
Sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan, Sampai saat itulah semuanya akan terjadi. Suka ataupun tak suka, manusia hanya wayang sang Pangeran, pemilik seluruh alam, yang menguasai dunia dan hari pembalasan. Balasan untuk apa-apa yang sudah mereka lakukan di dunia ini. Baik yang tersembunyi maupun yang dilakukan secara terang-terangan.
Kita tidak dituntut untuk menjawab, kita hanya dituntut untuk menjalani. Sekeras dan sesulit apapun, bila itu sudah menjadi jalan yang memang harus dilalui, kita sebagai manusia biasa apa? selain bersabar dan istiqomah?
Semua terjadi begitu cepat, Ijab qobul berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti, semua berjalan baik-baik saja. Ajeng dengan rahasia terbesarnya yang dia pendam sendiri, Barata dengan kerelaan hatinya dan kembali dengan tugas negara yang memang sudah menjadi kewajibannya, dan Reno dengan suka citanya yang telah memiliki istri, berfantasi untuk bisa bisa mengajak berpetualang, menggapai nikmat dunia meskipun sampai akhir hidupnya pun, dia sama sekali belum pernah bisa mengantarkan Ajeng terbang menembus surga tersebut.
Ajeng di boyong oleh Reno untuk tinggal di rumah hadiah pernikahan dari Ayah Reno, rumah yang tak begitu jauh dari jantung kota, membuat suasana masih teras asri.
Mereka saling membangun chemistry, agar lebih luwes dalam berkomunikasi, mensupport satu sama lain dan Seperti permintaan Reno, Ajeng benar-benar menjadi seorang istri yang di inginkan Reno. Mendukung penuh apa yang di lakukan suaminya, mendampingi Reno terapi, bahkan sekarang ia menjadi objek Reno, meskipun belum ada perkembangan yang signifikan.
Ajeng menggantungkan gelar Sarjana Psikologinya demi mengurusi kebutuhan suaminya, segala keperluan Reno dia persiapkan sendiri, meskipun ada Mbak Nur, orang yang dipercaya untuk membantu Ajeng mengurus rumah.
Sebelum menikah, sang Mama benar-benar memberikan wejangan kepada Ajeng, bagaimana seharusnya seorang istri bersikap. Melayani suami dengan sepenuh hati, tanpa keluhan. Seorang istri harus bisa menjadi pakaian suami diluar sana, menjaga martabat suami, harus mampu meredam amarah suami, mengingatkan didalam kebaikan, menyembunyikan segala kekurangan dan masalah rumah tangga dari pandangan orang luar, harus bisa saling mengisi dan melengkapi tanpa terkecuali.
Itulah sedikit dari sekian banyak wejangan dari Mama Suci untuknya yang selalu dia ingat. Dan Ajeng dengan kerelaan hatinya menerima segala yang ada pada diri Reno. Meskipun tak dipungkiri terkadang dia merasa seperti boneka yang dijadikan eksperimen untuk kebutuhan klinis Reno.
Bagaimana tidak? disaat dia sudah mulai terbang, berkali-kali dia sudah harus jatuh terhempas, bahkan dia tak mampu untuk menembus awan. Seringkali pula Reno mengucapkan kata maafnya, namun dia juga harus lebih mengerti dengan kondisi Reno yang memang dari awal sudah dia ketahui.
Badai di dalam keluarga mulai di rasakan, saat pernikahan mereka menginjak di bulan ke 8, Ayah Reno berpulang akibat kecelakaan lalu lintas. Memaksa Reno menjadi pengganti ayahnya, baik mengerjakan proyek yang sudah di terlaksana di lapangan, yang baru setengah jalan di lakukan maupun proyek yang masih dalam bentuk proposal. Hal tersebut sedikit banyak menyita perhatian Reno untuknya dan intensitas waktu pertemuan mereka.
Pertikaian kecil mulai terjadi manakala Reno harus sering absen saat jadwal terapi dan jadwal konsultasi dengan dokter Khayru terlewat begitu saja. Ajeng yang sudah berkali-kali mewanti-wanti agar dia melonggarkan waktunya namun hanya di jawab iya-iya saja tanpa benar-benar meluangkannya membuat Ajeng sering kali kesal.
__ADS_1
Belum lagi pertanyaan anggota keluarga besarnya yang bertanya "Kapan hamil?" atau "Kok gak hamil-hamil? " menjadi pertanyaan yang rutin di tanyakan saat sedang acara kumpul keluarga. Membuat dia seakan-akan menjadi tersangka atas ketidak hamilanya yang tak kunjung datang.
Rasanya ia ingin berteriak di depan mereka semua kalau penyebabnya bukan dia! Tapi Reno!!!!!
Tapi kengininan Ajeng tak pernah keluar dari mulutnya, dia hanya bisa tersenyum, menanggapi setiap perkataan saudara Reno tersebut. Ajeng selalu menutupi semuanya dengan sangat baik, ia masih bisa menahan segala gejolak yang ada di hatinya.
Berrbeda dengan Reno yang selalu menanggapinya dengan berlebihan, bahkan pernah satu kali dia benar-benar marah dengan salah satu saudara sepupunya yang terus-terus mencerca Ajeng, hingga dalam beberapa kali acara kumpul keluarga, Reno sama sekali enggan menghadiri acara tersebut. Dia merasa tidak nyaman jika harus menghadiri acara keluarga, alasannya tentu jelas, dia tidak tahan dengan mulut pedas para saudaranya, Padahal dialah yang bermasalah, bukan Ajeng. Mereka seolah-olah memojokan Ajeng dengan asumsi mereka sendiri, mengatakan bahwa kesehatan Ajeng yang tidak baik, rahimnya yang tidak subur dan lain sebagainya.
Satu tahun kemudian, Barata pulang. Barata kembali dari misi perdamaian dunianya dan mulai mengawal Presiden, menjadi salah satu pasukan pengaman presiden sekarang adalah tugas utamanya. Sesekali saat mengawal ke wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, Barata menyempatkan untuk pulang, mengunjungi Ibunya yang kini tinggal seorang diri, namun setiap hari kakak perempuannya, Mbak runti selalu berkunjung ke rumah ibu, bersama anak perempuannya Felicia, anak pertamanya dengan suaminya, Mas Bayu agar ibu tidak begitu merasa sendiri.
Tak jarang jika Barata pulang, Ajeng dan Reno diminta untuk berkunjung ke rumah Ibu. Pernah suatu hari, saat Barata tiba-tiba pulang, dan Ajeng sedang berada di rumah Ibu sendirian, di tinggal oleh Reno yang kala itu mengantar ibu ke butik karena Pak Anto sedang sakit. Saat Ajeng sedang berlutat di dapur sibuk mengaduk nasi goreng permintaan suaminya, Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang, menciumi rambutnya dengan lembut, sesekali terdengar helaan nafas panjang. Ajeng yang memang berfikir itu adalah Reno tanpa memberontak meneruskan pekerjaannya, namun seketika dia menyadari, bahwa bau tubuh yang kini melekat di tubuhnya, yang merengkuh dirinya dari belakang bukanlah Reno, Tangan yang memeluknya pun lebih kekar, memegang perut ratanya dengan sangat halus. Seketika tubuhnya menegang, mematikan kompor dengan cepat dan membalikan badan sambil mengacungkan spetula yang dia pegang.
"Apakah kamu sudah gila memperlakukan kakak iparmu sendiri seperti demikian? " Ajeng mengarahkan spetula yang dia pegang kepada Barata, sementara matanya mulai berkaca, langkah kakinya tak berhenti berjalan ke belakang, hingga terhenti saat punggungnya mengenai lemari es, dan dia tidak bisa berkutik lagi sekarang.
"Hahhah are you serious? " tawa menakutkannya menggema. Bertahun-tahun berpisah tanpa berkabar membuat Barata berubah menjadi lelaki dewasa yang sangat gagah perkasa dan lebih tampan berkali-kali lipat.
"Harusnya aku yang memperlakukan mu seperti itu setiap pagi, harusnya aku yang kamu lihat pertama kali saat kamu membuka mata, aku yang kamu cintai, aku yang mendapat cintamu" Barata semakin mendekat kembali merengkuh pinggangnya.
"Aku yang seharusnya mendapatkan ini setiap hari darimu, sampai kamu merasa lelah dan lemas" Barata memajukan bi birnya, ******* habis bi bir Ajeng yang terasa manis di lid ahnya.
Sementara satu kesalahan Ajeng ketika hendak memberontak membuka mulutnya, malah semakin memberikan kesempatan kepada Barata untuk mengeksplor bi birnya lebih dalam lagi, membelit lid ahnya, menyesapnya dalam. Kemampuan Barata mempermainkan lid ahnya membuat tubuh Ajeng terasa lemas seperti jelly, dia yang tak pernah diperlakukan seperti itu oleh Reno, dan reflek ia mengeratkan pegangannya ke pinggul keras Barata.
__ADS_1
Satu desa han reflek lolos dari bi bir Ajeng, yang membuat Barata semakin menggila dibuatnya, hingga ciu man yang sangat panas tersebut seketika terhenti saat suara klakson mobil terdengar di halaman rumah. Ajeng yang memukul dada Barata, membuat laki-laki itu tersadar, melepaskan pautan bi bir mereka. Kemudian mencium keningnya dalam sebelum dia melesat pergi dari dapur. Hilang tertutup tembok dapur.
Dan itu adalah dosa terbesar Ajeng yang dia lakukan dengan kesadaran penuh, dia begitu menikmati perlakuan Barata, sampai-sampai saat sedang bersama Reno pun terkadang dia bayangkan ciuman panasnya dengan Barata yang membuat satu bagian tubuhnya berkedut dan basah.
Dia menyimpannya sendiri, hingga Reno pergi meninggalkannya untuk selamanya. Meninggalkan dia dalam status Janda. Tak terkira kepedihan yang Ajeng rasakan. Ditinggal suami di usia yang terbilang muda dan di usia pernikahan yang baru seumur jagung.
Semuanya harus diikhlaskan. Takdirnya untuk membersamai Reno hanya sampai di sini.
Flashback Off
Maaf jika flashback terlalu panjang dan membuat pembaca merasa bosan, hal ini saya maksudkan agar pembaca tidak di bingungkan dan tidak ada lagi pertanyaan tentang Barata ke Ajeng maupun Reno dan Ajeng. Jadi Reno dan Ajeng hanya masa lalu. Sudah terlewati. Sekarang cerita kita hanya fokus ke masa depan๐ค
Terimakasih atas kebersediannya membersamai tulisan saya yang masih banyak kekurangan ini.
Mohon maaf, tak henti-hentinya saya mengingatkan untuk tidak lupa memberikan like dan komennya, karena sangat berarti sekali untuk saya๐
Bagi yang terlupa, semoga berkenan menscroll lagi ke atas untuk memerikan like nya๐ค๐ค sungguh saya hanya ingin karya saya di apresiasi dengan like dan komentar yang membangun dari panjenengan semua, maturnuwun terimakasih Jazaqillah khoiron katsiro ๐๐
Hanya Allah sebaik-baik pemberi balasan kebaikan panjenengan semua, ucapan salah satu author favorit saya, SephinaSera๐
love you all๐๐๐๐
__ADS_1