Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
32


__ADS_3

Barata POV


Semuanya berjalan begitu mudah, diluar ekspetasi ku. Semua urusan selesai dalam waktu 2 hari, dan hari ini pula Ibu beserta Anita dan ibunya kembali ke Banyumas. Aku mengantarkan mereka sampai ke Stasiun Gambir.


"Jaga kesehatan ya Le, Ibu akan urus semuanya. Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Jaga diri baik-baik ya" Sepenggal nasihat ibu yang kutangkap sebelum masuk ke kereta.


Aku hanya memandangi kepergiannya, tak ada jawaban apapun dariku. Hingga suara klakson kereta memekakan telingaku dan kereta berjalan lambat hingga beraangsur-angsur menghilang, aku masih duduk di kursi keberangkatan. Merenungi apa yang terjadi kepadaku selama ini.


Terus terang saja, aku tidak tahu ini jalan terbaik untukku atau bukan, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang laki-laki yang harus bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan. Dan juga tuntutan dari Ibu untuk segera menikah. Sudah hanya itu. Aku tipikal orang yang hanya mengikuti alur hidup, mengalir seperti air, mengikuti perintah komandan, menjalankan tugas sebaik mungkin. Tak ada cita atau cinta setelah dia menghilang begitu saja dari hidupku. Aku tak bisa merubah apapun saat ini.


Aku juga tak tahu bagaimana kedepannya rumah tangga aku nantinya, rumah tangga tanpa cinta. Dingin, kaku, bukankah seharusnya rumah itu adalah tempat untuk beristirahat setelah melakukan kegiatan panjang menghabiskan hari. Entahlah. Aku benar-benar tidak ada gambaran apapun tentang menikah, pernikahan tepatnya. Jadi mungkin hal terbaiknya aku serahkan kepada Ibu.


Perasaanku kepada Anita pun hanya sebatas perasaan kepada teman. Tak lebih. Aku berharap ini memang takdir terbaikku. Dan sebulan bukanlah waktu yang lama. Aku memang tak ingin ada acara sangkur pora. Terlalu melelahkan. Aku hanya ingin syukuran sederhana saja, tapi kalian bisa menebak bagaimana dengan Anita bukan?


Rasanya aku terlalu lelah mengabaikan kata hati. Atau aku sendiri memang yang tak begitu peka dengan keadaan sekitar, tidak pandai membaca hati orang, apalagi untuk urusan percintaan. Meskipun aku didik keras dengan macam-macam strategi, beladiri, namun lemah dalam urusan percintaan.


Aku hanya pernah sekali mencinta, dan rasa itu selama ini selalu ada. Aku fikir akan menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Namun malah justru semakin rimbun, menggila dan menjebak diriku sendiri.


Aku sudah berusaha, mencoba untuk menggapai cintaku, namun apa? dia ternyata malah memberiku selamat. Aku sudah berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa Ajeng sudah tidak menginginkan aku, namun hati kecilku memaksa untuk menyanggahnya. Dan taukah kalian apa yang kudapati? kecewa. Teramat sangat, teramat dalam.


Dia membisu, hingga aku memutus pembicaraan dengannya, tak ada satu kecap pun perkataan yang keluar dari mulutnya. Ya, ku rasa aku sudah gila, mengingini dia sebegitu hebatnya. Menggilanya dengan tak tahu dirinya, hingga menelpon semua orang yang berhubungan dengannya, berharap satu diantara mereka bisa mengerti maksudku. Namun nihil. Tak ada seorangpun yang bisa mengerti aku!!


Kalau boleh, dan ada kesempatan, aku hanya ingin memeluknya. Sekejap saja. Jauh di relung hatiku cintaku tetap ada, dan takan pernah berpindah. Meskipun aku sudah memilih Anita, aku takan pernah menghapus dia dari diriku. Dia selalu di hati. Takan terganti, apalagi lekang oleh waktu. Tidak akan!


Silahkan kalian memakiku sesuka kalian, cukup dan harus di ketahui pepatah lawas yang mengatakan bahwa kita tidak bisa memilih dimana cinta berpihak. Cintaku berpihak pada Ajeng, meskipun nyatanya ragaku ada pada Anita. Cintaku tak salah, Diriku yang salah. Dan itu tidak bisa di sangkal lagi.


Ajeng POV


Aku tiba di rumah, saat Mbok Kamti sedang menyapu halaman.

__ADS_1


"Mbak Jeng" dia menyapaku.


"Panas-panas gini kok nyapu, kaya gak ada hari lain aja. Ntar item loh Mbok" Aku meledeknya.


"Sengaja siangan Mbak, biar gak ada angin, langsung bisa di bakar jadi gak terbang-terbang lagi"


"Mama Bapak udah pulang? " Tanyaku.


"Ibu kaliyan Bapak konjalan Mbak, Mbak Ningrum lagi di kota" Mbok Kamti menjelaskan padaku kalau Bapak sama Mama sedang pergi ke acara kondangan dan Ningrum lagi ke kota.


"Kondangan Ndi? " aku menanyakan mereka kondangan ke mana.


"Tirose teng Ajibarang, rencang sekolah Bapak" Ternyata Bapak sama mama kondangan ke Ajibarang, ke tempat teman sekolah.


"Ya udah Ajeng masuk ya mbok" Ucapku berlalu.


Aku berjalan melewati halaman, langsung menuju ke kamarku. Untuk kalian ketahui sedikit, desaku ini terletak di lereng gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif. Suhu normal di sini berkisar antara 29-30 derajat celcius. Jangan tanya jika waktu pagi menjelang subuh, suhu di sini sangat dingin, bisa mencapai 18-20 derajat celcius.


Dan aku baru saja berkunjung untuk sekedar melepas rasa lelah hati, sayangnya aku malah menjadi objek dari pria tengil yang membuatku jengkel!


Agak ke bawah sedikit, ada gerumbul Sirongge yang terkenal dengan rumah Joglo Akik. Rumah Joglo jaman dahulu yang di sekelilingnya di tumbuhi oleh pohon kayu manis, dimana di tempat itu terdapat banyak batu akik yang di pamerkan. Tempatnya sedikit masuk ke dalam, suasana yang sepi semakin membuat tempat itu terasa sedikit angker kalo aku bilang, meskipun setiap hari ada saja pengunjungnya.


Seketika aku teringat dengan Butik yang ku tinggal begitu saja. Perasaanku tak enak. Ada apa ini.


Ku aktifkan ponselku, dan segera ku telpon butik. Ku lirik jam yang sudah terlewat untuk makan siang. Aku hanya khawatir, orang butik udah makan belum ya?


Tak berselang lama, panggilan di jawab oleh seseorang, yaitu Vika. Aku berbasa-basi sebentar dengan Vika, sebelum akhirnya aku berpamitan kalau malam ini aku nginap di Cilongok dan berjanji kalau esok hari kita akan bertemu di Butik.


Rasanya aku harus menata diri lagi, dengan hidup yang benar-benar lepas dari segala bayang keluarga Ibu Sukma. Alasaku apa? tidak mungkin aku tiba-tiba pergi begitu saja, melepaskan diriku begitu saja dari Ibu Sukma. Dia begitu baik padaku. Dan aku pun tidak mungkin bisa dan mampu melihat Barata bersama Anita. Sungguh aku tak sanggup.

__ADS_1


Aku tidak mungkin bisa hidup terbelenggu dengan masa lalu bukan? Tidak juga semudah itu melupakan segalanya, Harus bagaimana??


Apa aku harus egois? menjadi perebut calon suami orang? Astaga!!!! aku juga masih punya perasaan. Bagaimana kalau aku di posisi Anita? Sakit.


Memang aku harus belajar ikhlas, aku harus bisa menerima ini semua. Meskipun aku tak suka. Mungkin apa-apa yang tidak aku sukai itu adalah yang terbaik bagiku, dan apa-apa yang aku sukai, belum tentu itu baik untuk aku. Hanya Allah yang tahu segalanya jalan hidupku.


Allah? Allah?


Tiba-tiba saja aku ingat perkataan cowok tengil tadi.


..."Gak pingin ngadu gitu? cepet amat"...


..."Bukan gitu neng, biasanya kalo orang lagi ada masalah itu suka ngadu, ngadu ke yang bikin hidup. biar di tolongin, masalahnya di kelarin, si mudahin. Iih si eneng mah gitu"...


Aku memang selama ini jauh dari Allah, sholat jika ingat dan tidak menjadi prioritas ku selama ini, Ya Allah.. Ampuni Hamba.


"Mbak Jeng" Mbok Kamti mengetuk pintu kamarku. Membuyarkan seluruh fikiran yang berkecamuk di dada.


Dia pasti berpamitan akan pulang.


"Ya Mbok" aku beranjak, membuka pintu kamar.


"Kulo bade wangsul riyin, mbok mbak Ajeng madosi mengkin" Benar dugaanku, mbok Kamti bepamitan padaku kali dia akan pulang, takut-takut kalau aku mencarinya dia tak ada.


"Eh Mbok, bentar. Sini masuk dulu, aku pingin tanya sebentar. " aku menarik tangan Mbok Kamti untuk duduk di ranjangku.


"Aku mau tanya, Tapi jangan di ketawain ya" Sebenarnya aku malu untuk mengutarakannya.


"Aku pingin belajar Ngaji, bisa mbok beri tahu, siapa yang bisa bantu aku buat belajar ngaji?" Satu keinginan dan pertanyaan yang aku keluarkan tanpa berfikir dahulu.

__ADS_1


Sedangkan Mbok Kamti hanya tersenyum memandangku, sambil mengusap lebut sulur rambutku.


__ADS_2