
"Bagaimana? sudah siap semua berkas yang akan di ajukan?" Pak Sis, sang komandan mendekati Barata yang sedang fokus membaca email, menanyakan tentang kelengkapan berkas untuk kelanjutan pernikahannya.
Beliau adalah satu dari sekian banyak pihak yang sangat mendukung Barata, terlebih ketika sudah mengetahui rahasia besar dari anak asuhannya tersebut tentang kisah cinta berliku yang sudah Barata alami, tentang perjuangannya selama ini meluluhkan hati Ajeng yang keras bukan main.
"Siap sudah komandan!" berdiri memberikan hormat.
"Sedang menunggu orang yang mengambil berkas dari Cilongok, sekarang sudah sampai di Karanglewas," lanjutnya.
"Baiklah, bisa cepat di proses kalau begitu,"
Nanti saya ajukan langsung ya, lusa bisa langsung bisa di proses, sekalian mendaftar ke KUA saja kalau begitu," Pak Sis memberi saran.
"Siap laksanakan!"
"Apa anda sudah membaca email surat tugas dari Ajudanrem yang di tunjukan untuk anda Sersan?"
"Siap sudah!"
"Oke, jadi bisa langsung segera di lacak. Saya tunggu laporan secepatnya" Pak Sis menepuk bahu Barata, kemudian pergi berlalu.
Hari ini Barata di telpon pagi-pagi sekali, dirinya yang menjadi salah satu anggota badan intelijen, ditugaskan untuk mencari informasi terbaru atas diduganya munculnya bibit aliran sesat di daerah binaannya. Dia bersama tim akan melakukan rapat internal dan terbatas, bersama anggota lainnya untuk menyiapkan strategi yang dilakukan.
"Lancarkan dan mudahkan ya Allah, gue pengantin baru" bermonolog sendiri, kemudian tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Mungkin jika ada yang mendengar perkataan dia, semua akan mentertawakan Barata. Ya, se-bucin itu dia dengan istrinya. Apalagi saat dia berangkat tadi, Barata tidak sempat berpamitan secara langsung kepada Ajeng. Dia pun merasa bersalah, sudah membombardir Ajeng dengan rakusnya, meletuskan segala cinta berkali-kali.
Aahh memang penyesalan selalu datang belakangan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tim telah siap untuk melakukan rapat. Barata beranjak dari duduknya saat melihat beberapa rekannya memasuki ruangan, mengikuti rapat dan berdoa semoga hari ini lekas berlalu agar diapun lekas bertemu dengan isrtinya.
Ah Barata.
Sementara itu di sekolah Ashila, Eyang yang sedikit terlambat menjemput Ashila, dikejutkan dengan keterangan dari Satpam sekolah yang mengatakan bahwa Ashila sudah di jemput sekitar 10 menit yang lalu, oleh Pakdenya.
Bu Sukma langsung panik
"Pakde siapa? dari mana? Ashila tidak punya Pakde!" Bu Sukma mulai tidak sabar.
"Ciri-ciri orangnya seperti apa pak?" Bu Sukma langsung mencerca Pak Satpam.
__ADS_1
"Orangnya tak lebih tinggi dari saya Ibu, sudah terlihat berumur, tadi menaiki mobil civic lawas berwarna merah."
"Sepertinya buru-buru, dan Mba Ashilanya juga seperti biasa-biasa saja, justru dia menyapa saya. Jadi saya pikir memang beliau kerabat dekat anda."
"Dari dalam, tadi sudah bersama Pakdenya Bu, coba Ibu tanya sama Bu Ririn, selaku wali kelasnya. Mari saya antar."
Pak Satpam mengantar Bu Sukma untuk menemui guru kelas Ashila.
"Bu Rin," Pak Satpam memanggil Bu Ririn yang sedang membereskan alat main di dalam kelas.
"Eyang Ashila," ucapnya sebelum akhirnya keluar menuju kembali ke pos.
"Assalamualaikum, Bu Ririn." sapa Bu Sukma saat masuk ke ruang guru.
"Oh nggih, Eyang Ashila. Silakan masuk." Dengan ramah, Bu Ririn menyambut kedatangan Bu Sukma.
"Langsung saja Bu, tadi Ashila di jemput oleh siapa? Pak Satpam bilang katanya laki-laki yang mengaku Pakdenya. Apakah betul?
"Lh iya Bu, sudah sering beliau datang ke mari, menanyakan tentang tumbuh kembang Ashila." Apakah terjadi masalah?"
ucapannya terdengar khawatir.
Bu Sukma mengernyitkan dahinya.
"Iya Bu, maaf sebelumnya, apakah terjadi masalah?" Bu Ririn mengulangi pertanyaannya.
"Iya, dan sangat bermasalah, karena Ashila sama sekali tidak mempunyai Pakde." Ucap Bu Sukma dengan tegas.
"Lantas? beliau siapa?" raut wajah Bu Ririn sudah pucat. "Dan untuk apa dia sering bertandang ke sekolah? bertanya mengenai Ashila?"
"Saya benar-benar tidak tahu Bun, saya tidak mempunyai gambaran seperti apa orangnya, karena memang tidak ada yang dekat dengan kami. Kalau saya tahu, pastinya saya tidak perlu bertanya kepada panjengan dan Pak Satpam." Bu Sukma masih bisa menahan emosinya.
Dia tidak bisa menyalahkan siapapun kecuali dirinya, kalau saja dirinya tidak terlambat, pasti peristiwa seperti ini tidak akan terjadi
Bu Sukma sama sekali tidak punya bayangan tentang siapa orang yang menjemput cucunya itu. Dengan paniknya, beliau mendatangi Pak Anto yang menunggu di parkiran, tidak perduli lagi kepada Pak Satpam dan guru kelas Ashila yang sedari tadi memanggil Ibu Sukma yang nyatanya tidak sedikitpun digubris.
Berbicara dengan guru kelas Ashila malah semakin membuatnya kalut.
"Sering datang untuk bertanya tentang tumbuh kembang Ashila? siapa dia?" pertanyaan yang sama terus berputar-putar di kepalanya.
__ADS_1
"Ibu sabar riyin, nanti nunggu Pak Barata. Lapor polisi pun pasti tidak akan di tindak lanjuti karena ini belum ada 24 jam," Anto memberikan saran saat Bu Sukma sudah sampai di mobil dan meminta untuk pergi ke kantor polisi.
"Coba Ibu telpon Pak Barata riyin, atau Mbak Ajeng, siapa tahu sudah pulang ke rumah," imbuh Pak Anto.
Bu Sukma langsung menelpon Barata, sekali, dua kali namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya beliau putuskan untuk menelpon rumah.
Di rumah pun sama, tidak ada yang menjawab teleponnya, yang semakin membuat beliau frustasi.
"Jalan dulu aja To, cari sambil jalan. Gak ada yang bisa kita tanya, semua orang tiba-tiba saja menghilang. Gak Bara gak War gak Ajeng!" dengan nada kecewa dia melampiaskan ke Pak Anto.
Di rumah, setelah membersihkan badannya seusai dipijat oleh Emak tetangga Mbok War, Ajeng mulai terlihat lebih segar. Dia turun kebawah, tanpa membawa ponselnya. Tujuannya sekarang adalah dapur. Dia merasa sangat lapar.
"Pantas saja, sudah jam sebelas," gumamnya.
"Tapi kok Ashila belum pulang? atau mungkin mampir ke butik ya?" dia masih berbicara sendiri.
"Mbok.."
"Mbok War.." panggilnya lagi kemudian mendesah pelan, "aku lupa kalo Mbok War sedang mengantar Emak." Membuka tudung saji dan meraih piring yang sudah di sediakan di meja makan.
Bunyi telepon rumah berdering tepat saat dia memasukan sendok terakhir yang berisi makanan ke dalam mulutnya.
"Ajeng!"
Telinganya menangkap deru nafas yang tidak beraturan diseberang sana. Tidak seperti biasanya, Ibunya, sampai-sampai lupa tidak memberikan salam.
"Shila sudah sampai?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Belum." Jawab Ajeng jujur.
Seketika tangis Bu Sukma pecah, " Ashila hilang, di culik orang!" suara yang bercampur tangis itu, masih terdengar jelas di telinganya.
"Subhanallah, kok bisa. Gimana?"
Belum sempat mendengar jawaban Ibunya, suara bel pintu depan sudah lebih dulu berbunyi.
"Sebentar Bu, ada tamu. Ajeng buka dulu ya, siapa tahu Ashila," ucapnya, kemudian menutup telepon sepihak.
"Asalamualaikum, Mbok Wal," suara cempreng yang sangat dia kenali cukup membuat dia lega.
__ADS_1
"Walaikumsalam wrb," Ajeng membuka pintu.
Alisnya bertaut, setelah melihat orang yang sedang memegang tangan Ashila dengan erat, dan membuat tenggorokan dia tercekat.