
Barata memasuki mobilnya, setelah cukup lama berbincang dengan Naufal. Hatinya terasa lega setelah mendengar penuturan laki-laki slengean itu. Namun ada kebencian yang bersemayam di sudut hatinya manakala mengingat cerita tentang Istrinya, Anita.
Dia sudah merencanakan beberapa kejutan untuk Anita, tentunya dengan menguatkan praduga dia.
Dia memandang wanita yang sedang tidur pulas di kursi penumpang, melihat raut wajah sedih yang masih sangat kentara, meringkuk menghadapnya dengan posisi yang sangat tidak nyaman untuk di lihat.
Ia ragu, antara membetulkan letak duduknya atau mulai menjalankan mobil, hingga akhirnya dia memilih untuk menjalankan mobilnya, dia takut jika nanti justru membuat Ajeng terbangun.
Dia mengemudikan mobil dengan perlahan meninggalkan parkiran toko. Menuju kembali ke rumah sakit. Dia sudah tidak punya banyak waktu lagi. Ba'da Isya nanti dia harus berangkat ke statiun, karena esok hari dia mulai bertugas kembali.
Begitu sampai di parkiran rumah sakit, Ajeng tak kunjung membuka matanya. Terlalu lelah mungkin dia. Barata mengarahkan jemarinya untuk menyentuh wajah polos Ajeng yang sama sakali tidak berpoles make up itu. Sangat kontras dengan wajah Anita yang selama ini selalu bermake up tebal.
"Terimakasih, masih menyimpan cinta yang begitu besar untukmu. Secepatnya semua akan berubah. Aku harap, cintamu tidak akan pernah berkurang untukku, bahkan berpindah ke lain hati" mengusap lembut pipi Ajeng.
Namun sepertinya, mengusap pipi tembem milik Ajeng tidak membuat dirinya puas, bibir ranum itu menggoda untuk dia lu mat, rasa yang begitu menggebu semakin menguatkan keingin untuk melakukannya, perlahan dia dekatkan wajahnya ke arah Ajeng, hampir, sedikit lagi Dan sialnya mata yang tadinya terpejam, kini membulat sempurna.
" Heiiihh mau apa? " Ajeng berteriak di depan wajah Barata.
Barata hanya terdiam, sedetik kemudian memamerkan giginya yang rapih itu. "Molor terus, ya mau bangunin lah, udah sampe" Menyentil pelan dahi yang tidak tertutup jilbab itu.
"Auuwww.. sakit Bar" Memukul lengan kekar Barata, yang pastinya tidak sakit sama sekali untuknya.
"Yuk turun, Ibu pasti udah nunggu" Melepas seatbelt nya.
"Tunggu" menarik tangan Barata, agar tidak beranjak dari duduknya. "Naufal cerita apa aja sama kamu?" Rasa cemasnya begitu ketara di raut mukanya.
"Apa lagi selain cerita tentang hancur hatinya karenamu" tertawa sembari meraih tangan Ajeng yang masih memegang lengannya. "Ini hobby banget bikin patah hati sii" mencubit hidung mungil Ajeng.
"Hiiihhhh!!!! aku serius Bara!!!!" pekiknya.
"Aku lima rius" menunjukan kelima jarinya. " Udah akh, males aku ngomongin dia, gak penting" Menghindar dari pertanyaan Ajeng yang terlihat ingin membuka mulutnya kembali karena rasa penasarannya.
Barata keluar lebih dahulu, kemudian berjalan ke arah bagasi mobil, membawa sekantung besar aneka buah Dan asinan pesanan Ibu, Dan plastik berukuran sedang yang berisi jus.
Ajeng yang melihatnya dari sepion, langsung beranjak dari duduknya, keluar dari mobil menyusul Barata.
"Biar kantong yang kecil aku bawa" Mengulurkan tangannya.
"Terimakasih" Barata menyerahkannya dan berjalan mendahului Ajeng.
Mereka berjalan tanpa suara, hingga keduanya sampai di kamar Ibu.
"Asalamualaikum" Barata memasuki kamar Ibunya terlebih dahulu. Disusul kemudian Ajeng.
"Mampir kemana dulu? lama sekali nak?" Ibu yang sedari tadi gelisah menunggu kedatangan mereka, kini bisa bernafas lega.
"Tadi ketemu orang yang patah hati, jadi curhat kemana-mana deh" Barata meletakan kantong yang Ia bawa di bawah meja.
"Orang patah hati? siapa? " Bu Sukma memandang Ajeng.
Sementara Ajeng hanya mengangkat bahu, kemudian duduk di sebelah Mbok War yang kini sudah bersiap akan pulang.
__ADS_1
"Lama ya Mbok, maaf ya" ucapnya.
"Mboten mbak" Tersenyum ke arah Ajeng.
"Naufal Bu, ternyata selama ini dia ada rasa sama Ajeng" tertawa sembari melirik reaksi wanita di depannya.
"Buat Mbok" Ajeng tidak memperdulikan perkataan Barata, malah sibuk memberikan jus kepada Mbok War. "Oya sekalian ini, asinan. Nanti si makan di rumah aja ya takut kesorean, bentar lagi maghrib" Melirik jam yang membelit lengannya.
"Maturnuwun Mbak Jeng, kulo pamit nggih bu, Mas" berdiri membawa kantong yang Ajeng berikan.
"Hati-hati ya War, suwun yo" Ibu mengucapkan terimakasih kepada Mbok War.
"Udah dateng jemputannya kan Mbok? " Ajeng berjalan mengantar Mbok War sampai pintu.
"Sampun Mbak, wantun kan pyambekan? tirose mas Barata seniki kondur? " Mbok war bertanya apakah dia berani? katanya Barata sekarang berangkat.
"Berani dong, hati-hati ya"
"Pareng Mbak, Asalamualaikum" ucap Mbok War berlalu. Sementara, Ajeng langsung menutup pintu Dan masuk ke dalam.
"Mau makan sekarang bu? " tanyanya yang melihat ibu sedang mengobrol dengan Barata, terlihat senyum ibu terbit di kedua sudur bibirnya.
Sepertinya Naufal tidak memberi tahu Bara tentang Anita, syukurlah batin Ajeng.
"Boleh" menatap Ajeng sesaat sambil tersenyum.
"Kamu udah bilang sama Anita kalau mau berangkat malam ini? "
"Kasihan dia Bar, temuilah. Meski sebentar"
"Di lihat nanti ya Bu" Barata mengakhiri pembicaraan mereka tentang Anita.
Lihat Nit, ibu ku begitu memikirkan perasanmu. Sedangkan kamu? sama sekali tidak ada rasa gemati sedikitpun pada beliau. Barata membatin.
"Makan ya Bu" Ajeng mendekat, untuk menyuapi Ibu.
"Aku gak di tawarin Mbak? " Barata melihat Ajeng begitu telatennya menyuapi Ibu .
"Gak usah manja, itu tinggal ambil sendiri" Jawabnya ketus.
"Ya elaah, gak sekalian di bukain" Beranjak menuju nakas, dimana Ajeng meletakan asinan. Meraih asinan sayur yang hanya ada satu itu. Menuangkannya ke dalam mangkuk dan melahapnya tanpa dosa.
"Enak, besok kalo aku cuti lagi, kita makan di sana rame-rame ya Bu" Berkata dengan mulut penuh.
Ajeng melihat tingkah Barata yang sedang melahap asinan yang ada di depannya, kemudian tersadar bahwa itu asinan milik dia.
"iiihhh Baraaaaa, kenapa asinan sayurnya di makan siii" dengan gemas, mendekati Barata dan merebut mangkuk yang isinya tinggal seperempat itu.
"Lah, mana tahu" wajah polosnya terlihat menyesal.
"Kenapa gak tanya Jemmbrrraaangggggg" pekiknya kesal.
__ADS_1
Sementara Ibu hanya tersenyum melihat kelakuan mereka yang persis seperti tikus dan kucing yang tak pernah akur.
Ya Allah, kalau saja mereka di takdirkan bersama, aku tidak akan meminta apapun lagi kecuali kebahagian mereka berdua selamanya.
Haari ini, Bu Sukma terlihat puas sekali. Meelihat kedua anaknya bisa berbaur, dia tau kalau sebenarnya mereka masih memendam cinta yang menggebu. Dia begitu bangga dengan keduanya. Mampu membawa diri mereka, memposisikan diri dengan status mereka. Ajeng sebagai kaka ipar, dan Barata sebagai adik yang baik.
Mereka melaksanakan sholat maghrib dan Isya berjamaah di dalam kamar ibu. Ibu dan Ajeng menjadi makmum. Ibu dengan posisi duduknya dan Ajeng tepat di belakang Barata.
Dan tibalah waktu mereka bepisah, Ibu yang sedari tadi menyuh Barata untuk lekas pulang, agar bisa berpamitan dengan Anita sama sekali tidak diindahkan Barata. Dia malah asyik dengan ponselnya.
"Udah jam setengah delapan loh dek, keretamu jam berapa? " untuk yang kesekian kalinya Ibu menegur Barata.
"Hah? iya bentar lagi. Ni tanggung lagi ngomongin kerjaan sama Baskara" memandang sebentar ke arah Ibunya. Kemudian beranjak berdiri.
"Keretaku jam 9 Bu, ya udah Bara jalan sekarang ya" Mendekat ke arah Ibunya. "Mbak, nitip Ibu ya, kalau ada apa-apa kabari, Ibu gak usah pegang HP dulu, gak usah ngurusin kerjaan. Gak usah terlalu banyak fikiran. Doain pengajuan mutasiku cepat di proses, biar aku gak jauh-jauh sama Ibu, biar lebih mudah juga mantau Ibu" Barata memandang Ajeng dan Ibu bergantian.
"Iya Nak, kamu jaga kesehatan yaa" Ibu Sukma memerima pelukan dan ciuman dari anak laki-laki nya itu.
"Jalan dulu ya Mbak" Beralih ke Ajeng dan tanpa sungkang memeluknya erat.
Ajeng hanya mematung, tidak membalas pelukannya maupun perkataannyan.
Kerlingan matanya, saat melepas pelukan erat dari Ajeng, membuat wanita itu salah tingkah. Buru-buru membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Oke aku jalan dulu ya semua"
"Asalamualaikum" Berjalan menuju pintu.
"Oya, pastikan ponselmu selalu aktif ya Mbak, kembali menolehkan kepalanya, memandang Ajeng yang masih dalam posisi semula.
"Ya, tak usah khawatir" jawab Ajeng sambil mendekat ke arah ya.
"Bisa-bisanya kau bertingkah seperti itu di depan ibu. Seperti tidak punya malu saja!!!" Berbicara pelan, agar ibu di belakang tidak bisa mendengarnya
"Hahahaha" Barata tertawa senang melihat ekspresi Ajeng.
"Bahkan aku bisa melakukan lebih kaka ipar" ucapnya gemas.
"Hati-hati" Mendorong Barata untuk lekas keluar dari kamar, kemudian menutup pintunya dengan cepat.
"Aku pasti sudah gila" gumamnya pada diri sendiri.
...****************...
Sisipi manis-manis dikit ya, biar gak tegang terusðŸ¤
Sabtu - Ahad Libur yaaa..
Buat yang sedang banyak urusan, semoga segalanya di mudahkan😊
Sehat-sehat semuanya 😘😘😘
__ADS_1