Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
37


__ADS_3

Mbok War yang memasuki kamar terheran melihat Ajeng yang sedang menangis.


"Mbak.. "


Mengelus sulur rambutnya, sementara Ajeng yang di perlakuan dengan lembut, langsung menerjang Mbok War dan menangis tersedu dipekukan wanita tua itu.


Mbok War adalah rewang atau pembantu di rumah Ibu Sukma yang sudah puluhan tahun mengabdi. Ajeng menganggap Mbok War lebih dari sekedar rewang, Mbok War yang selalu membantunya saat masih tinggal bersama Ibu Sukma dan Mas Reno.


"Sakit Mbok, sakit sekali" Ucapnya tersedu.


"Kenapa semuanya harus seperti ini Mbok. Ajeng lelah seperti ini, Ajeng ingin bebas dari semua ini, melepas semua ini. Ajeng pingin buka lembaran baru. Jalani hidup baru. Tanpa mereka "


"Istighfar Mbak Jeng" Mbok War kembali mengelus rambut Ajeng.


"Ajeng minta tolong sama Mbok ya, Apapun yang Mbok War lihat, apapun yang Mbok War dengar, tolong, simpan hanya untuk diri Mbok sendiri. Ajeng mohon jangan ceritakan yang Mbok tau ke orang lain. Termasuk ibu. Ajeng sangat berterimakasih kalau Mbok bersedia memenuhi permintaan Ajeng. " Ajeng melepas pelukannya,menggenggam erat tangan Mbok War, menunggu jawaban dari Mbok War dengan mimik memohon.


Tanpa jawaban, Mbok War kembali memeluk Ajeng dengan erat. "Mbok janji, Mbok akan menutup rapat apa yang Mbok tahu. Mbak Ajeng mboten usah khawatir. " Perempuan paruh baya itu menenangkan.


"Sekarang makanlah, lalu minum obat, badan Mbak Ajeng panas sekali. Sini Mbok suapin" Mbok War meraih nampan yang berada dinatas nakas, mencanpurkan nasi dengan beberapa lauk dan sayur, kemudian menyuapi Ajeng dengan penuh sayang.


"Mbak bade tindak pundi? " Mbok War bertanya Ajeng akan pergi kemana. "Mbekto koper mbarangan? " dia heran dengan Ajeng yang akan membawa koper sekaligus.


"Ajeng ingin refresing Mbok, mencari ketenangan. Rasanya begitu sesak bila terus berada di sini"

__ADS_1


"Lah ibu mengkin pripun Mbak? " Mbok War bertanya nanti Ibu Sukma akan bagaimana tanpa dia.


"Ini kan sudah ada Mbak Anita, dia nanti yang akan menjaga Ibu Mbok, tugasku di sini sudah selesai. " Matanya kembali berkaca.


"Tidak ada yang tahu kan kalau selama ini Ajeng tertekan dengan rasa yang terpendam? boleh gak Ajeng cerita sama Mbok War?" Ijinnya.


"Dengan senang hati Mbok mireng Mbak" Ucapnya yang bersedia mendengarkan dirinya mencurahkan isi hatinya.


"Ajeng selama ini merasa sangat tidak enak, Ajeng di fasilitasi dengan segala kemewahan dari Ibu, dengan seluruh harta Mas Reno, sementara sekarang Ajeng siapa? Ajeng apa? hanya mantan istri dari anaknya. Sudah tidak ada ikatan apapun antara Ajeng dan Ibu mbok. Ajeng gak mau membebani Ibu. Biarlah sekarang Ajeng sendiri, merefleksikan diri dengan apa yang sudah Ajeng lalui. Semoga Mbak War bisa mengerti. "


"Bukannya Ajeng tidak sayang dengan Ibu, tanpa Ajeng bilang kalo Ajeng sayang ke Ibu pun kalian semua sudah tahu kan? Ajeng hanya tidak ingin menjadi benalu di rumah ini. Apalagi merusak kebahagiaan Anita dan Barata Mbok"


"Mungkin berbeda halnya, jika Ajeng punya anak dari Mas Ren, tapi nyatanya Ajeng dan Mas Reno tidak bisa menghasilkan keturunan. Ajeng jadi merasa seperti uress-ures di keluarga ini. Makanya Ajeng pingin pergi, sejauh mungkin tanpa ada yang bisa mencegahnya.. " Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Merasa putus asa dengan hidupnya saat ini.


Setelah merasa makan cukup banyak, Ajeng meminun obat yang sudah di sediakan oleh Mbok War.


"Mbok, maaf merepotkan lagi, Ajeng mau minta tolong" Beranjak menuju almari besarnya, untuk mengambil boks yang selama ini dia curi dari sang empunya. .


Dia tidak akan miungkin merasa kehilangan benda ini.


"Tolong titip buang ya, ingat Mbok, jangan sampai penghuni rumah ini tau ya, cukup Mbok War saja. Sungguh. Ajeng minta tolong dengan sangat."


Dia menyerahkan boks tersebut kepada Mbok War, sebelum Mbok War beranjak dari kamarnya.

__ADS_1


"InshaAllah Mbok pegang amanat dari Mbak Ajeng baik-baik ya. " Seniki, ngaso mawon, ampun katehen pikiran. Sedoyo bakal sae-sae mawon. Gusti bakal maringi ingkang paling sae kagem Mbak Ajeng, asal Mbak Ajeng sabar, nrimo ing pangdum. " Mbok War memberikan wejangan, menasihati dirinya agar tenang, tidak perlu dipikirkan karena semuanya akan baik-baik saja. Allah akan memberikan segala yang terbaik untuknya, asalkan dia bersabar dengan segala takdir yang sudah Allah tuliskan.


"Tolongin Ajeng ganti baju dulu" pintanya.


"Ajeng mau pulang ke Cilongok dulu, tapi Mbok tidak usah bilang ke siapa-siapa. Ajeng ingin sendiri saat ini. Ya Mbok ya? " Perempuan itu merajuk.


Mbok War hanya menuruti permintaan majikan kesayangannya itu.


Bade kepripun mengkin Ibu Mbak Jeng, nekan Mbak Ajeng kesah. Mesakke. Mugi-mugi sesoyo sami dipun paringi sehat-sehat. Aamiin.


Maafkan Update terlambat ya, di karenkan episode selanjutnya tertolak hahahahah.


Saking semangatnya Anita mencaci Ajeng dengan sebutan Ja L a ng, sampe gak lolos review😂😂


But apapun itu udah double up ya hari ini😊


Jangan lupa jempolnya yaa, keasyiken scroll lupa klik jempol🤭


Maksa banget yakk..


Iya lah maksa, kalo gak maksa suka kelupaan. Iya kannn🤣🤣


Happy Wednesday,

__ADS_1


Semoga harimu diindahkan aamiin


__ADS_2