Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
88


__ADS_3

"Kamu di mana? temui aku di kafe X!" selepas mengantar Ashila sampai ke rumah Bu Sukma, bertemu dengan Ajeng dan sedikit menggertak perempuan yang bisa dilihat kalau Ashila begitu menyayanginya, Rafi menelpon seseorang.


"Kamu gila Mas, berani-beraninya bawa Ashila pergi!" jawaban dari seberang justru menerbitkan senyum liciknya. Tanpa membuang waktu lagi, dia mematikan sambungan telepon, dan memasuki mobilnya melaju ke kafe X.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya dia sampai di kafe, tempat dimana dia adakan janji temu.


Rafi dapat melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya sudah sampai terlebih dahulu dengan memakai seragam dinasnya, yang sudah duduk di sebuah kursi yang letaknya berada di pojok ruangan, tepat di sebelah kaca besar yang memperlihatkan jalanan kota siang hari.


"Kamu gila Mas!" satu kata yang dia ucapkan mana kala Rafi sudah duduk di hadapannya.


"Kami bener-bener gila, gak mikirin aku sama sekali! gimana kalau nanti Ashila cerita ke Eyang atau Papanya kalo kamu dapet akses masuk buat deketin dia dari aku?" suara teriakan yang tertahan cukup membuat beberapa pengunjung cafe menoleh ke meja mereka.


"Kenapa kamu gak minta ijin aku dulu buat bawa dia pergi? dimana Ashila sekarang? Eyangnya begitu panik mencari dia!"


"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya milikku, tidak lebih, hanya itu!" ucapnya cuek sembari mengeluarkan sebatang rokok kemudian, menyalakannya.


"Tapi tidak seperti itu juga! sama saja kamu menghancurkan karir adik kamu sendiri! kalo sampai keluarga Ashila tau dan aku di keluarkan dari sekolah bagaimana? pikiranmu gak sampai situ! masih saja mikir pendek berbuat sesukamu! tidak pernah berpikir panjang sebab akibat yang akan didapat! gak bisa belajar dari pengalaman kamu!" mendengus kesal.


"Sekarang katakan dimana kamu sembunyikan Ashila?"


"Gak bakalan mereka berani ngeluarin kamu Rin, percaya sama Mas. Mas hanya menyesal saja, menyia-nyiakan anak perempuan yang selama ini gak bisa Mbak mu berikan!"

__ADS_1


"Ashila gak aku bawa kabur, udah aku anter ke rumahnya dan perempuan itu yang menerima anakku."


"Kenapa baru sekarang? kenapa gak dari dulu aja? ngurusin dari bayi, gak sekarang udah gede, cantik, cerdas gitu baru diminta!"


"Apa sih sebenarnya rencanamu? Gak takut di coret dari kartu keluarga?" dengan kesal Ririn- adik Rafi mengingatkan.


"Justru karena sekarang keadaan berbalik, makanya aku berani ambil keputusan kayak gini, Mbak mu pasti juga gak bakalan keberatan."


Ya, tak berselang lama setelah kejadian yang menimpa Anita, dan tingkah bejadnya di ketahui oleh Sriya-istri Rafi, Sriya diketahui sedang mengandung, dan itu juga yang menjadi keberuntungan untuk Rafi, dengan kondisi dia yang sedang hamil, Sriya mengurungkan diri untuk tidak sampai menceraikan dirinya, hanya memberikan Rafi satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya.


Namun takdir berkata lain, Allah seolah-olah menegur Rafi dengan diambilnya kembali bayi beserta dengan rahim tempat tumbuh bayi di perut istrinya. Bayi perempuan yang digadang-gadang akan menjadi anak kesayangan Rafi itu nyatanya justru meninggal di dalam kandungan akibat perdarahan hebat, dan dengan diagnosis plasenta akreta, atau ari-ari yang sangat menempel jauh ke dalam sampai otot rahim, sehingga rahim pun harus di angkat.


Bagai jatuh, tertimpa tangga pula, begitulah nasib Rafi. Setelah kejadian itu, dia selalu merenungi apa yang telah terjadi, dengan sebab akibat yang sudah dia alami dan dapati. Rasa bersalah terus menghantui dirinya, yang terkadang membuat dia seperti orang tak waras.


Sayangnya, dia tidak mempunyai stok rasa malu yang tinggi, bahkan dengan tidak tahu dirinya, kini dia mencoba merebut apa yang sudah orang lain usahakan dengan susah payah!


Dia tidak sengaja mengetahui kalau Ashila sekolah di tempat Ririn adiknya mengajar. Berawal dari kunjungan Rafi ke rumah Ririn beberapa bulan yang lalu dan, Rafi menawarkan untuk mengantar Ririn ke sekolah. Ketika mereka tiba di sekolah, penglihatannya tidak sengaja menangkap Barata yang sedang menggandeng anak perempuan yang sialnya wajahnya sangat mirip dengan anak sulungnya.


Dia langsung tahu, kalau itu adalah anak perempuan yang hampir 5 tahun lalu dia buang begitu saja. Awal-awal dia melakukan pendekatan melalui Rini, setelah kemudian berhasil mengambil hati Ashila, mengaku sebagai saudaranya.


Mencuri-curi waktu untuk hanya sekedar melihat, kemudian mengobrol dan akhirnya nafsu untuk merebut miliknya yang selama ini dia sia-siakan tak bisa lagi ditahan, hingga kejadian siang tadi membuat adiknya, Ririn begitu geram dan ketakutan di waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Dia sudah mempersiapkan segalanya, termasuk tes DNA untuk keakuratan data nantinya jika dibutuhkan. Bukan hal sulit baginya hanya untuk sekedar mengambil beberapa helai rambut Ashila.


"Kamu gak boleh egois, bagaimana nanti perasaan Mbak Sriya bila berhadapan dengan Ashila? anak dari selingkuhan kamu? gak waras kamu Mas!" Ririn masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya tersebut.


"Aku sudah berikan salinan hasil tes DNA, aku harap bisa melunakkan pikiran keluarga Barata." Kembali menghisap rokok yang masih separuh itu.


"Yang aku pikirkan cuma Mbak Sriya, bukan yang lain! dan untuk Ashila, aku berani taruhan kalau dia tidak akan pernah mau meninggalkan Barata, apa lagi Ajeng yang kini sudah menjadi Mama barunya!"


"Dan gak segampang itu ambil Asha dari tangan mereka, mereka bukan orang sembarangan!" saking kesalnya, Ririn melotot ke arah Rafi.


"Itu urusan belakang, yang jelas aku hanya ingin memberi tahu kebenarannya kepada Ashila, dan aku ingin Ashila kembali padaku."


"Dan Untuk Sriya, aku yakin dia tak akan mungkin keberatan dengan Ashila. Siapa yang dapat menolak kehadiran gadis kecil yang mungil, manis, cantik rupawan dan cerdas seperti Ashila?" lagi-lagi senyum liciknya terbit.


"Gak segampang itu Ferguson!"


"Terserah! pokoknya aku gak mau tahu apapun yang akan Mas lakukan. Aku hanya minta satu, Mas harus tanggung jawab jika nanti namaku terseret!" Ririn keukeh dengan permintaannya.


"Calm down," ujarnya santai.


Pembicaraan mereka terhenti kala pramusaji datang membawa pesanan milik Ririn.

__ADS_1


"Aku lapar, jadi langsung pesan dulu. Aku pesankan Mas pasta. Kalo gak mau bungkus aja biar aku bawa pulang!" Ririn berbicara masih dengan menggunakan mode kesalnya.


"Ya aku makan." Meraih garpu yang berada disebelah kirinya, kemudian mereka menikmati makan siang masing-masing dalam diam.


__ADS_2