Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
83


__ADS_3

Ajeng sedang menunggu Barata di lobby rumah sakit, ketika seseorang tanpa sengaja menabraknya dari arah depan. Salah dia yang sedari tadi resah, hanya fokus memandang layar ponselnya.


"Maaf" Ucap seorang pria yang kini memandangnya lekat. Dan hanya di balas dengan senyum simpulnya.


Bagaimana tidak resah. Setelah panggilan video tadi siang terputus, sampai sekarang pesan yang dia kirim tak mkunjung mendapat balasan juga. Hati dia merasa tidak nyaman.


Dan benar saja, saat mobil Barata yang kini berhenti di lobby rumah sakit, bukan sang empunya yang berada di belakang kemudi, melainkan Pak Anto.


"Mas Bara mana Pak?" tanyanya begitu sudah duduk di bangku penumpang.


"Sedang ada tamu di rumah Mbak, jadi saya yang menjemput." Jawaban Pak Anto sedikit membuat rasa tak enak hatinya berkurang.


Jangan berprasangka berlebihan Jeng,


Barata gak se-bucin itu !


Memberi penguatan kepada dirinya sendiri.


"Mampir sebentar ya Mbak, Ibu nitip beli kurangan dapur." Pak Anto menyadarkan dia dari lamunannya, membelokan mobilnya ke salah satu toko swalayan.


"Banyak po?"


"Mboten mbak, tapi ini saya


gdi beri catatan." Menunjukan secarik kertas.


"Biar Ajeng saja yang turun Pak, Pak Anto tunggu di sini gak aja." Ajeng meminta kertas yang Pak Anto pegang, kemudian keluar dari mobil untuk masuk ke dalam swalayan.


Belanjaan yang di tulis ibu tidak terlalu banyak, hanya beberapa item saja.


Tanpa membuang waktu, Ajeng langsung memasuki toko. Badannya yang memang sudah tidak enak itu dia paksa untuk bergerak melaju.


Udara di dalam toko swalayan itu langsung menerpa tubuhnya, meskipun menggunakan pakaian tertutup dan berhijab sekalipun, rasanya dingin ruangan tersebut sampai menusuk ke tulangnya.


Dengan berbekal secarik kertas dan dompet yang berada di tangan kirinya, dia mulai menyusuri rak-rak berisi aneka macam barang.


Sebelumnya, dia menarik sebuah troli kecil, sebagai tempat menyimpan barang belanjaannya nanti.


Satu persatu barang dia temukan tanpa membutuhkan waktu lama, hingga akhirnya dia lekas untuk mengantri ke kasir. Sayangnya semua kasir penuh, memaksa dirinya untuk ikut masuk ke deretan yang mengular panjang.


"Aku mampir ke swalayan dulu, mungkin agak terlambat pulang, kasir antri banget."


Ajeng menuliskan pesan yang langsung dia kirimkan kepada Barata.


Sejak panggilan video tadi, semua pesannya belum ada yang di baca satupun oleh Barata. Padahal dia online sekitar 3 menit yang lalu. Ajeng medesah pelan. Enggan berfikir yanag yang tidak-tidak. Namun kemungkinan sekali kalau Barata merajuk itu 99,99 % .


Sungguh saat ini keinginan dia adalah tidur, tidak ada yang lain. Satu persatu pembeli di layani oleh petugas kasir, dan kini giliran dia untuk membayar.


Setelah semua belanjaan masuk kedalam satu kantong plastik sedang, dan dia mengakhiri transaksi dengan meyerahkan beberapa uang lembaran merah.


"Terimakasih Mbak " Ucapnya setelah menerima kembalian pecahan lima ribuan dengan senyum.


Dia kemudian melanjutkan langkahnya ke konter obat, membeli obat pereda nyeri dan vitamin c sebagai penahan daya tahan tubuh. Beruntung, tidak membutuhkan waktu lama, dia mendapatkan apa yang dia mau.


Ajeng langsung berjalan ke parkiran, menuju ke arah mobil, di mana Pak Anto menunggu.


" Ini buat Pak Anto"


Setelah memasuki mobil, Ajeng memberikan sebuah kantong kecil berisi air mineral dan sebuah kue.


"Terima kasih Mbak"


"Langsung pulang ini?"


Mulai menstater mobil dan menjalankannya.


"Iya Pak."


"Mas Bara gak ada nelpon?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Tidak Mbak"


Ajeng kembali mendesah, mendengar jawaban dari Pak Anto.


Kepalanya kembali berdenyut, dia meraih sebotol air mineral, meneguknya kemudian memasukan obat yang tadi dia beli.


Jarak rumah yang sudah tidak sampai 5 menit lagi itu memaksanya untuk tetap membuka mata.


"Pasti akan lebih pusing lagi kalau aku tertidur" pikirnya, masih dengan tangan yang menekan pelipisnya.


"Ashila sama Ibu di rumah Pak?"


Mobil kini mulai mulai memasuki perumahan.


"Di rumah Mbak, tadi pulang jemput Ashila dari sekolah tidak ke butik."


"Ini kok ada truk masuk sini si?" Ajeng menyeritkan dahinya.


"Mas Bara tuh, borong-borong isi kamar. Sejak pulang udah sibuk sama Mbok War. Ibu saja heran." Pak Anto menghentikan laju mobilnya.


Ajeng turun, dengan membawa sekantong penuh belanjaan.


"Biar nanti saya saja yang bawa Mbak Jeng" Pak Anto terlihat sungkan.


"Udah gak papa, cuma segini kok" ucapnya berlalu.


"Asalamualaikum"


Ajeng memasuki rumah, terlihat suaminya itu sedang duduk santai bersama seorang lelaki.


"Walaikumsalam"


Kedua lelaki itu langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Yank" Barata berdiri menyambutnya.


"Maaf" lelaki tersebut tersenyum sungkan, saat tangannya tidak mendapat sambutan dari Ajeng.


"Kenalin, nyonya gue nih."


"Ajeng"


Dengan senyum lebarnya Barata memperkenalkan Ajeng kepada rekannya.


"Ini kakaknya Kartiko, owner rumah jati paling terkenal di seantero Banyumas raya"


"Mas Dika"


Tanpa di minta, Barata memperkenalkan Dika kepada, yang hanya Ajeng balas dengan anggukan dan senyum.


"Ahh, berlebihan lu Bar" Dika merendah sembari berdecak tak setuju.


"Dia yang bantuin beresin kamar kita Yank, aku ganti semua isinya, pasti kamu suka." Sikap Barata yang banyak bicara itu membuat hatinya lega, pertanda bahwa suaminya itu tidak marah padanya.


Ajeng hanya membalas dengan senyuman.


"Silakan di lanjut, saya ke belakang dulu" Ajeng berpamitan untuk masuk ke dapur, menyimpan belanjaan yang baru dia beli.


"Budhe" lengking suara keras terdengar di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Ashila.


Dia berlari dengan cepat, hingga rambut yang di ikat ekor kuda itu ikut bergerak.


"Haii sayang" meletakan kantong belanjaan di bawah meja.


"Budhe baru pulang?" Ashila menatapnya lekat.


"Iya, ini Budhe baru pulang. Mau mandi dulu. Bau acemm" Ajeng pura-pura mendengus baunya sendiri , kemudian menutup hidungnya.


"Shila udah mandi sama Mbok War. Kata Oma, Budhe sekarang bobo sini sama Papa?"

__ADS_1


"Iya, yuk, ke kamar Budhe, Budhe mau mandi." Ajeng mengajak Ashila untuk mengikutinya ke kamar.


"Oma mana?" tanyanya.


"Oma mandi." Berlari mendahului Ajeng ke kamar Ajeng.


Ajeng mengikuti Ashila, berjalan di belakangnya, Barata dan Dika tidak terlihat saat dia melewati tempat di mana mereka berbincang tadi.


"Tadi di sekolah mainan apa sama Bu guru?" Ajeng masih saja mengajak Ashila berbicara, hingga dia memasuki kamarnya sendiri.


Terlalu sungkan untuk masuk ke kamar Barata.


"Main bunga-bunga, bikin kupu-kupu juga" Ashila duduk di tepian ranjang.


"Hoaaam"


Ajeng menoleh. "Shila ngantuk? belum bobo siang kah?" Ajeng membuka jilbabnya, sebelum kemudian duduk di samping Ashila.


"Engga ngantuk Budhe. Mao di sini aja, nunggu Budhe mandi nanti kita main ya." Ucapnya sambil merebahkan diri di atas ranjang.


"Kalo begitu, Budhe mandi dulu ya. Shila tunggu sini." Ajeng mengecup puncak kepalanya. Kemudian berlalu memasuki kamar mandi.


Ajeng POV


Aku sedang menikmati guyuran air hangat dari shower, sedari siang selepas makan siang, tiba-tiba saja kepalaku terasa nyeri.


Belum lagi pikiranku akan Barata yang mengacuhkan semua panggilan dan pesan singkat ku. Salahku juga kenapa harus mematikan panggilannya saat Satrio masuk ke ruanganku.


Rasanya nikmat sekali saat guyuran air menerpa kepalaku, serasa di pijit-pijit. Mungkin besok aku harus spa dan melakukan body message.


Aku memekik kaget, saat sebuah tangan kekar memeluk ku dari belakang, menyentuh tubuh polos ku yang kini meremang karena bersentuhan dengan tubuh polosnya yang menempel di punggungku.


Siapa lagi kalau pelakunya kalau bukan Barata.


Aku membalikan tubuhku cepat, mastikan kalau itu memang benar-benar Barata.


Ku pukul dadanya pelan. "Sukanya bikin kaget aja" Dan seperti biasa, belum sempat melanjutkan kata-kataku, bibirku sudah dia ***** dengan cepat.


"Dan kamu suka bikin aku cemburu."


"Jangan pikir aku tidak marah atas apa yang sudah kamu lakukan siang tadi"


Dia menghentikan aktivitasnya sejenak untuk mengintimidasi ku, sebelum dia memberikan kecupan-kecupan di wajah dan leherku, sesekali memberikan tanda kepemilikan di leher dengan keras.


"Aku reflek aja, kaget ada Satrio"


"Jangan pernah sebut laki-laki lain saat sedang bersamaku" menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang lebar, kemudian ******* kembli bibirku dengan cepat.


Bukan Barata kalau namanya kalau dia tidak menci umi kun dengan rakus.


Aku hanya bisa melenguh, antara nikmat yang menyerang kepala dan tu buhku.


"Ashila di luar, nanti dia mendengar bagaimana?" Ucapku dengan tangan meremas rambutnya.


Aku menahan diri agar tidak terjatuh, sungguh aku bersumpah, Barata sangat pandai sekali membuat aku men desah berkali-kali.


"Tidak ada orang lain selain kita."


"Nikmati ini"


"Sebut namaku"


"Hanya namaku"


"Jangan memikirkan orang lain"


Barata benar-benar keterlaluan!!


Aku sama sekali tidak bisa berkutik. Hanya bisa mengikuti permainan yang dia mainkan. Men desah dan menyebut namanya berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2