
Aku terbangun dengan perasaan lebih baik, ku lirik jam yang berada di atas nakas, sudah menunjukan pukul 05.15, Astaghfirullah aku kesiangan! Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Sengaja aku tak ingin masuk ke kamarku sendiri, masih enggan bersitatap dengan Barata. Huh kalau dibawa hati terus-terusan seperti ini rasanya perasaan dongkol kembali lagi!
Kenapa si laki-laki selalu saja menggampangkan hal-hal yang tidak seharusnya dibuat gampang! ini masalah anak loh, nyawa ini. Bukan boneka yang yang sesuka hati bisa diajak main, dibawa pergi ke sana ke mari sesuka si empunya.
Semalam aku mengunci diri di kamar Ashila, tidak mempedulikan permohonannya yang mengetuk pintu dengan suara memelas. Aku hanya ingin sendiri, takut kalau berdekatan dengannya justru akan meningkatkan emosi diri.
Air dingin yang membasahi wajahku benar-benar menyegarkan, ku sapu wajahku setelah beristinsyaq secara perlahan, menikmati air yang melewati rongga hidung, mengusap air dari telapak tangan hingga siku, diteruskan mengusap kepala dan telinga hingga membasuh kedua kaki.
Saat keluar dari kamar mandi, terlihat Ashila masih tidur dengan nyenyaknya. Tentunya dengan guling yang masih dia peluk erat. Tak ingin mengganggunya, aku membiarkan dia tidur dan langsung turun ke bawah, untuk menuju ke mushola dan melaksanakan salat Subuh.
Ada yang berbeda dengan suasana pagi ini, terasa ramai dan beberapa wajah yang tidak aku kenal pun terlihat hilir mudik. Terdengar suara Ibu yang memberikan arahan kepada orang-orang tersebut di luar.
Aku penasaran, tapi tak lantas membuatku beralih dari tujuan utama. Segera ku tunaikan salat Subuh dengan banyak pertanyaan di dalam kepalaku.
Aku menyelesaikan salat dengan cepat, melipat mukena asal dan langsung menuju dimana suara Ibu berasal.
"Ibu, pagi-pagi ngapain?" aku sedikit cemas melihatnya.
"Ini orang-orang dari WO datang, Sayang." Ucapnya lembut sembari meraih tanganku.
"Nyenyak banget tidurnya ya? Barata baru aja berangkat, dapat panggilan dari rekannya, mau bangunin kasihan kamu katanya." Ibu menatapku.
"Udah berangkat, Bu? sepagi ini?" Seketika aku merasa bersalah, meskipun hatiku tetap masih menyimpan rasa kesal !
"Iya mau melanjutkan kasus yaang kemarin katanya, udah yuk, masuk aja. Kamu juga harus siap-siap ke Rumah sakit 'kan?" Ibu mengingatkan ku.
Akan melangsungkan akad, dan sekarang dia harus rapat untuk melanjutkan kasus yang kemarin? tidak bisakah minta waktu barang sehari-dua hari ?
Egoku mulai menari-nari di kepala.
"Sudah bukan hal aneh lagi 'kan Jeng kalau Barata pergi sewaktu-waktu tanpa schedule? karena nantinya juga kamu akan terbiasa." Ibu kembali tersenyum.
Aku enggan menjawab pernyataan Ibu, dengan menerbitkan senyum di ujung bibir, rasanya sudah cukup untuk menanggapi.
Ah pagi ini perasaanku benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Tanpa berkata apa pun lagi, aku berjalan dengan tangan yang digandeng Ibu.
Tadi benci, sekarang bersalah, memang mungkin hatiku yang sedang bermasalah. Iya, masalahku juga karena suamiku sendiri !
__ADS_1
"Nanti sore siraman ya, Mama sama Bapak akan datang." Ibu memutus pikiranku yang sedang melalang buana.
"Harus siraman ya Bu?" sungguh aku lelah bila terlalu banyak ube-rampe yang harus aku jalani, toh aku sudah pernah merasakan sebelumnya. Aku menatap wajah ibu, ingin berbicara mengeluarkan pendapat tetapi terlalu gamam. Tersirat jelas rona bahagia di wajah yang sudah terlihat banyak kerutan di wajahnya.
"Ya tidak harus, tetapi kalau lakukan pun tidak bermasalah juga 'kan?"
"Iya, Bu." Ucapku pada akhirnya.
"Kalo gitu Ajeng bangunin Shila dulu ya, Bu. Sekolah 'kan dia?" tanyaku.
"Ijin dulu mungkin tidak apa ya, Ibu masih takut kalo sewaktu-waktu Rafi datang kembali, lagian kita sudah mulai sibuk begini. Kamu siap-siap berangkat saja gih, tuh udah hampir jam enam. Sekalian teman-teman diundang ya, besok suruh makan siang di sini. Kamu juga kalau bisa minta ijin barang dua hari ya, besok sama lusa. Biar gak gitu capek!" Ibu menggantikan langkahnya, menatapku dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Iya Bu, nanti aku coba ijin sama kepala rumah sakit, biar liburku yang buat bulan depan diajukan." Aku mengusap punggung tangannya.
"Yaudah gih cepat mandi, keburu kesiangan! Ibu siapin sarapan yaa," ucapnya sebelum aku berlalu.
Aku langsung naik ke lantai dua, bersiap untuk mandi, menyiapkan diri menjalani rutinitas.
Pukul 06.55 aku sudah tiba di ruang absensi. Karena hari Kamis, aku mengenakan pakaian adat Banyumasan. Sudah dibuatkan aturan bahwa setiap hari Kamis di minggu ke tiga, semua pegawai pemerintahan mengenakan pakaian tradisional. Dengan beskap warna hitam untuk atasan, dan dipadu dengan kain jarik batik motif manggar atau yang lebih dikenal dengan sebutan bunga kelapa berwarna kuning kunyit untuk bawahannya aku berjalan dengan langkah pasti, berpikir optimis untuk melalui hari Kamis manis.
Aku keluar dari ruang absensi untuk menuju ke ruanganku. Saat melewati bagian pendaftaran, terlihat sudah banyak orang yang mengantri, bahkan di loket pengambilan nomor antrian, antrian sudah mengular panjang.
Saat memasuki koridor poli mata dan kulit, aku di kejutkan oleh suara yang tak asing lagi bagiku.
"Haiii Dok, Alhamdulillah, sehat ini." Aku tersenyum padanya.
"Syukur lah, aku turut senang mendengarnya."
"Dari mana Dokter tahu kalau aku sakit?" aku mengernyitkan dahi, heran.
Senyumannya terbit, "Adik iparmu, bikin geger. Jadi bahan gosipan seharian oleh perawat-perawat magang, ampun deh mereka," jawabnya dengan gelengan kepala.
"Geger gimana? memangnya Ayahnya Ashila ngapain? kok bisa bikin geger sih?" aku sedikit cemas, takut kalau Barata berbuat yang tidak-tidak.
"Bukan Ayahnya Ashila, tapi perawat-perawat yang terpesona sama seragam dorengnya."
"Owalah." Seketika hatiku lega. "Maklum saja, mereka kan masih muda Dok, buat pengalihan suasana." Jawabku asal
"Mau langsung visit ke ruangan kah?" lanjutku mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Iya ini, kamu baru absen?"
"Iya."
"Yaudah, aku langsung visit ke ruangan ya," Ucapnya sembari memandang ku kemudian bergegas pergi.
Sebelum memasuki ruangan, aku sempatkan untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan bagian pendaftaran, memberikan pemberitahuan jika dua hari ke depan, jadwal untuk konseling, asesmen atau psikotes dan psikoterapi agar dikosongkan, tentunya aku pun menyampaikan alasan ku mengapa ambil cuti agar semakin memudahkan perolehan ijin.
Beruntung juga aku tidak mempunyai janji temu dengan pasien sebelumnya, sepertinya niat baik untuk meresmikan pernikahan di hadapan hukum benar-benar dimudahkan oleh Allah.
"Serius, Dok? Ya Allah kok mendadak begini si? MasyaAllah, selamat ya, Dok. Aku ikut senang ya?" Fitri, yang hari ini bertugas piket langsung mengucapkan selamat. Tangannya sudah terangkat, seperti akan memelukku namun dia urungkan. Mungkin dia sungkan.
"Kenapa? Sini peluk saya." Aku langsung merentangkan tangan, dan tak butuh waktu lama, dia langsung menyambut uluran tanganku.
Beberapa pegawai yang lain melihat kami berdua, kemudian mendekat, terlihat sangat ingin tahu.
"Dokter Ajeng besok akan menikah." Fitri berucap kepada rekannya, sembari mengurai pelukan kami dan kembali memelukku dengan erat.
Satu per satu mereka pun mengucapkan selamat kepadaku.
"Terima kasih, besok jangan lupa main ke rumah ya, sekalian makan siang. Saya dan keluarga mengadakan syukuran kecil-kecilan. Semoga berkenan untuk hadir."
"Oya, mohon maaf ini undangannya langsung saja ya, Karen saya tidak mencetak kartu undangan, jadi memang tidak ada kartu dan tidak menyebar undangan." Ucapku sembari mengatupkan kedua tangan di depan dada yang dibalas dengan godaan dari mereka.
"Aku penasaran seperti apa calon suami Dokter," Fitri menerawang.
"Suami, Fit. Saya sudah menikah secara agama beberapa Minggu yang lalu karena suatu hal, dan besok peresmian secara hukum." Aku sedikit tersipu menjelaskan.
"Hah? serius?" Sudah aku duga sebelumnya pasti akan banyak yang kaget dengan informasi dari aku.
"Udah, biasa aja. Jangan kaget dan heran gitu," aku tersenyum sembari mengibaskan tangan.
"Dan jangan berfikir terlalu jauh atau yang tidak-tidak ya. Intinya besok silakan jika berkenan datang ke rumah ya." Aku meraih jemari Fitri yang terulur ke arahku.
"Pokoknya aku seneng banget dengarnya, Dok"
"Terima kasih ya Fitri, dan juga teman-teman, kalau begitu saya langsung ke ruangan ya," melepaskan diri dari tautan tangan Fitri, kemudian keluar dari ruang tersebut.
"Sama-sama, Dok." Kudengar jawaban mereka dengan serempak.
__ADS_1
Setelah istirahat nanti, aku berencana untuk menghadap ke kepala bidang SDM dan Humas, bagaimana pun mereka juga harus mengetahui akan statusku yang baru, agar dikemudian hari, tidak ada berita simpang siur yang tidak di inginkan.
Bismillahirrahmanirrahim, semoga segalanya di lancarkan Ya Allah.