Takdir Yang Terlewati

Takdir Yang Terlewati
40


__ADS_3

Udara pagi begitu menusuk tulang, angin menyusup menerobos ke dalam rumah melewati lubang-lubang kecil yang berada di atas kusen jendela. Suara jangkrik masih berbunyi nyaring di luaran sana, Ajeng yang terbangun dari tidurnya, meraih ponsel yang berada diatas nakas, untuk melihat jam berapa saat ini. Namun ponselnya mati. Kehabisan daya baterai.


Dirinya yang semalam melewatkan sholat Isya, langsung beranjak ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Tak lupa untuk mengisi saya ponselnya terlebih dahulu.


Air yang sedingin es itu, sama sekali tak mengurungkan niatnya untuk melakukan sholat wajib yang tertinggal. Menuju mushola rumahnya, dia melihat ke arah jam yang berada diruang keluarga.


"Jam 3.45, masih ada waktu untuk sholat isya dan tahajud sebelum waktu subuh datang" gumamnya sendiri sambil mengenakan mukena yang tergantung di hanger.


Dia melakukan sholat dengan khusyu, keheningan di pagi hari benar- benar meentramkan hati. Di awali dengan niat sholat Isya sebelum kemudian melakukan 4 rokaat tahajud dan dilanjutkan dengan menyelesaikan membaca surat Ar-Rahman yang belum dia selesaikan semalam, sembari menunggu adzan subuh berkumandang.


Tak kenal maka tak sayang, tak pernah membaca maka tak akan pernah tau, tak mau memahami maka tak akan pernah bisa dan mengerti. Mungkin itulah kata yang pantas untuk dirinya saat ini. Dia selama ini sangat jauh dari agamanya.


Memang, keluarganya, dulunya bukan dari keluarga yang "benar-benar" taat beragama. Beberapa kali pindah rumah karena mengikuti dinas Bapak yang dulu masih berpindah, membuat waktu terbuang percuma. Ibarat semua nya hanya formalitas saja. Dia yang sedari kecil mengaji tapi hanya mengaji saja, tidak pernah mendalami, sholat hanya yaa bisa di bilang pon kliwon semaunya. Orang tua juga tidak terlalu begitu mengatur dan menerapkan ilmu agama yang ketat, saklek. Semua biasa saja, cenderung kurang.


Berbeda dengan sekarang, mungkin karena lingkungan dan pergaulan saat ini, menjadikan orang tuanya juga menyesuaikan, beradaptasi dengan lingkungan sekitar, apalagi Pak Rahmat yang sudah pensiun. Hampir setiap hari melakukan sholat 5 waktu di masjid, karena memang masjid letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Mama Suci pun demikian, beliau rutin mengikuti kajian-kajian yang sering di adakan oleh ibu-ibu jemaah Masjid.


Pagi ini, doa yang Ajeng panjatkan lebih panjang dari sebelum-sebelumnya, dia memohon ampun atas apa-apa yang selama ini dia lakukan, memohon rahmat dan keberkahan untuk hidupnya dan orang-orang yang disayangi dan menyayanginya, meminta agar di berikan kesabaran, hati yang lapang, jiwa yang kuat untuk menghadapi hari-harinya, diberikan keistiqomahan untuk tetap berada di iman islamnya. Diberikan yang terbaik untuk hidupnya. Hingga doanya harus segera dia akhiri manakala mendengar suara adzan dari pengeras suara masjid.


Dia bersiap, untuk melakukan sholat sunah qobliyah Subuh, sembari menunggu yang lainnya bangun. Hingga akhirnya satu- persatu anggota keluarganya bangun untuk sholat bersama, terkecuali Bapak yang langsung ke masjid berjamaah dengan jamaah masjid lainnya


"Tumben pagian Mbak" Selepas Sholat, Ningrum yang melepas mukenah dahulu bertanya pada Ajeng.


"Hemm" Hanya gumaman yang Ajeng balas.


"Pasti lagi ada maunya nih? jadi bangun pagi, minta duluan sama Allah ya? " tertawa penuh kemenangan.


"Heleh, matur apa koe nduk" Mama Suci menabok pan tat Ningrum, dan melewatinya begitu saja, berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Emang kalau Mbak lagi pingin sesuatu kenapa? Jangan-jangan kamu lagi bicara diri sendiri nih, oohh jadi kamu kalo sholat di awal-awal itu pasti lagi minta sesuatu ya? berharap sesuatu ya? waah gak bener nih, pamrih tuh ibadahnya, gak tulus, gak ikhlas, dosa kamu" Ajeng mencibir.

__ADS_1


"Ya gak gitu mbak"


"Tapi kan yang penting aku mintanya sama Allah, gak sama yang lainnya, ngadu juga sama Allah, gak sama lainnya. Berharap sama Allah juga gak ada salahnya kan, dari pada berharap sama ciptaannya, kecewa terussss. Doaku juga tulus kok, dari lubuk hati yang terdalam, Mbak su'udzon aja sii ihhh"


"Iya, Sebaik-baik tempat mengadu cuma sama Allah, Dia yang sayang banget sama hambanya, nikmat yang Allah kasih sudah banyak banget. Kita yang seringkali banyak minta, gak pernah ada rasa cukup, selalu ngeluh, gak pernah mau memperbaiki diri, yang ada malah banyak nuntut, seperti ujub diri gitu. Merasa udah paling bener, paling baik, paling sempurna. Tapi gak pernah mau koreksi diri" Ajeng membereskan mukenanya ke tempat semula, sambil menerawang jauh, membuat lawan bicaranya seperti shock mendengar jawabannya.


"Mbak.. kamu sehat kan? baik - baik aja? " Ningrum menempelkan punggung tangannya ke dahi dan leher Ajeng.


"Gak panas kok"


"Kenapa kamu Mbak? "


"Iihh, apaan sii" Ajeng menepis tangan Ningrum.


"Mbak sehat kan? " Ulangnya lagi.


"Sehat wal afiat" Jawabnya sambil pergi meninggalkan Ningrum yang masih terbengong.


Sementara Ajeng, dia mengintari seluruh ruangan, membuka gorden dan jendela rumah agar hawa di dalam ruangan berganti dengan hawa pagi yang menyegarkan. Sebelum akhirnya berkutat dengan mamanya di dapur, membuat menu sarapan pagi.


"Ma, Ajeng kok tiba-tiba kepikiran Ibu Sukma ya? "


Ajeng membuka obrolan saat dia sedang mengupas bawang putih untuk membuat bumbu mendhoan.


Mendhoan adalah makanan khas daerah Banyumas yang berasal dari tempe kedelai, di fermentasikan dengan ragi sehingga menumbuhkan jamur yang menyelimuti kedelai. Di goreng dengan dibalurkan ke dalam adonan tepung terigu dan bumbu rempah beserta dengan daun kucai atau daun bawang untuk menambah aroma dan citarasa.


"Mau kita tengok? kebetulan nanti Mama sama Bu Ria, dan Bu Efi mau ke Purwokerto, cari batik di daerah Pasar Wage, kalo iya, nanti jadi kamu bisa nyupirin mama. Lagian udah lama banget loh beliau tidak kesini. Kamu tidak pernah hubungan sama Bu Sukma? " Mama Suci menanggapi.


"Iya lama gak hubungi, Ajeng bingung mau nanya apa. Nanyain kabar terus takutnya beliau bosan. Jujur ya Ma, Ajeng kangen banget sama Ibu. Tapi alasan apa Ajeng ke sana? Gak mungkin kan sering-sering ke sana. Apalagi sekarang Ibu juga pasti sudah... Ya semoga Ibu sehat aja deh" Ajeng enggan meneruskan kalimatnya. Berbicara mengenai Ibu Sukma sebenarnya sangat sensitif bagi dia, namun entahlah, Tiba-tiba saja dia ingat dengan perempuan yang pernah menjadi mertuanya itu.

__ADS_1


Suasana kota Purwokerto siang ini terasa sangat panas. Apalagi jalanan yang mereka lewati di sekitar pasar Wage sedikit macet. Banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan membuat jalan utama menjadi sempit. Suara klakson pengendara yang tidak sabaran, suara peluit tukang parkir yang sembarangan dan semaunya sendiri dalam mengomandani gerak laju kendaraan, Belum lagi truk boks yang sedang melakukan bongkar-muat barang, juga ikut perperan aktif dalam keruwetan siang hari ini.


Setelah memasuki beberapa toko, akhirnya mereka menemukan toko batik yang sesuai dengan kantong dan keinginan para Ibu Guru TK itu. Toko Batik Benang Raja, toko batik yang menyediakan berbagai macam jenis pakaian, dari mulai batik, baju burkat, gamis, mukena, batik banyumasan, pekalongan, solo dan masih banyak lagi itu ternyata membuat kalap para Ibu guru TK. Ajeng sendiri di buat pusing oleh pertanyaan mereka tentang kecocokan batik yang mereka pilih masing-masing.


"Besok kalo surti sudah keluar lagi, anter ke sini lagi ya Mbak jeng" Bu Efi yang terlihat kalem di mata Ajeng, nyatanya sama saja seperti ibu-ibu yang lainnya saat sedang berbelanja hahahahh. Banyak mau, banyak tanya dan ternyata dia uangnya banyak! Ajeng di belikan satu baju burkat berwarna cream yang katanya sangat cocok di pakai olehnya.


"Bukan kaleng-kaleng ini Bu Efi"


Batinnya.


"Angger ngesuk mantenan maning, wong sing rewang, ghlidig e tumbaske batik kene bae Mbak Jeng, men seragam " Bu Ria tertawa. (Kalo besok Ajeng menikah lagi, orang yang bantu di belikan batik sini saja Mbak Jeng, biar seragaman).


"Jodone be urung nemu ya kok mikir seragam mbarang loh Bu Ri.. Ri, kepriben si panjenengan " Mama Suci menimpali. (Jodohnya saja juga belum ketemu ya kok mikir seragam segala loh Bu Ri.. ri)


Mereka tertawa bersama. Entah mentertawakan Ajeng yang masih sendiri atau perihal baju seragam pernikahan yang entah kapan akan terjadi (kembali) pada Ajeng. Hingga akhirnya mereka meninggalkan toko batik, dan berlanjut untuk mengisi perut mereka yang sudah keronconga meminta di isi dari tadinkarena keasyikan Shopping.


Heemmm di mana-mana memang ***** belanja ibu-ibu sama ya bunπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Asalamualaikum wrb


Mohon maaf sebesar-besarnya kepada para pembaca tersayangπŸ€— mungkin kemarin ada beberapa episode yang rancau ya, Terupload dengan tidak semestinya πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Membuat pembaca bingung akan alur yang tidak jelas atau melompat. Mohon atas ketidaknyamanannya ya.. Bagian yang sudah sempat membaca, itu adalah bab yang awalnya mau terpakaiπŸ™Š seperti awal mulai Ajeng bertemu Reno dan bagaimana hubungan Ajeng dengan Barata di awal-awal saat SMA dulu. Namun setelah menimbang berbagai hal akhirnya jalannya cerita diganti alurnyaπŸ™ˆπŸ™ˆ sehingga sepert inilah sekarang hehehehe


Mohon maaf atas kesalahan tehnisnyaπŸ™πŸ™


Alhamdulillah sudah berhasil di perbaiki.

__ADS_1


Terimakasih atas perhatian pembaca tersayang, sehingga kesalahan tersebut dapat segera di perbaikiπŸ€—


Wasalamualaikum wrb


__ADS_2