
Barata baru saja menyelesaikan mandinya, setelah kegiatan panasnya tadi ia merasa sangat lapar, terlebih siang tadi dia belum sempat makan.
Ia keluar dari kamar mandi, tubuh bagian atasnya masih polos, sementara untuk bagian bawah, hanya ditutupi oleh selembar kain handuk.
Dia melihat Ajeng yang sudah meringkuk di sebelah Ashila, dengan tubuhnya yang sudah mengenakan piyama panjang, dan handuk yang masih melilit rambutnya.
"Kau selalu menjadi candu ku" Ucapnya sambil berjalan ke arah di mana almari baju berada, dan baru tersadar jika di dalam kamar Ajeng tidak ada pakaiannya satu pun. Dia teringat dengan baju yang tadi ia lepas di kamar mandi, tanpa menunggu waktu lama lagi, dia kembali memasuki kamar mandi untuk menggenakan pakaiannya.
Setelah mengenakan pakaian lengkap, ia menghampiri Ajeng, mengusap lembut pipinya.
"Lah kok panas gini badannya?"
"Yank..Yank..kamu demam." terlihat jelas kepanikan di wajahnya.
"Ayo keringin dulu rambutnya, biar gak masuk angin!" ucapnya lembut.
"Hemm" Ajeng hanya bergumam tak jelas.
"Jangan gitu, ayo, buka dulu matamu. Jangan tidur dulu, kita keringin dulu rambutmu." Barata beranjak dari duduknya, membantu Ajeng untuk duduk.
"Bentar cari hairdryer"
"Ada di laci bawah meja rias." Ucapnya pelan yang masih tertangkap oleh telinga Barata.
Dengan cepat, Barata menyambungkan kabel ke stop kontak. Ajeng beranjak dari duduknya, untuk lebih mendekat ke arah Barata, takut juga suara bising hairdryer membangunkan Ashila yang terlihat sangat lelap itu.
"Duduk sana aja." Barata terkejut dengan Ajeng yang kini sudah duduk manis di kursi riasnya.
"Takut ganggu Ashila tidur kalau terlalu dekat "
Jawabnya jujur. Tetapi sebetulnya tidak mempengaruhi juga, tetap saja suara mesin hairdryer menggema saat di nyalakan.
Antara ingin tertawa dan menahan pening, Ajeng akhirnya dia hanya diam, melihat usaha Barata menggunakan hairdryer. Dia berani yakin, seumur hidupnya baru sekali ini Barata memegang alat tersebut.
"Jangan kedekatan, panas" protesnya
"Iya..iya"
"Jangan jauh-jauh juga, nanti rambutnya gak kering-kering." Ia sengaja bersikap cerewet. Ingin tahu seberapa sabar Barata akan dirinya.
Barata dengan telaten mengeringkan rambut istrinya tersebut, dengan tangan kanan yang memegang hairdryer dan tangan kiri yang memegang sulur rambutnya dengan lembut.
"Aku pusing banget." Keluh Ajeng.
"Bentar lagi ini" mengarahkan benda berbunyi nyaring ke segala arah.
Hingga setelah beberapa lama, dia menekan tombol off.
"Tunggu sebentar, aku ambil obat ya." Meletakan benda tersebut begitu saja di atas meja, kemudian berjalan keluar kamar dengan tergesa.
Ajeng beranjak dari duduknya, berjalan perlahan ke arah ranjang.
"Nyenyak banget Shil." Ucapnya sembari mengusap lembut pipi chubby bocah kecil itu, kemudian ikut merebahkan kembali badannya di sebelah Ashila.
__ADS_1
Tak berselang lama, Barata datang membawa nampan berisi nasi beserta lauk dan segelas air putih.
"Makan dulu." Ucapnya, meletakan nampan di atas nakas, kemudian mengambil piring yang penuh dengan makanan itu.
"Kamu ambil segitu banyak buat aku?" Ajeng yang melihat porsi tak lazim untuk dirinya itu mengernyitkan dahi.
"Buat kita sayang, aku dan kamu." Mengkerlingkan mata kanannya genit.
"Hiih, genit amat !" mencibir dengan kesalnya.
"Aku lapar banget, seharian belum makan." Barata mulai menyuapi Ajeng.
"Aku udah minum obat tadi pas di mobil. Gak perlu minum lagi." Ajeng melirik obat yang berada di samping gelas.
"Kayaknya pingin di pijit deh."
"Mbok War udah pulang?" Tanyanya.
"Udah lah, udah jam segini." Melihat pergelangan tangan kirinya, di mana jam tangannya melingkar.
"Nanti aku pijit ya, kasih bonus penuh cinta." Ucapnya dengan tersenyum jahil, yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Ajeng dengan cepat.
"Enggak"
"Enggak mauu!"
Barata tertawa tertahan, melihat reaksi Ajeng yang spontanitas menolak dirinya.
...🌺🌺🌺...
Ajeng bangun dengan badan yang terasa kaku semua, mencoba untuk bergerak tapi terasa sangat susah.
Ya, selesai makan dan di cekoki obat lagi oleh Barata, dia langsung tertidur hingga pagi. Bahkan ia sama sekali tak merasakan apapun, apalagi sekarang, di ranjang besarnya, tak ada Ashila yang terakhir dia ingat, Ashila tidur di sebelah dengan memeluk guling erat.
Dia melihat jam yang berada di atas nakas, jam 7 pagi. Padahal absen pagi harusnya sudah dia lakukan.
"Harusnya aku sudah berada di rumah sakit sekarang." Ia bermonolog sendiri.
Dengan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, mencuci muka agar terlihat lebih segar.
"Sungguh rasanya tulangku patah semua"
Setelah mencuci muka dan menunaikan hajatnya, dengan perlahan dia menuruni anak tangga, sementara rumah sudah dalam keadaan sepi.
Dia berjalan menuju ke arah dapur, dimana suara gemercik air terdengar.
"Masak apa mbok?"
Mbok War berjingkat kaget, melepaskan wortel yang dia pegang.
"Ya Allah Mbak Ajeng, kagetin orang aja." Mengelus dadanya dengan cepat.
Sementara Ajeng hanya tersenyum, menutup mulutnya erat. "Maaf mbok..Maaf" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Mbak Jeng kata Mas Bara sakit? udah baikan?"
Mbok War mendekatinya.
"Badannya kaku semua nih, mau minta tolong Mbok War panggilin Mbah yang biasa mijit itu suruh datang ke sini bisa gak ya?" Ajeng menuangkan air ke dalam gelas.
"Pun gasik kulo timbali Ken mriki, Mas Bara seurunge tindak pesen Kulo mbak."
Mbok War memberitahukan kalau dia sudah memanggil orang untuk memijitnya atas perintah Barata sebelum lelakinya itu berangkat.
"Mas Bara berangkat Mbok?"
"Aku kok gak di bangunin?"
Ajeng menarik kursi makan, kemudian duduk.
"Kasihan katanya, wau nitip pesen ken ampun khawatir absen, dipun suwunaken surat dokter mengkin" Mbok War mengatakan jika Ajeng tidak perlu merasa khawatir, karena akan dimintakan surat dokter.
Ajeng hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda mengerti. Kemudian beranjak kembali dari duduknya.
"Ajeng tunggu di atas ya Mbok, nanti kalo yang mau mijit datang, tolong suruh ke atas aja langsung ya." Pergi meninggalkan Mbok War menuju kembali ke kamarnya.
Dia menyalakan ponsel yang sedari semalam dia isi baterai. Rentetan notifikasi pesan masuk begitu banyak. Tidak ada yang menarik dari para pengirim pesan, terkecuali dari satu orang yang mampu membuat dia tersenyum dan menangis haru bersamaan.
"Selamat pagi Sweetbrown, aku harap keadaanmu sudah membaik"
"Maaf aku harus berangkat, secepatnya aku akan pulang"
"Aku sangat mencintaimu, kemarin, sekarang, esok dan selamanya"
"Terima kasih untuk segalanya"
"Love you so much"
Ajeng mendekap ponselnya erat, mengambil nafas dalam kemudian dia hembuskan secara perlahan.
"Terima kasih hati, kamu sudah kuat selama ini. Menjalani semua takdir yang begitu berliku dan sangat terjal. Terima kasih sudah mampu dan mau untuk melanjutkan semua ini. Meskipun terkadang aku ingin menyerah dan berkata aku tak mampu"
"Lihatlah sekarang, apa yang kau dapati? cinta yang begitu dalam dan bertubi-tubi." Ajeng bermonolog sendiri, sembari tersenyum simpul.
Setelah semua yang terjadi, kini terselesaikan dengan begitu sempurna. Bagian kita hanya menjalani, sementara yang mengatur ialah sang pemilik hidup. Jadikan sabar dan sholat sebagai sebaik-baiknya perisai dalam hidup. Maka semua akan baik-baik saja.
...----------------...
Assalamualaikum wrb
Selamat pagi teman-teman semua
Apa kabar? lama tidak berjumpa ya🤗
Semoga teman-teman dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena lama sekali tidak update, saya sedang mengikuti kelas menulis online. Jadi memang beberapa waktu ke belakang kemarin, saya hanya fokus untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh PJ kelas.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang masih menanti kisah Ajeng dan Barata 🤗
Salam sayang ❤️