggil Lilis itu mengingatkan dirinya.
"Subhanallah, beluum. Bentar deh bentar, aku ngabarin orang rumah dulu. Brabe nih kalo sampe lupa" Ajeng langsung beranjak, menyisir ruangan mencari tempat yang tidak begitu ramai. Beberapa hari ini ia memang menginap di kosan Lilis, dan dia sudah berjanji bahwa hari ini dia akan pulang, namun jadwal yang dia perkirakan itu ternyata meleset. Sepertinya malam ini dia harus ekstra bekerja demi kelancaran acara esok pagi.
Ajeng langsung mencari kontak nomor rumahnya. Tak butuh waktu lama, telepon tersambung.
"Halo Asalamualaikum"
"Walaikumsalam" Seseorang menjawab.
"Mbok Kamti? Bapak wonten teng ndalem? Niki Ajeng"
(Mbak Kamti? Bapak ada di rumah? ini Ajeng)
Mbok Kamti adalah tetangga rumahnya yang biasa dimintai bantuan oleh Ibunya.
"Bapak medal Mbak Jeng, kalih ibu pangkat wau enjing, tirose bade teng Bank."
(Bapak sedang keluar Mbak Jeng, dengan Ibu, berangkat tadi pagi. Katanya mau ke Bank)
"Mbok Kamti pun bade kondur nopo teksih dangu?"
(Mbak Kamti sudah mau pulang apa belum?)
"Niki pun bade wangsul Mbak Jeng, kantun nguncini lawang. Eh telpune moni. Mbok penting dados kulo tampi"
(Ini sudah mau pulang Mbak Jeng, tinggal mengunci pintu. Eh telpon berbunyi, takut penting jadi saya angkat)
Mendapat jawaban dari Mbok Kamti, Ajeng melirik jam di pergelangan tangannya. Ternyata memang sudah siang, jam menunjukan hampir pukul 2.
Mbok Kamti adalah rewang -pembantu di rumahnya, spesialis cuci setrika dan beres-beres setiap hari. Datang pagi hari dan pulang selepas dhuhur.
"Oh nggih sampun mungkin Ajeng telpon HP Bapak nopo Mama mawon. Maturnuwun Mbok. Asalamualaikum"
(Oh ya sudah, nanti Ajeng telpon HP Bapak atau Mama saja).
__ADS_1
Rena mematikan sambungan teleponnya.
"Udah? " Lilis tiba-tiba datang, menepuk bahunya. Membuat dia seketika terperanjat.
"Astaghfirullah, Subhanallah iiiihhh kamu" Ajeng mendelikan matanya. Merasa kesal dengan Lilis yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Bapak sama Mama lagi ke Bank katanya. Berarti dia ada di Purwokerto. Kayaknya lagi ngurusin tabungan pensiunnya Bapak deh" Ajeng menjawab dengan mata yang masih tertuju pada layar ponselnya.
Ya, beberapa hari setelah ponsel dan tasnya raib, dia langsung mencari ponsel yang baru, dan dengan nomor baru tentunya. Ajeng sengaja mengganti nomornya, bukan tanpa alasan dia melakukannya. Selain tidak mau repot mengurus ke KraPari, dia benar-benar ingin mengubur semua yang berada di masa lalunya. Termasuk Barata yaang hilang tanpa kabar dan pesan. Seolah dia itu memang sudah hilang tertelan bumi.
Ya, dia memang sudah tertelan bumi. Dan tidak akan pernah kembali muncul di hadapannya. Tidak akan pernah!!!
Menurutnya, cinta terkadang memang membuat orang berubah menjadi gila. Dan kegilaan dirinyalah mungkin yang justru membuat semuanya menjadi rumit.
"Heh, kok malah bengong. Gimana? " Lilis yang melihat dirinya termenung mulai tak sabar.
"Eh, iya iya sabar nih udah nyambung" Jawabnya.
"Halo Asalamualaikum, Bapak.. "
"Walaikumsalam, Lagi sibuk Jeng? Bapak lagi di Purwokerto nih, habis dari Bank. Kamu di mana? bisa susul Bapak ke Jln. Bank gak? udah selesai jam kuliahmu? "
Belum mengucap apapun, perkataannya sudah terpotong dan dirundung dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ke Jln. Bank ya, Bapak tunggu di warung soto ayam biasa. Kami pasti tidak akan menyangka siapa yang sedang bersama bapak saat ini"
Sementara Ajeng masih terbengong. Mencoba mencerna perkataan Bapaknya.
"Gimana?" Lilis bertanya saat melihat dirinya memasukan ponsel di saku jas almamaternya.
"Suruh ke Jln. Bank nih aku, Bapak lagi di sana nyoto."
"Yuh cus, kebetulan kan belum makan siang kita. Itu kerjaan tinggal dikit lagi, bisa lah dikerjain dulu sama yang lain. " Lilis terlihat bersemangat.
"Jauh tapi, engap banget kalo ke sana, panas"
"Eh kamu mau jadi anak durhaka gak ngejalanin amanat Bokap? Udah kamu tunggu sini bentar, aku cari kendaraan dulu. " Lilis berlari kecil meninggalkan Ajeng sendirian.
Kesempatan makan gratis kaya gini kapan akan datang lagi, mumpung rejeki nomplok hahha
Lilis tertawa sendiri.
Tak berselang lama, dia datang kembali dengan memamerkan sebuah kunci padanya.
"Pinjem motor Yanuar nih, yuk " Tanpa ditanya Lilis menjelaskan.
__ADS_1
Mereka keluar dari area parkiran Fakultas Psikologi. Mencari keberadaan motor hitam manis milik Yanuar. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka menemukan apa yang dicari. Lilis mengendarainya menjauh dari area parkir, melewati pintu utama kampus menuju ke Jln. Bank.
Jalanan siang hari ini sudah mulai lenggang, mungkin karena sudah lewat makan siang, menjadikan tak banyak orang yang keluar. Butuh waktu tak lebih dari 15 menit untuk mereka sampai di depan warung soto ayam Jln. Bank yang legendaris itu.
Setiap ke Kota, Pak Rahmat tidak pernah absen untuk makan di sini. Selain tempatnya yang nyaman, cita rasa sotonya pun tak lekang oleh waktu, rasanya masih sama dari jaman baru berdiri sampai punya nama seperti saat ini. Bila weekend tiba, banyak pengunjung dari luar kota yang memang sengaja singgah ke soto Jln. Bank. Untuk soal harga memang lebih mahal, bisa dapat 2 mangkok kalo di desanya.
Lilis memarkirkan motor yang dikendarainya sesuai dengan arahan juru parkir. Kemudian mereka berdua masuk warung tersebut untuk mencari keberadaan Pak Rahmat.
"Ajeng" terdengar panggilan namanya dan lambaian tangan dari Ibunya, yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ajeng mendekat, melemparkan senyuman untuk semua orang yang duduk di meja tersebut. Namun matanya mebulat tak percaya.
"Mas Ren? " ucapnya sambil berjalan menghadapi, melupakan keberadaan Lilis di sampingnya.
"Haii Jeng, " Reno berdiri menyambut Ajeng.
"Waah mimpi apa semalam nih ketemu sama dewa penolong" ujarnya sambil tersenyum.
"Udah lama? " tanyanya ke semua orang. Ajeng menyalami Bapak Ibunya dengan khidmat, di susul oleh Lilis, dengan hal yang sama.
"Lumayan, tadi Bapak sama Mama ketemu nak Reno di Bank, terus di ajak mampir ke sini. Ya dengan senang hati gak akan nolak" Pak Rahmat tertawa.
"Mas Reno salah si ngajakinnya ke sini, ya pasti Bapak gak akan nolak. Ini soto legendaris Mama sama Bapak waktu muda dulu, katanya disini cinta mereka terpaut."
Ajeng berbicara dengan mata berbinar. "Sampai sekarang punya 2 putri ya Ma Pah" Sambungnya.
"Kalau ke kota pasti mampir sini. Gak pernah absen" Ajeng menarik kursi untuk dia duduki.
Sementara yang lain hanya tersenyum mendengar cerita luwesnya.
"Heh, sini duduk sini" Ajeng tiba-tiba meninggikan volume suaranya, membuyarkan lamunan Lilis yang sedari tadi bengong tanpa ekspresi.
"Ee.. i.. Iya, Lilis terbata." Dia yang sedari tadi berdiri mengagumi ketampanan Reno terperanjat dengan suara Ajeng.
Ajeng menepuk bangku yang di sebelahnya. Dan tanpa menunggu diperintah dia kali, Lilis langsung duduk.
"Oya, Mas Ren kenalin ini Lilis temanku, Lis ini Mas Reno. Kakak ketemu gedeku hahahha" Ajeng tertawa mengingat perkataannya beberapa bulan yang lalu saat pertemuan pertama kalinya dengan Reno.
Tawanya yang lepas membuat semua orang memandang ke arahnya. Tak terkecuali Reno, dia yang semakin terpesona dengan wanita yang sudah beberapa bulan ini mengusik fikirannya itu, bukan apa-apa, dia hanya mengkhawatirkan kondisi Ajeng selepas kejadian malam itu. Dan saat dia melihat tawa Ajeng yang begitu ringan dan lepas, dia meyakini bahwa Ajeng sudah dalan kondisi lebih baik.
"Eh, perempuan kok gitu ketawanya" Ibunya menegur.
"eeh" Ajeng seketika menutup mulutnya, "Maaf" Ujarnya sambil tersipu.
Dan disitulah semuanya berawal. Kedekatan mereka berawal dari makan soto bersama, mulai bertukar nomor ponsel, bercerita tentang kampus dia, tentang jurusan yang Ajeng ambil dan cerita tentang kesibukan mereka masing-masing.
__ADS_1
Hingga akhirnya berlanjut saling berkabar, saling teman dan menemani, saling meninta tolong dan jalan bersama teman-teman Ajeng maupun Reno. Bahkan tak jarang mereka jalan berdua hanya untuk melakukan hal-hal gila bersama membuang penat dari aktivitas yang telah dilalui.
Hingga, tiba saatnya Reno membuka rahasia yang selama ini dia simpan sendiri. Awal yang membuat semuanya menjadi rumit. Rumit untuk mereka berdua.