Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
39


__ADS_3

...Bersyukur di dalam keadaan apapun,...


...Mengajarkan kita bahwa semesta tak hanya kita kejar,...


...Semesta sering kali mengejar kita, hanya saja kita terlalu terobsesi dalam satu titik tanpa memperhatikan titik lainnya yang begitu jelas untuk kita lihat....


...Dan ada terusan kata setelah titik itu, yaitu koma....


...Bahkan terdapat banyak koma yang memberikan kita jeda agar kita dapat mengoreksi dan merenungi apa yang sebenarnya telah terlewati....


...Tanpa terburu tanpa pula terhenti....


...Kita tidak pernah tau akan bagaimana kita ke depannya...


...Jangan terlalu lama dan berulang bertanya kenapa di setiap masalahmu,...


...Karena Allah memberikan cobaan bukan untuk kita mencari jawabnya,...


...tapi agar kita melaluinya, menjalaninya tanpa banyak bertanya dan tanpa berkeluh kesah,...


...*Bersyukur, mengurangi kita untuk bersu'udzon kepada sang pemberi hidup bahwa rizki kita takan pernah habis....


...Terkecuali kita telah mati....


...Dan semuanya terhenti*....


...Seringkali kita memaksa diri ini untuk berfikir diluar jangkauan...


...Memikirkan apa yang belum tentu terlewati, memusingkan keadaan-keadaan yang belum terjadi...


...Dan menghawatirkan hal-hal yang sebetulnya tak perlu,...


...Semuanya itu adalah bentuk dari keserakahan berfikir kita...


...Terlalu mendahului takdir....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Selepas sholat Maghrib, samar-samar dari kejauhan, terdengar alunan murottal Al Qur'an yang menenangkan jiwa. Heningnya suasana di ba'da Maghrib, menjadikan suara tersebut terdengar jelas, bening dan mampu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.


Suara tersebut berasal dari pengeras suara Masjid yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah, siapa lagi kalau bukan salah satu santri asuhan Bu Weni? Ustazah yang gemar sekali beramal baik itu, memakmurkan masjid dan TPQ yang di naunginya.


Bercerita sedikit tentang Bu Weni, perempuan ayu yang lemah lembut dan ramah itu, adalah istri dari Bapak Amin, seorang pegawai pemerintahan desa di tempat Ajeng tinggal, yang juga merupakan pengasuh TPQ Nurul Ikhsan, mendampingi istrinya dan beberapa ustadz/ah lainnya.


Selain itu, mereka juga dikenal dengan petani sukses. Setiap apa-apa yang mereka tanam, bila sedang waktu panen, selalu saja menemui harga tinggi. Mungkin begitulah cara Allah memutarkan rezeki mereka yang begitu gemar memakmurkan masjid dan TPQ tempat di mana puluhan anak-anak di bimbing dan di ajarkan untuk lebih mengenal, memahami bacaan Al-Quran.


Ajeng yang baru saja menyelesaikan sholat Maghrib-nya yang sedikit terlambat, merasa terenyuh saat mendengar satu ayat yang sama, yang di baca berulang-ulang. Sampai-sampai dia sendiri bisa meniru bacaan tersebut hanya dengan beberapa kali dengar.


Ajeng langsung membuka mukenahnya, tanpa merapikan,berlari menuju kamarnya, meraih ponsel, membuka halaman pencarian dan langsung mengetik bunyi ayat yang sedari tadi membuat dadanya bergetar.


"fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan"


Yang ternyata bermakna "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


Yang terdapat pada QS Ar Rahman ayat ke 13.


Tanpa menunggu lama lagi, Ajeng menyambar Al Quran yang berada di meja kamarnya. Mencari surat Al Rahman yang ternyata berada di urutan ke 55 dari 114 surat.


Setelah membaca ta'awudz dan basmalah, dia membaca surah tersebut dengan terbata. Lama tidak membaca Al-Quran membuat dia sedikit kesulitan.


^^^'ar-rohmaan'^^^


..."(Allah) Yang Maha Pengasih,"...


^^^'allamal-qur-aan^^^


"Yang telah mengajarkan Al-Qur'an."


^^^kholaqol-ingsaan^^^


"Dia menciptakan manusia,"

__ADS_1


^^^'allamahul-bayaan^^^


"mengajarnya pandai berbicara."


^^^asy-syamsu wal-qomaru bihusbaan^^^


"Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,"


^^^wan-najmu wasy-syajaru yasjudaan^^^


"Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya)."


Dadanya terasa sesak, dia memghembuskan nafas panjang.


"Allah Mengasihiku" gumamnya, sebelum akhirnya melanjutkan bacaannya kembali.


^^^was-samaaa-a rofa'ahaa wa wadho'al-miizaan^^^


"Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,"


^^^allaa tathghou fil-miizaan^^^


"Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu."


^^^wa aqiimul-wazna bil-qisthi wa laa tukhsirul-miizaan^^^


"Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu."


^^^wal-ardho wadho'ahaa lil-anaam^^^


"Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya),"


^^^fiihaa faakihatuw wan-nakhlu zaatul-akmaam^^^


"di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,"


^^^wal-habbu zul-'ashfi war-roihaan^^^


"Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,"


^^^wa kholaqol-jaaanna mim maarijim min naar^^^


"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^robbul-masyriqoini wa robbul-maghribaiin^^^


"Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^marojal-bahroini yaltaqiyaan^^^


"Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,"


^^^bainahumaa barzakhul laa yabghiyaan^^^


"Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^

__ADS_1


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^yakhruju min-humal-lu-lu-u wal-marjaan^^^


"Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^wa lahul-jawaaril-mungsya-aatu fil-bahri kal-a'laam^^^


"Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^kullu man 'alaihaa faan^^^


"Semua yang ada di bumi itu akan binasa,"


^^^wa yabqoo waj-hu robbika zul-jalaali wal-ikroom^^^


"Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^yas-aluhuu mang fis-samaawaati wal-ardh, kulla yaumin huwa fii sya-n^^^


"Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan."


^^^fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan^^^


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


^^^sanafrughu lakum ayyuhas-saqolaan^^^


"Kami akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu wahai (golongan) manusia dan jin!"


Seketika badannya luruh ke lantai, tak mampu meneruskan bacaannya, hanya air mata yang berderai, menganak sungai membasahi pipinya. Isakannya terdengar lirih. Dia membekap mulutnya sendiri, rasa malu di dada ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang di alaminya selama ini.


Sungguh dia merasa malu pada sang pemberi hidup, malu dengan segala kufur nikmat yang Allah berikan, Dia sama sekali tidak pernah mensyukuri nikmat yang Allah berikan secara benar, dia lebih sering mengeluh, menyesali apa yang telah dia lakukan dan dia dapati sepanjang hidupnya.


Tidak pernah merasa cukup bahkan selalu mengalahkan diri sendiri, dia sungguh sangat berdosa, berdosa pada yang sudah menciptakan dirinya. Dirinya hanya apa? hanya tanah kering seperti tembikar yang bisa sebesar ini, di lengkapi dengan akal pikiran dan hawa *****. Tetapi ke mana akalnya pergi? hanya nawa ***** yang selalu merajai hati. Sungguh dia sudah mendzolimi dirinya sendiri.


Padahal, setiap-setiap yang bernyawa tidak pernah lepas dari perhatian Allah, lalu kenapa dia begitu merasa sedih yang tidak berkesudahan?


Sebegitu besar lautan dan sungai pun bisa berdampingan dalam satu sisi, padahal ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Lalu kenapa dia harus bersedih hati yang tak berkesudahan, padahal dia tau antara dia dan Barata adalah dua manusia yang sama-sama saling mencinta. Bukankah begitu mudahnya Allah membalikan perasaan mereka berdua? agar saling mengikhlaskan dan menerima saja alur jalan mereka yang sudah digariskan?


"Kenapa?, Kenapa begitu sulit? "


"Fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


"Ampuni aku ya Allah" isaknya kembali semakin memilukan hati.


Dia mendongakan kepalanya ke atas langit-langit kamarnya, menerawang jauh, menerbangkan fikirannya , mundur jauh kebelakang, mengingat-ingat kembali bahwasanya Allah memang sudah memberikan segalanya kepada dirinya. Tidak ada yang tidak Allah berikan. Kehidupannya sempurna. Sungguh.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Adakah yang samaan mewek kaya aku? Baca QS Ar Rahman yang membuka fikiranku dan menjatuhkan ku beriringan begitu saja? bahwasanya selama ini aku terlalu banyak mengeluh 😭😭😭😭😭😭 terlalu banyak meminta😭😭😭😭 tanpa pernah mau bersyukur, bukan tidak bersyukur, terkadang lupa bahwasanya masih banyak yang kehidupannya jauh di bawah kita, rasa syukur tidak sebanding dengan permintaan😭😭.


Sudahkah kita bersyukur di pagi ini? masih diberikan nafas, bisa merasakan nikmat sesuap nasi? berdampingan dengan orang terkasih? kecupan suami di pagi hari mungkin, saat membangunkan kita subuh tadi?


Anak-anak yang sehat, yang selalu berisik? membuat kita selalu terburu-buru melalui hari? Ya Allah..


Spesial untuk kalian yang membaca bab iniπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa untuk selalu mensyukuri segala yang telah terjadi, percayalah... Allah lebih tau kita, melebihi diri kita sendiri..

__ADS_1


Selamat hari Sabtu, selamat berkumpul bersama keluarga. Titip salam untuk orang-orang terkasih di sekitar kalian😍


Widiawati❀


__ADS_2