
"Canda konsul, canda " ucapnya di tengah tawa saat melihat ekspresi Ajeng.
"Iiihhh " Ucapnya berlalu meninggalkan Dokter anak itu di belakang.
"Budhe!! "
Sebuah suara yang sangat dia hafal dengan baik itu menghentikan langkahnya.
Terlihat Ashila sedang berlari menuju ke arahnya, dengan masih memakai baju seragam yang tadi pagi dia kenakan, dan di belakangnya sorang laki-laki tampan berjalan mengawal.
"Haiiii, Asalamualaikum cantiknya Budhe. " Merengkuh tubuh Ashila yang sudah menubruk kakinya.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Mbak, Shila minta makan siang bersama Budhe-nya. " Barata menjelaskan maksud tujuannya.
"Ah iya kah? waah rupanya sudah ada yang rindu dengan Budhe nih. "
"Padahal baru pagi tadi kita berpisah.. Uhh anak maniss. " Ajeng mencubit hidung mancung Ashila. Sedangkan si anak justru tertawa terkekeh.
"Oya Sayang, kenalin ini Pak Dokter Satria. " Memperkenalkan Satrio kepada Ashila.
"Ini Barata Dok, Papanya Ashila. " sambungnya cepat, memperkenalkan kedua pria tersebut yang hanya saling melempar senyum.
"Haii Pak Dokter, aku Ashila" melambaikan tangan memperkenalkan dirinya.
"Haii Ashila"
"Kalo gitu kita makan berempat aja sekalian yuk biar tambah rame" Ucap Satrio.
" Waah jadi ganggu waktu kalian nih? " Ucap Barata sembari melirik tajam ke arah Ajeng.
Sementara yang di lirik sama sekali tidak memperdulikan tatapan mata setajam elang itu.
"Maaf sebetulnya, saya juga ada keperluan buat konsultasi sama Ajeng Dok, kebetulan tadi ada masalah di sekolahnya. Dan ini, saya sudah take a way makanan. Kalau bersedia kita makan berempat? " Barata memberikan saran.
"Kenapa? Masalah apa? " Ajeng langsung panik.
"Bukan masalah besar Mbak, tapi kalo di biarin berlarut-larut jadinya besar. " Ucap Barata.
"Ya udah yuk masuk ruanganku aja. " Seolah tidak memperdulikan sekitar, Ajeng langsung memasuki ruangannya.
"Eh, Dok, mohon maaf ya ... "
"Iya.. iya saya mengerti. " Satrio tersenyum, memotong perkataan Ajeng.
"Mari Pak Barata, dadah anak manis. " Berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Gandengan baru? " Saat memasuki ruangan Ajeng, Barata membuka suara.
__ADS_1
Terlihat ruangan minimalis yang nyaman untuk berbincang, sebuah sofa panjang tempat konsultasi berada di depan meja kerja. Buffet kecil berwarna Senada dengan sofa pun terlihat elegant di sisi kanannya.
Tanpa di persilahkan untuk duduk, Barata sudah memposisikan dirinya di sofa. Dengan Ashila yang sedari tadi tak melepaskan tautan jemarinya dengan Ajeng.
"Dia Dokter muda spesialis Anak di sini. "
"Jangan ngaco kamu!" sebuah sanggahan keluar dari mulut Ajeng.
"Sayang mau makan apa emm? beli apa tadi sama Papa? " tanyanya mengalihkan perhatian. Meraih kantong berlogo makanan cepat saji kesukaan Ashila.
"Beli ayam goreng kesukaan Shila Bude" Ucapnya sembari duduk di sebelah Ajeng.
"Tapi Shila udah makan tadi, sekarang Budhe saja yang makan ya? " Ucapnya sambil memeluk pinggang Ajeng.
"Lah, kata Papa, Shila mau makan sama Budhe? "
"Papa yang mau antar makanan buat Budhe katanya" Jawabnya polos.
Sedangkan sang terdakwa terlihat salah tingkah.
Shila, kenapa kamu polos begitu!
"Ada apa dengan dia? " Ajeng menunjuk Shila dengan dagunya.
"Jadi gini, tadi di sekolah dia menangis, berantem sama teman lelakinya. Kebetulan aku bisa jemput, sebetulnya lepas dinasku sore nanti. Tapi karena telpon pagi tadi, aku jadi kepikiran dia terus. " Menatap Ashila yang kini sudah berganti posisi tiduran dengan kepala berada di pangkuan Ajeng.
"Dia memukul temannya, saat teman lelakinya itu berkata kalau dia tidak punya Ibu, dia tidak pernah di jemput oleh Ibu nya, marah lah dia. "
"Aku gak mungkin bisa lah tanya sama anak ini" Lanjutnya sembari melihat Ashila yang sudah terlelap di pangkuan Ajeng.
"Lah udah tidur aja dia? "
Ajeng berdehem, menetralkan suaranya sebelum berbicara.
"Dari pagi, setelah kamu telpon itu, dia sebenarnya sudah tidak nyaman dengan hatinya sendiri, dia kecewa saat permintaannya di tolak olehmu, mungkin saat sampai di sekolah, suasana hatinya masih buruk, di tambah lagi dengan perkataan yang tidak mengenakan, kemudian, dikarenakan rasa kecewa dan di tambah dengan rasa marah, sehingga bertumpuk, membuat dia lepas kendali dan melampiaskan kepada temannya tersebut. "
"Dia bilang kalau sekali-kali dia ingin di jemput oleh Papanya, dia ingin seperti teman-temannya yang lain"
"Taukah kamu Bar, perasaan dia sangat sensitif. Aku harap kamu bisa lebih banyak waktu lagi untuk bersamanya. Mungkin dengan cara memberikan dia seorang Ibu, dia akan lebih bahagia, tidak merasa sendiri dan dia bisa merasakan seperti anak-anak lain, yang mempunyai orang tua lengkap. " Sarannya pada Barata yang masih menatap Ashila dengan sendu.
"Aku gak bisa jadi orang tua yang baik. " Ucapnya sendu.
"Jangan begitu, semua butuh proses. Tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Jangan menyalahkan diri seperti itu. "
"Aku salut padamu untuk semua yang telah kamu lewati. Tidak semua orang sekuat kamu. "
"Aku harap kamu jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Mari kita cari solusi bersama untuk Ashila. Bagaimana pun dia hanya anak, yang ingin diperlakukan dengan baik, seperti teman-temannya. "
__ADS_1
"Bisakah kita memulai kembali dari awal? Awal yang dulu. Bukan sebagai ipar? Tapi sebagai Barata dan Ajeng.? Mengulang takdir yang seharusnya? yang seharusnya tidak terlewati namun terlewat? Bolehkah aku menjilat ludahku kembali? sungguh rasanya aku tak mampu sendiri, berpura-pura kuat seperti ini. Bisakah kau mengerti perasaanku selama ini? kau psikolog hebat Jeng, tanpa aku bercerita banyak dan panjang lebar, dengan melihat keseharianku, rasanya bukan sesuatu yang sulit bagimu untuk mengerti aku. "
"Sungguh, aku lelah. "
Barata POV
Adakah yang bisa mengerti perasaanku sedikit saja? adakah yang bisa menggantikan posisi aku sebentar saja? Aku harus bagaimana lagi? aku harus berbuat apa lagi? kurang sabar apa aku? kurang baik apa aku? tidak ada yang pernah bisa tahu rasanya menjadi aku. Mati-matian mencoba bersikap I'm fine, I'm good , and always be happy.
Memakai topeng untuk menyembunyikan bagaimana rasanya hancurnya aku, hidup di tengah-tengah tekanan pekerjaan, yang menjunjung tinggi norma sosial. Professional kerja selalu di tunjukan, tanpa memperdulikan perasaanku.
4 tahun aku meregang rasa ini, menikmati kesakitan ini seorang diri. Tidak ada yang tahu. Karena memang aku tidak ingin orang lain tau seberapa rapuhnya aku. Aku bersyukur masih ada orang di sekelilingku yang peduli terhadap hidup ku, setidaknya bukan untuk ku tapi untuk Ashila.
Siapa Ashila? yang jelas dia adalah orang yang paling beruntung mendapatkan segala curahan cinta kasih dari orang terdekatku. Meskipun mereka tau kalau sesungguhnya dia bukan garis keturunanku. Bisakah kalian memberikan cinta untuk orang yang bukan siapa-siapa di hidup kalian? hasil kecurangan dari seseorang yang sudah mematahkan hati, menjatuhkan diri ini sejatuh-jatuhnya?
Aku kalian pasti tidak akan sudi!! tidak akan pernah!!
Dan aku???
Aku di tuntut untuk menerimanya, dengan segala apa yang ada pada dirinya. Bisakah kalian bayangkan itu? Bagaimana rasanya jadi aku???
Dan kini, aku sudah begitu lelah. Terlebih lagi saat aku menjemput Shila, dan mendapat laporan dari gurunya tentang perilaku Shila.
Aku seperti tertampar, mendengar bahwa dia di bully oleh temannya sendiri, dia di olok-olok dengan tanpa adanya seorang Ibu di sampingnya. Sehancur apa dia???
Aku selalu memikirkan diriku sendiri, tanpa pernah memperdulikan balita kecil itu, merasa seolah-olah aku paling tersakiti. Padahal dia? dia lebih menyedihkan. Bagaimana tidak? seluruh keluarganya enggan menerimanya, bagaimana jika saat besar nanti dia tahu? dia di besarkan oleh orang lain yang tidak ada hubungan apapun dengannya, bahkan Ibu nya sendiri, yang berlaku tidak pantas kepada keluarga yang sudah membesarkannya.
Sungguh, fikiranku terbatas, aku tidak bisa memikirkan segalanya sendiri. Aku butuh sesorang yang benar-benar bisa mengerti aku dan Ashila. Aku butuh sosok itu.
Siapa?
Ajeng.
Batinku meronta antara gengsi dengan keputusan yang dulu aku sampaikan padanya bahwa kita berdua memulai dari awal, menjalin hubungan yang semestinya, yaitu ipar, atau menjilat ludahku sendiri dengan memintanya kembali menjadi Ajeng ku yang dulu.
Pantaskah?
Kita sudah berbeda, status yang tidak sama lagi membuat aku harus lebih berani untuk cepat mengambil keputusan. Secepat itu, ya lebih cepat lebih baik. Dia bukan hanya masa laluku, ingin ku, dia menjadi masa depanku. Merajut mimpi yang kita pernah angkankan bersama.
Ya Allah bantu hambamu!!
...----------------...
Mohon maaf jika cerita ini berbelit, jalan di tempat dan membosankan.
Beginilah memang adanya, jika masih berkenan membaca monggo membaca, jika tidak tinggalkan saja. Di tunggu ending nya saja😊
Terimakasih untuk support system nya yang membangun, pemberian vote dan hadiah untuk Ajeng. Semoga kebaikan-kebaikan pembaca semua di balas dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Aamiin.
__ADS_1
Salam Sayang ❤
Widiawati🤗