
"Heh kamu!!!! "
"Ngapain? "
"Rese ya jadi manusia ya kamu ya"
"Siniin gak kameranya, hapus gak"
Ajeng yang berteriak sejak dari jauh tak mengurungkan niatan Naufal untuk menghentikan aksinya. Baru ketika Ajeng benar-benar di depannya dia melepaskan kameranya begitu saja yang menggantung di lehernya.
"Pripun Mbak?" Dengan muka polosnya dan rasa tak takut, dia bertanya. Seakan tidak punya salah sama sekali.
"Pripun kata kamu? itu tadi kamu ambilin fotoku berkali-kali kan? gak sopan tau kamu! " Ajeng dengan mata sembabnya melototkan matanya agar membesar, namun malah membuat dia semakin lucu.
"Saya gak ambil gambar panjenengan kok, saya ambilnya gambar domba, kebetulan saja panjenengan di sana, jadi mau tidak mau kena bidikan saya kan" Dengan senyum manisnya Naufal memberi alasan.
"Banyak alasan kamu, siniin gak kameranya? pokoknya aku mau yang ada akunya semuanya di hapus. Aku gak mau ada fotoku di kameramu." Dia keukeuh meminta kamera dari laki-laki di hadapannya itu.
"Mbaknya bisa make ini? silahkan" Naufal melepaskan lilitan tali di lehernya, memberikannya kepada Ajeng, dengan cepat dia meraih kamera tersebut.
Tapi?????
"Kok mati? " tanyanya.
"Enggak akh, tadi aja hidup" Dengan tawa tertahan Naufal mengarahkan kepalanya untuk melihat kamera yang dipegang Ajeng. Bau parfum wanita itu merasuki indra penciumannya. Parfum rasa vanilla itu seperti menggodanya untuk terus dihirup olehnya dalam-dalam.
Naufal Afif Prasetyo, laki-laki jangkung bermata sipit dengan dua buah lesung di pipi kanan kirinya itu adalah seorang fotografer profesional yang sudah kenyang dengan pengalaman memotretya yang tidak perlu di ragukan lagi kemampuannya dalam membidik kamera.
Di usianya yang kini menginjak usia 27 tahun membuat dia semakin matang dalam segala hal. Rambut sebahunya yang dia ikat, dengan kaos hitam yang melilit tubuh tegapnya, dan kemeja yang di biarkan terbuka semua kancingnya itu semakin membuat parasnya yang tampan semakin terlihat... Menggiurkan.
"Eh, Masnya jangan macam-macam ya sama saya, nanti saya laporin ke pak kadus di sini ya! biar di giring sekalian sama Pak Babinsa juga!! atas perbuatan tidak senonoh dan tidak menyenangkan.
Tawa laki-laki jangkung itu terdengar, antara heran, lucu, dan geli bercampur jadi satu.
Heran karena seumur hidupnya, baru menemukan perempuan yang segalak dia, lucu dengan wajah dia yang amburadul, geli dengan perkataan dia yang tidak masuk akal.
Senonoh?
Emang dia ngapain?
Ngeri amat sampe di panggil Pak Kadus dan Pak Babinsa.
Sayup-sayup terdengar suara adzan menggema.
"Mbaknya orang sini? Bisa tunjukin dimana ada mushola atau masjid? " Naufal merubah mode slengeannya ke mode serius.
Iya, dia memang laki-laki yang taat beragama. Meskipun penampilannya seperti laki-laki gaul cenderung urakan, yang gemar bermain-main, namun dalam hal beribadah, dia tidak pernah bermain-main.
"Mau ngapain? " Tanyanya ketus.
"Ngapain? Ajigile ni cewe! " Naufal menggelengkan kepalannya.
"Sholat Mbak, masa tidur! "
Ajeng menghembuskan nafas kasar. "Turun ada pertigaan belok kanan. Lurus terus bangunan ke 3 kiri jalan." Ajeng menjelaskan yang langsung di angguki oleh Naufal.
__ADS_1
"Eh mau kemana? " Ajeng berteriak saat Naufal pergi gitu aja. "Belum bilang terimakasih" teriaknya.
Naufal berhenti, menolehkan kepalanya dan melambaikan tangannya, " Sampai jumpa lagi Mbak galak" Dia kemudian segera mengenakan helmnya dan meninggalkan Ajeng seorang diri yang tengah bersungut-sungut itu.
Sementara di Butik, Vika tengah dilanda kecemasan. Bagaimana tidak, hari ini butik ramai tak seperti biasanya, hanya bertiga dengan Dita dan Siti membuat dia kewalahan. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Ajeng namun hanya di jawab oleh sang operator.
"Mbak Ajeng kemana si? katanya sebentar" Saat keadaan mulai sepi, Vika kembali menghubunginya.
"Tadi bilangnya ke mana? " Dita mendekati.
"Kalo aku tau aku gak nanya Dita" Vika bersungut-sungut.
Terkadang Dita memang loadingnya gak ketulungan.
"Sit, udah pesen makan siang belum? Laper" Tanyanya.
"Udah, nasi liwet Mbok Natem, nanti di antar. "
"Aku solat dulu ya, gantian" Siti beranjak ke belakang.
Suara telepon butik kembali terdengar, kali ini Vika yang mengangkatnya.
"Ya dengan Vika dari butik xxx" Sapanya ramah.
"Udah pada makan belum? " Sapa orang di seberang sana yang ternyata Ajeng.
"Ya Ampun Mbak Jeng, panjenengan di mana si? Ngilang gitu aja" Vika mulai mencercanya.
"Aku pulang, Tiba-tiba ada urusan mendadak tadi" Alibinya.
"Bapak ibu sehat kan?"
"Iya lah Mbak Jeng lagi telpon!" Vika menimpali.
Hahahah lah itu pinter" Ajeng tertawa
"Ya udah gitu ajah ya, kuncinya bawa kamu aja ya Vik. Besok kita langsung ketemu di butik"
"Ya Mbak, Baik-baik ya Mbak" Sebelum telepon di tutup Vika berpesan, namun tidak ada jawaban dari seberang, hanya suara sambingan telepon yang terputus.
Baru saja dia hendak beranjak, telepon kembali berbunyi.
"Iya Mbak Jeng, ada yang tertinggal? " Tanyanya.
"Ajeng kemana?" Suara berat itu terdengar mengimintidasi.
Vika langsung paham dengan pemilik suara tersebut.
"Eh.. I.. Iya.. Pak Barata? "
"Ajeng kemana? " ulangnya dengan suaranya yang dingin.
"Ponselnya tidak bisa di hubungi, Ibu ingin berbicara dengannya"
"Mas, Telpon siapa? " Suara perempuan tertangkap oleh telinganya.
__ADS_1
"Nanti saya telpon lagi"
Dan sambunganpun terputus.
"Hari ini kenapa dengan orang-orang sih?" Vika beranjak sambil bergumam sendiri.
"Kenapa-kenapa?" Dita yang mendengarnya berbicara sendiri menimpali.
"Gak tau akh, puyeng sirahku ngelu" Ucapnya yang mengatakan bahwa dia tidak tahu, kepalanya sakit, kepada Dita.
"Aku ora ngelu, tapi ngelih" Dita masih saja menimpali dengan perkataannya bahwa dia tidak pusing tapi lapar.
Dan di balas dengan lemparan bungkus tisue oleh Vika.
"Ribet ya jadi orang kaya yang punya jabatan" gumamnya lagi sebelum menghilang ke belakang untuk mengambil air wudhu.
*****************
Naufal baru saja selesai sholat, ketika dia baru saja mengucap salam, matanya tak sengaja melihat perempuan yang tadi beradu mulut dengannya. Dia tersenyum.
Cewek keras kepala gitu kenal mukenah juga.
Dia beranjak, keluar untuk memakai sepatunya. Cukup lama dia berdiam diri sampai telinganya menangkap deheman perempuan di belakangnya.
Dia mendongakan kepalanya, untuk bisa melihat wajah rupawan Ajeng, yang masih terlihat sembab.
"Gak pingin ngadu gitu? cepet amat" Liriknya.
"Emang aku tukang ngadu-ngadu gitu? lagian siapa kamu, ngadu-ngadu" ketus Ajeng.
"Bukan gitu neng, biasanya kalo orang lagi ada masalah itu suka ngadu, ngadu ke yang bikin hidup. biar di tolongin, masalahnya di kelarin, si mudahin. Iih si eneng mah gitu"
"Eh, nang neng, aku punya nama tauu. Adal panggil aja!! Dan kata siapa aku punya masalah dan musti ngaduu. Ukh sok tau banget situ" Ajeng berjalan meninggalkan Naufal yang masih terkekeh karena berhasil membuatnya jengkel.
"Manusia macam apa dia sampe bisa nyangsang di sini" Berlalu sambil ngedumel sendirian.
"Baru pernah nemuin cewek kayak dia, cuek, cablak, emosional, tapi lucu banget! " Naufal terkekeh sendiri. "Jodoh banget kali ya, ketemu lagi"
Dia menggelengkan kepalanya sendiri, menepis fikiran yang tiba-tiba saja datang di kepalanya.
"Kenapa Mas? " Seseorang lelaki paruh baya yang akan sholat bertanya.
"Eh, mboten pak" dia tersenyum sambil berkata tidak.
"Sesengsen kaliyan Mbak Ajeng niku?" Ternyata lelaki paruh baya itu sedari tadi memperhatikannya, Menebak apakah Naufal terpesona dengan Ajeng.
"Ndang oyok mawon mas, pyambekan piyantune niku, janda di tinggal sedo teng kangmase" Bapak itu masih saja berucap, agar dia mendekatinya, mengejar karena dia single, sendirian, janda di tinggal meninggal oleh suaminya.
"Hah? seriusan pak? kasihan" Dengan tidak sadar Naufal berucap.
"Tapi swugih Mas, ja salah" meninggalkan Naufal yang sedang berkecamuk dengan pertanyaan dirinya sendiri tanpa memperdulikan perkataan lelaki itu.
Ajeng? seorang janda?
Apa dia menangis karena mengingat suaminya?
__ADS_1
Berarti dia orang sini?
Bapak itu tau namanya?