
"Rasanya mengapa sesakit ini? "
Perempuan itu duduk tersungkur diatas sajadah. Memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Kenapa kamu jahat sekali? "
Derai air mata semakin turun membasahi pipi tirusnya.
Ajeng masih teronggok lemas di mushola kecil rumah Ibu Sukma. Setiap berkomunikasi dengan Barata, dia selalu saja berakhir seperti ini, menangis tersedu, merintih. Luka yang coba dia kubur, kini terbuka kembali, bahkan semakin menganga. Mengeluarkan nanah yang terasa menyakitkan. Pedih. Seperti.. ada puluhan jarum menghujam jantungnya.
"Kenapa kamu lakukan ini Bar? kamu terlalu jahat. Sangat jahat" Rasanya dengan suara pelan dan tertahan. Dia tidak ingin ada orang lain memergoki dirinya dengan keadaan hancur seperti itu.
Dia mencoba untuk berdiri, berjalan menuju kamarnya. Rasanya dia menyesali keputusannya tidak ikut Mama dan Bapak pulang tadi. Beralaskan besok ada jadwal registrasi di kampusnya, dia menolak tawaran Mamanya untuk pulang, selain karena harus memakan jarak tempuh yang jauh dan waktu yang lama, bolak-balik Banyumas-cilongok terasa sangat melelahkan.
Dia berjalan sepelan mungkin, menaiki tangga dan melewati kamar pengantin yang didalamnya sedang melangsungkan adegan live penyatuan dua tubuh menjadi satu. Terdengar jelas bagaimana suara rintihan dan erangan dari Anita, untuk dia yang mendengarnya, Anita seperti sedang merasakan kenikmatan sentuhan cinta yang Barata berikan.
Sementara Ajeng, merasa jijik dengan suara tersebut. Dia bukan gadis polos yang tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana. Meskipun dia sendiri belum pernah merasakannya barang sekali pun!!
"Breng Sek!!! " Ajeng mengumpat sambil membanting pintu sekeras mungkin.
"Cinta katanya? " Tertawa sendiri di bawah ranjang sambil mendekap tubuhnya sendiri.
"Omong kosong macam apa itu? setelah mencumbuku, kini dia menyalurkan hasratnya dengan istrinya? breng sek!!" makinya lagi.
"Aku benar-benar gak bisa lagi hidup seperti ini, aku memang harus tegas dengan diriku. Aku harus pergi, melupakan segala ikatan tentang keluarga ini" Ajeng beranjak dari duduknya, kemudian membuka pintu almari kayu, menurunkan koper yang berukuran besar, memasukan seluruh bajunya kedalam koper tersebut.
"Aku harus bisa mandiri, pergi menjauh dari sini. Sudah tidak ada tempat lagi untuk keluarga ini di hatiku. Aku harus egois. Aku harus bahagia" Racaunya dengan tangis yang kambali merebak.
"Kamu jahat sekali" Kini dia merebahkan dirinya, memeluk bantal, merasakan kecewa yang teramat dalam.
"Aku sangat membencimu" isaknya yang semakin memilukan hati.
"Dengan mudahnya mengumbar cinta padaku, tetapia kau malah menyalurkan hasratmu padanya. Sungguh tidak punya hati"
Dia menyesali dirinya sendiri yang masih saja bisa terenyuh dengan perkataan Barata, masih merasa terangkat ke udara namun setelah itu terhempas begitu saja dengan sangat keras! Sangat sakit.
__ADS_1
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Dia tidak tahu kapan dia tertidur, yang jelas saat ini kepalanya berdenyut nyeri. Dia mencoba membuka matanya yang seperti di beri lem itu dengan susah payah. Mencoba untuk duduk dari posisi tidurnya. Namun begitu sulit. Kepalanya kembali berdenyut.
Akhirnya, dia putuskan untuk kembali merebahkan kepalanya ke atas bantal.
"Astaghfirullah" pekiknya
Dia masih dengan pakaian kebaya tadi malam, belum membersihkan badannya sama sekali. Dengan memaksakan diri dan tertatih, dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Cukup lama dia berada di dalam kamar mandi, mengacuhkan ponsel pintarnya yang sedari tadi berdering meminta perhatian dia. Dengan susah payah akhirnya dia berhasil keluar dari kamar mandi dan sudah berganti mengenakan pakaian rumahan.
Yang dia rasakan sekarang adalah dingin, padahal AC sedari semalam tidak dia nyalakan. Dia kembali bergerumul dengan selimutnya. Baru saja dia hendak memejamkan mata, ponselnya kembali berdering. Dengan enggan dia meraihnya.
Naufal calling.....
Dia meletakan kembali ponselnya, bahkan sekarang memasang mode terbang, hari ini dia benar-benar ingin sendiri. Tidak ingin melakukan apapun dan diganggu siapapun. Dia tidak ingin dilihat bahkan melihat siapaun yang berada di rumah ini.
Dan dia sendiri bahkan melupakan jadwal untuk regristrasi kuliahnya, mengagalkan sendiri cita-citanya untuk mengambil S2 tahun ini. Karena hari adalah hari terakhir untuk melakukan registrasi mahasiswa baru.
Rasa sakit dan sesak yang bersarang di hatinya sejak semalam, sepertinya sudah menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Semuanya terasa sakit, terlebih kepalanya dan masih saja berdenyut nyeri. Dan melanjutkan tidur adalah pilihan terbaiknya saat ini.
Tirai yang masih sempurna menutup jendela kamar, menjadi penghalang masuknya cahaya matahari.
"Tumben banget Mbak yah wene dereng wungu" Mbok War bergumam sendiri melihat keadaan Ajeng yang jam segini tumben-tumbenan belum bangun.
Kakinya tak sengaja menendang koper yang menghalangi jalannya ketika akan membuka tirai. "Mau ke mana Mabak Ajeng masukin baju ke dalam koper segede ini? " gumamnya lagi.
"Mbak jeng, sudah siang Mbak" Mbok War melewati ranjangnya, meraih tirai kemudian menyibaknya pelan. Hanya sebagian, dan sebagian lagi masih sempurna menghalau sinar mentari pagi.
Dapat Mbok War lihat dengan jelas tubuh Ajeng yang berada di bawah selimut, hanya kepalanya saja yang terlihat. Dan beberapa sulur rambut yang menutupi wajahnya.
"Mbak Jeng" Ulangnya sambil mengusap kepala Ajeng.
Namun Mbok War terpekik ketika telapak tangannya menyentuh dahi Ajeng yang terasa sangat panas. Buru-buru dia pergi ke bawah untuk mengabarkan kepada Bu Sukma bahwa menantu kesayangannya demam.
__ADS_1
Namun sayang, Bu Sukma yang tadi masih menikmati santap paginya, sudah pergi besama Anita untuk berangkat ke butik, Bebarengan dengan suara mesin mobil yang terdengar semakin menjauh.
"Lah Ibu pun tindakan nopo Mas. Banter sanget" Bu War yang hanya melihat Barata seorang diri, yang sedang menikmati secangkit kopi merasa bingung.
"Nggih Mbok, lah pripun? " Barata bertanya balik kepada Mbok War, ada apa? "Barudan di telepon sama Vika, katanya sudah di tunggu sama orang." Barata menoleh ke arah Mbok War.
"Niku Mbak Ajeng awake panas, pun kulo gugah-gugah mendel mawon" Mbok War dengan cemas mengatakan pada Barata bahwa Ajeng panas tinggi, dia bangunkan namun tidak ada jawaban.
Barata langsung saja beranjak dari meja makan, meninggalkan kopinya untuk menuju ke kamar Ajeng yang berada di sebelah kamarnya.
"Tolong ambilkan obat penurun panas Mbok, sekalian airnya, langsung bawa ke kamar ya" Barata berhenti sejenak di anakan tangga untuk memberi perintah.
"Ada apa denganmu Sweetbrown? " Gumamnya pelan sambil terus berjalan cepat.
Bara langsung memasuki kamar Ajeng, hal pertama yang dia lihat adalah koper besar yang sudah penuh dengan baju namun belum tertutup. Sementara Ajeng,
Tak terlihat batang hidungnya karena tertutup rambut dan selimut.
"Jeng, Ajeng" Barata menepuk-nepuk pipi yang kini berwarna merah itu. Karena suhu tubuhnya meningkat, menjadikan kulitnya yang putih bak porselen itu menjadi kemerahan.
"Sweetbrown, bangunlah aku mohon" Barata mengguncang badan Ajeng pelan, sesekali kecupan hangat mendarat di dahi dan telapak tangan wanita di depannya itu.
"Mas niki obat kalih toya nggih" Mbok War mengagetkan Barata, yang datang membawa obat dan air minum.
"Maturnuwun Mbok" Barata mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya Mbok War pergi meninggalkan mereka.
"Barata masih terus saja mengecupi Ajeng, tidak hanya dahi dan telapak tangannya, Namun seluruh wajahnya, terhujani oleh kecupan Barata.
" Shii **, kenapa di kondisi aku yang seperti ini bayangmu masih saja ada si Bar" Ajeng bergumam sendiri. Menganggap bahwa yang ada di depannya adalah halusinasinya.
Barata yang terkaget, namun seketika melengkungkan senyumnya.
"Apa kau belum puas bercinta dengan istrimu hingga datangi aku?" Ajeng menutup kedua matanya kembali.
"Kamu gila"
__ADS_1
"Membuatku gila! "
Ajeng merancu dengan perkataannya sendiri, sementara Barata semakin menggila dengan aksinya kepada Ajeng.