
"Pokoknya Mama gak kasih kamu ijin ya kalo kamu tetep nekat pergi ke makam Reno sendirian. " Bu Suci masih setia menunggu Ajeng yang sedang bersiap untuk pergi mengunjungi mendiang suaminya.
"Naik taksi Ma, lagian juga ini masih siang. Ajeng bentaran doang kok" Ucapnya sambil sibuk mencari pasmina hitam untuk dikenakannya.
"Ya udah ayo mama ikut aja, biar aku ada temannya juga"
"Tapi aku lebih nyaman sendiri, aku bisa bebas ngobrol sama Mas Ren ma" Ajeng menghentikan kegiatannya. Duduk di kursi rias menghadap ke kaca besar. Melihat pantulan Mamanya yang mulai mendekat. Bimbang antara pergi atau tidak.
"Udah.. udah jangan baper gitu. Inget loh janjimu tadi. Gak ada tangisan. Kalo kamu nangis, Reno berat buat ninggalin kamu. Kamu gak boleh egois, ini memang sudah jalan yang terbaik menurutNYA. " Bu Suci merengkuh kedua lengan anak perempuannya, meremas lembut memberikan kekuatan.
"Belum siap Jeng? Itu Bara udah nyampe. Ibu tadi telpon dia tadi suruh pulang buat nganterin kamu" Bu Sukma memasuki kamar Ajeng yang memang terbuka itu.
"Alhamdulillah, kebetulan ada nak Bara,jadi mama gak udah nemenin. Mama mau packing baju mama buat di bawa pulang nanti. Udah ayo cepetan. "
"Nih besan, Ajeng dari tadi keukeh mau naik taksi. Sama saya gak di bolehin lah. Eh malah lemes lunglai begini." Bu Suci menarik tangan anaknya.
"Gak Ibu ijinin kalo naik taksi mah" Bu Sukma menimpali, sesekali menatap wajah menantunya yang terlihat kembali sendu.
" Kenapa harus Bara si Bu, gak enak sama calon istrinya dia. Mereka kan lama gak ketemu, pasti lagi ngabisin waktu berdua. Kepaksa kan nanti Bara nganterin Ajeng.. Belu... "
"Ayo cepat keburu jam makan siang ntar jalanan macet" Barata yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Ajeng membuat Ajeng seketika membungkam mulutnya rapat.
"Lah kamu turun? Ibu kan nyuruh nunggu di mobil aja biar Ajeng Ibu yang panggil" Bu Sukma mendekati anak bungsunya itu.
"Udah ayo cepat itu sudah di tunggu Nak Bara, gak enak kalo harus lama nunggu. Dia kan sibuk" Mama Suci meraih lengan anaknya untuk beranjak.
"Mama kenapa harus sama Bara segala si. Mending Ajeng gak jadi aja deh" Ajeng menghentikan langkahnya. Memandang lekat wajah ibunya.
"Kenapa? gak papa, Bara adik kamu juga."
"Tapi aku gak pernah jalan sama dia Ma"
"Gak papa, kali ini sekali-kali kamu di antar adikmu. Udah ayo cepat jangan bikin dia menunggu terlalu lama. Gak enak sama Ibu Sukma" Akhirnya Mama Suci berhasil meyakinkan Ajeng.
__ADS_1
"Ini kacamata buat nutupin mata yang sembab" Ibu Sukma yang sudah berdiri di teras menyerahkan kacamata hitamnya sambil tersenyum.
"Ingat pesan Ibu, jangan terlalu lama berdiam diri dan meratapi nasib. Tidak baik" Ucapnya sambil membuka pintu depan mobil. "Udah masuk" Perintahnya kemudian.
"D.. di De.. depan? " ucapnya terbata.
"Lah iya kann? Barata gak suka kalo penumpangnya duduk di belakang, kata dia, dia berasa jadi supir dan yang di belakang majikan. Makanya dia gak suka" Ibu berbicara pelan sambil terkekeh.
"Udah masuk" Bu Sukma mendorong pelan Ajeng agar segera memasuki mobil.
"Pulangnya di ajakin mampir makan ya Bar, tadi pagi cuma sarapan roti sehelai" Ibu Suci mendekati mobil, sebelum kaca mobil benar-benar tertutup.
"Siap Ibu Negara" Seloroh Bara yang di tanggapi dengan tawa kedua wanita paruh baya itu.
"Jalan dulu yaa" Barata menjalankan mobilnya dan membunyikan klakson tanda dia benar-benar pergi.
"Tolong mampir toko bunga dulu" Ajeng membuka suara saat mobil sudah berjalan mulus di jalanan.
"Dengan senang hati" Ucap Barata sambil menoleh melihat Ajeng yang bermuka datar tanpa ekspresi. Terlebih kacamata hitam yang dipakainya sulit untuk menembus pandangan ke arahnya.
"Cukup Bar, tak ada lagi yang perlu di jelaskan. Semua telah selesai dan usai. Tidak perlu ada lagi rasa yang memang seharusnya tidak pernah ada di antara kita.
" Aku benar-benar gak ngerti gimana jalan fikirmu Jeng. Kamu sengaja nikah sama Mas Reno buat ngancurin hidupku? iya?"
"Dan kalo itu benar,selamat kamu berhasil Jeng... "
"Cukup Bar!!!!! Aku benar-benar gak mau bahas apapun saat ini. Kamu bisa turunin aku di sini kalo kamu merasa keberatan dengan tumpanganku" Ajeng mengalihkan pandangannya dari jalanan yang dilaluinya untuk menatap adik iparnya itu.
Sementara Barata masih dengan fokus penglihatan dan perasaannya, mencoba berkonsentrasi dengan kemudi yang dia pegang semakin erat.
Tidak ada lagi suara di antara mereka. Hanya suara deri mesin dan sesekali suara klakson pengguna jalan yang lain. Membuat suasana semakin kaku.
Barata POV
__ADS_1
Aku melajukan kemudiku dengan cepat, manakala Ibu menelpon memintaku untuk mengantar Ajeng ke makan Mas Reno. Mungkin ini kesempatan aku buat ngobrol dengan dia dari hati ke hati.
2 tahun dia menjadi kakak iparku, aku tak pernah punya waktu untuk hanya sekedar ngobrol berdua. Baik saat dia dan Mas Reno berkunjung ke rumah Ibu, maupun saat aku berkunjung ke rumahnya bersama Ibu. Dia benar-benar menghindariku. Segala tentangnya terlihat begitu jauh dan gelap. Aku tidak bisa menggapainya barang sesaat.
Aku sampai di halaman rumah, dan Ibu menyambutku dengan wajah tak ramahnya.
"Nganter Anita lama banget, kaya gak ada waktu lain lagi. Kondisi kayak gini sempet-sempetnya curi-curi waktu buat pacaran!! Tunggu sini Ibu mau panggil Mbakmu biar cepet keluar" Ibu meninggalkanku yang masih di dalam mobil.
Aku hanya mendengus kesal, tak mengindahkan perintahnya, ku langkahkan kaki memasuki Rumah minimalis milik Mas Reno. Tenggorokan yang kering terasa mencekik leherku.
Saat kakiku hendak menuju ke dapur, samar-samar kudengar suara Ajeng "Kenapa harus Bara si Bu, gak enak sama calon istrinya dia. Mereka kan lama gak ketemu, pasti lagi ngabisin waktu berdua. Kepaksa kan nanti Bara nganterin Ajeng.. Belu... "
Ku dekati kamarnya "Ayo cepat keburu jam makan siang ntar jalanan macet" Aku memotong bicaranya yang hendak menolak kehadiranku lagi. Lagi dan lagi. Entah sudah berapa puluh kali selama dia menjadi istri Mas Reno dia selalu menolaku. Dan jujur aku merasa harga diriku ternodai.
Aku melupakan tujuan awalku masuk ke rumah untuk minum, kembali menuju ke mobil dengan langkah lebar.
Terdengar samar-samar Ibu tertawa, entah sedang membisikan apa kepada Ajeng yang hanya di balas dengan anggukan kepala.
Dan saat ku mulai menaikan kaca jendela, Mama Ajeng berteriak "Pulangnya di ajakin mampir makan ya Bar, tadi pagi cuma sarapan roti sehelai. "
Langsung ku jawab dengan tegas "Siap ibu negara" dan tanpa menunggu jawabannya aku langsung menjalankan mobil menuju ke arah pemakaman Mas Reno.
Jarak yang di tempuh tidaklah terlalu jauh, namun karena suasana yang canggung serasa membuat jalanan yang dilalui terasa jauh.
Aku mencoba membuka obrolan dengan Ajeng, namun sepertinya bahan obrolan yang ku pakai terlalu sensitif dan terkesan buru-buru. Sejujurnya aku hanya ingin tahu alasan apa dia meninggalkanku dan menikah dengan Mas Reno. Itu saja. Tapi sepertinya dengan tak sengaja aku menyakiti hatinya dan hatiku sendiri atas jawaban yang dia lontarkan kepadaku.
Ku hentikan mobilku tepat di depan toko bunga, ya sesuai permintaannya tadi. Dia ingin membeli bunga dahulu. Biar ku tebak, dia pasti membeli mawar putih. Tanda kasih bukan cinta. Berani taruhan pangkat kalau dia sampai membawa mawar merah di tangannya!
Tak butuh lama dia keluar dari toko tersebut dan Gotcha!!!! tebakanku tak pernah salah. Ajeng keluar dengan sebuket bunga mawar putih.
Tanpa menunggu komando aku langsung melajukan lagi mobilku, mengarahkan ke arah pemakaman umum yang jaraknya hanya tinggal beberapa kilometer lagi.
"Biarkan aku sendiri. Kamu bisa kesana setelah aku keluar" Ajeng mendahului ku masuk ke area pemakaman. Dan aku hanya bisa diam di dalam mobil menghormati privasinya yang tidak ingin di ganggu.
__ADS_1
Sebegitu cintakah kamu dengan kakaku? Sampai aku tak boleh membersamaimu hanya sebatas ziarah ke makamnya?
Aku hanya bisa mengerang frustasi, tak bisa berkutik dan hanya bisa menunggu. Diam sendiri.