Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
15


__ADS_3

"Aku tau kalo Mas Ren membohongi ku"


Entah keberanian darimana, perkataan itu meluncur jelas.


Suasana mobil seketika menjadi hening. Sangat jelas nampak kecanggungan diantara mereka.


"Aku tadi mendengar obrolan Mas Ren"


"Dengan siapa? Dokter? Psikolog? "


Ajeng masih bertanya namun tidak ada jawaban maupun sanggahan sedikitpun dari Reno. Hingga tiba di pertigaan jalan Dr. Angka, yang seharusnya Reno mengarahkan mobilnya untuk ambil kiri, dia tetap lurus ke depan dengan kecepatan tinggi menuju ke arah jalan HR. Boenyamin.


Jalan yang diambil bukan menuju ke hotel tempat acara resepsi diadakan, Ajeng tau itu, namun ia enggan untuk bertanya. Dia hanya diam sesekali melirik Reno yang masih dengan muka datarnya.


"Mas Ren jangan salah faham. Aku hanya bertanya, aku tidak menuntut jawaban. Mas Ren juga tak perlu merasa tidak enak hati untuk tidak menceritakan semua kepadaku. Aku tahu batasnya.... "


"Kenapa harus sekarang?" Reno bertanya tanpa menoleh. "Aku memang akan katakan tapi tidak sekarang, masih banyak yang harus aku fikirkan. Aku tidak bisa secepat itu memberitahumu."


"Ada beberapa hal, yang ingin aku mintai tolong kepadamu. Hanya kamu yang bisa memberikan ku solusi, dan aku harap kamu bersedia. Karena cuma kamu yang mungkin bisa ngertiin ini semua. "


Reno menepikan mobilnya tepat di lapangan Pabuaran. Melepas seatbelt nya, kemudian menghadapkan badannya ke arah Ajeng.


Dia mulai berbicara serius, menceritakan keadaan dirinya sejelas-jelasnya kepada Ajeng tanpa di tutup-tutupi. Dari mulai awal masalah dia tentang penyakit impo tennya, hingga keadaan dia sekarang yang masih dibayangi masa lalu dengan Arika. Sementara Ajeng hanya diam, banyak rasa yang dia rasakan sekarang.

__ADS_1


"Tadi Mas Ren menelpon ku lagi sesaat setelah mengakhiri panggilan telepon, yang katanya akan bertemu dengan rekan kerja Mas, aku sebenarnya juga tidak mau tau, tapii.. "


"Kamu mendengar sampai akhir? " Reno memotong perkataan Ajeng. Sementara Ajeng hanya menggeleng. Memang benar dia tidak mendengarkan pembicaraan mereka hingga akhir. Mana tahan dengan obrolan vulgar para lelaki.


"Jadi, sekarang kamu sudah tau ya permasalahan Mas di mana, Mas tidak sempurna dan mungkin tidak akan bisa menyempurnakan istri Mas kelak. Dan kamu, adalah orang pertama yang mengetahuinya selama ini. Kecuali psikolog yang menangani Mas. "


"Psikolog mengatakan bahwa Mas harus melakukan pendekatan dengan seorang wanita, yang mungkin bisa membantu kesembuhan Mas. Namun semua tak semudah itu, ada banyak hal-hal tabu yang tidak mungkin dilakukan dengan mahluk yang bernama wanita tanpa ada ikatan apapun, dan melakukan hal diluar norma kecuali terikat tali pernikahan. "


Suasana hening, hanya suara deru mobil yang memang sengaja tidak dimatikan agar AC tetap menyala, memberikan kesejukan kepada mereka berdua yang tengah dalam kondisi fikiran panas.


Ajeng menyesali keberaniannya dalam bertanya. Merutuki diri sendiri dalam hati. Kenapa tadi dia harus bertanya? Bahkan sedari awal, fikirannya sudah memberikan sinyal bahwa lebih baik tidak perlu tahu apa-apa yang memang tidak perlu kamu tahu, jika itu bukan menyangkut dirinya sendiri. Pada akhirnya yang bukan menjadi urusanmu pun kini mengusik fikiranmu kembali.


Namun hati kecilnya membenarkan perbuatannya, setidaknya dengan dia tahu, dia bisa membantu Reno. Paling tidak!


Yaah, kadang fikiran kita menghianati hati kita sendiri. dan tak jarang pun sebaliknya. Dua bagian tubuh ini takan pernah sama. Tidak akan pernah sinkron antara fikiran dan hati. Sampai kapanpun.


"aku salah, sekarang kamu sudah tau dan pemikiranku bahwa aku tidak akan menceritakan masalah ini kepadamu pun salah. Kamu tahu dan mau tak mau kamu sudah masuk kedalam masalahku. Dan aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu. "


"Kamu boleh minta apa pun, apa pun itu katakan saja. Asal kamu bisa membantuku untuk sembuh dan keluar dari semua ini. "


"Aku akan membawamu menemui Psikologku, biar kamu juga mendengar apa yang seharusnya kamu dengar tanpa terpotong. Kamu bisa mengambil keputusan setelah itu. " Reno membalikan badannya menghadap kemudi.


Memegang setir sembari memejamkan matanya. Bisa dirasakan beban hidupnya begitu menghimpit hati. Dia tidak bisa seperti ini terus, dia harus bisa keluar dari keterpurukan ini. Membuat dirinya percaya diri dengan dorongan wanita di sampingnya.

__ADS_1


Mungkin semuanya akan mudah, jika saja Ajeng nantinya bersedia menolong dirinya. Dirinya yang penuh cela.


"Mungkin aku bisa mengaplikasikan ilmu yang aku dapat selama ini kepada kamu Mas, jika kamu tidak keberatan tentunya. " Ajeng melihat wajah Reno yang mulai sayu. Mungkin dia lelah dengan keadaannya saat ini.


"Kebetulan judul rencana srikpsi aku tentang psikologi klinis, mau Mas Ren jadi respondenku? Jadi nanti kita bisa bersama-sama mencari tahu jalan keluar yang baik, setidaknya Mas Ren bisa lebih menerima apa yang ada pada Mas Ren."


"Semoga satu persatu bisa terurai dengan baik, dan Mas Ren tidak merasa sendirian. Ada aku yang akan selalu mendukung Mas Ren. " Ajeng tersenyum, meraih jari Reno yang berada di atas presneleng, memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu"


" Kamu yakin mau bantu Mas" Ucapnya kemudian. Membuka matanya menatap wajah cantik Ajeng, bergantian memandang tangannya yang juga masih berada di genggaman Ajeng.


"InshaAllah, bila kita lalui ini berdua, semuanya akan lebih mudah. Seperti yang sudah-sudah" Ajeng memberikan senyum terbaiknya.


Tanpa ragu Reno memeluk erat Ajeng.


"Makasih adik kecilku" sembari mengecup ujung rambut Ajeng.


Ajeng hanya tersenyum, menatap sorot mata sayunya.


"Jadi? kita gak jadi ke acara kondangan? " Tanyanya kemudian setelah suasana mulai berubah mencair.


"Aku sengaja loh belum makan siang, Cita-cita ku dari kampus ni mau makan di hotel, nolak ajakan Yanuar makan. "


"Hahah kamu kelaparan? " Reno menanggapi cerita Ajeng dengan tawa.

__ADS_1


"Iya iya lah Mas, mau kelewat nih jam makan siangnya" ucapnya kemudian yang semakin dibalas dengan tawa Reno.


Terimakasih untuk tidak lupa memberi like dan komennya❤


__ADS_2