Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
33


__ADS_3

Semua berlalu begitu cepat, tidak ada yang bisa menghentikan waktu barang sekejap. Setiap-tiap hamba menjalani alur cerita hidupnya masing-masing. Barata dengan status barunya sebagai suami orang, yang pagi tadi, baru saja di sahkan dan di saksikan oleh kerabat, rekan kerja dan para sahabatnya.


Ajeng, dengan rutinitas barunya, sedang sibuk untuk mendaftarkan kembali menjadi mahasiswi untuk menempuh pendidikan S2nya, dan masih menjadi asisten kesayangan Ibu Sukma. Bukan asisten, tepatnya anak kesayangan.


Satu bulan belakang ini benar-benar membuat dirinya mengintrospeksi diri dengan begitu banyak renungan dan pertimbangan. Berkat Mbok Kamti, dia berkenalan dengan Ibu Weni. Beliau adalah istri dari salah satu perangkat desa atau pemerintahan desa setempat. Beliau juga yang menaungi beberapa TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) di desanya. Selain melancarkan bacaan Qurannya, jiwanya juga selalu di sisipi siraman rohani yang sering di sisipkan oleh Bu Weni saat proses belajar Al Qur'an berlangsung.


Kini, ada satu kehangatan di sudut hatinya. Dia mulai bisa tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan keadaan. Pertemuan dengan pria tengil yang beberapa waktu lalu membuat dia kesal setengah hidup, nyatanya kini mereka justru dilibatkan dalam satu project. Dunia sesempit itu!


Flashback on


Sore harinya setelah bertemu dengan Bu Weni, Ajeng mendapatkan telpon dari Vika, yang mengabarkan bahwa Ibu Sukma sedang dalam perjalanan pulang, dan ba'da Maghrib nanti, Vika mengajaknya untuk bertemu dengan fotografer yang sudah di kontak Vika. Vika bersikeras bahwa hanya hari ini orang tersebut memiliki waktu luang. Akhirnya dengan berat hati Ajeng kembali ke Butik saat itu juga, bahkan dia belum sempat bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Siapa yang ngabarin kalo Ibu pulang hari ini? " Ajeng mencerca Vika yang menyambut kedatangannya.


"Pak Barata lah, di beberapa kali telpon, nanyain Mbak Jeng, terus tanya Mbak di mana"


"Terus telpon lagi, katanya Ibu sudah lagi jalan pulang. Katanya Mbak Ajeng suruh jemput. Pak Anto lagi di suruh kemana gak tau itu sama Pak Bara" Vika meraih ponselnya, ketika ada panggilan masuk.


"Ya Mas Fal, panjenengan langsung ke butik aja ya, sekalian ketemu sama yang punya. Iya nih udah di butik. Ya abis maghrib ya, kutunggu. On time ya." Pesan Vika sebelum dia mematikan ponselnya.


"Naufal Mbak Jeng, temen aku yang mau foto-fotoin barang kita. Bisanya habis maghrib dia, baru pulang dari mbolang katanya" Vika terkekeh.


"Jangan terpesona nanti ya Mbak Jeng, Naufal itu pria yang modis abis, cool, ganteng banget pulak. Uwuuhh dulu ya di kampus jadi mahasiswa terus ganteng pokoknya. Adik angkatannya nih, kaya aku contohnya, gak ada yang gak ngidolain dia" Tertawa senang.


"Beruntung aku pernah di ajakin project bareng, jadi aku bisa deket sama dia. Punya nomernya juga, aahh gak sabar pingin lihat kayak apa dia sekarang. "


"Mbak Ajeng tau gak, dia itu misterius banget, gak pernah upload foto dia sendiri, selalunya posting foto hasil bidikan dia." Dengan semangat 45 dia bercerita tanpa henti.


"Ya lah sesukamu aja, yang jelas aku gak bakalan minat sama cowo yang sok misterius" Ajeng kini yang tertawa jahat.


"Yee, Mbak Jeng gitu banget. Nih aku kasih liat ya feed IG nya dia, lagi mbidik cewek di padang rumput dengan puluhan domba..aaaaa hancur banget hati aku baca captionnya..huhuuuu"


"Udah akh, mandi dulu ya" Pergi berlalu meninggalkan Vika, tidak menggubris ceritanya.


Sedangkan Dita dan Siti sudah pulang pukul 4 sore tadi.


Setelah selesai membersihkan badan, Ajeng mendekati Vika.


"Sholat dulu gih, maghrib kan pendek waktunya, nanti malah gak kebagian" Perintah Ajeng.


"Mbak udah? "


"Ya" Jawabnya pendek.

__ADS_1


Saat Ajeng sedang disibukan dengan memilih baju yang akan di foto, suara pintu terbuka mengagetkannya.


"Maaf benar butik X... " Seorang pria yang tak asing baginya berdiri di depannya dengan senyuman lebar.


"Hah? Si eneng? Hallo? Jumpa lagi kita, MashaAllah.. Gak nyangka ketemu di sini. Lagi ngapain? Belanja? " Tanyanya saat melihat Ajeng membawa keranjang berisi pakaian.


"Eh kamu pria tengil, ngapain di sini? di sini gak ada baju khusus cowok. Mau pake long dress kamu? " Ajeng menghentikan aktivitasnya, mendekati pria yang seharian ini membuat moodnya hancur.


"Eh, haha sabar neng, rileks aja, gak cape apa marah-marah dari tadi? energimu udah abis banyak loh hari ini. "


"Eh, Mas Naufal? Sudah lama? " Vika yang baru selesai sholat, dan mendengar ada suara keributan langsung keliuar tanpa melepas mukenahnya.


"Kenalin Mbak Jeng, ini Mas Naufal yang tadi aku critain, dan Mas, ini Mbak Ajeng, putri pemilik butik ini" Vika memperkenalkan mereka berdua.


"Hai, Naufal" Naufal mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ajeng.


Sedangkan Ajeng hanya menatap tangan yang terukir, tanpa ada niatan untuk membalas jabatan tangannya.


"Aku harap kita bisa memulai dari awal, maaf ya Ajeng" ucap Naufal dengan tangan yang masih terulur.


Akhirnya dengan berat hati Ajeng menerima uluran tangan Naufal, menyampingkan egonya untuk bertingkah profesional dengan lelaki tersebut.


Pertemuan pertama mereka hanya membahas tentang konsep-konsep yang akan di gunakan, dengan beberapa tema sesuai dengan model baju. Hingga tercipta janji temu berikutnya yang membuat mereka sering berinteraksi. Mencairkan hubungan mereka yang awalnya sangat kaku. Untuk Ajeng tentunya.


Flasback off


Malam hari ini adalah malam khusus dengan keluarga saja, setelah seharian berpesta dengan pesta formal sangkur pora dan adat Banyumasan, kini suasana santai menjadi pilihan untuk merekatkan keluarga, yang memang selama ini di bentangkan oleh jarak dan waktu dengan kesibukan masing-masing.


Keluarga Ajeng datang tanpa terkecuali, meskipun mantan besan, namun Ibu Sukma masih memperlakukan mereka dengan sangat baik, seperti memperlakukan Ajeng tentunya. Sahabat Barata yang siang tadi tidak dapat hadir, kini terlihat beberapa. Yang sedang berbincang dengan Barata di sudut meja. Anita dengan beberapa teman kantor beserta atasannya tak luput dari acara malam ini. Sebagian yang hadir adalah tamu yang belum hadir saat acara resepsi tadi siang.


Ajeng duduk bersama Ibu Sukma, kedua orang tuanya dan Ningrum tentu saja. Sementara Mbak Runti dan Mas Bayu masih berada di Hongkong, mereka baru pulang lusa nanti, di karenakan ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda.


Sementara Siti, Dita serta Vika, membantu menyiapkan ube-rampe yang belum di keluarkan. Sedangkan Naufal masih asyik memotret momen-momen membahagiakan bagi pengantin itu.


Vika membisikan sesuatu ke telinga Ajeng, dan dengan segera Ajeng beranjak dari duduknya untuk bergabung dengan Siti, dan Dita.


"Seharian gak sempat foto sama mbak Ajeng aku" Siti tersenyum lebar saat melihat Ajeng menghampirinya.


"Sama pengantinnya udah belum? " Ajeng terkekeh dengan pertanyannya sendiri kepada Siti.


"Mana, di ajak juga enggak. Lagian males. Pengantinnya jutek gitu" Dita menjawab sambil berbisik.


Akhirnya mereka tertawa bersama, tak lepas sari bidikan Naufal.

__ADS_1


"Hih, belum siap juga" Ajeng memukul lengan Naufal, yang direspon dengan berakting mengaduh kesakitan.


"Hih lebai banget, sakit juga engga" Kini Ajeng menambahkan mencubit pinggang Naufal.


"Akhh, sumpah Jeng, sakit banget yang ini. Seriusan" Ucap Naufal sambil mengelus pinggangnya.


"ah.. sory.. sory.. habis kamu sii sukanya gitu, ambil foto gak jelas mendadak gitu" Ajeng mengerucutkan bibirnya.


"Critanya candid Jeng, nih lihat hasilnya bagus kan? " Naufal mendekatkan kameranya ke arah Ajeng, hingga Ajeng pun mendekatkan dirinya kepada Naufal sehingga, tidak ada jarak di antara keduanya.


"Ih iya.. iya, natural banget. Kaya gak ada beban. Bahagia banget kalian semua" Ajeng tersenyum.


"Coba liat-ciba liat" Dita, Siti dan Vika berebut mengambil alih kamera di tangan Naufal.


Hingga Naufal akhirnya menyerah, mundur dari kerumunan tiga perempuan yang maniak foto itu, tersenyum bersama Ajeng. Melihat kelakuan mereka.


Sementara di sudut meja, ada sepasang mata yang tak melepas pandangannya ke arah mereka. Menatapnya dengan api amarah yang tertahan.


Ajeng yang tidak sengaja bersitatap dengan mata elang nan tajam itu langsung memalingkan wajahnya. Memutus tatapan dengan Barata.


"Yuk, jadi gak? " Naufal yang sedari tadi mencoba untuk mengerti keadaan langsung membuka suara.


"Jadi donk" Vika menyerahkan kameranya.


Sementara yang lainnya asyik mengganti gaya dengan arahan dari Naufal. Ajeng hanya tersenyum simpul, sesekali tertawa dengan tingkah konyol ketiga perempuan yang bersamanya itu.


"Aku ikutan dong" Ningrum mendekati mereka.


"Oke sekarang serius ya, critanya ini pengiring pengantin atau putri domas" Naufal kembali mengarahkan para perempuan rempong itu. Sebelum akhirnya deheman keras menghentikan aksi mereka.


"Kalian semua belum foto bersama pengantin sejak siang tadi" Barata dengan kata dinginnya, mengintimidasi mereka.


"Dan foto keluarga yang sungguhan" imbuhnya.


Bukannya dari siang dia udah foto banyak sama Ibu?


Ada yang panas, tapi bukan kompor.


Ada yang sakit tapi tidak keluar darah.


Ada yang perih tapi tak tersiram air.


apakah itu? 🤣

__ADS_1


__ADS_2