
Badannya sungguh terasa remuk redam, perjalanannya dari rumah ke rumah sakit dia manfaatkan untuk tidur. Mengacuhkan Barata di sebelahnya yang fokus menyetir.
Malam tadi, entah beberapa kali dia dan Barata saling menyatukan tubuh mereka, menyebut nama masing-masing dengan penuh cinta. Hingga baru saja mereka memejamkan mata, suara adzan subuh terdengar. Memaksa mereka untuk lekas membersihkan diri.
Dengan bantuan Barata, Ajeng dapat menyelesaikan kegiatan mandinya, meskipun lebih lama dari biasanya.
Berkali-kali Ajeng mengingatkan agar Barata bisa mengendalikan dirinya, bukan apa-apa, badannya sendiri sudah begitu lelah. Kalau saja dia tidak mengingat presensi, mungkin dia lebih memilih untuk menggulung kan badannya di dalam selimut.
Beruntung, hari ini jalanan tidak terlalu padat. Hingga akhirnya Barata berhasil mengantar Ajeng tepat waktu ke rumah sakit
"Aku ke rumah Ibu ya Yank, pulangnya ngabarin aja. Ntar aku jemput." Pesan Barata saat sudah sampai di lobby rumah sakit.
"Iya, nanti aku kabari, Salim dulu." Mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Barata, menciumnya sebentar kemudian di hadiahi kecupan di dahinya.
"Hati-hati ya Suami." Ucapnya yang cukup membuat hati Barata berbunga.
"Asalamualaikum." Ucapnya sebelum menutup pintu mobil rapat.
Barata meninggalkan rumah sakit, melajukan mobilnya ke rumah Ibu Sukma. Hari ini dia berniat untuk membereskan kamarnya, mengganti semua furniture yang lama dengan yang baru. Dia tidak mau Ajeng merasa di bayang-bayangi oleh Anita.
Dia belum tahu kedepannya akan bagaimana, apakah akan membeli rumah baru, atau akan tinggal bersama Ibu. Yang jelas dia tidak ingin dan tidak bisa untuk tinggal di rumah Ajeng, rumah peninggalan Reno.
Dia tidak ingin ada bayang-bayang Reno di hari-hari ke depan bersama Ajeng, mungkin itu juga yang membuat dia ingin mengganti seluruh furniture di kamarnya.
Kalau bahasa jawanya itu 'Nepak Awak'.
Jadi Nepak Awak itu bisa di artikan, berkaca pada diri sendiri. Apa-apa yang tidak ingin orang lain perlakukan padamu, maka jangan kau perlakukan orang lain seperti apa yang tidak kamu ingin. Kalau tidak mau di cubit ya jangan menyubit, begitulah kurang lebihnya.
Meskipun dia yakin kalau Ajeng sudah tidak lagi menyimpan rasa apapun pada Reno, namun dia seperti tidak nyaman saja.
Dia melihat mobil yang Pak Anto kendarai melaju searah dengan nya. Meninggalkan area perumahan. Sepertinya akan mengantar Ashila sekolah.
Memasuki halaman rumahnya, terlihat Mbok War yang sedang menyiram bunga-bunga milik Ibunya.
Belum juga dia turun, Mbok War sudah memasang senyum merekah di bibirnya.
"Kinclong temen Mas Bar, bar ngapa bae kue"
Mbok War menggodanya sembari tertawa, katanya Barata mukanya berseri, habis ngapain saja itu.
Barata hanya tertawa.
"Penganten anyar kie loh mbok, apa maning sing gawe kincolng jal, nembus gol Mbok." Tertawa kemudian berlari masuk ke dalam rumah, malu sendiri dengan jawabannya yang mengatakan bahwa dia itu pengantin baru, apa lagi yang bikin berseri coba, menembus gol.
Dasar Barata tak tahu malu !!
Mbok War yang mendengarnya hanya tertawa. Kemudian mengikuti Barata masuk ke rumah.
"Sudah sarapan belum Mas?"
Mendengar Mbok War bertanya padanya, dia menghentikan langkahnya di anak tangga.
"Udah sarapan Mbok." Jawabnya menoleh sebenty kemudian melanjutkan langkahnya.
"Oya, nanti tolong bantu beresin kamar ya Mbok, ada yang mau antar barang ntar siang." Dia menghentikan langkahnya sejenak.
"Nggih siap beres."
__ADS_1
"Libur nopo Mas?" Mbok War masih saja menahan langkahnya.
"Iyo, hari ini aku lepas dinas." Tanpa menoleh lagi, Barata berlari ke kamarnya.
Beruntung, ada Kakak dari Kartiko yang akan membantunya untuk mengurus seluruh furniture yang dia pesan, jadi dia
hanya tinggal terima beres saja. Tanpa perlu repot-repot mengurus semuanya.
Dia sangat berharap sekali, sepulangnya Ajeng dari rumah sakit, semuanya sudah beres.
"Ahhh rasanya baru saja berpisah, tapi sudah kangen gini." Barata bermonolog sendiri, tersenyum sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Membuka laman pesan berwarna hijau, kemudian mengetikan sesuatu.
" Hunny Bunny Sweety Miss you"
Pesan tersampaikan dengan baik. Dia hanya bisa menunggu centang dua abu-abu berubah menjadi biru.
Semenit, dua menit, hingga satu jam berlalu tidak ada perubahan warna. Jadilah dia tertidur. Terlupa dirinya akan penantian pesan yang tak kunjung mendapatkan balasan.
Sementara di rumah sakit, Ajeng yang.baru saja di tinggalkan oleh pasiennya langsung menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Rasanya tubuhku remuk redam." Dia bermonolog sendiri.
"Kayaknya pijat enak nih..."
Masih dengan memijit-mijit leher bagian belakang.
Jam sudah menunjukan waktu makan siang, karena enggan keluar mencari makan, dia memilih untuk berdiam diri di dalam ruangan, membuka ponselnya yang sedari pagi dia diamkan.
Sebelum membuka aplikasi pesan, dia terlebih dahulu mendial nomor kantin rumah sakit, memesan menu makan siang untuk di antar ke ruangannya.
Dia tersenyum saat membaca pesan yang di kirimkan oleh suaminya, benar-benar seperti ABG yang baru saja jatuh cinta.
"Belum ada setengah hari pun berpisah sudah begini tingkahnya!"
Antara sebal dan senang, Ajeng tersenyum sendiri.
Baru saja dia akan membalas, ponselnya berdering. Panggilan video masuk. Siapa lagi kalo bukan si bucin Barata.
"Asalamualaikum hunny Bunny Sweety"
"Walaikumsalam suamiku termaniss"
Menjawab telepon dengan tersenyum.
"Pucet banget, kamu sakit?" Barata yang melihat wajah sayu miliknya sedikit panik.
"Cuma lemes aja"
"Habis di gempur semalaman" jawabnya yang membuat tawa keras Barata meledak.
"Ya Allah Yank, itu belum apa-apa loh"
"Belum aku masukin semua, gak tega lihat kamunya"
"Bohong bangettttt....udah ah males aku bahas gitu-gituan"
__ADS_1
Barata semakin keras mentertawakan nya.
"Sssttt tau gak Yank, ada yang gerak-gerak nih, kayanya udah kangen"
"Cepet pulang ya, apa aku nyamperin ke situ?"
"Heiii kira-kira ya !!!! " Ajeng mendengus sebal dengan tingkah suaminya itu.
"Udah akh males bahas ginian. Aku tutup ya.."
"Ya Allah Yank, jahat bener..."
"Nyiksa suami nih judulnya" menunjukan wajah merajuknya pada Ajeng.
tok..tok.tok..tok...
Suara pintu ruangan Ajeng terdengar, dibarengi terlihatnya kepada Satrio yang melongok dari daun pintu.
"Jeng, betah amat di ruangan sendirian. Yuk keluar." Satrio masuk ke dalam. Tidak tahu bahwa Ajeng sedang melakukan panggilan.
"Eh..ya Dok Sat, aku udah pesan ke kantin. Bentar lagi paling di anterin." Jawabnya kaku, takut-takut Barata salah paham dengannya.
Bukan tanpa alasan, terakhir kali bertemu Satrio, Barata memasang wajah yang jelas sekali kentara.
"Ya udah deh aku nebeng kamu aja ya. Sekalian numpang istirahat di sini, di ruangan ku lagi d steril, tadi ada anak yang ngeluarin isi perutnya." sembari menyenderkan kepalanya di sofa.
"Eh, itu.." Ajeng ingin melarangnya, tapi terlalu sungkan. Namun justru dia reflek mematikan panggilannya dan malah menghampiri Satrio ke arah sofa.
Tidak mungkin kan dia mengacuhkan bahkan mengusir Satrio rekan sejawatnya.
"Tambahin lagi ya pesanannya Jeng" Perintahnya.
Namun belum juga Ajeng menjawab, suara ketukan pintu terdengar kembali.
"Masuk!" perintah Ajeng.
Seorang perempuan dengan memakai seragam koperasi rumaah sakit memasuki ruangan, membawa beberapa plastik putih berisi makanan dan minuman yang tadi dia pesan.
"Eh, kebetulan mbak. Pesan satu lagi buat saya ya, dan nanti tolong antarkan ke sini."
"Kalau bisa kilat ya"
Satrio, dokter anak yang tampan itu memberikan senyumnya.
"Nggih dok, di tunggu."
Ucapnya setelah mendapatkan uang pembayaran dari Ajeng.
"Kamu habis makan segini banyak?"
Satrio yang melihat Ajeng meman begitu banyak makanan terheran.
"Lagi masa pertumbuhan ini" tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Mari makan" Menyerahkan sekotak nasi dan ayam gepuk kepada Satrio. Sementara dirinya memakan salad buahnya.
Tanpa menunggu lagi, mereka makan dengan lahapnya. Tidak memikirkan seseorang yang sekarang sedang tersulut api cemburu di seberang sana.
__ADS_1
hahahhahaahhaha
Enjoyyy Bar..enjoy