
"Naufal? "
"Hey, sini masuk" Ajeng Langsung mendekati Naufal dan menarik tas ransel yang di gunakannya.
"Gak usah macem-macem" bisiknya cepat.
"Siapa yang di hotel? " Tanya Ibu Sukma.
"Udah sana Mbak Nit, keburu siang nanti bakminya habis" Ajeng mengacuhkan perkataan Ibu Sukma.
Sejak kapan aku peduli padanya?
Sementara Barata acuh tak acuh dengan perkataan Naufal. Hanya memandang sekilas orang-orang yang ada di sekitarnya, kemudian berlalu begitu saja. Seperti tidak ingin ambil pusing perkataan Naufal.
Ajeng bisa bernafas lega, tidak ada kecurigaan maupun baku hantam dan adu mulut di kamar Ibu.
"Baru pulang Fal? " Ajeng bertanya dengan melototkan matanya.
"Ya elah, itu mata gak bisa ya gak melotot gitu? "
"Naufal dari mana? lihat Anita? " Berbeda dengan Barata yang acuh, kini justru Ibu yang mencercanya.
Sementara Ajeng yang kini sudah di posisi semula, di samping Ibu Sukma memberikan gerakan tangan yang memotong leher. Memberi kode ke Naufal yang seketika langsung di mengerti olehnya.
"Tadi habis ada job di hotel Aston Bu, saya fikir yang saya lihat itu Mbak Anita, tapi ternyata Mbak Anitanya di sini. Jadi mungkin saya salah lihat" Naufal tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Iya, Anita sejak pagi di sini " Bu Sukma menambahkan.
Iya setelah semalaman tidak pulang dan bermain gila dengan seorang om-om di kamar hotel.
"Yaudah Adek sama Naufal ke luar dulu ya, Mbak mau memenin Ibu untuk beristirahat. " Ajeng mencari alasan agar Naufal bisa keluar, menghindari pertanyaan Ibu Sukma kembali.
"Baiklah, kami tunggu di luar ya" Ningrum beranjak dari duduknya, langsung berjalan ke arah pintu, disusul kemudian olehnya Naufal.
Sementara Ajeng di dalam, kini gilran Ningrum yang bertanya kepada Naufal.
" Mas yakin itu mbak Anita?" Ningrum duduk di kursi luar.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Naufal mengeluarkan kamera kesayangannya, tidak butuh waktu lama untuk mencari video yang dia dapatkan tadi pagi, kemudian menyerahkan kamera tersebut kepada Ningrum.
"Main api dia? " Ningrum kembali mengulang video yang hanya beberapa detik itu. Melihatnya dengan seksama, sampai ia jeda, untuk diperbesar gambarnya.
" Mungkin, habis rapat kali" Ningrum mencoba untuk berfikiran positif.
"Tiga kali sekarang gue liat mereka" Ucapnya santai.
"Orang yang sama berkali-kali? di hotel? dan sepagi itu? "
"Logika aja, kalo dia katanya ada meeting di luar kota, luar kota mana? "
"Sepagi itu udah di hotel? "
"Logika jalan cuyyy" Naufal emosi sendiri mendengar pendapat Ningrum.
"Loh, kok pada di luar? Mbak Ningrum? Mas pun dangu?" Mbok War datang dengan membawa paper bags bergambar logo toko kue kenamaan, bertanya apakah mereka sudah lama? "
"Lumayan Mbok. Mbok War sehat? " Ningrum mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Tak berselang lama, Ajeng keluar.
"Mumpung ada Mbok War yang jaga Ibu, ayo cari tempat yang enak buat ngobrol" Ajeng mengajak Naufal dan Ningrum menepi, menjauhi kamar Ibu.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di taman rumah sakit. Ajeng memilih duduk di bawah pohon beringin besar, yang di bawah nya terdapat satu meja bundar dan empat tempat duduk, yang melingkari meja.
"Aku baru ngeh, kalau foto yang kamu kirim itu ternyata Anita. "
"Jadi... "
"Ya, jadi selama ini yang aku katakan padamu itu benar, mataku masih normal dan pastinya gak mengada-ada" sambar Naufal.
"Aku ada Video-nya, kalau kamu masih belum percaya" Imbuhnya.
"Aku hanya tak habis fikir dengan jalan fikiran dia. Ya kok bisa sampai mikir buat begitu? berani sekali ternyata ya? " Ajeng menyayangkan sikap Anita. Seketika saja, rasa empatinya menueruak. Memikirkan perasaan Barata.
"Bagaimana kalau mas Barata tau Mbak? " Ningrum menimpali.
__ADS_1
"Jangan, jangan kita beri tahu" Ajeng menjawab cepat.
"Bagaimana bisa? Kita? merahasiakan ini? Pak Barata, maksudku Mas Barata itu adik iparmu Jenk, kamu tidak kasihankah? melihat istri adikmu main api di belakang? tidak perduli terhadap mertuanya? "
"Aku gak setuju dengan ide konyolmu" Naufal langsung memotong jawaban Ajeng tak kalah cepat.
"Kamu gak tau tentang mereka Fal, dan aku tentu saja di antara mereka. Belum lagi kondisi Ibu yang seperti ini. Akan seperti apa kalo Ibu sampai tau kelakuan menantunya? Aku gak bisa membayangkan bagaimana Ibu nantinya."
"Tunggu, kamu di antara mereka? maksudnya? " Naufal yang merasa bingung dengan alasan Ajeng meminta penjelasan.
"Aku dan Barata pernah punya masa lalu" Fikiran Ajeng menerawang jauh. Menariknya kembali untuk mengingat apa yang telah terjadi di antara mereka. Antara dirinya dan Barata, antara dirinya dan Reno.
Kisah rumit yang di alami oleh mereka selama ini, Tanpa ada yang mengetahui. Baik orang tuanya maupun keluarga Ibu Sukma. Rasa sakit, terluka, tertekan, hingga pengorbanan cinta dia, dia ceritakan Semua.
Dari Penyakit yang Reno derita, perjanjian yang mereka buat bersama sampai dengan kematian Reno yang tiba-tiba karena kecelakaan, membuat separuh jiwanya hilang kendali. Seperti hilangnya pegangan Hidup.
Reno yang selalu memberinya support, nasihat, bahkan Reno mengerti dia lebih baik dan banyak dari dirinya sendiri, yang membuat dia akhirnya terikat dengan keluarganya, membuat komitmen bersama. Ajeng menyayangi Bu Sukma seperti Ibu nya sendiri, Memperlakukan Ibu Sukma seperti Reno memperlakukannya dengan sangat baik. Namun sayangnya hanya satu. Dia tidak bisa memberikan Cinta nya pada Reno. Dan Reno tau, Reno tidak pernah keberatan sama sekali, karena dia tahu, cinta tidak pernah tahu, Kemana dia akan jatuh, cinta tidak pernah tau kemana dia akan tumbuh, bersemai dan semakin banyak mengisi ruang hati.
"Dan sekarang, aku gak mau Ibu sampai tau itu dari kita. Apa lagi Barata. Kalian tahu sendiri bagaiman dia kan? " Menutup cerita pilunya dengan menyeka air matanya.
"Pakai ini" Naufal menyerahkan satu tangannya kepada Ajeng.
"Aku harap, kita bisa merahasiakan ini. Aku tidak mau kondisi Ibu drop. Baru saja beliau membaik keadaanya. Aku tidak mau mengambil resiko"
"Aku fikir, Barata lebih tahu istrinya dari kita. Kita tidak Perlu mencampuru urusan mereka. Akan tiba saatnya ketika semuanya di ketahui. Tanpa campur tangan kita" Imbuhnya.
"Ada hal-hal yang seharusnya tidak kita ketahui sekarang. Dan aku rasa, kita sudah terlalu jauh mengurusi urusan mereka"
"Apakah Mbak takut jika perasaan Mbak Ajeng masih ada untuk Mas Barata?"
"Jangan bercanda kamu Dek" Ajeng berkilah.
"Jadi? kita menutup fakta ini untuk siapa? demi siapa? untuk kebaikan siapa? " Naufal bertanya.
Namun, tidak ada jawaban yang berarti, baik dari Ajeng maupun Ningrum.
Dan akhirnya dia sendiri menyadari satu hal. Ajeng terlalu sulit digapai. Masa lalu membelenggu hingga menjeratnya erat. Begitu kuat.
__ADS_1