Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
18


__ADS_3

Reno sedang mengucap salam dan bersalaman dengan kedua orang tua Ajeng, yang sepertinya juga baru pulang. Terbukti dari seragam hitam-putih corak batik yang di punyai seluruh guru di wilayah Indonesia itu masih melekat di di tubuh mereka. Ketika suara Ajeng menggema memanggil namanya.


"Kebiasaan anak perempuan sukanya berteriak begitu" Bu Suci mengeluhkan kebiasaan buruk anaknya.


"Toolooonggg" kembali terdengar teriakan Ajeng yang semakin keras.


Reflek, Reno berjalan mendekat ke arah sumber suara, berapa terkejutnya saat melihat Ajeng dengan posisi duduk di lantai dan dengan kedua tangannya memegang kaki kirinya.


"Lah kenapa? Jatuh? " Reno panik. Dia berjongkok di depan Ajeng, kemudian meerengkuh tubuh Ajeng, membawanya masuk kedalam.


"Pertanyaan yang gak harus di jawab! Ya iya aku jatuh, terpeleset! Gak mungkin aku sengaja guling-guling di lantai kan? " Ajeng menjawab dengan ringisan menahan sakit dan mengalungkan tangannya di leher Reno.


"Kenapa sayang? " Tanya Ibu Suci saat melihat Reno kembali dengan Ajeng yang berada di gendongannya.


"Kamu jatuh" Ulangnya dengan panik.


"Jatuh, terpeleset Ma" ucap Reno sambil berjalan mencari tempat yang nyaman untuk meletakan Ajeng, hingga akhirnya ia berhenti di kursi panjang ruang tengah, meletakan Ajeng dengan perlahan.


"Mana yang sakit? " Dengan penuh perhatian Reno meneliti kaki mulus Ajeng.


Sementara Pak Rahmat yang mendengar anaknya jatuh, dengan gerak cepat pergi untuk mengambil minyak oles di kotak P3K yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah.


"Sakit banget" mulai terdengar isak tangis Ajeng.


"Di kompres yaa" Bu Suci berlalu, untuk mengambil air dingin yang langsung dia ambil dari lemari es, dan beberapa potong es batu.


"Kenapa si bisa terpeleset gitu, ceroboh banget! " Posesif Reno mulai keluar, tidak mengindahkan kedua orang tua Ajeng yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka.


"Ke dokter aja ya? " Tanyanya kemudian.


"Ngapain, cuma kesleo dokter gak bisa nyembuhin!!!! ini harusnya di urut! " Ajeng menjadi kesalahan dengan Reno.


"Ini minyaknya, sini biar Bapak urut" Pak Rahmat mendekat, mulai menyentuh kaki Ajeng.


"Aaauuuu" Baru saja tangannya menempel di kakinya, pekikan kerasnya menggema.


"Sakit banget yah? " Reno meniup-niup kakinya.

__ADS_1


"Biarin Pak, ntar juga sembuh sendiri" Ajeng memberingsut, mencoba menghindar.


"Aku lapar" Rengeknya kemudian.


"Sakit apa lapar? " Reno terlihat kesal.


"Tadi katanya di urut, udah mau di urut kenapa jadi lapar? " Reno mecibir.


"Ini di kompres aja Pak, Mama siapin makan siang ya" Bu Sukma menyerahkan baskom berisi air dingin dan handuk kecil kepada Pak Rahmat.


"Kita tunggu aja, kalo nanti membengkak, kita bawa Rumah sakit. Gak bisa di biarin kayak gini nih" Reno bermonolog sendiri sembari menuliskan sesuatu di ponselnya.


Sementara Ajeng hanya meringis tertahan. Mencoba menghindar dari pegangan tangan Pak Rahmat.


"Hemmm, angel nek dikandani, yowis sekarep e. Ndang maem shik" Pak Rahmat akhirnya menyerah untuk memegang kaki Ajeng, dia hanya membalutkan handuk hangat ke kakinya, yang di respon dengan rintihan, sebelum akhirnya berjalan menjauh, menuju ke dapur untuk meletakan baskom dan bersiap untuk makan siang yang sudah terlewat jauh.


"Nak Reno makan sama Bapak saja di meja makan, biar Ajeng Mama yang suapin di sini aja" Bu Suci mendekat ke arah mereka dengan sepiring nasi dan lauk.


"Iya Mah, kebetulan aku laper banget" Tanpa basa basi bahkan malu, Reno masuk ke ruang makan, menuju ke dapur untuk mencuci tangan hingga akhirnya duduk berhadapan dengan Pak Rahmat.


"Reno bawa ke rumah sakit aja ya Pak, kayaknya kakinya gak cuma kesleo deh, takutnya retak atau bahkan patah" Reno berbicara sembari menikmati makanan yang ada di hadapannya.


Reno hanya tersenyum mendengar jawaban Pak Rahmat. Memang benar Ajeng adalah sosok yang isa dikatakan manja, hatinya mudah rapuh, tipikal orang yang tidak enakan, selalu berfikir berlebihan. Seperti bukan mahasiswa Psikologi saja.


Kadang dia berfikir kenapa orang begitu mudahnya memberi masukan, menguatkan orang lain sementara diri sendiri terabaikan Mereka bisa bersinar di luar sana namun di dalam hatinya dia redup. Seperti Ajeng ini contohnya.


Seusai makan Reno kali ke ruang keluarga, melihat Ajeng yang sedang meneguk habis air putihnya. Sementara Ibu Suci sudah tidak terlihat lagi, mu gkin sedang berganti pakaian.


"Coba sini lihat" Reno duduk berjongkok di depan Ajeng, kini doa sudah berganti dengan celana hotpants berwarna abu-abu, dan baju putih yang membalit tubuhnya dengan longgor.


Kaki jenjangnya terpampang nyata di depan matanya, membuat fokusnya seketika buyar, diapun merasa aneh dengan apa yang dia rasakannya, seperti ada sesuatu yang memanas di dalam hatinya.


"Ini tambah bengkak si, ke rumah sakit aja ya biar nanti di rongten, takutnya patah atu giman-gimana. Semoga si engga. " Reno mulai menyentuh kaki Ajeng yang terasa dingin.


"Dingin banget niih, kenapa gak pake celana panjang aja, tadi gantinya gimana? ke kamar? bisa jalan? Jangan-jangan bengkak karena jalan ya kamu ya? " Reno tak memberikan dia waktu barang sebentar untuk menjawab pertanyaannya.


"Mama tadi yang gantiin, ganti di sini lah. Juga susahnya minta ampun"

__ADS_1


"Untung itu celana buat double an tadi, jadi gak usah makein. kalo pake celana panjang ngegesek-gesek kaki, bikin sakit katanya" Bu Suci keluar dari kamarna, menjawab pertanyaan Renoo yang seperti hujan. Derass uyyy!!!


"Minta ijin Ma, ini Reno bawa ke Rumah sakit aja ya, keliatannya tambah bengkak nih" Reno memperhatikan kaki Ajeng.


"Nanti Mama panggil Bapak dulu ya" Bu Suci berlalu.


"Pokoknya harus nurut sama aku ya, ingat demi skripsi dan misi kita. Membersamaiku untuk menyembuhkanku" Ucapnya tegas.


Ajeng yang hendak menjawab, seketika mengurungkan niatnya saat mendengar langkah kaki mendekat.


"Gimana nak Ren? mau di bawa ke rumah sakit aja?" Pak Rahmat mendekat.


"Iya Pak, tambah bengkak nih"


"Takutnya ini retak, bahaya kalo dibiarkan terlalu lama, takut infeksi." Reno memberikan alasan, iya memang masuk akal si.


"Ya udah Bapak ganti baju dulu ya"


"Eh, gini aja, Bapak sama Mama tunggu dirumah aja, nanti Reno kabarin gi.ana kelanjutannya. Biar nanti gak bolak-balik juga, efisien tenaga dan waktu. Lagi pula Bapak sama Mama baru pulang kan? InshaAllah Ajeng aman sama saya Pak" Reno memberikan masukan.


"Benar juga Pak, kita di rumah saja dulu, nanti gampang menyusul kalau memang harus di susul. " Bu Suci menengahi.


"Yaudah yuk "


Tanpa babibu lagi Reno merengkuh tubuh Ajeng kembali menuju ke parkiran.


"Tolong ambilin selimut atau kain jarik Ma buat nutupin kaki Ajeng nanti. " Pinta Reno.


Reno memasukan Ajeng dengan hati-hati. Mengatur tempat duduk untuk diduduki oleh Ajeng senyaman mungkin.


"Ini kainnya, jangan lupa langsung kabari Mama ya Ren" Bu Suci mengingatkan.


Hingga akhirnya mobil melahu meninggalkan halaman rumah.


"Semoga semuanya baik-baik saja ya Pak" Bu Suci memandang sendu wajah suaminya.


Terimakasih banyak untuk segala dukungannya, like dan komennya kalian semua😘

__ADS_1


Membuat aku semakin semangat dalam berkarya, menulis dan menuangkan segala imajinasiku☺


__ADS_2