
Barata POV
Hari ini aku lepas dinas, setelah malam tadi RI 1 menggelar rapat terbatas (Ratas) untuk membahas Rancangan APBN 20**. Ratas itu digelar di Kantor Presiden dengan beberapa menteri terkait.
Dalam ratas yang membahas tentang rangka rencana anggaran untuk tahun depan dan juga penyederhanaan dana bantuan sosial itu, presiden menginginkan RAPBN 20** disusun secara realistis dengan menyesuaikan perkembangan situasi ekonomi terkini. Beliau meminta anggaran untuk subsidi dikalkulasi kembali, untuk memastikan penyaluran dana tersebut tepat sasaran.
Selain masalah subsidi listrik, subsidi BBM dan nonenergi, untuk penyaluran bantuan di bidang sosial juga diminta untuk terfokus kembali ke bidang pendidikan dan juga kesehatan. Menjadi orang nomor 1 di negri ini memang benar-benar harus sehat, kuat jasmani serta rohani. Aku saja yang hanya mengawal sungguh luar biasa letihnya. Apalagi beliau yang mengatur, mengarahkan dan memikirkan segalanya?? Sungguh tak ada keinginan sedikitpun aku untuk seperti beliau. Meskipun di backup oleh orang kepercayaan dan ahli di bidangnya masing-masing.
Pikiranku akhir-akhir ini adalah tentang keadaan rumah. Beberapa hari terakhir Ibu menelpon, beliau selalu saja bercerita tentang aktifitas Anita yang menurutnya terlalu sibuk dan padat. Ibu memintaku untuk lebih protektif lagi kepada Anita, apalagi kalau bukan karena dia kini sedang hamil? Usia kehamilannya yang baru menginjak 4 bulan memang masih rawan. Menurut ibu. Anita lebih baik keluar saja dari pekerjaanya. Dia yang katanya selalu pulang malam, membuat Ibu sering dilanda kecemasan.
Belum lagi cerita Ibu tentang Ajeng, yang memang sudah jarang sekali berkunjung. Ya, Ajeng memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya sehari setelah kejadian ke ''srembonoan" ku padanya. Aku yang selalu saja gelap mata bila dekat dengannya, tak bisa mengerem hasrat dan nafsuku. Beruntung, kemarin aku bisa mengendalikan diri. Karena mendengar suara isak tangisnya.
Sejak kejadian itu, Ajeng benar-benar membatasi diri dari keluargaku. Berawal dari dia yang keluar dari grup pesan di salah satu aplikasi, kegigihan dia untuk menolak ajakan Ibu kembali ke rumah, hingga berujung dia jarang berkunjung menjadikan sedikit banyak berpengaruh terhadap keseharian Ibu.
Ibu lebih sering merecokiku, entahlah. Mungkin beliau kesepian. Tapi akupun tak punya waktu sebanyak itu hanya untuk mendengar keluhan Ibu yang sama saja setiap harinya, hanya di bolak-balik namun dengan tema dan cerita yang sama.
Aku jadi merasa kasihan pada Ibu, aku sudah berkali-kali membujuk Ibu agar lebih mendekatkan diri kembali kepada Anita, namun selalu saja terpaut jarak antara Ibu dan dia. Anita yang sibuk, yang selalu buru-buru, pulang larut, tidak pernah ada interaksi secara intim antara keduanya membuat jarak terbentang jauh. Tidak ada empati sama sekali Anita terhadap ibu.
Setiap kali Ibu pulang dari kunjungannya ke rumah Ajeng, Ibu selalu mengirim pesan padaku. Tentunya dengan kata-kata yang di dramalisir, seakan-akan beliau kehilangan anak perempuan yang begitu di sayanginya.
Tapi memang, aku akui Ajeng sosok yang supel, ceria dan mudah berbaur. Ajeng dengan mudah dapat mengambil hati Ibu yang tergolong orang 'gampang-gampang susah'. Bahkan, cinta ibu pun bisa dia ambil dengan sebegitu mudahnya. Termasuk anaknya yang satu ini tentunya!!!!
Hubungakku dan Anita pun masih biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan. Aku yang larut dalam aktifitas pekerjaanku, sementara dia pun demikian. Jarak cukup membentang meski aku sendiri terkadang tak tega padanya, dia bisa menerimaku dengan segala kekuranganku, ke acuhanku, kepasifanku. Aku selalu mecoba untuk menjadi suami baik untuknya. Tapi entahlah, aku belum bisa. Belum sanggup dan rasanya aku tidak pantas untuknya yang mencintaiku begitu besar. Sementara aku? seperti tidak menganggapnya istri.
Nafkah lahir, ku serahkan sepenuhnya kepada dia. Aku sama sekali tak mengambil gajiku satu sen pun. Aku memiliki keuntungan dari beberapa saham yang aku punya, jadi bukannya sombong, keuntungan itu lebih dari cukup hanya untuk kehidupan diriku sendiri.
Untuk nafkah batin, terus terang saja, aku lakukan hanya sebagai formalitas sebatas suami istri. Hanya itu. Tidak lebih. Aku sama semua tidak pernah merasakan kenikmatan atau perasaan menggebu, semua mengalir apa adanya. Aku pun tak tahu akan sampai berapa lama. Meskipun harus bertahan seumur hidup. Hanya Tuhan yang tahu.
Setidaknya saat ini aku melakukan tugasku dengan sebaik-baiknya. Menjadi suami dan calon Bapak juga tentunya. Bismillah semoga semuanya lancar. Aaamiin
Suara sering ponsel terdengar dari dalam kamar mandi, aku yang kepalang tanggung tidak menggubrisnya. Paling Anita atau Ibu. Siapa lagi kalau buka mereka di siang hari seperti ini.
Aku keluar dari kamar mandi, meraih ponsel.
Home
Perasaanku mulai tak enak ini. Gak mungkin Ibu telpon pake no rumah di jam segini. Anita apa lagi. Jam setelah makan siang pasti lagi sibuk-sibuknya.
Dengan cepat aku menelpon kembali, tak butuh lama, hanya 3 kali deringan. Telepon sudah di angkat. Tanpa basa basi aku bertanya. Ku fikir Mbok War yang menelpon. Siapa lagi kalau bukan dia penghuni rumah dinding bolong gini?
"Asalamualaikum" Jantung ku serasa ingin loncat.
Dia? tak salah? menelpon? ku angkat ponselku, takut-takut aku salah pencet nomor. Tetapi tetap saja nama yang tertera adalah Home. Rumah.
__ADS_1
"Kamu? " Reflek dan tak pedulikan salamnya aku langsung bertanya.
Sementara dia pun sepertinya sama, seperti.... terdengar se.. di.. kit gugup. Namun aku enggan berfikir seperti itu. Langsung bertanya ada apa padanya.
Dia yang memang wanita perasa sekali, dari semenjak aku kenal dulu mengucap maaf kalau dia mengganggu dan mengabarkan kalau Ibu masuk Rumah sakit.
Fokusku langsung kepada Ibu, rasanya berbicara dengan dia tidak memuaskanku, terlebih aku tidak dapat fokus mencerna perkataannya dengan baik. Selalu saja perkataannya membius gendang telingaku. Membekukan jantung ku yang membuat aku terlihat bo doh.
"Mana mbok War? " Hanya itu yang bisa aku tanyakan. Sungguh, aku hanya menjaga diriku agar bersikap normal. menormalkan derap jantungku yang bertalu.
Cukup lama aku menunggu. Hingga Mbok War kini mengangkat telpon ku.
Aku mecercanya degan macam-macam pertanyaan. Dari kenapa Ibu bisa sakit, gimana kondisi terakhir Ibu, Anita sudah tahu belum, bagaimana bisa Ajeng yang berada di sana hingga aku meminta sebisa mungkin Mbok War menahan Ajeng. Minimal sembari menunggu aku pulang, sampai di rumah, sebisa mungkin Ajeng harus tetap di samping Ibu, aku tidak mau dia lepas dariku untuk saat ini. Ada banyak kata yang ingin aku sampaikan. Dengan hati tenang dan jiwa yang ikhlas tentu saja.
Dan akhirnya Mbok War menyanggipi dengan patuh, terdengar dari suaranya yang hanya berkata nggih Mas, ngggih, nggih, siap, nggih dengan begitu taat.
"Ingat jangan bilang aku yang nyuruh ya Mbok. " Pintaku pada akhirnya yang hanya di jawab Nggih lagi.
"Awas Aja ya Mbok War, Nggih-nggih terus tapi mboten kepanggih!!" ucapku sedikit mengancamnya.
Namun, baru saja aku berkata, suara nyaringnya terdengar.
"Sekedap Mbak, Mas Bara bade matur"
"Iya" Sayang seribu sayang, telepon sidah berpindah tangan.
Aku menetralkan suara ku dengan berdehem sebelum berbicara.
"Aku akan pulang, kamu untuk sementara tolong dampingi Ibu, setidaknya sampai istr.. maksudku Anita pulang" Ucapku.
".... " Tidak ada suara darinya.
"Kali ini.. "
"Ya, aku menunggu Ibu sampai istrimu pulang" dia menjawab sebelum perkataanku selesai.
"Terimakasih" ucapku
"Ada lagi? "
"Bagaimana keadaan Ibu? " Aku mulai terbiasa kembali menikmati suaranya. Sembari menggunakan tanganku yang lainnya untuk melihat jadwal keberangkatan kereta yang paling cepat sore ini melalui ponsel pintarku yang lain.
"Ibu masih di IGD, menunggu perkembangan selanjutnya sebelum di pindahkan ke ruangan"
__ADS_1
"Jadwal keberangkatanku sore nanti habis maghrib. Paling tidak sampai di Purwokerto jam 1 malam. Aku harap saat aku pulang nanti Ibu sudah membaik" Aku langsung memberitahunya saat berhasil memesan tiket kereta.
"Aamiin" Ucapnya singkat. Sepertinya dia enggan sekali berbicara denganku.
Terdengar jelas, beberapa kali dia menghela nafas panjang. Seperti sudah bosan dan ingin sekali mengakhiri pembicaraan ini.
Berbeda denganku yang sedari tadi sibuk mengatur detak jantungku. Agar tak sampai terdengar di telinganya.
Akhirnya, aku pun menghela nafas panjang, menirukan dia, untuk melepaskan perasaan gamang dan kaku ku, sekaligus menetralkan perasaan gugupku.
"Sampai bertemu nanti" ucapku pada akhirnya.
"Iya" ucapnya singkat.
Hening kembali, serasa enggan untuk mengakhiri.
Hingga.. " Asalamualaikum " Suara beratnya terdengar, sebelum panggilan benar-benar terputus. Dan aku masih termangu. Memandang layar ponsel yang hanya menampakan layar utama. Tanpa background.
******************
Haiiiiii, apa kabar?
Tidak henti-hentinya saya mengingatkan untuk para readers tersayang, jangan lupa untuk menekan jempol di setiap babnya ya.
Terimakasih kepada pembaca yang baru saja mengikuti, maupun pembaca yang mengikuti sejak dari cerita pesona guru KB. Saya sangat berterimakasih.😊😊
Namun beberapa hari ini saya perhatikan, dan menyayangkan juga banyak pembaca yang hanya memberi like di awal episode dan di akhir saya update.
kenapa??
Kurang menarik ya cerita saya? sampai enggan memberikan like? atau ceritanya membosankan terlalu monoton itu-itu saja?
Jika iya, mohon berikan masukan, kritik dan sarannya di kolom komentar. Agar saya bisa memperbaiki kesalahan di dalam bab tersebut. Saya akan sangat bersenang hati. Itu pertanda bahwa readers semua geten, gatek, perhatian kepada saya.
Mungkin sepele ya, hanya jempol..
Namun bagi saya sendiri , itu adalah apresiasi untuk saya sendiri dari panjenengan, membuat moodku naik dan menjadikan saya semangat untuk mengusahakan update di setiap harinya.
Terimakasih, dan mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang nyaman di hati panjenengan semua🤗
Bila berkenan, monggo scroll lagi ke atas. Lumayan 5-10n pembaca baru perharinya. Bayangkan jika di setiap episode memberikan saya like, 10 orang x 40 episode, sudah 400 like kan setiap hari, dan itu bisa menaikan popularitas. Mari saling mendukung dan menyemangati 😊
Dengan penuh cinta
__ADS_1
Widiawati❤