Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
45


__ADS_3

Ajeng POV


"Stroke adalah salah satu penyakit yang aktif dan berkelanjutan. Cedera otak yang terjadi secara tiba-tiba dapat menurunkan kemampuan neurologis, pemulihannya berjalan lambat dan bertahap. Untuk tekanan darahnya sendiri tadi masih tinggi, nanti akan kami lakukan observasi secara lanjut ya."


" Diusahakan untuk tekanan darah sebaiknya untuk tetap berada pada posisi normal, karena itu akan sangat membantu dalam proses pemulihan "


"Mungkin sekarang Bu Sukma merasa susah untuk bergerak di bagian-bagian tubuh tertentu, tapi nanti akan kita berikan kelas terapi. "


"Mohon untuk selalu di jaga juga ya pola berfikirnya, karena itu juga memang penting untuk Ibu Sukma"


Informasi yang dokter Farida tentang kesehatan Ibu masih terngiang-ngiang dikepalaku. Ya Dokter Farida adalah dokter syaraf yang menangani Ibu. Aku yang baru saja keluar dari ruangannya, seperti enggan kembali ke kamar Ibu.


Aku takut tidak bisa mengontrol emosi diri, menangis di depannya hanya akan semakin membuat dia down, pesan sang dokter masih begitu aku ingat. Jaga selalu tekanan darahnya agar tetap normal.


Aku mengambil nafas panjang, mencoba memasang wajah baik-baik saja. Bismillah.


Aku membuka pintu kamar Ibu, terlihat Ibu sedang memejamkan matanya. Mungkin Ibu tertidur lagi. Pikirku.


"Ibu tidur? " tanyaku tanpa suara ke Mbok War yang duduk di sofa, di depan ranjang Ibu.


Kamar VVIP ini seperti hotel menurutku, fasilitasnya sangat lengkap. Satu bed untuk penunggu, sofa berukuran panjang di depan bed Ibu, lemari pendinginan berukuran kecil, AC yang berfungsi dengan sangat baik, kamar mandi di dalam menambah fasilitas kamar yang membuat penunggu merasa seperti tidak sedang berada di rumah sakit.


"Mboten" Bu War menjawab kalau ibu tidak tidur.


Aku duduk di samping ranjang Ibu, yang memang di sediakan kursi personal di samping ranjang.


"Mbok War lapar gak? belum makan kan? Mau Ajeng beliin? " Aku berbisik, takut mengganggu Ibu.


"Mbok bisa tahan laper, dari pada mbok harus nunggu Ibu di sini sendiri, takut" jawabnya yang sama pelan sepertiku.


"Aku pesen aplikasi mbok, paling ntar cuma keluar gedung aja" Aku membujuk.


"Moh, mboten susah" Mbok War masih keukeuh tidak mau.


Ya udah deh, jawabku. Aku tak kehilangan akal. Ku manfaatkan Naufal yang memang seharian ini sudah beberapa kali mengirim aku pesan namun tak kunjung ku balas.


"Asalamualaikum"


Tak butuh waktu lama, pesan bertubi masuk ke ponselku.


" Kemana saja? baru nongol? "


" Hepy-hepy gak inget aku "


" Gak asyik "


" Awas aja kalau baru gini doang ngilang "

__ADS_1


" Bosen aku di PHPin mulu "


" Nah kan, ngilang lagi "


aku tertawa tertahan membaca pesan beruntun dia yang bertubi-tubi,


"Bahagia sekali nduk" Ibu mengagetkanku dengan tangannya yang menyentuh lenganku yang berada di atas ranjangnya.


"Eh.. Bu, Ibu bangun" Aku reflek meletakan ponselku. Fokus kepada ibu.


"Ibu mau apa? lapar? " tanyaku.


"Kata dokter Ibu kenapa? " Ibu bertanya, meskipun suaranya yang pelan, namun masih bisa ku dengar pertanyaanya dengan baik olehku.


"Kata dokter, ibu harus banyak istirahat, gak boleh capek- capek, harus makan yang banyak, harus bahagia, gak boleh mikir yang macem-macem" Aku menjawab pertanyaan Ibu dengan tambahan di sana-sini. Tidak mungkin aku menceritakan apa yang tadi dokter sampaikan.


Kuraih telapak tangannya, ku genggam erat, ku usap dengan penuh sayang. "Lekas sembuh ya Ibu" Aku mencoba tegar, berusaha semaksimal mungkin agar air mataku tidak sampai lolos, terjun bebas.


"Ajeng mau nungguin Ibu sampai sembuh? " Ibu memberiku pertanyaan yang sulit untuk aku jawab. Beruntung, suara sering ponselku berbunyi, hingga aku tidak harus menjawab permintaan Ibu.


"Sebentar bu, Ajeng Terima telpon dulu ya, dari Naufal. " Aku menekan tombol hijau di layar ponselku.


"Asalamualaikum" Sapaku


"Kamu ya datang tiba-tiba, pergi gak ada basa-basi pamitan ke aku" Naufal sudah sangat kesal mungkin denganku. Hingga akhirnya aku tidak bisa menahan tawa ku lagi.


"Hah? kenapa? kamu sakit apa? kok gak ngabari aku? Sakit apa? " Naufal masih saja memcerosos.


"Ibu Sukma"


"Kamu lagi kosong gak hari ini? "


"Mau minta tolong si kalau bisa"


"Sakit apa ibu? di RS mana? Ya Allah pantes aja 2 hari gak ke butik. Aku kesitu ya? di RS mana?" Dengan semangat Naufal bertanya.


"Ya emang niatku mau minta tolong kamu ke sini, tolong bawain buah-buahan, makanan berat sama snack ya. Kasihan Mbok War dan aku belum makan. " Aku terkekeh.


"Ku share location ya, gak pake lama"


tutututut


tanpa basa basi aku langsung mematikn telepon yang tersambung. Meskipun aku tahu kalau Naufal pasti mengumpat di seberang sana.


"Naufal Ajeng suruh ke sini ya Bu, nganter makanan. Mbok War gak mau di tinggal sendiri tuh" aku melirik Mbok War dengan wajah meledek.


"Kulo wedi to Bu di tilar pyambek dos niki, mengkin kulo ilang pripun? "

__ADS_1


(Saya takut Bu di tinggal sendirian di sini, nanti kalau saya hilang bagaimana? )


Aku tertawa mendengar alasan Mbok War.


"Sapa sing arep nyolong kowe War" Ibu menimpali dengan suara pelan.


Membuat aku kembali tertawa.


Ya Allah, Kapan terakhir kali aku tertawa seperti ini? Aku merindukan momen seperti ini. Haruskah aku bersyukur atas musibah yang menimpa Ibu?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku sedang bersama Naufal di depan kamar Ibu. Jam sudah menunjukan pukul 21.30, sudah larut memang.


Setelah menyuapi Ibu dengan makanan yang di antar oleh pramusaji rumah sakit, membantu meminum obat dan menemaninya sampai tertidur lelap, kini giliran aku yang menemani Naufal di luar, entah aku yang menemani atau aku yang di temani dia hahhaah.


Mbok War sudah terlelap di sofa, sudah ku minta untuk di bed saja, namun Mbok War menolak. Katanya untuk Mbak Anita saja nanti kalau datang.


Oya, Ngomong-ngomong soal Anita, sampai malam gini dia belum nongol juga, kemana? Apa Barata tidak mengabarinya?


"Sampai di sini kapan? " Naufal membutarkan lamunanku.


"Aku si ijin ke mama sampai istrinya Barata dateng, tapi tau tuh, sampe sekarang gak nongol-nongol" Jawabku.


"Aku beberapa kali liat dia sama laki-laki loh Jeng, dia beres gak ... "


Plak, belum selesai dia bicara aku sudah melemparnya dengan satu bungkus kripik tempe yang ada di depanku.


"Iih, gak kira-kira banget.. Remuk kan kripiknya" Dia mendengus sebal.


"Lagian kamu, bicara gak bener gitu. Mana ada di Anita gak beres, sembarangan aja!! Beres dia lah" Aku yang sebenarnya juga sanksi dengan sikap dia sejak pertama kali bertemu, mencoba menutupinya. Apalagi mendengar kalau Anita sampe ti dur bareng Barata sebelum mereka sah. Sakit sekaliii.


"Dua kali loh aku liat pake mata kepalaku sendiri dia keluar masuk hotel bareng cowok yang sama, mesra banget pula"


Sumpah dia semakin menjadi ngomongnya, reflek ku pelototin dia.


"Suer Jeng"


"Heh!! diem !! kalo orangnya nongol, habis kamu di mamah sama dia"


"Emang dia hewan pemamah biak bisa mamah aku!! "


"Gak cuma di mamah kamu, tapi di telen langsung masuk ke perut dia, di cerna langsung, pagi-pagi tinggal nama!! "


"Siapa yang di telen masuk perut pagi-pagi tinggal nama? "


"Enak ya pacaran malem-malem gini dua-duaan"

__ADS_1


Sialll!!!! Kan!!! di sini lantai aja bisa ngomong Naufal!!!!!


__ADS_2