
Naufal POV
Sebulan mengenal dia, hatiku jungkir balik tak menentu. Ada debaran aneh yang selalu hinggap saat aku berjumpa dengannya. Meskipun bisa dihitung beberapa kali tetap muka, tapi komunikasi intens dengannya untuk membahas projek bersama sukses membuat rindu yang menyusup hati bisa terobati.
Seumur hidupku, aku baru merasakan hal seperti ini. Bukannya aku congkak, hanya saja selama ini aku terbiasa di kelilingi wanita yang, yaaaa bisa di katakan agresif. Semua wanita selalu dengan mudahnya aku dapatkan. Mereka terlalu welcome, sehingga tidak ada usahaku untuk bisa mendapatkannya dengan tantangan. Yaaa namanya lelaki, dimanapun pasti suka dengan tantangan kan. Aku pun. Tak terkecuali.
Pertemuan kita yang tidak ada manis-manisnya sama sekali, bahkan aku merasakan iba pada dirinya. Saat aku melihatnya sedang menangis di tengah puluhan domba, dengan dia yang tak begitu mencolok kala itu. Terang saja, pakaian yang dia kenakan pun memiliki warna yang sama dengan rambut domba! Hahahah
But, aku sangat bersyukur. Dengan tak sengaja aku membidiknya, mendapatkan gambarnya dengan berbagai macam pose yang membuatku terkesima sendiri setelah melihatnya. Wanita cantik nan galak jutek luar biasa adalah kesan pertama yang aku dapatkan tentang dirinya.
Bagaimana tidak, selama ini wanita yang bertemu denganku selalu dengan wajah ceria, senyum manis bahkan terkadang terkesan genit. Sedangkan dia? berbeda dari lainnya.
Seorang lelaki tua, memberitahuku bahwa namanya Ajeng, dan dia adalah seorang janda. Aku cukup senang mendengarnya bahwa dia tidak terikat oleh ikatan apapun dengan lawan jenis. Seketika itu juga aku menyisipkan doa, semoga saja aku dan dia bisa dipertemukan kembali. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?? aku geli sendiri memikirkannya.
Dan ternyata Gusti Allah begitu baik padaku, hari itu juga, aku bertemu kembali dengan dia. Dan bisa kalian tebak bagaimana reaksi dia saat bertemu kembali denganku? Yaa dia lebih garang dari sebelumnya. Hahahah.
Membayangkan kembali wajah dia sungguh membuat hatiku berdebar. Mungkin karena dia tidak enak dengan Vika, adik angkatanku saat kuliah dulu. akhirnya Ajeng bisa aku taklukkan setelah aku meminta untuk memulai dari awal.
Kami memulainya kembali benar-benar dari awal, dia bersikap profesional untuk membahas project yang akan kita lakukan bersama. Lama-lama aku jadi tahu sedikit tentang dia, apalagi ada Vika yang, jika aku bertanya satu kalimat dia bisa menjelaskannya sampai satu buku, benar-benar tuh cewek.
Hari ini aku diminta oleh Ibu Sukma untuk menjadi fotografer di acara resepsi anak bungsunya. Pak Barata. Beliau adalah seorang aparatur negara, yang baru pertama kali ini ku temui.
Dengan badan yang tegap berisi, kulit yang sedikit lebih gelap dariku, membuat dia terlihat sangat maskulin, ditambah dengan baju hijau kebesarannya, dan baret hijau yang bertengger gagah di kepalanya membuat dia sangat tampan. Aku saja yang cowok gini terkesima, apalagi mereka, para ciwi-ciwi dibelakangku yang se-dari tadi berbisik-bisik mengganggu konsentrasi ku.
Dari sekian banyak pengantin maupun calon pengantin yang pernah aku tangani, baru beliau satu-satunya orang yang sepertinya biasa saja menjalani proses ini, tidak ada senyum sama sekali. Terlihat sekali sikap dingin, kaku dan tegang. Beliau juga terlihat tidak fokus dengan apa yang sedang jalani saat ini. Berkali-kali aku mengingatkannya untuk tersenyum, menggeser posisi untuk lebih dekat dengan pengantin perempuan, lebih terlihat bahagia, natural namun begitu susah sekali. Mungkin karena dia terbiasa tegas dan dalam lingkungan militer yang kaku, menjadikan dia sulit untuk berekspresi. Dengan keadaannya yang begitu, menjadikan aku pun ikut sulit dalam mencari posisi yang terbaik.
Justru beberapa kali kutangkap matanya malah terlihat fokus melihat Ajeng yang sedang di sibukan dengan hal lain.
Berbanding terbalik dengan pengantin perempuan yang terlihat begitu cantik, senyumnya tidak pernah surut dari kedua sudut bibirnya, dia juga yang terlihat lebih agresif. Mengikuti perintahku dengan baik, tak jarang pula untuk memaksa mempelai pria untuk berpose seperti yang dia inginkan, meskipun hanya di lakukan tanpa bicara.
Jangan tanya Ajeng hari ini, dia begitu cantik menggunakan kebaya berwarna ungu muda yang di hiasi banyak payet di seluruh bajunya, riasan flawless-nya membuat dia terlihat sangat mempesona. Dia tak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya kepada semua orang, aku hampir-hampir salah fokus, terlalu sering membidiknya dengan berbagai pose dan macam posisi.
Hingga tiba di malam resepsi, suasana yang hangat tiba-tiba menjadi dingin dan kaku, saat pengantin pria datang ke arah Ajeng, Vika dan beberapa temannya yang sedang aku foto, dengan nada ketus dan terdengar marah di telingaku, beliau meminta untuk berfoto keluarga, Ajeng langsung mengekori beliau di belakangnya. Dan aku yang sebagai juru kamera pun mengikutinya. Namun baru beberapa langkah, Pak Barata menegurku.
"Kenapa kamu harus selalu mengikuti Ajeng pergi? Tak bisakah duduk saja? atau kamu sengaja ingin dekat-dekat dengan dia? " Aku tersentak dengan perkataannya yang cukup keras.
Duh gusti, maksud dia gimana coba? woyyy GUE FOTOGRAFERNYA!!!!! Rasanya aku pingin teriak di depannya. Dia tadi minta foto kan? lah GUE TUKANG FOTONYA!!!!
orang yang di sekitar kita otomatis diem dong, ngliatin Pak Barata yang bicara nyleneh gak masuk akal blaaasss bagiku. Hingga akhirnya Ajeng membuka suara.
"Dia kan fotografernya, tadi kamu pingin foto kan? ya dia ikut lah. Kalo dia duduk siapa yang mau fotoin kita semua?? " Ajeng menatap Pak Barata dengan begitu kesal. Itu yang aku tangkap dari wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa si Sayang? " Pengantin perempuan mendekati kita bertiga.
"Gak papa" Pak Barata melanjutkan jalannya ke arah pelaminan, disusul oleh wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Sementara Ajeng memberitahu para orang tua untuk foto bersama.
Ada yang aneh gak sih menurut kalian??
Barata POV
Sungguh aku ingin memaki hari ini, hari yang terasa begitu sangat lama bagiku. Ingin rasanya aku berlari ke kamar, mengganti baju dan tidur lelap.
Aku benci sekali dengan fotografer yang sedari pagi mengarahkanku untuk fokus, dan berganti macam-macam gaya serta pose yang membuat aku muak.
Terlebih lagi sekarang aku melihat dia begitu asyik berbicara dengan Ajeng, jarak yang begitu dekat, pukulan Ajeng padanya yang di balas dengan gaduhan dia, membuat aku benar-benar terbakar api cemburu. Aku mungkin sudah tidak waras saat melihat mereka berdua begitu intens saat berkomunikasi.
Aku beranjak dari duduku, meninggalkan Kartiko dan Fiano yang sedang menikmati santap malamnya. Dan dengan terang-terangan aku menunjukkan kebodohan ku di depan orang banyak saat bertanya kenapa harus selalu mengekori Ajeng!! Double Sh it!!!!
Aku menahan malu yang luar biasa. Hingga acara pengambilan gambar pun selesai dan aku segera beranjak pergi masuk ke kamar, setelah sebelumnya berpamitan kepada beberapa tamu yang masih tersisa. Tanpa memperdulikan Anita yang masih asyik mengobrol dengan rekan kerjanya beserta dengan atasannya.
Aku langsung melucuti pakaianku, memasuki kamar mandi dan berdiri di atas shower, menikmati siraman air dingin yang kuharap bisa menyegarkan kepala serta hatiku yang begitu panas akan amarah!!
"Masih lama Mas?" Sayup-sayup kudengar suara Anita, naum tak ku pedulikan.
Cukup lama aku di dalam kamar mandi, hingga untuk kedua kalinya, Anita menggedor pintu kembali.
"Tolong lepasin resleting belakang" Anita mendekatiku saat aku keluar dari kamar mandi.
Setelahnya, aku membuka lemari baju, menggunakan boxer hitam dan kaos putih polos.
"Aku mandi dulu ya" Ucapnya sambil berlalu memasuki kamar mandi.
Aku beranjak pergi keluar kamar, turun untuk menuju ke dapur bermaksud mengambil air minum. Tenggorokan ku terasa sakit.
Suasana sudah sepi, terlihat beeberapa orang dari WO sedang membereskan sisa pesta tadi.
Dari ruang tengah kulihat sekelebat bayangan Ajeng yang memasuki dapur kotor, kondisi yang sepi, ku manfaatan untuk mengejar dia. Pucuk di cinta ulam pun tiba, dia kini sedang mengisi botol minumnya.
Aku menunggunya di pintu dekat dapur, sambil berjaga jikalau ada orang yang melihat. Saat dia berbalik, kubisa lihat dari sorot matanya yang begitu kaget melihatku.
"Aku ingin bicara, sebentar" Ucapku padanya.
"Aku capek pingin istirahat" Jawabnya ketus, sambil berjalan menuju ke arahku, Dan langsung ku tarik tangannya, ku bawa dia masuk ke ruang sholat di sebelah ruang makan, agar tak terlihat orang dengan mudah.
__ADS_1
"Ihh lepas, sakit" Dia memberontak, mencoba melepaskan cengkeramanku.
Ku pepet dia ke tembok di bagian pojok ruangan,
"Bagaimana dengan yang ini? " Kuraih tangannya, ku letakan di atas dadaku. "Lebih dari sakit" Ucapku sarkas. "Kenapa kamu tidak pernah mau memberikan aku kesempatan? " Aku berucap pelan namun tegas,
kulihat mata yang sedari tadi pagi berbinar, kini berubah menjadi sayu dan mulai berkaca.
"Sejahat itukah aku?"
"Kamu terlalu egois Jeng"
Kini air matanya luruh, aku pun sama. Ku tarik badannya yang langsung membentur tubuh kekarku. Ku peluk dia erat, kurasakan tubuhnya berguncang, menangis tertahan.
"Stttttttt aku mencintaimu, sangat" Ku urai dekapanku, ku raih wajah bulatnya, kusatukan bibir kami. Aku menyesapnya dalam. Tidak ada penolakan darinya, namun juga tak ada balasan. Dia hanya diam.
Aku terus mencoba memainkan lid ah ku, agar dia mengikuti alur permainanku, sungguh aku sangat menginginkannya, ku sesap pelan hingga ku gigit pelan, hingga akhirnya bibirnya terbuka. Tak ku siakan keadaan ini, aku semakin menggila dengannya.
Aku ingin memakan dia, semuanya yang ada padanya secara utuh, menjadikan dia satu-satunya untukku. Aku kehilangan kendali, sungguh aku tidak bisa berhenti. Hingga pukulan dia di dadaku menghentikan aktivitas panas kami.
"Kamu lebih dari sekedar jahat" Ucapnya sambil mendorong tubuhku. Namun tidak membuatku bergerak sedikitpun dari tempatku berdiri.
"Sayang, kamu di mana? " Tiba-tiba suara Anita memanggilku.
"Pergi, temui istrimu! " titahnya tegas. Dapat ku lihat sorot matanya benar-benar menyuarakan kekecewaan yang begitu dalam.
"Yank" Panggilan Anita kembali terdengar, Ajeng mendorongku keluar, sementara dia masih berdiri di pojok ruang solat, bersamaan dengan derai air matanya yang semakin deras. Aku tidak bisa diam saja, aku tidak bisa membiarkan Anita melihat aku dan Ajeng bersama di sini. Akhirnya ku putuskan keluar.
"Habis Sholat" Aku keluar, menghampirinya.
"Kenapa? " Ku alihkan perhatiannya yang mulai penasaran dengan ruangan yang baru aku masuki.
"Ayok ke kamar" Ajaku sambil menggandeng tangannya.
Hingga akhirnya Anita dapat aku jinakan, kubawa dia masuk ke dalam kamar, kulucuti apa yang dia kenakan, kuhabisi dia dengan membayangkan Ajeng.
Melanjutkan hal yang baru saja aku lakukan dengan Ajeng, namun belum terselesaikan. Entah, Ajeng selalu saja bisa membuat aku bergairah seperti ini. Dengan membayangkan bersamanya, dia menyempurnakan malam pertamaku dengan Anita.
Partnya udah panjang banget ini ya, jangan nagih up lagi, author mau bobo cantik😘 hahahah
Jangan lupa like komen hadiah vote kalo sempet dan bisa dan ada hahahahah (ketawa jahatðŸ¤ðŸ¤)
__ADS_1
ada beberapa readers yang barungabung dan baca, terus ngelike hanya di akhir bab saja, tolong scroll lagi ke atas ya, like satu-satu per bab. Biar nambah dukungannya. Author jadi semangat buat upnya😘😘😘
Terimakasih kesayangannn😘😘😘